
Deva menyapa sebagian besar orang yang memang dikenalnya. Malam ini, dia begitu banyak mengumbar senyuman. Bukan karena hatinya memang sedang bahagia, tetapi lebih pada menyesuaikan diri dengan keadaan. Setelah puas menyapa, Deva memilih duduk di meja yang masih kosong. Menyendiri menatap hamparan air laut di depannya. Sesekali ekor mata Deva juga melirik pada layar ponsel di genggamannya. Keramaian di sekitaranya tidak membantu banyak. Hatinya yang kosong, nyatanya tetap merasakan sepi.
Berbeda dengan Deva yang sudah duduk terdiam. Dewa nampak sedang mengumbar pesonanya dengan lepas. Tidak seperti Tino yang biasanya hanya memilih duduk dan menunggu orang lain menghampirinya. Dewa terlihat sangat rendah hati, berpindah dari satu meja ke meja lainnya. Memperkenalkan diri dan menyapa hangat, tanpa meninggalkan kesan basa basi.
Setelah membaca sesuatu di layar ponsel, perlahan Deva bangkit berdiri. Dia melangkah pasti menjauhi keramaian dan berjalan mendekati bibir pantai. Sendiri membuat pikirannya yang gaduh sejenak mereda.
"Boleh aku temani?"
Deva menoleh pada arah suara yang bertanya padanya. Dia memaksakan senyumnya tanpa mengucap sepatah kata pun.
"Jika kamu keberatan, aku akan pergi."
Deva kembali menoleh pada sosok di sampingnya. Sosok yang menyumbangkan kegaduhan terbanyak dalam benak dan pikirannya. Deva memberanikan menatap pria yang masih sangat dicintainya itu dengan lekat.
"Kehadiranmu di depanku, tidak seberapa mengusik. Namun keberadaanmu di sini, tidak sedikit pun memberiku damai." Deva menunjuk dadanya sendiri saat mengucapkan kata "di sini".
"Apa yang harus aku lakukan, Dev? Aku terus mengingat dan memikirkanmu. Tatapanmu yang seperti ini, seolah sedang menghukumku dalam diam. Aku memang tidak layak bahagia. Aku mengikrarkan begitu banyak janji, namun tidak satu pun aku tunaikan," sesal Dave. Pria itu menjatuhkan bokongnya di atas pasir.
"Setidaknya, jangan menyakiti hati yang lain. Jika dengan meninggalkanku malah membuatmu menggoreskan luka di hati Dira, alangkah jahatnya kamu, Bang," lirih Deva.
"Kenapa harus aku yang jahat? Bukan aku yang memintanya untuk menjadi istriku? Bukan aku, Dev. Kenapa harus aku yang bertanggung jawab menjaga perasaannya?" Emosi kesedihan mulai mendominasi diri Dave. Gemuruh suara air laut, dan embusan angin, seakan mendukung kalut yang bergelayut dihatinya.
__ADS_1
"Karena Abang menerima dia sebagai calon istrimu, Bang. Abang sudah menentukan pilihan. Jangan setengah-setengah dalam berkorban. Sikap Abang yang seperti ini, tidak hanya melukai Dira. Namun juga melukaiku, dan melukai diri Abang sendiri."
Dave meraih tangan Deva yang masih setia berdiri di sampingnya. Dia mendongakkan kepala agar bisa melihat raut wajah sendu sang mantan kekasih. Perih, saat menyadari sedih yang terpancar dari sorot mata Deva adalah kesedihan yang berasal darinya.
"Dev ...." Dave menggigit bibir bawahnya sendiri, matanya berkaca-kaca. Sungguh tidak tega dengan apa yang ingin dia sampaikan. Namun membiarkan Deva mendengar dari orang lain, jelas akan lebih menyakitkan.
Deva meluruhkan badannya hingga bokongnya juga menyentuh pasir tepat di samping Dave. Deva ingin sekali berteriak, dadanya terasa semakin sesak. Dia tahu apa yang akan disampaikan Dave. Deva pikir, dirinya bisa jauh lebih tegar. Nyatanya, belum mendengar langsung saja, dia sudah tidak berdaya.
"Aku dan Dira akan menikah dua minggu lagi. Besok kami akan melakukan pemotretan pre wedding. Andai aku masih bisa mundur, Dev. Tapi kondisi papa semakin menurun, itulah kenapa pernikahan kami dipercepat."
