
Dave dengan cepat mendorong tangan Dira. "Jangan menyentuhku, Dir. Tolong! Aku tidak ingin kasar sama kamu, jadi tolong, jangan dekat-dekat sama aku."
Fira menyesali kebodohannya. Tidak semestinya dia memberi tahu Dira tentang kondisi dan keberadaan Dave. Lagi-lagi, tindakannya hanya membuat kekesalan di hati sang putra.
Deva muncul dengan pakaian kerja yang sangat rapi. Tas juga sudah menyampir di pundak kirinya. Dave memaksakan diri untuk menatap Deva. Matanya benar-benar seperti ditimpa satu galon air, terasa begitu berat.
"Pakailah mobilku, Bee. Anggap saja itu kenang-kenangan dariku. Itu bukan pemberian papa dan mama, aku membelinya dengan usahaku sendiri. Aku bebas memberikannya pada siapa saja. Ambillah, aku tidak butuh mobil. Aku tidak butuh apa pun lagi." Mata Dave semakin mengatup, kepalanya semakin dalam bersandar pada pundak Fira.
"Aku bersyukur, Tuhan memberiku sakit. Setidaknya, aku tahu kamu khawatir. Aku tahu kamu masih sangat peduli padaku. Meski kita tidak bisa bersama. Aku tidak akan membiarkan diriku bahagia dan melupakanmu begitu saja. Aku tidak mau bahagia tanpa kamu, Bee. Biarlah mereka puas melihat aku tersiksa. Akan aku nikmati sakitku." Suara Dave semakin pelan. Sepertinya dia memang sedang meracau.
Fira menatap miris pada putra satu-satunya, tangannya kini merengkuh kuat pundak sang sang anak. "Kita ke rumah sakit saja, Pa. Badan Dave panas sekali. Apa yang dibicarakan jelas sekali di luar kesadarannya."
"Dave ... dengar aku, kamu harus sembuh. Jangan bersikap konyol seperti ini. Kita ke dokter. mau tidak mau, pada akhirnya, akulah calon istrimu. Sangat tidak pantas, kamu merepotkan orang yang sama sekali tidak ada hubungan denganmu. Jika kamu tidak mau menjaga perasaanku. Setidaknya, jagalah kehormatan Deva di mata orang lain," tegas Dira. Dia mencoba mendekati Dave yang semakin lama semakin terlihat lemas. Namun pria itu masih cukup peka. Dengan bahasa tubuhnya, Dave monolak disentuh Dira.
"Dir, jangan katakan hal-hal yang memberatkan pikiran Dave dulu. Kita fokus pada kondisinya. Tolong mengerti sebentar. Mama mohon," lirih dan getaran suara Fira, membawa Agas semakin jatuh ke dalam penyeselan.
Deva hanya berdiri bergeming. Dia benar-benar tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ingin rasanya dia menjerit untuk meluapkan sesak di dada. Melihat Dave semenderita itu, sungguh membuatnya tidak tega. Pria tersebut tidak pernah serapuh sekarang. Bertahun-tahun bersama, Dave-lah yang selalu dijadikannya tempat bersandar. Disetiap duka dan kesulitannya, Dave yang selalu ada.
"Pa, ayo kita ke dokter. Bantu Dave berjalan ke mobil." Fira sedikit berteriak, karena Agas tampak malah melamun.
__ADS_1
Dira berniat membantu calon mama mertuanya untuk menopang tubuh Dave. Lagi-lagi, pria tersebut menolak. Meski matanya terus memejam, dia masih berusaha agar bisa menepis tangan Dira.
"Jangan sentuh aku, Dir," kalimat yang seharusnya bernada bentakan itu, malah terdengar seperti rayuan. Saking lirih dan lembutnya. Begitu tidak berdayanya Dave kali ini.
"Biar Papa saja, Dir. Kali ini, tolong kamu turuti ucapan Dave," Agas ikut memohon agar Dira tidak lagi memaksa untuk mengurus Dave.
"Ayo, Dave. Kamu kuat, jangan buat Papa merasa tidak berguna seperti ini." Agas meletakkan tangan kiri Dave ke atas pundaknya.
"Jalan pelan-pelan ya, Dave," Fira memberikan semangat pada sang putra.
"Bee... kamu masih di sini, kan? Tolong beri aku kekuatan. Tidak masalah aku berjalan jauh. Asal ada kamu yang menopangku," lirih Dave.
