
Dewa tidak langsung menjawab pertanyaan Dave. Pria tersebut memangku dagunya dengan kedua tangan yang tertumpu di atas meja makan. Sejenak dia berpikir tentang makna dan maksud dibalik kalimat tanya yang baru saja terlontar untuknya.
"Aku tidak ada kewajiban untuk menjawab, bukan?" Dewa malah balik bertanya.
"Tentu saja tidak," sahut Dave begitu santai.
"Saat mencintai, kita sanggup melakukan apapun agar dia mendapatkan yang terbaik. Bersedia melangkah mundur, demi tidak melihat kesedihannya. Cinta bukan hanya tentang memiliki. Tapi juga tentang melepaskan, sebelum membuatnya terluka lebih dalam."
Kali ini, giliran Dave yang terdiam. Sedikit merasa tertampar dengan kata-kata Dewa. Dia yang pernah meninggalkan Deva, namun mati-matian memohon untuk dilupakan. Ya, cinta Dave mungkin memang egois.
"Wa, kenapa tiba-tiba kamu melepas Deva. Setelah semua yang kamu lakukan? Rasanya sangat aneh kalau mundur begitu saja."
"Aku hanya berpikir logis. Aku berhak menjaga hatiku sendiri dari sakit hati. Aku tidak mungkin berjuang sendiri selamanya. Jangan bersikap bodoh. Kamu tahu pasti hati Deva sekarang masih milik siapa," tegas Dewa.
"Kamu tau hatimu masih milik Deva, kenapa kamu mengajak Debora masuk ke dalam hidupmu, Wa? Perjuangan belum selesai, kamu sudah menyerah. Aku dan Deva, memang masih saling mencintai. Namun, ada berapa banyak hal yang harus kita abaikan demi kebersamaan kami? Bagaimanapun aku adalah anak dari orangtua yang menghancurkan keluarganya. Kami bisa berhubungan baik seperti ini saja, sudah cukup bagiku. Dekat tidak untuk saling memiliki. Aku hanya memastikan Aku ada, di antara jeda ketika kamu mengabaikannya." Dave menarik napas dalam di ujung kalimatnya.
"Kurang lebih, kita sebenarnya sama, Dave. Jangan pura-pura mendorongku bersama Deva. Kamu pun sebenarnya jelas masih mengharapkannya. Berjuanglah lebih keras, Deva layak hidup bersama dengan pria yang dicintai dan mencintainya." Dewa beranjak dari duduknya. Melangkahkan kaki menuju kamar di mana Deva dan Debora berada untuk mengajak kedua tersebut makan siang bersama.
Satu jam kemudian setelah suasana canggung dan tidak terlalu akrab di meja makan usai. Keempat orang dengan hubungan dan perasaan yang rumit itu bersama-sama menuju sebuah destinasi agrowisata. Di mana, di sana pengunjung yang datang bisa melihat bahkan belajar langsung cara menanam berbagai macam tanaman.
__ADS_1
Entah apa maksud Deva memilih tempat ini menjadi tujuan pertama yang mereka kunjungi hari ini. Perempuan tersebut juga langsung memilih area khusus tanaman singkong. Ketiga orang yang lain hanya menurut saja pada kemauan Deva.
"Ada yang mau ikut nanem?" Deva memberikan seikat batang singkong dengan panjang kira-kira 20 senti kepada Debora.
"Boleh, sepertinya seru." Debora langsung menerima pemberian Deva dengan senang hati.
"Saya mau dua dong, Teh," pinta Deva pada perempuan pemandu wisata yang akan menemani mereka selama di area tersebut.
Dewa dan Dave mengikuti langkah Deva masing-mqsing meminta dua ikatan batang singkong yang akan ditanam. Lalu mereka memperhatikan arahan sang pemandu dengan seksama. Karena tidak terlalu sulit, keempatnya langsung kompak mempraktekkan apa yang sudah diajarkan oleh pemandu.
Kali ini, Deva dan Dewa berada di deretan yang sama tepat di depan Debora dan Dave. Deva dan Debora berada di ujung kanan, sedangkan Dave dan Dewa ada di ujung kiri. Mereka akan berjalan membungkuk menyamping menancapkan batang sesuai jarak yang sudah ditandai oleh pihak pengelola.
