
"Kenapa harus aku?" Dewa mendengus kesal. Namun, tangan kanannya tetap menerima ponsel dari tangan Deva.
Setelah mengetahui siapa yang menghubungi Deva sepagi ini, Dewa langsung memahami mengapa perempuan tersebut menunjukkan reaksi acuh dan juga sinis seperti sekarang.
"Pagi-pagi malah disuruh teleponan sama mantan, untung saja aku gak baperan," keluh Dewa sambil menggeser keatas---tombol hijau di layar ponsel.
Ketika kata sapaan singkat meluncur dari bibir Dewa, sang penelepon pun terdengar terkejut untuk sesaat. Antara percaya dan tidak percaya. Debora sama sekali tidak menduga, Dewa-lah yang menerima panggilan teleponnya. Meski sebenarnya canggung dan tidak nyaman, Debora dengan terpaksa tetap menjelaskan maksud tujuannya menghubungi Deva sepagi ini.
Hampir sepuluh menit Debora dan Dewa berbicara dengan begitu serius. Akhirnya sambungan telepon itu pun berakhir juga. Dewa mengembalikan ponsel berwarna pink tersebut pada pemiliknya.
"Pak Dermawan ingin bertemu denganmu sekarang. Aku tidak langsung mengiyakan. Mulai saat ini, jangan terlalu baik. Menuruti kemauan mereka seenaknya, hanya akan membuat kita terlihat mudah ditakhlukkan. Meski pun kamu butuh mereka untuk membuka kasus papamu, buat kondisi ini berbalik. Biarkan mereka salah menilaimu. Mereka tega, kita pun harus bersikap sama. Dalam kasus papamu, jangan mengenal iba. Tidak peduli siapa pun yang akan kamu hadapi nanti, cukup logikamu yang bekerja," tutur Dewa panjang lebar.
"Jujur, saat ini, saya tidak tahu harus memulai semua dari mana. Membaca tulisan papa tentang bagaimana sulitnya hidup di dalam penjara, sunggguh membuat saya semakin muak dengan orang-orang serakah seperti mereka. Kenapa nyali yang besar saat memutuskan berbuat jahat, tiba-tiba lenyap saat mereka harus mempertanggung jawabkan perbuatannya? Saya bukan malaikat, Pak. Biarlah orang menilai saya jahat, tapi saya tidak akan memaafkan mereka begitu saja."
Suara Deva yang bergetar. Menegaskan betapa dalamnya luka yang tertoreh di hati perempuan tersebut. Antara amarah, dendam dan juga sedih, terpancar nyata dalam sorot matanya.
"Kita berangkat, yuk! Nanti kamu telat. Aku langsung ke rumah sakit dulu. Percayakan semua padaku, Dev. Kita cari pengacara yang menguasai betul kasus serupa. Tidak ada kejahatan yang sempurna. Keadilan pasti akan datang. Meski bagi kita terlambat, mungkin tidak bagi Allah."
"Mungkin ...," lirih Deva sembari berdiri membereskan piringnya serta piring Deswita dan juga Jason.
__ADS_1
Dewa tersenyum tipis, hati kecilnya kembali berkhianat. Dalam diam, mata batin Dewa terus mengagumi sosok Deva. Meski akal sehat pria tersebut sudah mengingatkan berkali-kali, tetapi hati tak mau peduli. Hati terus berjalan mendahului sang empunya. Cinta---menyapa lebih awal di luar kuasa Dewa.
"Aku akan menemanimu melalui semuanya, Dev. Sebagai teman, atasan, atau entah apa pun itu namanya," lirih Dewa. Begitu pelan, hingga tidak terdengar di telinga Deva yang sedang menyalakan kran wastafel untuk mencuci tangannya.
***
Suasana yang berbeda 180 derajat dengan yang dirasakan Deva dan Dewa, terjadi di kediaman Rudi. Di hari pertama, Dave serta Dira tinggal serumah bahkan sekamar, lagi dan lagi---yang terjadi bukanlah hal yang menyenangkan bagi Dira.
Berbagai cara dan gaya dilakukan Dira untuk membangkitkan biraahi Dave, tetapi tidak sedikit pun suaminya itu tergoda dengan aksinya. Jangankan menatap napsu ke arah Dira, sekadar meliriknya pun tidak.
