
Dewa yang merasa Deva sudah masuk ke dalam perangkapnya, memilih bertahan dengan raut sendu berselimut kekhawatiran. Dengan begini, rencananya pasti akan berjalan mulus tanpa hambatan.
"Pak ...." Deva menekankan suaranya agak keras agar Dewa tersadar dari lamunan pura-pura yang begitu natural.
"Aku baik-baik saja, Dev." Dewa mengucapkannya dengan pelan. Seolah ingin mendapatkan empati yang lebih dari lawan bicaranya.
"Syukurlah ... apakah ada pekerjaan yang harus saya kerjakan? Kalau tidak, biar saya kembali ke ruangan saya sendiri."
Kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Deva, seketika membuat kepercayaan diri dan juga senyuman kemenangan dalam hati Dewa terhempas. Dia yang mengira Deva akan mengejarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggambarkan rasa ingin tahu, kini harus menelan pil pahit kekecewaan.
"Dasar tidak peka," umpat Dewa dengan suara yang sangat pelan. Namun, ekspresi kekesalan tergambar jelas dari wajahnya. Kalau sudah begini, tentu tidak ada cara lain selain memulai sendiri.
"Pak ...." Deva kembali memangggil Dewa.
"Hmmm ...," jawab Dewa dengan malas.
"Apa pekerjaan yang harus saya kerjakan? Bukankah tadi Bapak yang menyuruh saya datang kemari?" desak Deva.
"Dev, aku ingin meminta kamu menemani mama. Hanya beberapa hari ke depan. Mamaku sedang mengalami ketakutan akan kesendirian. Biasa, syndrom orang tua. Merasa ingin diperhatikan dan disayangi. Padahal aku juga ada. Tapi kata mama, sudah tidak pantas kami tidur berdua," tutur Dewa dengan susah payah karena harus meredam gengsinya.
"Bukankah ada Jason?" Deva menegakkan duduknya agar bisa membalas tatapan Dewa yang tidak fokus. Untuk pertama kali, entah mengapa, Deva merasakan pria di depannya tersebut sedang dtidak dalam kondisi percaya diri.
__ADS_1
Ditatap intens oleh Deva, membuat Dewa semakin salah tingkah. Dia meraih file yang tadi sempat dibacanya dengan gerakan buru-buru. Bukannya membantu menyembunyikan resah, apa yang baru saja dilakukan oleh Dewa, ternyata malah membuat pesonanya kembali luruh di di depan Deva.
"Sepertinya metode belajar konsentrasi Bapak sudah harus diganti. Membaca file atau bacaan dalam kondisi terbalik, jelas akan melelahkan mata. Masih banyak cara melatih konsentrasi yang benar dan menyenangkan. Seperti meditasi atau yoga misalnya. Selain melatih konsentrasi, juga bisa digunakan untuk mengelola emosi dengan baik," tutur Deva. Dengan pandangan mata yang sungguh membuat Dewa semakin carut marut.
Dalam hati, pria tersebut merutuki kebodohan dan keteledorannya sendiri. Setelah melewati banyak hal bertahun-tahun dengan berusaha mencari zona nyaman yang bisa membuatnya percaya diri, hari ini semua seperti terhempas begitu saja.
"Tidak, ini sudah tidak normal. Aku harus memandangnya secara profesional. Aku seperti ini, pasti karena aku terlalu membenci sekaligus berharap untuk dikagumi. Oke, Dewa ... tatap dia dengan berani. Jangan jatuhkan dirimu
seperti ini." Dewa berbicara dalam hati pada dirinya sendiri.
Melihat Dewa kembali terdiam. Deva pun mulai menimbang-nimbang permintaan atasannya tersebut. Tinggal seatap dengan Dewa, harus dipikirkan dengan matang. Bertemu dua belas jam saja kadang sudah membuat emosinya terpancing, apalagi lebih dari itu, bisa-bisa dia harus mengkonsumsi ketimun setiap saat.
"Kamu boleh kembali ke ruanganmu. Biar aku cari orang lain saja. Meski aku tahu, kamulah yang diharapkan mama untuk menemaninya. Jelas aku tidak ingin memaksa."
"Baiklah, saya bersedia, Pak. Tapi sepulang kerja nanti, saya harus mengambil beberapa pakaian saya di rumah. Setelah itu, saya pasti akan datang ke rumah Bapak."
