
"Pergi saja, Bang. Dira sudah nyiapin semua buat pernikahan kalian. Coba buka hati Bang Dave untuk Dira. Aku ikhlas, asal Bang Dave bahagia," lirih Deva.
"Jangan benci aku, Bee. Tolong jangan jauhi aku," pinta Dave.
Deva memberanikan diri menatap Dave yang masih tertunduk lesu. Jalan mungkin masih panjang. Apa yang terjadi ke depan, tidak akan pernah ada yang tahu. Cinta yang sekarang masih utuh terjaga, belum tentu selamanya akan terus demikian. Namun entah mengapa, hati kecil terus mengingatkan---mengalihkan perasaan tidak semudah yang dituturkan.
"Temani aku. Jangan biarkan aku sendirian melalui semua ini. Aku juga tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian. Jika menjadikanmu seorang istri adalah sebuah kemustahilan, biarkan aku menempatkanmu menjadi sahabat terbaikku. Kita tidak akan saling meninggalkan dalam keadaan apa pun. Seperti kamu yang butuh sandaran, aku pun sama. Jika sembarang bahu bisa meredam kegaduhan pikiran kita, tentu tidak akan sesulit ini, bukan? Pikiran kita terlalu lelah. Mereka yang datang dan pergi dengan tiba-tiba, sama-sama menyisakan duka. Adakah orang lain yang memahami kita sebaik diri kita, Bee?" ucap Dave panjang lebar. Suaranya bergetar namun penuh dengan penekanan.
Deva hanya bisa tersenyum tipis. Menahan getir dan sesak di dadanya. Seharusnya, Dave adalah satu-satunya orang terdekat yang dia miliki. Namun, keadaan juga memaksanya untuk bisa melepaskan. Tujuh tahun waktu yang mereka lalui, bukanlah sekedar bertukar kebahagiaan dan kemesraan. Melupakan dan membenci Dave, bisa dipastikan adalah sebuah ketidak mungkinan. Perjalanan hidup Deva yang sarat akan ujian, seluruhnya dilalui bersama Dave. Tidak ada rahasia dan moment yang dilewati tanpa satu sama lain.
"Aku selesaikan urusanku sama Dira dulu ya, Bee. Aku akan datang setelah semua selesai. Hubungi aku kalau ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan." Dave beranjak berdiri, memberikan kecupan sekilas di kening Deva dengan lembut. Lalu meninggalkan Deva sendirian di sana.
Apa yang dilakukan Dave barusan, tidak luput dari penglihatan Dewa dan juga Dira. Pembicaraan keduanya yang tidak menemukan titik temu, membuat Dira memilih untuk menyusul Dave ke belakang. Namun siapa sangka, pemandangan yang tidak dharapkan malah tertangkap indra penglihatannya. Dewa yang mengikuti langkah Dira pun juga ikut melihat kejadian tersebut.
"Kita pergi," ajak Dave tanpa memandang wajah Dira. Sama sekali tidak ada kekhawatiran atau rasa bersalah di raut wajahnya.
"Aku mau bicara sama Deva dulu." Dira menatap Deva begitu sinis. Sorot kemarahan, jelas terpancar dari kedua bola matanya.
"Jika kamu memilih bicara dengannya, aku pastikan tidak akan menyempatkan waktu lagi untuk mengikuti rencanamu," ancam Dave.
__ADS_1
Bola mata Dewa lincah mengamati Dave, Deva dan Dira. Dia mencoba terus mencerna apa yang sedang terjadi dengan pikiran sehatnya. Entah siapa yang pantas disalahkan. Sejauh yang bisa dia tangkap, Dira justru yang datang di antara hubungan Deva dan Dave. Semua kini bergantung pada alasan kuat apa yang mendorong tante dan omnya mau menuruti kemauan konyol dari Dira. Kenapa sepupunya itu sampai senekat ini memperjuangkan Dave? Masih menjadi misteri.
Sashi dan Hilda yang sedari tadi menempelkan kuping di daun pintu, juga mulai memahami potongan kisah dan cerita yang sedang terjadi.
"Kalau aku jadi Dave dan Deva. Aku bodo amat sama Dira. Malahan, akan aku bikin ngenes hidup tuh perempuan," sungut Hilda dengan gemas.
"Nggak penting nikahnya sama siapa. Yang penting malam pertamanya sama Deva. Kalau aku jadi Si Dave, beneran akan aku lakuin."
