Sisa Rasa

Sisa Rasa
Hukuman untuk Deswita


__ADS_3

Selang beberapa menit kemudian, hanya Jason yang turun ke ruang makan. Bocah tersebut belum seceria biasanya. Bibir merah mungil yang biasanya terus mengeluarkan suara-suara nyaring, kini maju beberapa senti. Sangat sesuai dengan nama panggilannya---monyong.


"Kenapa, Nyong?" Deswita menarik kursi di sampingnya untuk diduduki Jason.


"Nyil pasti sedang sedih. Dia tidak memarahi Jason. Dia terus saja diam. Padahal Jason sudah minta maaf." Bocah tersebut menampakkan raut penyesalan.


"Sudahlah, Nyong. Biarkan Nyil sendiri sebentar. Kita makan dulu saja." Deswita berusaha bersikap tenang. Meski dalam hati, perempuan tersebut menyimpan kekhawatiran yang besar.


Deva tidak berani memberikan pendapatnya. Dia memilih untuk menyimak saja pembicaraan keluarga tersebut. Semakin lama berada di sana, sepertinya semakin banyak tanya yang memenuhi isi kepalanya. Tentang Dewa yang terlihat angkuh dan begitu tegas saat memimpin perusahaan, ternyata mempunyai sisi-sisi lain yang masih menjadi misteri.


Tanpa Dewa, mereka melakukan malam bersama dengan suasana yang lebih canggung lagi dari kemarin malam.


Deswita dan Jason, mengunyah makanannya dengan enggan. Kedua orang tersebut, sepertinya sama-sama memikirkan Dewa. Merasa bersalah karena ketidaksengajaan yang mereka lakukan, ternyata membuat Dewa benar-benar kesal dan marah.


"Dev, Mades ke atas sebentar, ya. Mau lihat Dewa dulu." Deswita menyudahi makannya yang masih meninggalkan setengah porsi di atas piringnya.


"Iya, Mades." Deva memberikan senyuman di ujung jawabannya.


Jason semakin mengacak-acak makanannya. Dari secentong nasi yang dia ambil, hanya dua sendok yang berhasil melewati tenggorokan.


Deva berdiri dan membawa makanan di piringnya. Perempuan tersebut sengaja berpindah tempat duduk di samping Jason. Deva menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.


Untuk sesaat, Deva akan mengikuti sejauh mana Jason menyiksa makanan yang sama sekali tidak bersalah.


Setelah makanan di depan piring Deva habis tidak bersisa, perempuan tersebut meneguk segelas air putih hingga tandas. Deva lalu memiringkan tubuhnya agar bisa menghadap Jason lebih leluasa.


"Makanan itu punya salah apa, Jas? Kenapa kamu memperlakukan mereka dengan tidak adil? Apa nasi itu menghinamu? Apa ayam goreng itu mengataimu yang tidak-tidak?" Deva mencoba mengajak Jason bicara. Meski kata-katanya terkesan menyindir, tetapi Deva mengucapkannya dengan lembut disertai senyuman.

__ADS_1


Jason hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Lagi dan lagi, matanya berkaca-kaca, jelas bocah itu akan segera meneteskan air mata.


"Kalau begitu, kenapa kamu marah sama nasi dan ayam itu? Mereka memang bukan makhluk hidup, mereka tidak bernyawa, dan juga tidak bernapas. Tapi, di luar sana, banyak lho orang yang tiap hari mengharapkan bisa mendapatkannya." Deva mengambil sendok dari tangan Jason. Dia mulai mengisi sendok itu dengan makanan dan menyuapkannya pada Jason.


"Jika kamu sedang marah dan juga kesal, jangan melampiaskannya pada makanan. Kalau tidak suka, lebih baik bicara dengan orang yang membuatmu merasa demikian. Jangan mengumpat dalam diam. Mereka tidak akan mendengar apa lagi merasa apa yang sedang kamu pikirkan. Yang ada kamu akan sedih sendiri. Akkk ...." Cerocos Deva sembari kembali menyuapkan makanan ke mulut Jason.


"Kak, Si Nyil sangat baik kepada Jason. Bagaimana kalau dia terus mendiamkan Jason?" Bulir bening berhasil membasahi pipi bocah yang statusnya masih dipertanyakan oleh Deva.


"Kalau begitu, panggil dia dengan cara yang benar. Masak manggil papanya Nyil. Itu sangat tidak sopan."


"Dia bukan papaku!" tegas Jason.


"Lalu siapa?" Deva bertanya dengan sebuah harapan agar bisa menyudahi rasa penasaran dengan jawaban pasti yamg akan diberikan oleh Jason.


"Bukan Jason yang bisa menjelaskan. Nanti Nyil semakin marah. Yang pasti, Nyil memang bukan papa Jason," tegas bocah tersebut.


Sementara itu, Dewa yang kini sudah duduk berdua di tepian ranjang bersama Deswita. Dewa masih memanyunkan bibirnya. Pria tersebut sudah segar dan mengganti bajunya. Sedangkan tangan Deswita, erat menggenggam tangan putra satu-satunya itu.


