
Deva dan Dewa kompak menatap punggung Dira yang semakin menjauh dari mereka. Dewa menarik napasnya begitu dalam. Sebagai seorang kakak, jelas ingin sekali dia melindungi Dira. Namun, dengan sikap yang ditunjukkan Dira akhir-akhir ini, perlahan Dewa mulai merasa cemas jika dia terus ikut mendiamkan apa yang dilakukan oleh sepupunya itu. Bisa-bisa, kegilaan Dira akan semakin menjadi.
"Aku ikut ke Jogja karena hari senin nanti, kebetulan kita ada kunjungan di sana. Ingat baik-baik. Aku menawarkan diri untuk ikut bukan karena urusanmu dan Dave saja. Tapi karena ada pekerjaan juga. Jika kalian hanya bertiga, aku khawatir ada hal yang tidak diinginkan terjadi pada Dira." Tanpa menunggu tanggapan Deva akan ucapannya, Dewa langsung melangkah menuju pintu kamarnya.
"Pak Dewa ...." Deva memanggil sedikit ragu.
Pria yang disebut namanya itu menoleh seketika. "Apa, Dev?"
"Terimakasih makan malamnya."
Dewa menjawab Deva hanya dengan sebuah anggukan. Bersamaan dengan itu, hati pria tersebut semakin menyadari kenapa Dave begitu sulit memalingkan cintanya pada Deva.
"Selamat malam, Dev. Sampai ketemu besok pagi." Dewa melemparkan sebuah senyuman yang jarang sekali diberikan pada orang lain.
Deva dan Dewa pun akhirnya masuk ke dalam kamar masing-masing. Di sisi lain, di kamar yang sudah berbeda lagi, Dave masih menenggelamkan diri dalam lamuanannya tentang Deva.
****
Adzan Subuh baru saja terdengar, belum juga melakukan ibadah dua rakaat, ponsel Deva terus bergetar. Pesan masuk bertubi-tubi membuat layar ponsel tersebut terus memunculkan beberapa notifikasi baru dalam hitungan detik.
Deva memilih untuk mengabaikan. Dia memutuskan untuk mandi dan menjalankan ibadah sholat subuh terlebih dahulu. Setelah selesai, barulah Deva membuka pesan masuk tadi. Ternyata, semua pesan tersebut, Dira lah yang mengirimnya. Hanya sekedar mengingatkan, mereka akan berangkat ke bandara tiga puluh menit lagi. Tidak ingin terus mendepatkan teror pesan, Deva pun membalas dengan kata "Iya".
Waktu yang tidak ditunggu-tunggu pun tiba, dengan menggunakan fasilitas mobil dari hotel, Deva, Dewa, Dave dan Dira berangkat bersamaan menuju bandara. Mereka berada dalam satu mobil yang sama. Jelas hal tersebut menimbulkan kecanggungan di antara keempat orang tersebut.
__ADS_1
Dave yang bersikap dingin pada semua orang, memilih duduk di bangku depan dekat si pengemudi. Pria tersebut tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dave pura-pura memejamkan matanya di sepanjang perjalanan. Dewa sendiri memilih untuk membaca artikel melaui ponselnya. Sedangkan Dira dan Deva sesekali hanya saling bertukar pandang tajam dan sedikit sinis.
"Kamu pernah ke Jogja, