Sisa Rasa

Sisa Rasa
Dewa dan Deswita


__ADS_3

Deswita mengernyitkan kening hingga kedua ujung alis yang menyerupai merk sebuah sepatu terkenal itu menyatu dengan sempurna. "Kenapa harus ribet banget sih, Nyil. Kamu maju sendiri kenapa? Ya kalau mau nolong, ya nolong aja. Kenapa jadi Mama yang repot."


"Jangan keras-keras, Ma. Ini bukan demi Dewa, lho. Setidaknya, mama punya teman tidur beberapa hari ke depan. Bagaimana, Ma? Mau, kan? Maulah masak nolak."


Deswita tampak sedang berpikir sembari memberikan tatapan menyelidik pada Dewa. "Apa kamu sedang jatuh cinta, Nyil? Kamu tidak pernah seperhatian ini sama perempuan. Kalau memang benar kamu jatuh cinta. Berarti Mama memang harus mengenal Deva lebih jauh."


"Nggak! Mama ngomong apaan sih? Mana mungkin Dewa jatuh cinta sama Deva. Enggak-enggak. Mama jangan bikin fitnah. Nanti kalau dia dengar, bisa-bisa dia semakin angkuh. Deva bukan tipe Dewa. Sama sekali bukan. Cantik, tapi membosankan. Intinya, tidak mungkin," kilah Dewa. Sedikit gugup dan tidak berani membalas tatapan Deswita.


"Mama pegang omonganmu, Nyil. Kalau sampai kebalikannya, resiko tanggung sendiri."


Dewa mengacungkan kedua jempolnya dengan santai. Lalu dia berdiri untuk melihat Deva sudah datang atau belum. Waktu istirahat masih tiga puluh menit lagi. Pantas saja lantai 36 seperti tanpa penghuni. Hanya ada Dewa dan Deswita, juga direktur keuangan beserta empat staf yang sedang sibuk-sibuknya menyiapkan data untuk audit eksternal.


Yang dicari ternyata belum ada di ruangannya. Mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Menimbulkan kekhawatiran dalam benak Dewa. Jelas Deva tadi pergi meninggalkan kantor dalam keadaan yang sedang tidak baik-baik saja.


"Deva sudah datang?" tanya Deswita begitu Dewa kembali masuk ke dalam ruangan.


"Belum, Ma. Ini gara-gara Dira. Apa Om dan Tante nggak ada cerita apa-apa tentang pernikahan Dira? Kok bisa sih mereka mengijinkan anak satu-satunya menikah dengan cara seperti ini? Pernikahan yang diawali dengan cinta saja berakhir berantakan. Apalagi yang diawali dengan paksaan," dengus Dewa.


"Mama tidak pernah tahu urusan mereka, Nyil. Orang Mama tahu kalau Dira mau menikah juga barusan. Memang seganteng apa calonnya? Kenapa Dira bisa tergila-gila seperti itu?" Deswita malah kembali bertanya pada Dewa.

__ADS_1


"Yang pasti gantengan Dewa. Dia mah cakepnya standart. Makanya cocok sama Deva. Seharusnya dia beruntung mendapatkan Dira. Eh, malah sok disia-sia."


Deswita mencubit lengan Dewa agak keras. "Kalau menurut mama, Dira yang beruntung. Kita sama-sama tahu bagaimana Dira dulunya. Meski kita bersaudara, kita tidak boleh menutup mata."


"Ah, ya ... ngomong-ngomong soal dulu, Mama ngerti nggak apa yang terjadi sama Dira beberapa tahun yang lalu. Kejadian apa yang membuat Dira berubah total? Kok Dira percaya diri sekali Dave ini adalah bagian dari masa lalunya. Sementara kalau lihat dari sikap Dave, dia biasa saja. Apa karena dia tidak mengenali Dira?" Dewa malah mengajak mamanya untuk berdiskusi.


"Percuma tanya sama mama, Nyil. Beberapa tahun yang lalu, mama berada di mana kamu juga masih ingat, kan? bisa hidup senormal ini saja, mama sudah sangat bersyukur. Kalau ingat masa lalu, Mama malah malu sama kamu, Nyil." Tatapan Deswita mendadak sendu.