"Kenapa sampai begini keselnya? Mama minta maaf. Tapi mama yakin, Deva tidak akan meledekmu apalagi menjatuhkan harga dirimu hanya tahu kamu Si Unyil. Memang apa yang salah dengan panggilanmu? Sudah ya ngambeknya? Mama nggak suka didiemin begini. Mama kan sudah bilang nanti kalau kamu menikah, mama bakalan berhenti manggil Nyil," ucap Deswita.


Dewa membalas tatapan mamanya dengan tatapan yang dingin. Sulit untuk diartikan. "Mama tahu, untuk sampai pada rasa percaya diri ini, tidak mudah bagi Dewa. Bahkan sejujurnya, Dewa juga belum bisa percaya diri sepenuhnya. Meski Deva adalah teman curhat Mama, Dewa harap, Mama tidak menceritakan segala sesuatu yang berhubungan dengan Dewa secara berlebihan. Jangan sampai, Deva menarik simpati dan naksir sama Dewa karena terlalu mengagumi Dewa dari cerita Mama."


Deswita menggeleng lemah, di tengah kondisi begini, Dewa masih saja mengingat jelas kalau masih dalam posisi tidak ingin jatuh cinta atau pun membuat perempuan menaruh harap padanya.


"Tidak. Mama tahu, mana yang perlu diceritakan, dan mana yang tidak," tegas Deswita.


"Baiklah, Lupakan soal panggilan. Boleh Dewa menghukum Mama karena sudah keceplosan?" Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepala Dewa.

__ADS_1


"Hukuman apa? Jangan jadi maling kondangan kau? Mana ada anak hukum emaknya." Deswita seketika melepaskan genggaman tangannya pada sang putra.


"Malin kundang, Ma. Bukan maling kondangan." ralat Dewa.


"Itu yang bener. Mama kan sengaja salah. Pengen tahu, fokusmu beneran baik atau tidak," kekeh Deswita teringat sanggahan Dewa kemarin saat ketahuan memmbaca dengan posisi majalah terbalik.


"Malah ketawa. Ini mau dihukum loh," cebik Dewa.


"Terserah kamu aja. Apa hukumannya? Suruh nikahin kamu? Ayolah! Siapa namanya? Rumahnya di mana? Anaknya siapa? Sini, biar Mama lamarkan dengan bismillah. Mama sudah tidak sabar ada yang mereview hasil phalloplasty-mu. Karena mama nggak boleh lihat, biar menantu mama yang bisik-bisik," seloroh Deswita dengan begitu santai.


Dewa mengedikkan bahunya dengan gerakan cepat. "Jangan ingatkan itu, Ma. Yang benar saja mama ingin lihat, bisa-bisa nanti mama pingsan."


"Mama berharap pingsannya karena hasilnya fenomenal dan mencengangkan." Deswita masih setengah terkekeh saat mengatakannya.


"Ma, sudah cukup, jangan bahas itu lagi! Karena mama sudah menurunkan harga diri Dewa di depan Deva. Maka waktu kebersamaan Mama dengan Deva hari ini, cukup sampai di sini. Gantian Dewa yang ingin bicara dengan Deva."


Deswita menyembunyikan rasa bahagianya dalam hati. Namun, bibirnya tidak ingin menyunggingkan sebuah senyuman. Langsung terlihat setuju, akan membuat Dewa malah merasa aneh dengan dirinya.


"Ckck ... hukuman macam apa ini? Mama masih kerasan ngobrol sama dia, bahkan malam ini, kami belum mulai apa-apa," decih Deswita, pura-pura kesal.


"Hukuman yang menyenangkan, bukan? Sudahlah jangan protes. Dewa nggak makan di rumah. Makan di luar saja. Bye, Ma ... Dewa mau briefing Deva dulu." Pria tersebut beranjak berdiri dan berjalan meninggalkan Deswita yang sedang menyelipkan sebait doa untuk Dewa dan Deva.


Masih di bawah atap yang sama, Deva dan Jason kini sudah bergeser tempat ke ruangan keluarga. Deva tampak telaten memberikan saran bagaimana cara meminta maaf pada Dewa.


"Naik ke atas, Nyong. Tidurlah! Jangan lupa cuci kaki, cuci muka, sikat gigi dan berdoa." Dewa datang tanpa aba-aba, langsung mengusir Jason yang masih ingin berlama-lama bersama Deva. Ingin membantah, apa daya Jason sedang mode harus menurut. Menjawab dengan sebuah anggukan yang malas, Jason meninggalkan Deva dan Dewa berdua tanpa kata.


"Mama ada urusan. Jadi malam ini, mama tidak bisa ngobrol-ngobrol sama kamu. Masih ada waktu satu jam. Seperti perjanjian kita, tugasmu usai setelah dua jam terlewati. Sekarang ikut aku, jangan banyak tanya dan protes, apalagi berniat menolak." Dewa langsung menarik tangan Deva agar mengikuti langkahnya. Malam ini club Dewa di pastikan akan berbeda dari pertemuan biasanya.

__ADS_1


__ADS_2