Dengan raut wajah sinis, Dira melirik pada Deva yang benar-benar berdiri tegak seperti patung. Sampai detik ini, dia masih belum menemukan apa sebenarnya yang membuat Dave begitu menggilai sosok Deva. Dari segi fisik, jelas Dira tidak kalah. Namun, sepanjang kebersamaan, entah mengapa Dave sama sekali tidak meliriknya.
"Dev, tolong antar Dave sebentar." Agas akhirnya menguatkan hati menatap Deva penuh harap.
Tidak menunggu lama, Deva bergegas menggantikan posisi Fira. "Jalan sekuat, Abang. Kalau capek, Abang bilang. Jangan lemah, Bang."
Fira dan Agas saling bertukar pandang. Andai saja masalah yang mereka hadapi tidak perlu melibatkan orangtua Dira, jelas mereka tidak akan membawa Dave dalam keterpurukan seperti sekarang. Deva sempurna di mata mereka. Sikap dan tuturnya terasa tulus menyentuh hati. Dan yang paling penting, Deva selalu bisa membuat Dave yang dulunya sangat tertutup---menjadi pribadi yang lebih terbuka.
__ADS_1
Dira mensejajarkan posisinya di samping Fira. Lalu berjalan perlahan mengikuti langkah Dave yang benar-benar pelan dan sedikit terhuyung. Sementara Deva dan Agas, kompak saling bergantian membisiki Dave agar terus melangkah pelan.
"Pakailah mobilku, Bee. Aku sama papa mama saja. Kamu berangkatlah kerja. Nanti, makan siang atau pulang kerja, jenguk aku lagi, ya. Kamu hati-hati di jalan," lirih Dave begitu dia sudah dibaringkan di jok belakang.
Deva memilih untuk mengiyakan saja apa ucapan Dave. Selain untuk mengurangi perdebatan. Juga agar pria yang dicintainya itu, segera berangkat untuk mendapatkan pertolongan dokter di rumah sakit.
Fira masuk ke dalam mobil di mana Dave berada. Begitu juga Agas yang memang menempati posisi pengemudi. Dira pun terdiam, kedua calon mertuanya, ternyata juga melupakan keberadaannya. Mobil yang membawa calon suaminya pun, meninggalkan halaman rumah Deva. Tidak ada kata ajakan dari bibir Fira atau pun Agas untuknya.
Dira mendekati Deva yang nampak bergeming di posisinya menatap mobil Agas yang semakin menghilang dari pandangannya.
"Ajari aku agar Dave bisa mencintaiku, Dev. Jika kamu mencintainya, tentu kamu ingin melihat dia bahagia, bukan?" Dira mendekati Deva. Memberikan pernyataan yang sama sekali tidak pantas untuk dilontarkan.
"Kenapa pertanyaan itu tidak kamu tujukan untuk diri kamu sendiri saja, Dir? Jika kamu mencintai Dave, kenapa kamu tidak membiarkan dia bahagia? Kenapa kamu malah tega membuatnya tersiksa begini?" Deva dan Dira saling melemparkan pandangan sinis.
"Dave akan lebih bahagia bersamaku. Dia justru akan menyesal jika dia bersamamu. Lihat saja! Suatu saat nanti, Dave pasti akan melupakanmu." Dira semakin tajam menantang Deva.
"Aku menunggu saat itu tiba, Dir." Deva berjalan masuk ke dalam rumahnya, Dira terus mengikuti langkahnya di belakang. Padahal, Deva hanya sekedar ingin mengambil kunci mobil Dave dan menutup pintu rumahnya.
"Ini kunci mobil calon suamimu. Aku tidak mau memakainya. Aku masih berusaha tetap menghargaimu, Dir. Jadi tolong, lakukan hal yang sama. Jika kamu memang mencintai Dave, belajarlah cara mencintai yang benar. Jangan membuat dia semakin menjauh darimu." Deva memberikan kunci mobil pada Dira.
__ADS_1
"Dave pernah mencintaiku, Dev. Suatu saat, cinta itu pasti akan tumbuh kembali. Dave sudah terikat janji padaku beberapa tahun yang lalu. Jauh sebelum mengenalmu. Aku akan mengingatkan siapa aku setelah dia sembuh nanti." ucap Dira. Membuat Deva terpana dan bertanya-tanya.