Sisa Rasa

Sisa Rasa
Kondisi Nina


__ADS_3

"Sampai saat ini, kondisi Bu Nina belum sadarkan diri. Bisa dikatakan kritis. Peralatan medis yang kami miliki sebenarnya tidak terlalu mumpuni untuk mendiagnosis awal kemungkinan terburuk yang bisa dialami oleh beliau. Namun, untuk menyarankan dan memberi rekomendasi dipindahkan ke rumah sakit di kota lain pun kami tidak bisa. Mengingat status tersangka yang diberikan oleh pihak kepolisian," tutur sang dokter dengan jelas dan lugas.


"Atas dugaan penyalahgunaan obat, akan segera kami luruskan segera setelah pengacara keluarga kami datang. Hanya sedikit kesalahpahaman. Istri saya sedang menjalani pengobatan psikologi yang mengharuskan dia untuk mengkonsumsi beberapa obat. Sama-sama kita ketahui, obat untuk masalah kejiwaan, tidak sedikit yang mengandung zat psikotropika, bukan?" Rudi berbicara dengan santai. Matanya menatap sang dokter dengan berani.


"Masalah itu, tentu di luar kewenangan saya. Tugas saya memberikan yang terbaik untuk kesembuhan Bu Nina," sahut dokter dengan cepat.


"Saya cukup mengerti. Yang ingin saya pastikan di sini adalah kapan istri saya bisa dipindahkan jika saya sudah menyelesaikan proses hukumnya? Dan seberapa parahkah kondisi istri saya? Hingga menyebabkan dia sampai kritis."


Sepanjang pembicaraan Rudi dengan dokter, Dira hanya terdiam. Perempuan itu terus menenangkan dirinya dengan memainkan ujung atasan yang dikenakan hingga membuat kain tersebut begitu kusut.


"Kecelakaan yang di alami Bu Nina termasuk dalam kategori kecelakaan berat. Kami mengindikasi, ada cidera atau pun kerusakan di tulang belakang Bu Nina. Yang kami khawatirkan adalah kondisi itu juga berpengaruh pada sumsum tulang belakangnya. Namun, terlalu dini untuk mengatakan demikian. Kami masih harus meneliti dan memastikan lebih lanjut untuk menegakkan diagnosis kami."


Dira seketika memejamkan matanya, meskipun dia bukan dokter spesialis syaraf,tentu dasar-dasar ilmunya dia paham.Tulang belakang adalah organ yang sangat vital untuk tubuh. Perempuan itu kembali mencari obat di dalam tasnya, lagi dan lagi, dia menelan tiga butir lagi tanpa bantuan air seperti biasa.


Dokter hanya mengernyitkan keningnya. Merasa bukan menjadi urusannya, Dokter tersebut untuk mengabaikan apa yang dilihatnya begitu saja.


"Ditambah lagi, mata Bu Nina terkena serpihan kaca yang cukup serius. Kami sudah melakukan tindakan awal sesuai prosedur. Harapan kami, serpihan itu tidak sampai menyebabkan kerusakan pada kornea. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan sekarang adalah berdoa. Semoga campur tangan Tuhan, menuntun Bu Nina pada kesadaran dan kesembuhan," harap dokter di penghujung penjelasannya.


Rudi meraup wajahnya dengan kasar. Begitu cepat keadaan berubah. Saat berpamitan padanya kemarin, Nina masih baik-baik saja dan sangat ceria. Sekarang, kondisi perempuan yang sudah menemani hidupnya selama hampir empat puluh tahun itu berbeda seratus delapan puluh derajat. Meski tidak harmonis kelihatannya, Rudi tidak memungkiri, Ninalah yang banyak memberikannya pengaruh dalam bersikap selama ini.


"Pa, bagaimana kalau Mama tidak selamat, Pa?" Dira kembali memeluk Rudi di depan mata sang dokter.


"Serahkan sama Papa. Semua pasti akan baik-baik saja," Rudi membelai rambut Dira dengan lembut. Tatapan matanya menerawang seperti orang yang sedang melamun.

__ADS_1


***


Pulang kerja malam ini, Deva dan Dewa tidak langsung pulang ke rumah. Deswita sengaja meminta dibawakan makanan dari resto sunda favoritnya. Jadilah kedua orang tersebut mampir dulu ke tempat yang dimaksud oleh Deswita.


"Lumayan jauh ya, Pak? Tapi sesuai sih, tempatnya adem dan sangat nyaman." Deva mengedarkan pandang ke sekeliling. Deretan saung di atas kolam ikan segar, dikelilingi pemandangan alam buatan, sungguh membuat mata menjadi segar meski di malam hari. Alunan musik lembut khas sunda, menambah suasana bumi parahiyangan semakin kental. Keberadaan mereka yang masih berada di ibukota, serasa tersamarkan.