Hilda seketika menimpuk kening Sashi. "Deva nggak gampang nungging kayak kamu. Kurang-kurangin itu mesummu. Kasihan lakikmu nanti. Nggak nemu sensasi malam pertama pastinya."
"Kan bisa akting kesakitan," kekeh Sashi.
Dewa kini sudah duduk berseberangan dengan Deva. Pria tersebut bingung harus memulai percakapan dari mana. Mati gaya---dua kata yang seharusnya sangat aneh di alami oleh seorang don juan. Seorang Dewa yang notabene digilai kaum hawa karena keluwesannya dalam mengolah kata, kini seolah kehabisan kata-kata.
Sudah lama Dewa tidak berbicara serius dengan seorang perempuan. Jika mengucap sekedar rayuan, tentu mudah. Tapi bukannya Deva nyaman, bisa-bisa malah dampratan yang dia dapatkan. Bersama Deva, obrolan selain pekerjaan, tentu sulit ditemukan. Masalah yang ingin dibicarakan empat mata, jelas bukan sekarang waktunya.
"Kalau kamu masih tidak bisa fokus, besok kamu ambil cuti juga nggak masalah kok, Dev." Dewa memulai pembicaraan dengan tutur lembut yang jauh dari kesehariannya.
"Bapak tenang saja. Saya akan tetap masuk. Kalau perlu, Bapak memberi saya pekerjaan yang lebih banyak daripada biasanya. Saya tidak keberatan," sahut Deva dengan cepat.
__ADS_1
Dewa sudah menduga sebelumnya. Dengan kondisi pikiran sadar, asisten pribadinya itu, jelas tidak ingin dikasihani.
"Baguslah kalau begitu, tadinya aku berpikir untuk menukar posisimu dengan yang lain. Melihatmu yang cengeng. Aku perkirakan kesedihanmu akan berlangsung berbulan-bulan," seloroh Dewa. Sengaja untuk memancing emosi kemarahan Deva.
"Pak Dewa benar. Kesedihan ini mungkin memang akan berlangsung lama. Bahkan bisa jadi akan bertahan selamanya. Apa Bapak ingin mencoba berada di posisi saya? Sebentar saja, dan saya berharap Bapak tidak mendadak gila," tukas Deva. Cenderung sinis dan sengit.
Dewa beranjak berdiri. "Jangan remehin aku, Dev. Nggak cuma kamu yang punya masalah dan cobaan. Aku juga pernah." Dewa mengatakannya dengan membusungkan dada. Menegaskan sebuah keangkuhan. Meski dalam hati, dia lebih setuju dengan ucapan Deva ketimbang ucapannya sendiri. Nyatanya, hidupnya memang tidak serumit perempuan tersebut.
"Ingin percaya, tapi takut dosa. Tidak ada rukun iman kepada Dewa." Deva beranjak berdiri. Mencuci gelasnya di wastafel.
"Dev... kamu ingin kesibukan, bukan? Aku ada pekerjaan tambahan untuk kamu. Mau tidak? Masalah bayaran, dijamin oke lah. Gimana? Mau tidak?" Sebuah ide tiba-tiba terlintas di kepala Dewa.
Deva mengeringkan tangannya terlebih dahulu dengan lap. Ingin menanggapi serius, namun yang dihadapinya saat ini adalah Dewa. Bisa jadi pria itu hanya berniat mengerjainya saja.
Di balik pintu kamar, Hilda dan Sashi masih setia mencuri dengar. Keduanya penasaran dengan penawaran yang diberikan oleh Dewa pada Deva. Andai temannya itu menolak, mereka akan segera mengajukan diri secepat mungkin.
"Kenap diam? Aku serius, Dev. Kamu bisa melakukannya setelah pulang kerja. Hanya satu sampai dua jam saja. Sepertinya kamu cukup pintar. Aku jarang-jarang mencari yang tidak profesional. Aku tawarkan pekerjaan ini padamu dengan kerendahan hati yang luar biasa. Sebagai atasan, aku tidak ingin melihat bawahanku menangis dan sedih terus menerus. Bukan karena aku peduli sebagai pribadi. Ini karena aku tidak mau kesedihanmu mengganggu kinerjamu. Anggap saja sebagai wujud kepedulian atasan pada bawahan," tegas Dewa. Gengsi masih menguasai pikiran Dewa.
"Memang pekerjaan apa yang Bapak maksud?" tanya Deva mulai penasaran.
__ADS_1