Sisa Rasa

Sisa Rasa
Egoisnya Dira


__ADS_3

Dave memalingkan wajah ke sisi lain. Gigi atas bawahnya merapat dengan rahang yang terlihat mengeras. Sikap Dira yang terlampau agresif dan mengekang, membuatnya semakin tidak nyaman.


"Kenapa tidak mengajakku kemari, Dave? Aku tidak keberatan sama sekali menemani kamu kemana pun." Dira langsung menghentikan langkah dan berdiri di samping Deva. Lalu dia tersenyum menatap Deva yang juga sudah siap melemparkan senyumnya pada Dira.


"Hai, Dev... Semoga hari ini semua lebih baik dari kemarin, ya. Jangan patah semangat. Hidup harus tetap berjalan. Sepahit apa pun kenyataan yang kamu hadapi." Dira mengulurkan tangannya pada Deva, senyumnya jelas bukanlah sebuah senyuman persahabatan.


"Tidak semua yang pahit, tidak bisa dinikmati. Buktinya, banyak orang yang memilih meminum kopi tanpa gula. Yang aku alami saat ini adalah proses perjalanan hidupku. Aku tidak ingin melewatkan bagian ini begitu saja. Menurutmu aku mungkin rapuh. Bukan karena kamu kuat, Dir. Tapi karena kamu tidak pernah berada di posisiku. Yang mengumbar senyuman sepertimu, belum tentu benar-benar bahagia. Dalam sedihku, semoga masih ada jiwa yang dibahagiakan. Dan di dalam bahagiamu, semoga tidak menghadirkan luka bagi orang lain."


Senyum yang sebelumnya mengembang di bibir Dira, seketika menghilang. Berganti Dave yang tersenyum sinis. Dewa hanya diam. Dalam hati, dia menyesalkan sikap Dira yang kekanak-kanakan. Sebagai perempuan yang sedang ingin mengambil hati seorang pria, apa yang dilakukan Dira---justru malah membuat sepupunya itu tampak sangat menyedihkan.


"Makan, yuk! Sudah lapar banget, nih." Sashi muncul tepat di belakang Dewa, memutus suasana canggung yang sedang terjadi.


"Masuk, Dir... Bang.... " Deva berusaha bersikap senormal mungkin.


Ruang makan yang tidak terlalu luas, terasa sesak untuk menampung enam orang. Ditambah lagi hanya ada empat kursi makan di sana.


"Biar adil, kita makannya di luar saja deh. Lagian biar lebih akrab. Kita nikmati masakan Deva. Kelihatannya enak banget," seru Sashi, mengawali mengambil piring dan sendok. Lalu dia memberikannya pada Dewa. Dira melakukan hal yang sama untuk Dave. Namun sayang, diabaikan begitu saja. Pria tersebut memilih mengambil alat makannya sendiri.


"Aku tidak ikut makan, aku hanya nemenin calon suamiku saja." Dira semakin menegaskan siapa dirinya. Akan tetapi, tidak ada satu pun yang peduli.

__ADS_1


Setelah membawa makanan masing-masing, mereka pun makan bersama dengan tenang di ruang tamu. Deva duduk di antara Hilda dan Sashi. Dia terus menundukkan wajahnya, memilih fokus pada nasi dan lauk di atas piring di depannya. Dira yang duduk di samping Dave, terus menatap calon suaminya dengan kekaguman yang membuat Dave benar-benar kehilangan selera makan.


"Dev, kamu belum ngabarin Pak Tino ya? Sebentar lagi, dia otw ke sini." Sashi terus berbalas pesan dengan menggunakan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya masih menggenggam sendok.


Deva hanya menggeleng dengan pelan. Dia terus menyuapkan makanan ke mulutnya agar piring di depannya segera kosong. Deva sangat tidak nyaman melihat Dave nampak sangat tertekan. Beberapa kali Deva mencuri pandang, mantan kekasihnya itu menelan makanannya dengan paksa tanpa dikunyah selama biasanya.


Apa yang dilakukan Deva, tidak terlepas dari panglihatan Dewa. Pria itu menangkap rasa cinta yang masih begitu dalam di mata Deva. Rasa itu berbaur dengan sorot duka yang juga masih sangat kentara.