"Bapak saja," Deva buru-buru mencabut batang bagiannya yang memang belum tertancap sempurna.
Dewa menatap wajah Deva yang tampak memerah dan bercucuran keringat. Reflek, pria tersebut menyeka keringat Deva itu dengan punggung lengan bawahnya yang masih bersih. Seakan lupa sikap dingin dan acuhnya selama ini.
"Terimakasih, Pak." Wajah Deva semakin merona merah karena malu.
Dave dan Debora kompak memalingkan wajahnya ke sisi lain. Memilih pura-pura tidak melihat dan meninggalkan Deva dan Dewa berdua saja di sana. Meski tidak nyaman, keduanya tetap berharap apa yang direncanakan Deva bisa membuahkan hasil yang positif. Saat ini, perasaan masing-masing sedang dikesampingkan. Dave, Deva, dan Debora, sedang merendahkan ego dan mengenyampingkan perasaan sendiri demi satu tujuan.
__ADS_1
"Kenapa kamu pilih singkong, sih? Kan masih banyak tanaman lain yang lebih menantang cara menanamnya. Ini mah gampang." Dewa kembali bersikap ketus untuk menutupi kesalahan yang baru saja dilakukannya. Tidak seharusnya dia memedulikan keringat Deva.
"Tidak sesederhana itu, Pak. Banyak pelajaran hidup yang bisa kita ambil dari singkong. Dia bisa tumbuh di mana saja dan dalam segala kondisi. Singkong mengajarkan kesederhanaan yang luar biasa pada kita. Dia tidak menampakkan bagian dirinya yang banyak di cari orang. Tapi coba bapak sebutkan bagian dari singkong yang tidak bisa kita manfaatkan? Daunnya bisa kita makan, batangnya bisa untuk kayu bakar, Kulit umbi dan umbinya pun bisa kita makan." Deva menjeda sejenak ucapannya, membiarkan Dewa memahami kalimatnya yang panjang lebar.
"Maksudmu apa? Aku sedang malas mikir. Jangan pakai singkong kalau ingin menyampaikan sesuatu." Dewa kembali berucap ketus. Pria tersebut berbalik badan, ingin menyusul Debora dan Dave yang sedang mencuci kaki dan tangan mereka di sebuah pancuran bambu alami di dekat pintu keluar area tanam singkong.
"Sering kali kita mengabaikan sesuatu yang sederhana. Dan malah menggantikannya dengan sesuatu yang rumit karena standart kita sendiri. Padahal, inti dari kehidupan adalah bagaimana kita bisa memberikan banyak manfaat pada orang lain. Bukan malah memanfaatkan orang lain. Saya yakin Bapak paham maksud saya. Yang menurut Bapak baik, belum tentu di mata orang lain sama. Yang menurut Bapak terbaik, belum tentu juga bagi yang lain." Deva mendahului langkah Dewa.
Setelah itu, mereka berempat kembali meneruskan perjalanan ke tempat peternakan kambing etawa, di sana mereka mempraktikkan langsung cara memerah susu. Di sana keseruan mulai terjadi. Kecanggungan perlahan mencair. Dewa dan Dave ternyata memiliki sisi kenakalan pria dewasa yang sama. Obrolan kedua pria itu, bahkan sanggup membuat Deva juga Debora memalingkan wajah dan menutup telinga karena malu sendiri.
"Gila, Dave. Baru kali ini tangan perjakaku megang beginian. Mana punya kambing pula," kelakar Dewa.
"Anggap saja latihan. Aku sih sering. Tapi ngeraba doang," sahut Dave.
"Wah, mesuum juga kamu, Dave. Pasien diraba-raba." Dewa masih berjongkok sambil memerah susuu kambing malah berpikiran yang negatif.
"Meraba dalam artian melakukan gerakan memutar untuk memeriksa benjolan di sekitaran PD pasien, Wa. Untuk deteksi adanya tumor atau kanker. Ngeres aja itu otak." Dave membela diri sambil terus fokus pada tabung penampung cairan putih di depannya yang hampir terisi separuh.
Debora menarik tangan Deva untuk menjauhi dua pria yang masih asyik mengobrol tersebut. "Dev, nanti malam jadi, kan?" tanyanya.
__ADS_1