Sisa Rasa

Sisa Rasa
Ada apa dengan Dewa?


__ADS_3

"Dasar perempuan murahan. Pasti kamu terus menggoda Dave agar dia mau menceraikan aku. Seharusnya kamu mati saja, Dev. Mati." Dira menggenggam erat rambut Deva. Suaranya yang lantang, menyita perhatian pengunjung di luar ruangan VVIP.


"Lepas, Dira. Jangan gila kamu." Dewa berdiri dan berusaha membantu Deva terlepas dari Dira.


Desta pun tidak tinggal diam. Pria tersebut berdiri di belakang Dira untuk menarik tubuh sepupu Dewa itu agar menjauh dari Deva.


Merasa sikap dan tindakan Dira sudah berlebihan. Ditambah lagi Deva yang sudah tidak bisa berkata-kata karena sakit akibat jambakan Dira. Dewa dengan kasar memutar pergelangan tangan sang sepupu. Hingga membuat rambut Deva seketika terlepas dari genggaman Dira yang tampak kesakitan karena ulah Dewa.


"Jangan bela dia, Kak. Harusnya kakak lebih peduli sama Dira. Siapa dia bagi kakak? Jangan mau dibodohi dengan wajahnya yang sok polos. Dia dekati kakak hanya untuk numpang hidup. Hatinya, masih angkuh mencintai suami orang," tuding Dira dengan seenaknya.


Deva menarik napas dalam. Mengabaikan rambut yang berantakan, perempuan tersebut berdiri dan menatap Dira dengan tajam. Sorot matanya jelas menyiratkan kebencian yang mendalam.


"Cukup kamu menghinaku, Dira. Jika kamu hanya mengenalku sebatas nama yang pernah singgah di hati Dave, penilaianmu jelas akan jauh dari kata benar. Dari awal Aku sudah tegaskan. Aku tidak akan mungkin merebut Dave dari kamu. Jika kamu harus kehilangan Dave, jelas itu bukan karena Aku. Berkacalah dulu, mungkin memang kamu yang tidak pantas bersanding dengannya," tegas Deva.


Dira membalas tatapan Deva tidak kalah tajam. Perempuan itu seakan semakin menantang Deva. "Aku tidak pantas bersama Dave katamu? Lalu siapa yang menurutmu lebih pantas? Anak koruptor seperti kamu? Jangankan bersanding bersama Dave, menghirup udara yang sama dengan kami pun kamu tidak pantas. Tempatmu bukan di sini. Bersama mama dan papamu, itulah tempat terbaikmu."


Deva memejamkan mata sembari menarik napas seteratur mungkin. Mencoba mengendalikan tangannya yang sudah tidak sabar ingin menyentuh pipi Dira. Satu tangan Deva menahan tangan Dewa yang sepertinya ingin pasang badan untuk menghadapi Dira. Meski menutup mata, Deva cukup peka merasakan gerakan Dewa yang hendak memposisikan diri selangkah di depannya.


"Silahkan kamu bicara apa pun tentang aku, Dira. Tapi jangan pernah sebut aku anak seorang koruptor.Jika kata itu berbalik padamu, apa kamu sanggup menjalaninya? Aku yakin, kamu akan membutuhkan lebih banyak obat untuk menenangkan diri. Siap-siaplah menjadi penghuni rumah sakit jiwa, Dira. Karena aku yakin, kamu tidak akan mampu menghadapi kenyataan. Aku sudah tidak sabar menunggu saat itu tiba. Akulah orang pertama yang akan mensyukuri dan menertawakan kehancuran kalian. "


Deva menyambar tas miliknya yang tergeletak di sofa. Lalu dia meninggalkan Dira, Dewa dan juga Desta begitu saja. Dewa buru-buru mengejar Deva setelah sebelumnya meminta Desta untuk menahan Dira.

__ADS_1


Mengabaikan beberapa pengunjung yang memperhatikannya dengan heran. Deva terus berjalan cepat menuju pintu keluar. Suara Dewa yang memanggilnya diabaikan begitu saja.


"Dev ...." Dewa yang berhasil mensejajarkan diri dengan Deva menggenggam pergelangan tangan asisten pribadinya tersebut untuk menghentikan langkah Deva.


"Rapikan rambutmu dulu. Kalau kamu kembali ke kantor dengan keadaan seperti ini, apa kata karyawan yang lain." Dewa mengulurkan tangan kanannya untuk merapikan rambut Deva yang masih berantakan akibat jambakan Dira.