Sebelumnya Deva sudah menata hati agar bisa menghadapi dengan tenang. Dia tahu kabar tersebut dari unggahan sosial media Dira---sesaat sebelum dia memutuskan untuk berada di bibir pantai ini. Mendengar langsung dari mulut Dave, nyatanya semakin menegaskan luka, perih dan kecewa yang dirasa.
Dave merengkuh pundak Deva hingga membuat kepala perempuan itu bersandar di lengannya. Jemari Dave membelai lembut rambut Deva penuh perasaan.
"Aku tidak ingin berhenti mencintaimu, Dev. Biarlah cinta ini mengikatku pada penyesalan. Aku tidak pantas bahagia, selagi matamu masih memendam luka."
"Kita sama-sama pantas bahagia, Bang. Aku hanya bingung harus mulai melupakan Abang dari mana," lirih Deva.
"Jangan pernah sengaja melupakan. Katamu, waktu yang akan menyembuhkan. Biarkan waktu juga yang menguji seberapa lama cinta kita bertahan tanpa memiliki."
Dave dan Deva kompak memiringkan badannya, hingga membuat wajah keduanya saling berhadapan dengan sempurna. Dalam hati, keduanya saling mengagumi keindahan paras masing-masing. Di remang cahaya rembulan, dan rambatan cahaya lampu dari resto di sekitarnya, ketampanan Dave dan kecantikan Deva, masih jelas terpampang nyata.
__ADS_1
Suara musik romantis yang berasal dari acara makan malam Diamond Corp, terdengar samar terbawa embusan angin. Membangun suasana syahdu antara Deva dan Dave semakin kokoh. Keduanya kompak menelan ludah masing-masing. Menahan kerinduan dan cinta yang seharusnya padam. Logika mengatakan gejolak di hati harus dikendalikan, namun hati mengantar kedua rasa itu semakin berkobar. Malam itu, menjadi saksi, hubungan yang seharusnya usai, malah kembali dimulai.
Tangan Dave terulur menyentuh wajah Deva yang putih mulus. Perlahan jemari pria itu membelai pipi perempuan kesayangannya. Deva memilih untuk memejamkan mata, merasakan dan menikmati sejenak belaian lembut yang dulu kerap dia dapatkan.
Di sisi lain, Dewa sedang mencari sepupu dekatnya yang sudah menunggunya di area yang sama. Langkah kaki pria itu, mantap menjauhi keramaian acara. Mendekati sosok perempuan yang menatap nanar pada dua sosok yang ada di bibir pantai.
Sesekali, perempuan tersebut terlihat menarik napas berat dan memalingkan muka menahan sesak di dada. Sedikit lupa diri, dia sendirilah yang mengijinkan luka ini datang menghampiri. Begitu banyak hati yang bisa digapai, namun malah sengaja memilih hati lain yang sudah berpenghuni.
"Ternyata kamu di sini." Suara Dewa yang khas, membuat perempuan tersebut buru-buru mengalihkan fokusnya.
"Kak ...." Perempuan itu langsung menghampiri Dewa dan memeluk sepupunya itu dengan erat. Seolah ingin menumpahkan segala kegalauan, tanpa perlu mengucapkan kata-kata.
Mata Dewa membulat sempurna, bukan karena terkejut dengan pelukan sang sepupu. Melainkan karena apa yang tertangkap oleh indera penglihatannya tanpa sengaja. Dewa merenggangkan pelukannya, memaksa matanya berakomodasi maksimal untuk memastikan apa yang dilihatnya tidaklah salah.
"Tidak mungkin! Bagaimana bisa dia berciuman di tempat sesepi ini. Apa dia sengaja mengundang setan agar menggoda untuk berbuat lebih? Cih... nggak nyangka." Dewa mengumpat kesal.
Entah mengapa, dia merasa tidak senang melihat pemandangan seperti itu. Sebenarnya, bukan sekali ini Dewa melihat orang berciuman di tepian pantai. Apalagi di pulau ini, puluhan pasangan mungkin juga sedang melakukan hal yang sama di sisi lain.
"Dia pikir, kantor membayar biaya tiket dan hotelnya untuk bermesraan. Awas saja! Aku akan jadi setan yang sesungguhnya di antara mereka." Dewa terus mengumpat, lupa kalau dia sedang bersama sepupunya.
"Kak... Kak Dewa kenal sama mereka?"
__ADS_1