Seperti pagi ini, seusai mandi, Dira membuka bathrobe yang dikenakannya tanpa ragu dan malu tidak jauh dari sofa tempat Dave tidur semalam. Perempuan tersebut membiarkan tubuhnya tellanjang bulat tanpa sehelai benang pun menempel di sana. Dira melakukan hal itu bersamaan dengan saat Dave melipat selimut.
Sikap Dave tentu membuat Dira semakin kesal. Namun, kali ini, Dira berusaha untuk tenang. Yang terlintas di pikirannya saat ini adalah bagaimana bisa bersikap layaknya seorang Deva. Begitu melihat Dave masuk ke dalam kamar mandi, Dira segera mengambil obatnya di dalam tas. Seperti biasa, tiga butir---tanpa air minum setetes pun.
Di waktu yang sama, tepatnya di rumah sakit tempat Nina di rawat. Rudi tampak berbicara dengan Agas. Ketegangan tampak jelas di raut wajah kedua orang tersebut.
"Kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, Gas. Kita sudah sejauh ini, jangan sampai tujuan kita yang sudah di depan mata, dicekal oleh pengkhianat. Buat dia menyesal karena sudah berani melangkah terlalu jauh," tekan Rudi.
"Aku tidak mau gegabah, Rud. Kabar ini juga belum pasti. Keberadaan Dermawan pun tidak kita ketahui. Kamu jangan seenaknya memberi perintah. Kita memulai sama-sama. Kamu penulis skenarionya. Seharusnya, kamu mengambil tanggung jawab yang lebih besar dibanding kami. Dan sudah seharusnya kamu bergerak. Jangan hanya main tunjuk. Aku ini bukan kacungmu." Agas mengucapkannya dengan sinis.
__ADS_1
"Terserah apa katamu. Jika kamu kena, aku pun akan terseret juga. Suka tidak suka, kita kesampingkan perselisihan kita yang sudah-sudah. Awasi Deva dan juga Dewa dua puluh empat jam. Aku yakin, mereka tahu di mana Dermawan berada."
Agas menimpali ucapan Rudi hanya dengan sebuah anggukan. Otaknya sudah ingin meledak. Kabar Dermawan yang menunjuk salah seorang pengacara untuk mengajukan diri sebagai justice collaborator dalam kasus yang sudah selesai, ditambah lagi urusannya dengan Fira yang belum ada kejelasan---sukses membuat kepala Agas serasa ingin meledak.
Di sisi lain, Dewa kini sudah melakukan tahapan demi tahapan general check up. Untuk pertama kalinya, pria tersebut memercayakan pemeriksaan kesehatannya di rumah sakit lokal.
Saat pemeriksaan berlangsung, semua berjalan dengan lancar. Hanya saja, lagi dan lagi, Dewa merasa matanya sering kali blur dan tidak fokus secara tiba-tiba. "Ya Allah, semoga tidak ada yang serius. Aku pasti baik-baik saja." Dalam hati Dewa menghibur dirinya sendiri.
Beberapa jam berlalu, bertepatan dengan waktu makan siang, serangkaian pemeriksaan kesehatan Dewa secara menyeluruh pun usai. Menyadari dia berada di rumah sakit yang sama dengan tempat Dave melakukan praktik, Dewa pun memutuskan untuk menemui sepupu iparnya tersebut tanpa Deva.
Setelah menghubungi Dave melalui pesan singkat dan mendapatkan balasan dari pria yang dianggapnya biasa saja itu, Dewa pun bergegas menuju gedung B untuk mendatangi ruangan Dave.
"Masuk, Wa." Dave yang sudah menunggu kedatangan Dewa di depan pintu ruangannya, langsung menyambut tamunya tersebut.
"Makasih, Dave," timpal Dewa sambil mengikuti langkah Dave masuk ke ruangan berukuran lima kali empat meter itu dengan santai.
Saat Dewa hendak duduk, pandangan matanya malah tertuju pada benda setinggi dua puluh senti yang terpajang di atas meja kerja Dave. Dewa sampai membulatkan bola matanya dengan sempurna.
"Dave, apa bentuk aslinya memang seperti ini?" Dewa memberikan pertanyaan konyol sembari menyentuh phantom alat reproduksi wanita tersebut dengan ragu-ragu.
__ADS_1