"Stop! Jangan diteruskan, Ma. Dewa tidak akan meninggalkan mama demi apa pun. Kita tidak akan pernah berpisah. Dewa akan menjaga dan membahagiakan Mama semaksimal yang Dewa bisa." Pria tersebut berjongkok di depan Deswita. Menggenggam kedua tangan perempuan tersebut begitu erat.


"Tapi kamu tetap harus meni---,"


"Tidak! Pernikahan sama sekali bukan prioritas Dewa." Dewa memotong ucapan Deswita dengan cepat.


****


Di sisi lain, Deva tampak duduk termenung di taman yang letaknya tidak jauh dari gedung kantornya. Sejak tadi, perempuan itu memang berdiam diri di sana. Belum ada sesuap makanan pun yang masuk ke dalam mulutnya. Deva seperti tidak merasakan lapar sama sekali. Bahkan panas matahari yang menyengat, diabaikan begitu saja. Peluh sudah membasahi kening dan menetesi pipinya yang kemerahan seperti buah tomat akibat kepanasan. Namun, sedikit pun tidak ada niatan Deva untuk segera beranjak. Dia baru berniat kembali ke kantor setelah waktu istirahat mendekati usai.


"Kenapa tidak datang?" tanya dari suara yang sangat familiar di telinga Deva, membuat perempuan itu menoleh ke arah sumber suara tersebut dengan cepat.

__ADS_1


"Bang Dave, kenapa bisa di sini? Badan Abang bagaimana?" Deva bangkit berdiri untuk memastikan keadaan Dave.


"Aku mau ke kantormu. Tapi saat taksi yang aku tumpangi puter balik, aku malah melihatmu duduk sendirian. Makanya aku langsung turun di dsini saja," jelas Dave.


"Abang baru saja sembuh, jangan berpanas-panasan seperti ini." Deva tanpa sadar menarik tangan Dave untuk menjauhi bangku di mana dia duduk tadi. Deva mengajak Dave mendekati pohon tua yang teramat rindang di pintu masuk taman.


"Terimakasih masih peduli padaku, Bee."


Deva hanya melemparkan senyuman tipis. Ingin rasanya dia mengucapkan selamat akan rencana pernikahan Dave-Dira yang dipercepat. Tapi bibirnya tidak kuasa mengatakan. Begitu pun dengan Dave. Dia yang tidak ingin sampai Deva mendengar kabar pernikahannya dari mulut orang lain, rasanya juga tidak tega untuk mengucapkan secara langsung.


Keduanya saling melemparkan pandang dan juga senyuman penuh arti. Hanya begitu saja, rasanya sudah sangat dalam bagi Dave dan juga Deva.


"Kamu harus bahagia, Bang," lirih Deva.


"Kamu juga, Bee. Jangan simpan bebanmu sendiri. Aku akan semakin merasa bersalah jika kamu sampai hidup susah." Dave merogoh saku celananya, mengambil sesuatu di dalam sana.


"Ini kunci apartemen Nirwana. Tidak jauh dari sini, bukan? Kamu bisa menempatinya selama kamu belum menemukan tempat yang sesuai dengan pilihanmu sendiri. Aku tidak memberimu cuma-cuma. Kamu cukup membayarku dengan memasakkan nasi goreng setiap pagi selama seminggu ini," pinta Dave sambil memberikan anak kunci pada Deva.


"Aku tidak bisa menerima ini, Bang. Aku harus membiasakan diri tidak mengandalkan kamu. Lagipula aku hanya sendirian. Tidak ada barang yang harus aku bawa. Semua bisa jauh lebih sederhana." Deva menolak dengan menggenggamkan kembali anak kunci tadi ke dalam tangan Dave.

__ADS_1


"Jangan berkata seperti itu, Bee. Aku tidak akan melupakanmu begitu saja. Ingat, Bee. Ada satu janji yang pernah kamu ucapkan. Janji itu tidak bisa digugurkan begitu saja. Karena aku meninggalkanmu bukan karena aku mengkhianatimu."


Deva menelan ludahnya dengan susah payah. Dia jadi teringat dengan janji yang pernah dia ucapkan untuk Dave di atas kitab suci.


__ADS_2