Jawaban Deva adalah awal dari munculnya sebuah harapan baru bagi seorang ibu. Ya, sejak hari itu, Deva menemani malam Deswita dengan sangat baik. Keduanya selalu terlibat pembicaraan hangat dan intens. Tiga malam bersama, membuat Deswita yakin, selain baik---Deva juga sosok yang sangat tegar dan pemegang teguh kesetiaan.
Seperti saat ini, seusai makan malam---Deswita dan Deva menghabiskan waktu dengan berbicara di balkon kamar mama dari Dewa itu. Keduanya menghabiskan waktu sebelum sama-sama terlelap dengan membahas banyak hal.
"Dev, bolehkah Mades meminta tolong sama kamu?" tanya Deswita dengan hati-hati.
__ADS_1
"Kalau saya bisa, pasti akan saya lakukan, Mades."
"Mades ingin kamu memastikan satu hal. Mades akan memberikanmu sebuah alamat. Cukup tanyakan pada tetangga sekitar, apakah yang tinggal di rumah tersebut memang benar perempuan bernama Delima." pandangan Deswita menerawang seperti orang yang sedang melamun.
Deva menelan ludahnya dengan susah payah. Waktu dua puluh empat jam yang dia jalani untuk dirinya sendiri saja serasa tidak cukup. Begitu banyak rencana yang belum dilakukan karena berbagai keterbatasan. Ditambah satu permintaan Deswita, entah urusan apa lagi yang harus dikesampingkan. Menolak secara mentah-mentah, juga sangatlah tidak mungkin.
"Kenapa bukan Pak Dewa saja, Mades?" Deva memberanikan diri untuk mengucapkan pertanyaan tersebut.
Deswita menggelengkan kepakanya dengan lemah. Lalu perempuan itu berkata, "Mades tidak mau melukai hati Dewa yang mungkin belum sembuh sempurna. Mades hanya memikirkan nasib Jason. Mades sudah semakin tua, badan Mades tidak sesehat dulu. Jelas Jason bukan tanggung jawab Dewa. Mades takut, status Jason justru akan menyulitkan hubungan Dewa dengan siapa pun perempuan pilihannya suatu saat nanti.
Deva menggeser bokong hingga posisi badannya kini tidak berjarak dengan Deswita. Lengan kedua perempuan itu saling menempel.
"Mades ini menikah tiga kali, Dev. Jangan dipikir karena Mades ini perempuan genit yang memang hobi berganti-ganti pria. Jelas bukan karena itu. Suami pertama Mades---papanya Dewa, meninggalkan kami sejak kulit Dewa masih merah. Dia memilih hidup dengan istri keduanya. Tidak lama dari itu, Mades menikah dengan Mas Dirga---Dokter anak yang menangani Dewa sejak usianya belum genap sehari. Dia yang lembut, telaten, dan sayang sama Dewa, membuat Mama terbuai. Tapi, lagi-lagi, Mama dikhianati." Deswita mengambil napas dengan berat.
Deva mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan Deswita. Telapak tangan itu terasa dingin dan basah, bahkan sedikit gemetaran. Semakin menegaskan, bahwa luka yang tertoreh di hati Deswita, bukanlah main-main. Hanya dengan menceritakan garis besar masa lalunya saja, raga perempuan tersebut sudah bereaksi sedalam itu.
"Mades dan Mas Dirga bercerai ketika Dewa memasuki usia SMP. Perceraian itu melukai Dewa begitu dalam. Dia yang terbiasa diperhatikan oleh Mas Dirga, seketika seperti lepas kendali. Kurangnya kepercayaan diri dan kondisi fisik Dewa yang jauh dari kata menarik seperti sekarang, menenggelamkannya pada buku ketimbang peduli pada pergaulan. Bullyan bercecaran dan bertubi-tubi menghampiri." Deswita kembali menjeda ceritanya.
Deva mengusap lembut punggung tangan Deswita yang sedang menundukkan kepalanya begitu dalam. Hanya mendengar sepotong saja, sudah membuat Deva ikut merasakan sesak yang dirasakan Deswita. Cobaan manusia---mungkin memang sudah ditakar sesuai porsinya oleh Sang Penguasa alam. Mereka yang terlihat berkelimpahan harta dan kemewahan, belum tentu hidupnya sudah diselimuti damai.
Setiap insan memiliki jalan hidup masing-masing yang konon sudah digariskan jauh sebelum ruh ditiupkan. Ada takdir yang bisa diubah, ada pula yang tidak.
__ADS_1
"Dan Jason---,"