Sisa Rasa

Sisa Rasa
Hampir keceplosan


__ADS_3

"Bukan aneh, Mades. Mungkin saya belum terbiasa. Selama ini, saya belum pernah menemui sosok seperti Mades. Kita, kan, baru pertama kali bertemu, tapi Mades sudah membicarakan sesuatu yang menurut saya, hal itu masuk ke ranah pribadi." Deva menjawab dengan lugas. Namun, tetap berusaha menjaga kesopanannya.


Deswita menepuk pundak Deva sembari tersenyum. "Kamu cukup berani berpendapat, Dev. Mades tidak membutuhkan pujian, atau kata-kata yang hanya sekedar terdengar manis. Mades sudah ditempa dengan berbagai permasalahan. Yang di depan tampak manis, belum tentu rasa manisnya bisa kita rasakan sampai akhir. Di tengah-tengah, bisa jadi kita tiba-tiba mengecap asam, atau bahkan pahitnya. Seperti perjalanan hidup kita, bukan? Tidak melulu menyenangkan. Akan selalu ada saatnya Tuhan menitipkan bahagia, sedih, tawa atau tangis pada kita."


Deswita lagi-lagi berbicara panjang lebar tanpa beban. Terlalu lama tidak bersosialisasi dan tidak mempunyai teman bicara yang nyaman, membuat Deswita menjadi lepas kontrol. Bicara dengan orang lain, sebenarnya adalah terapi tersendiri bagi Deswita. Hanya saja, Dewa tentu tidak bisa menemaninya terus setiap malam. Di tambah lagi, dia pun harus sadar diri. Dewa juga mempunyai trauma yang sampai saat ini belum tersembuhkan. Bagi Deswita, Dewa bisa sampai pada titik hidupnya sekarang---sudah merupakan anugerah yang luar biasa.


Deva mencerna kata-kata yang diucapkan oleh Deswita. Begitu banyak tanya yang terlintas di kepalanya. Akan tetapi, Deva tahu betul di mana posisinya. Menjadi pendengar yang baik---itu saja sudah cukup. Banyak mengetahui urusan orang lain, apalagi sampai mencari tahu dengan berbagai cara, hanya akan menambah beban pikiran sendiri. Satu hal yang kini Deva mengerti, karakter Deswita dan Dewa rupanya cukup jauh berbeda. Sang mama tidak menyukai pujian, sedangkan anaknya---jelas sekali haus pujian.


Meninggalkan obrolan pertama yang tidak lumrah, Deswita memberikan instruksi pada Deva untuk membantu menyiapkan piring, air putih dan lauk pauk di atas meja makan. Setelah dilihat semua sudah tertata rapi, Deswita pun segera duduk di kursi tempatnya biasa berada.


"Bi Darmi, tolong panggilkan Nyil dan Nyong, ya!" seru Deswita pada salah satu asisten rumah tangganya.


"Baik, Bu." Perempuan yang nampaknya belum sampai berumur separuh abad itu segera meninggalkan dapur begitu mendengar namanya yang diperintah.


"Astaga! Keceplosan kan ini mulut." Deswita menepuk mulutnya sendiri. Sungguh dia lupa, kalau harus menjaga wibawa anaknya di depan Deva.


"Nyil dan Nyong itu nama burung peliharaan Mades, Dev. Kalau mau makan, suka teringat sama keduanya. Ini burung bukan sembarang burung. Sudah pinter ngoceh semua. Apalagi yang Nyil, duh... sudah pandai dia hinggap ke sana kemari." Deswita menjelaskan dengan sendirinya.


Deva yang sebelumnya tidak peduli karena mengira nama yang disebut tadi memanglah nama hewan peliharaan, hanya memberikan reaksi dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak, Deva benar-benar dibuat lupa dengan kesedihannya sendiri.


"Duduk sini, Dev." Deswita menepuk kursi kosong di sampingnya.

__ADS_1


"Iya, Mades." Deva pun duduk di sana tanpa rasa canggung. Pembawaannya yang tenang dan mudah bergaul dengan siapa saja, memang sangat menguntungkan jika harus bersama dengan orang baru.


Tidak lama kemudian, Dewa dan Jason bersamaan muncul. Seperti biasa, keduanya langsung menempati kursi kebesaran masing-masing. Dewa yang sudah segar karena baru saja menyelesaikan mandinya, nampak sudah tidak sabar ingin segera menyantap makanan yang sudah dihidangkan lengkap di depannya.


