Sisa Rasa

Sisa Rasa
Resepsi part 1


__ADS_3

Tidak semua yang diingini harus didapatkan. Segala sesuatu tetaplah memiliki batasan. Uang dan kekuasaan, tidak selamanya mampu membeli sesuatu itu atau menukarnya dengan kesepakatan. Demikian halnya yang terjadi pada Dira saat ini.


Tim MUA yang menangani wedding Dave dan Dira, jelas paham betul apa arti tanggung jawab profesi. Nama baik dan kepuasan pelanggan dalam arti sesungguhnya adalah yang utama. Sejumlah uang tidak membuat mereka silau. Nama baik, jauh lebih penting dari segalanya. Untuk sampai pada titik sekarang, mereka harus melewati proses yang panjang dan tidak mudah. Ratusan wajah mempelai wanita harus mereka poles sempurna untuk mendapatkan penilaian positif. Jangan hanya karena satu orang, keprofesionalan menjadi diragukan.


"Apa lipstiknya tidak kurang gelap sedikit dari gaunku? Aku ingin bibirku terlihat sensual dan menggoda."


Pertanyaan dari Dira membuat sang MUA menarik napas panjang. Sedari awal, dia sudah menahan diri untuk bersabar. Dira terlalu banyak ikut campur saat dia melakukan riasan. Hal itu tentu saja mengubah mood-nya menjadi tidak baik. Padahal, semua yang dilakukan MUA jelas sudah sesuai standart kesepakatan mereka saat meeting akhir bersama seluruh vendor yang mendukung jalannya rangkaian pernikahan Dira dan Dave.


"Nah, begini lebih bagus. Aku benar-benar akan menjadi ratu hari ini." Dira berdecak kagum menatap pantulan wajahnya sendiri. Gaun merah berpotongan A line tanpa lengan, dengan hiasan full brokat putih pada bagian dada yang dia kenakan, serasa menyempurnakan penampilan istimewanya kali ini.



"Kamu pasti akan menyesal karena menjaga jarak denganku, Dave. Malam ini matamu pasti akan melihat dengan jelas, betapa istrimu ini jauh lebih luar biasa dibanding mantanmu itu." Dira terus memuji dirinya sendiri.


MUA membereskan peralatannya cepat-cepat. Tidak adanya orang lain di kamar tersebut, sungguh memberikan tantangan tersendiri bagi MUA dan asistennya. Dalam hati, keduanya kompak bertanya-tanya tentang keberadaan mempelai pria yang biasanya sudah sekamar setelah akad.


Sementara itu, di lantai yang berbeda dengan Dira, tepatnya di kamar Deva, seorang perempuan bergaun merah dengan model bahu terbuka dan juga berpotongan A-line, tampak cantik dalam kesederhanaannya, tetapi begitu elegan dan mempesona.


__ADS_1


"Ya Allah, berikanlah aku kelapangan hati yang luas untuk menerima takdirMu. Aku sudah tidak sanggup berlari. Aku paksakan hatiku untuk ikhlas. Tolong bantu aku tegar melewati hari ini. Engkaulah Sang pemilik kekuatan hati." Perempuan yang pastinya adalah Deva itu mencoba menarik garis senyuman di bibirnya. Lalu dia duduk di tepian ranjang untuk menunggu waktu resepsi dimulai.


Di kala Deva sedang menata hatinya, tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan Dave saat ini. Mengenakan setelan jas hitam dengan potongan biasa, tidak mengurangi ketampanannya sedikit pun. Hanya jas biasa saja yang melekat ditubuh Dave, bukan tuxedo putih yang sudah disiapkan oleh Dira. Andai nanti Dave duduk di meja para tamu, perbedaannya dengan yang lain tentu tidak akan terlalu mencolok. Selain wajah Dave yang memang rupawan, tidak ada yang tampak istimewa darinya malam ini.


"Kenapa kamu harus nekat datang, Bee? Mampukah kakimu menopang badanmu kali ini? Badanmu sudah menanggung beban kesedihan yang pastinya jauh lebih berat dari beban kehidupan di pundakmu. Bisakah aku pura-pura tidak peduli? Jika senyumku membuatmu bahagia, haruskah aku melakukannya meski terpaksa? Dengan cara apa aku harus melindungimu dari luka selanjutnya?" Dave berbicara dengan menatap layar ponsel yang menampilkan foto Deva. Dia berbicara seolah Deva ada di depannya.


Suasana berbeda terdapat di kamar Dewa, pria tersebut sudah mengenakan setelan jas yang hampir sama persis dengan yang Dave kenakan. Hanya saja, sentuhan detail corak kain songket di siku Dewa, sedikit memberikan kesan lebih santai pada pria tersebut.


Bukan mempelai, namun tidak bisa dipungkiri jika jantung Dewa berdetak lebih kencang. Malam ini, bukan pertama kalinya dia menjadi pendamping mempelai pria. Hanya saja, hubungan Dewa dengan Dave yang sama sekali tidak harmonis, membuatnya masih sulit menerima jika pria tersebut harus menjadi sepupu iparnya.


"Nyil, kamu sudah pantes loh jadi pengantin." Deswita yang sedari tadi sudah berada di kamar Dewa karena tidak tahan di kamar sendirian, mengatakannya dengan hati-hati.