"Kamu belum pernah ke sini?" tanya Dewa sembari melepas sepatunya.


"Belum pernah. Ini yang pertama," jawab Deva sembari duduk lesehan di dalam salah satu saung yang dipilih oleh Dewa.


"Ya elah, kamu kemana aja? Tempat ini menurutku enak malah kalau dibuat pacaran," ceplos Dewa.


"Oh, jadi ini tempat kenangan Bapak sama mantan," timpal Deva.


"Bukanlah. Aku kan cuman bilang menurutku, bukan sepengalamanku. Dulu aku sama Debora lebih sering nonton. Tahu sendirilah asiknya nonton sama pacar itu gimana." Dewa mengambil lembaran menu makanan. Memilih langsung tanpa meminta persetujuan Deva. Lalu memukul kentongan yang menggantung di sudut saung untuk memanggil pelayan.


"Dih, pasti ingat first kiss, nih. Boleh nebak nggak?" Dewa meledek Deva.


Deva tidak langsung menjawab. Karena pelayan datang untuk mengambil menu pesanan yang sudah dibuat oleh Dewa tadi. Sembari memberikan, atasan Deva tersebut kembali menyebutkan menu-menu yang dimakan di tempat, dan menu lain yang dibawa pulang untuk memenuhi pesanan Deswita. Sebuah hal yang aneh bagi Deva, seharusnya, yang membaca menu tersebut adalah pelayan. Ini malah pembelinya yang membaca ulang.


"Bapak memang multi talented, ya? Kemarin jadi marketing perumahan, sekarang jadi pelayan resto. Ckck ... luar biasa."


"Ngledek aja terus, sayang sama aku, baru tahu rasa kamu," sumpah Dewa.

__ADS_1


"Dih, mana bisa begitu." Deva mencubit lengan Dewa dengan gemas.


"Ini cubitan yang keberapa, Dev?" sungut Dewa sambil mengusap-usap bekas cubitan Deva. "Eh, kamu belum jawab loh," tambahnya.


"Jawab apa?" Deva pura-pura lupa.


"First kiss ... Bener kan kamu tadi inget first kiss-mu? Pasti di bioskop, dan jelas tentunya sama si suami orang itu."


"Waktu itu bukan suami orang, Pak. Yang bener deh kalau ngomong." Deva menjawab dengan sedikit kesal.


"Sudah aku duga. Rata-rata ciuman pertama memang di bioskop. Seru ya? Kayak deg-deg'an gitu nggak sih?" Dewa semakin bertanya dengan semangat.


"Bapak apaan, sih? Bahas yang lain saja." Deva tersipu malu. Pipi putih mulusnya mendadak merona kemerahan. Dia sungguh tidak akan lupa kejadian tersebut. Bukannya membalas ciuman Dave dengan lembut, saat itu Deva malah menggigit bibir kekasihnya hingga kulit daging tanpa tulang Dave sedikit lecet.


"Sekarang sudah pro, dong?" melihat raut wajah Deva yang semakin menggemaskan, Dewa pun semakin semangat menggoda.


Tanpa disadari oleh keduanya, suasana yang dulunya kaku dan formal, kini perlahan mencair. Kata-kata Dewa yang biasanya angkuh pun sudah jarang lagi terdengar. Obrolan keduanya semakin mengalir hangat. Dari masalah pekerjaan, hingga kadang ada curahan hati pribadi yang tidak sengaja dilontarkan.


Di tempat lain, tepatnya di kediaman agas, pria yang berharap pulang untuk mendapatkan ketenangan, malah menjadi semakin emosional. Pria itu tampak menghancurkan seisi kamarnya. Meja rias, kaca-kaca walk in closet, pecah berpuing-puing di lantai. Mengetahui kepergian Fira dari rumah.


"Perempuan tidak tahu diri. Aku tidak akan memberimu ampun, Fira! Aku akan mencarimu sampai ke lubang semut sekali pun." Agas membanting foto keluarganya yang menempel pada dinding di atas ranjangnya.


Dave yang kebetulan datang ke rumah untuk mengambil beberapa keperluannya, sekaligus ingin memastikan apa yang sudah terjadi hingga mamanya memutuskan pergi dari rumah, mau tidak mau mendengar dan melihat amukan papanya.

__ADS_1


Mantan kekasih Deva tersebut tidak langsung masuk ke kamar dimana kekacauan berasal, Dave memilih untuk menunggu kemarahan Agas mereda.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa aku merasa begitu banyak yang disembunyikan mama dan papa?" batinnya.


__ADS_2