"Dave... aku datang ke sini karena ingin mengajakmu menuntaskan persiapan pernikahan kita. Karena prewed di Bali gagal, kita sederhanakan saja prewednya di studio. Aku sudah atur semuanya. Siang ini, bisa kan?" tanya Dira, tanpa rasa sungkan di depan semua orang yang ada di sana. Sungguh bukan waktu yang tepat.


Lagi-lagi, Dewa menyesalkan sikap sepupunya tersebut. Sepertinya, dia memang harus mengajak Dira bicara dari hati ke hati. Melihat Dave memperlakukan Dira dengan tidak adil, jelas membuatnya tidak terima. Namun, mendapati sikap Dira seperti sekarang---Dewa bisa memaklumi jika Dave yang tidak bisa menerima sepupunya dengan mudah.


Yang lain jelas ikut merasakan suasana tidak nyaman yang ditularkan oleh Dave dan Dira. Sudah dari awal Dira terlihat tidak terlalu ramah. Dia bahkan sama sekali belum menyapa Hilda dan Sashi.


"Saya permisi ke belakang dulu," pamit Deva sembari berdiri membawa piringnya yang sudah kosong. Berlama-lama di sana, hanya memupuk luka.


Di belakang, Deva langsung mencuci piringnya. Tanpa sadar, bulir bening luruh membasahi pipi sang empunya. Ternyata, Deva sama sekali belum bisa mengabaikan Dave. Melihat pria yang dicintainya sedih, sungguh membuat Deva merasa tidak tega.


Dewa menyelesaikan makannya bersamaan dengan Dave, keduanya ingin ke belakang menaruh piring. Namun Sashi menawarkan diri untuk membawakan piring mereka. Dewa tidak menolak, tidak demikian dengan Dave. Yang memilih tetap membawa piringnya sendiri.

__ADS_1


Hilda ikut menyusul Sashi ke dapur. Deva nampak duduk di kursi menghadap meja makan. Tangan kirinya menggenggam gelas berisi air putih. Dave menarik kursi di samping Deva. Sashi dan Hilda saling bertukar pandang, keduanya seperti sedang mengungkapkan apa yang terlintas di pikiran tanpa kata. Kompak menduga-duga dengan sisa kepekaan yang masih ada. Hilda dan Sashi sepakat masuk ke kamar. Memberikan ruang untuk Dave dan Deva dengan suka rela.


Kedua orang dengan rasa cinta yang masih sama-sama besar dan dalam itu terdiam. Baik Deva, maupan Dave, terus menundukkan kepalanya. Ribuan kata yang terlintas, tidak satu pun mampu dilontarkan. Seolah bisu, keduanya memilih menyatakan sendu lewat senyap.


Sementara itu, ruang tamu, Dewa menahan Dira yang ingin menyusul Dave. Pria tersebut tidak ingin Dira terus melakukan kebodohan demi kebodohan yang malah menegaskan sikap egoisnya.


"Kita harus bicara, Dir," ucap Dewa.


"Tidak sekarang, Kak. Aku ingin menyusul Dave," tolak Dira.


"Dir, aku kecewa sama kamu. Beginikah caramu mencintai seseorang? Kamu sungguh terlihat seperti orang yang sedang mengemis dengan paksa? Tidakkah kamu lihat di mata Dave tidak ada kamu sedikit pun? Akhiri, Dir. Sebelum sakit hatimu lebih parah," tutur Dewa dengan volume suara yang tertahan.


"Tidak! Sudah aku katakan, Kak Dewa jangan ikut campur lagi. Ini tidak sesederhana yang Kakak kira. Karena Dave adalah o---," Dira tidak jadi melanjutkan ucapannya. Tersadar, kakak sepupunya ini belum pernah tahu kisah berat yang pernah dia alami dulu.


"Siapa Dave? Kenapa tidak kamu lanjutkan?" selidik Dewa.


Dira terdiam sesaat. Andai menjelaskan semua akan membuat segalanya lebih mudah. Namun Dira takut, malah dirinya yang belum kuat. Mungkin benar apa yang disarankan oleh psikiater yang menanganinya. Pergi ke tempat yang sama bersama Dave, mungkin adalah cara yang perlu segera dicoba.


Di saat Dewa masih terus mencoba membuka pikiran Dira. Berbeda halnya dengan yang terjadi pada Dave dan Deva. Keduanya masih bertahan dengan posisi yang sama.

__ADS_1


"Dev...," panggil Dave denggan suara begitu lirih.


__ADS_2