"Mau keluar?" tanya Deswita sembari menyendokkan nasi ke piring milik Dewa.


"Siapa?" Dewa menjawab pertanyaan sang mama dengan sebuah pertanyaan juga.


"Malah nanya, jelas kamulah, Nyi---,"


"Cukup, Ma ... segitu saja. Nanti Dewa ambil sendiri." Pria tersebut buru-buru memotong kalimat Deswita. Dia yakin betul sang mama sedang menuju keceplosan.


"Iya, kamu. Mana mungkin Mama tanya Jason. Bocil tidak mungkin keluyuran," cetus Deswita.


"Tumben kamu diam terus?" Deswita ganti melemparkan pertanyaan pada Jason.


"Laper dan ngantuk, Oma." Jason tidak menjawab dengan jujur.


Keberadaan Deva, ternyata sanggup membuat Jason yang biasanya banyak bicara, kini memilih banyak diam. Bukan karena malas atau tidak mood, melainkan karena Jason takut kalau sampai salah bicara. Harus memanggil papa saat ada Deva, lalu ada aturan lagi tidak boleh memanggil papa jika ada Deswita. Tentu rumit bagi Jason jika mendapati dua orang yang dimaksud Dewa berada di waktu dan tempat yang sama.


Mereka memulai makan malam dengan keheningan. Sungguh Deswita merasa aneh. Baik Dewa, maupun Jason, tidak ada satu pun yang sedikit-sedikit berbicara seperti biasa. Bola mata Deswita terpaksa mengawasi gerak-gerik Dewa dengan seksama. Beberapa kali, dia memergoki putra semata wayangnya itu diam-diam memperhatikan Deva.

__ADS_1


Tidak jauh berbeda dengan Deswita, Deva pun sedang mengalami kegalauan yang sama. Sudah hampir tiga pulih menit dia berada di rumah Dewa. Namun belum juga mendapati keberadaan dari istri Dewa. Tanya tanpa sengaja, terlintas dalam pikirannya.


"Oma Deswita ... Oma Deva, Jason kembali ke kamar duluan, ya. Jason ngantuk." Bocah tersebut berpamitan sembari membawa piring kotornya menuju wastafel.


"Kenapa manggilnya Oma Deva? Nggak sopan, dong. Tante atau Kakak Deva jauh lebih baik. Siapa yang mengajarimu aneh-aneh gitu?" Deswita langsung menghentikan makannya, dan menatap Jason yang sudah berbalik badan hendak meneruskan langkah ke arah tangga.


Jason serba salah. Berhenti melangkah, itu artinya dia harus menjawab pertanyaan sang oma. Jika dia terus melanjutkan langkah, jelas akan dianggap tidak sopan. Dengan berat hati, Jason akhirnya berbalik badan sembari menguap lebar tanpa menutup mulutnya, suara khas orang menguap pun keluar dari sana.


"Selamat malam, Oma. Kita bicarakan besok saja," putus Jason akhirnya.


Dewa menarik napas lega. Sepertinya, dia harus memberikan bonus tambahan pada Jason. Dihari pertama ini, setidaknya semua berjalan dengan lancar sesuai rencana.


Dewa sudah menyelesaikan makannya. Dia berpamitan untuk meninggalkan ruang makan terlebih dahulu. Meninggalkan Deva dan Deswita yang belum memutuskan untuk melanjutkan percakapan mereka dengan topik apa.


"Kita ke kamarnya Mades saja, yuk!" ajak Deswita.


"Iya, Mades." Deva mengiyakan tanpa ragu.


Keduanya berjalan menuju kamar Deswita di lantai dua. Sedikit mengedarkan pandang pada sekitar tempat yang dilalui, ternyata memang tidak ada sesuatu hal pun yang menempel di dinding selain colokan listrik dan jam petunjuk waktu. Sungguh rumah yang cukup unik.


Sesampai di dalam kamar, Deswita mengajak Deva duduk di sofa panjang yang diletakkkan tidak jauh dari sisi jendela kaca yang memperlihatkan keadaan di luar kamar.

__ADS_1


"Dev, Pernah tidak kamu merasa Tuhan sangat tidak adil pada hidup kita?"


__ADS_2