Deswita tersenyum dan beranjak berdiri. Perlahan dia mendekati Dewa, mengulurkan tangan merapikan bagian depan jas yang agak miring.


"Mana bisa begitu, Nyil. Tuhan menciptakan umatnya berpasa---,"


"Cukup, Ma. Berpasangan itu satu. Pada kenyataannya, banyak pria yang menikah lebih dari satu. Banyak yang berselingkuh setelah menikah."


"Tidak semuanya seperti itu, Nyil. Kamu laki-laki, buktikan pada Mama, kalau anak Mama ini tidak sama dengan laki-laki yang lain." Deswita mengatakannya dengan tatapan sendu. Bagaimana pun, dia adalah seorang ibu, tentu sudah sewajarnya kalau Deswita mengharapkan kehidupan Dewa senormal yang lain. Mempunyai hubungan yang serius, lalu menikah.

__ADS_1


Dewa bernapas lega, dia terselamatkan dari desakan Deswita begitu ponsel sang mama berdering. Rupanya, Rudi mengabarkan jika resepsi akan segera di mulai. Mereka diminta untuk turun ke lantai satu di mana ballroom tempat acara berada.


"Yuk, Nyil. Kita panggil Deva dulu. Tapi ingat kata-kata Mama tadi. Kamu, sudah pantes jadi suami." Deswita langsung mengamit lengan putra tunggalnya itu dengan erat.


"Hmmm ... Ma, nanti Dewa nggak harus nggandeng tangan Deva kayak gini, kan?" Selain karena ingin mengalihkan pembicaraan, Dewa bertanya karena tidak bisa membayangkan kalau sampai hal tersebut memang harus dilakukan. Hatinya sedang tidak baik-baik saja. Dia harus menghindari segala sesuatu yang membuka celah untuk seseorang mengobrak-abrik hatinya itu lebih jauh.


"Lihat nanti saja. Seharusnya, semestinya, dan biasanya sih iya. Lakukan saja apa yang pantas. Jangan mengambil kesempatan. Mama tahu Deva terlalu menggemaskan untuk diabaikan." Deswita sengaja mengatakannya. Kecurigaan perempuan tersebut kini semakin bertambah. Begitu pula dengan nalurinya sebagai ibu yang tidak bisa dibohongi. Sedikit banyak---diakui atau tidak, Dewa sudah menaruh hati pada Deva.


****


Berselang beberapa waktu kemudian, semua sudah berderet rapi di atas hamparan karpet merah panjang untuk memasuki tempat resepsi. Di barisan depan sendiri adalah orangtua dari Dira, diikuti orangtua Dave di belakangnya. Lalu menyusul Dave dan Dira, barulah kemudian Deva dan Dewa. Mereka hanya sedang menunggu aba-ada dari floor manager wedding orginizer untuk melangkahkan kaki.


Dira menyembunyikan kekesalannya dengan begitu sempurna karena gagal membuat Deva menjadi si itik buruk rupa. Perempuan tersebut terus menyunggingkan senyuman ramah nan lembut. Sangat berbanding terbalik dengan pria di sampingnya. Yang menampilkan kesan dingin dan juga angkuh. Dave seperti tadi pagi, masih konsisten mengenakan sarung tangan senada dengan warna jasnya. Hal yang benar-benar tidak lumrah. Biasanya, mempelai wanitalah yang menggunakan hand gloves pengantin.


Alunan wedding entrance song yang diputar pun menjadi penanda bahwa langkah kaki harus mulai melangkah. Dave melepaskan tangan Dira dari lengannya. Pria tersebut menundukkan kepalanya begitu dalam. Dira memang luar biasa, entah apa tujuan perempuan tersebut. Di antara begitu banyak lagu yang dipilih, kenapa pilihannya harus jatuh pada lagu Kasih Putih dari mendiang penyanyi ternama Glen Fredly. Sebuah lagu, yang bisa dikatakan lagu sakral bagi Dave dan Deva. Teristimewa bagi Dave sendiri. Setiap kali mereka menghabiskan waktu di karaoke, lagu tersebut menjadi persembahan wajib dari Dave untuk Deva.


Bahu sang mempelai pria terlihat bergetar. Pria itu menangis sesenggukan. Langkahnya begitu pelan. Lebih pelan dari yang diarahkan oleh tim WO. Tidak peduli hampir seribuan pasang mata sedang tertuju padanya. Dave begitu terlihat lemah dihari yang seharusnya menjadi hari terbahagia seorang mempelai. Kilasan kebersamaannya dengan Deva, semakin nyata memenuhi ingatan.


Tanpa sadar, Deva meremas lengan Dewa yang sebelumnya memang dia kamit saat berjalan beriringan. Hati Deva terasa teriris mendapati Dave seperti tidak berdaya. Inilah titik tertinggi mereka yang mencintai dengan kesungguhan. Melihat orang yang dicinta nelangsa dan tidak berdaya adalah sebenar-benarnya luka.

__ADS_1


"Tahan air matamu, Dev. Ini pernikahan---bukan perpisahan, apalagi kematian," bisik Dewa pada Deva.


__ADS_2