Sisa Rasa

Sisa Rasa
Kilah Debora dan mamanya


__ADS_3

Deva kembali melangkahkan kaki, diikuti yang lain termasuk Dewa. Tidak ikut mengalami atau terlibat langsung, mendadak jantung Dewa ikut berdebar-debar. Sama halnya dengan Deva, dia pun memertanyakan dua sosok perempuan yang sedang bersimpuh di samping gundukan tanah kuburan baru itu. Meskipun Dewa baru pertama kali datang, dia yakin benar, tempat dua orang yang sangat dikenalnya berada sekarang, adalah makam dari papa Deva.


"Kak Debora, kenapa bisa di sini?" Deva langsung bertanya begitu jarak mereka hanya menyisakan dua langkah saja.


Debora dan sang mama seketika mendongakkan kepala ke arah Deva. Jelas sekali keduanya nampak sangat terkejut. Debora dan Widya---mamanya, beranjak berdiri dengan gerakan yang menyiratkan salah tingkah.


"Bukankah Ibu adalah Bu Dokter yang membeli kalung saya di rumah sakit beberapa tahun yang lalu?" seolah ingin meyakinkan diri, Deva juga bertanya pada perempuan berusia lebih separuh abad di samping Debora.


"Kalung? Kalung apa ya? Tante sepertinya tidak pernah bertemu kamu. Tante memang seorang dokter. Tapi sudah lama pensiun. Hampir delapan tahunan." Saras tidak berani menatap Deva saat mengatakannya. Dari nada bicaranya jelas terselip keraguan.


Debora menelan ludahnya dengan susah payah. Mencoba mengajak otaknya berpikir singkat dan tepat. Mencari-cari alasan yang masuk akal dan tidak menimbulkan tanya yang lebih jauh dari Deva.


Deva memberikan tatapan menyelidik pada Debora dan Sarah. Entah mengapa, dia merasa perlu menanyakan lebih jauh perihal masalah ini.


Hilda dan Sashi hanya bisa menyimak dalam diam. Keduanya sepakat menahan diri untuk tidak memberikan reaksi. Sementara Dewa, hanya bisa menata debaran jantungnya yang masih tidak stabil. Dewa merasa dua orang di depannya terlalu munafik.


Mengingat cerita Debora, membuat dirinya merasa sesak sendiri. Jika Dewa di posisi Deva, belum tentu dia akan sanggup menjalani semua dengan baik. Satu hal yang pasti, dia ikut merasakan kecewa pada Debora dan mamanya. Kedua orang tersebut bisa mengubah keadaan, setidaknya bisa mengajukan diri sebagai saksi. Nyatanya, baik Debora maupun Dokter Sarah, memilih untuk menyimpan rapat-rapat hal yang membuat Amar divonis bersalah di pengadilan tindak pidana korupsi.


"Papaku minta kami mewakili taziah ke temannya. Kami tahu semua dari pihak kepolisian yang mengirim informasi ke papa. Tidak disangka, Pak Amar ternyata adalah papa kamu. Dunia sempit sekali," kilah Debora. Alasan itu terlintas begitu saja di pikirannya.

__ADS_1


Deva hanya terdiam. Mulutnya mengatup rapat. Bukannya percaya. Tetapi dia memilih untuk tidak berdebat di depan makam sang papa. Deva tidak semudah itu percaya pada Debora dan juga Sarah.


"Dunia memang sempit, Kak. Saking sempitnya, kita tidak mempunyai ruang untuk menyimpan kebohongan dengan rapi sampai akhir. Cepat atau lambat---disengaja atau tidak, kebohongan akan menebarkan bau busuknya sendiri."


Ucapan Deva tepat mengenai perasaan Debora dan Sarah. Kedua orang itu semakin nyata menampakkan ketidak nyamanan. Debora menatap mamanya sekilas. Memberi isyarat untuk segera meninggalkan situasi yang sama sekali tidak diinginkan.


"Dev... kami turut berduka cita ya, semoga kebaikan Pak Amar bisa dijadikan penerang di alam keabadian beliau. Maaf, kami pamit duluan." Debora mengatakannya dengan buru-buru. Tanpa menjabat tangan Deva dan menyapa yang lain---termasuk Dewa, Debora disusul mamanya, bergegas meninggalkan area makam.


Seolah tidak terjadi apapun, Deva langsung bersimpuh di samping makam sang papa. Mengabaikan, celana bagian lutut yang kotor karena menyentuh tanah. Dewa melakukan hal yang sama. Tidak demikian dengan Hilda dan sashi, keduanya kompak berjongkok. Di segala suasana, mereka masih memedulikan penampilan.


"Asalamualaikum, pa. Ini teman-teman Deva di kantor. Deva tidak sendirian, sekarang papa jangan cemaskan Deva. Kemarin malam, teman-teman papa sebagian juga datang. Dan barusan ada dua perempuan yang mengunjungi papa. Entah siapa sebenarnya mereka." Deva menarik napas dalam. tangannya terulur mengusap batu nisan.


Deva lalu berdiri, melangkah mendekati makam mamanya. "Assalamualaikum, ma. Deva datang lagi. Tapi hanya sebentar. Ma... kapan mama datang ke mimpi Deva? Tolong bisikkan pada Deva, apa yang bisa membuat hidup Deva bisa kembali bersemangat. Tidak semangat hidup, bukan berarti kita bisa mati bukan? Deva akan jalani hidup Deva semampu Deva. Jangan marahin Deva kalau pada akhirnya Deva jadi cengeng dan mudah mengeluh."


Mendengar kata-kata Deva, Dewa semakin ikut nelangsa. Sikap angkuh yang ditampilkan selama ini, ternyata hanya untuk menutupi luka dan beban hidup yang cukup berat. Dewa membaca doanya dalam hati. Bukan papa dan mama Deva yang dia doakan. Melainkan, Deva. Ya... dia berharap Tuhan memberikan kesabaran dan kekuatan berlipat-lipat pada perempuan tersebut.


Deva beranjak berdiri terlebih dahulu, perempuan itu berjalan meninggalkan yang lain. Mungkin lupa, atau karena melamun.


"Dev, tunggu!" teriak Hilda. Berhasil membuat langkah Deva terhenti.

__ADS_1


"Diantar, malah kami ditinggal. Sungguh ucapan terimakasih yang sangat manis," sindir Sashi.


Deva hanya tersenyum sekilas, lalu kembali berjalan lebih dulu. Dewa menyusul langkah Deva dengan cepat. Pria itu menyamakan posisinya dengan posisi Deva.


"Pak Ewa, mau makan di mana kita? Saya sudah sangat lapar." tanya Sashi, ikut-ikut mensejajarkan langkahnya dengan Deva dan Dewa. Semuanya terus melangkah menuju tempat parkir makam.


"Boleh tidak kalau kita makan di rumah saja. Aku akan memasak untuk kalian semua. Kita cukup mampir ke pasar saja sebentar. Kita bisa beli jajanan pasar dulu untuk mengganjal lapar. Kalau kalian keberatan, aku bisa ke pasar sendirian. Aku masih belum bisa terlalu lama meninggalkan rumah. Takut kali aja ada teman papa lagi," pinta Deva. Perasaannya menjadi tidak tenang.


"Tentu saja boleh. Kita nurut kamu kali ini. Bukan karena perhatian, tapi karena aku tidak senang melihat perempuan menangis. Kamu cengeng sekali. Seperti Jason," sahut Dewa.


"Aku tidak cengeng. Nangisku sama nangisnya anak Pak Dewa itu beda," sangkal Deva.


"Hah, Pak Ewa sudah punya anak? Punya istri juga dong? Pak Ewa suami orang? Saya belum punya cita-cita jadi pelakor, Pak." Sashi nampak sangat terkejut.


"Please, duda saja dong, Pak. Biar penggemar Bapak seperti kami ini tidak kecewa. Please!" Hilda malah memberikan permohonan konyol.


"Pak, jawab dong. Sebenarnya, Pak Ewa itu suami orang, duda, atau perjaka yang sudah ternoda?" Sashi bertanya dengan lebih gamblang. Tidak sabar menanti sebuah jawaban.


"Kalau sampai pesonaku pudar gara-gara ucapanmu---aku pastikan akan menyumpal bibirmu dengan bibirku tanpa ampun," ancam Dewa setengah berbisik tepat di daun telinga Deva.

__ADS_1


__ADS_2