Deva tidak menolak perlakuan Dewa. Perempuan tersebut hanya berdiam diri menatap sosok pria di depannya dengan tatapan seperti orang yang sedang melamun.


"Fokus pada masalah papamu saja. Jika kisah Dave hanya membuatmu lemah, tolong berusahalah mengabaikannya sebentar. Kamu tidak sendiri, ada aku dan mama yang akan selalu di sampingmu."


Deva membalas tatapan Dewa. Ketulusan terlihat jelas di sana. "Bapak tidak harus terlibat masalah ini. Bapak fokus saja dengan kesehatan Bapak. "


"Aku sehat, Deva, "tegas Dewa.


"Tidak ... Bapak tidak baik-baik saja. Dokter menyarankan Bapak melakukan pemeriksaan di tempat lain untuk memastikan diagnosa."


"Kita ngobrolnya di ruanganku saja." Dewa menggandeng tangan Deva dan mengajak perempuan tersebut berjalan menuju kantor Diamond Corp yang tidak jauh dari tempat sekarang mereka berada.


Tidak sampai sepuluh menit berjalan beiringan dengan tangan Dewa yang terus menggenggam tangan Deva. Kedua orang tersebut pun menginjakkan kaki di lantai lobby kantor yang menjadi sumber mata pencaharian mereka. Beberapa karyawan yang kebetulan melintas di lobby tentu secara tidak sengaja melihat kebersamaan Deva dan Dewa.


Bisik-bisik lirih antar karyawan pun mulai terjadi. Pemandangan yang tidak biasa Dewa dan Deva begitu dekat sampai bergandengan tangan. Biasanya, kedua orang tersebut lebih sering menjarak langkah mereka. Jelas, dugaan para karyawan tidak jauh-jauh dari adanya hubungan spesial di antara Deva dan Dewa.

__ADS_1


Sampai masuk hingga keluar dari lift, tangan keduanya masih saling bertautan. Sama-sama lupa atau mungkin terlalu nyaman. Tidak ada yang berniat untuk melepas genggaman tersebut.


"Pak Ewa ... Deva .... " Sashi menyambut kedua orang yang sudah berada di depannya itu dengan bola mata yang membulat sempurna.


Deva hanya memberikan senyuman tipis pada Sashi. Lalu berjalan terus mengikuti langkah Dewa yang mengabaikan Sashi.


"Tidak ... tidak mungkin. Jangan sampai diam-diam mereka jadian. Masak aku ditikung Deva? Kalah sama Hilda soal gampang. Tapi kalau sama Deva, ngerebutnya susah dong. Menang dada, kalah rupa kalau sama dia." Sashi terus berbicara pada dirinya sendiri.


Sementara itu di dalam ruangan Dewa, akhirnya kedua tangan baru saling terlepas dengan diikuti pipi merona merah dari pipi Deva. Sedikit salah tingkah, perempuan itu mengalihkannya dengan buru-buru membuka tas yang dikenakannya dan menyodorkan hasil general check up pada Dewa.


"Bapak sebenarnya sakit apa?"


Dewa tersenyum sambil membuka amplop tadi. Mendengar pertanyaan Deva yang menyiratkan kekhawatiran, membuat Dewa merasa diperhatikan. Tapi senyuman itu perlahan memudar, begitu membaca hasil general check up nya sendiri. Kepala pria tersebut menggeleng pelan.


"Tidak mungkin," lirihnya.


"Apa yang tidak mungkin, Pak? Kenapa?" Deva seperti sedang memaksa Dewa untuk menjelaskan sesuatu kepadanya. Tangan Deva mencengkeram satu lengan Dewa sedikit kuat.


Dewa menatap Deva dengan sendu. Ada keraguan untuk bercerita. Namun, saat ini, Deva sudah menjadi orang yang bisa diandalkannya dalam segala kondisi. Ke depannya, tentu Dewa akan membutuhkan bantuan Deva. Apalagi untuk menghadapi mamanya.


"Bisakah aku percaya padamu, Dev?" tanya Dewa.

__ADS_1


"Adakah alasan saya untuk mengkhianati seseorang yang sudah meletakkan kepercayaannya kepada saya? Apa saya terlihat seperti pengkhianat?" Deva balik bertanya.


__ADS_2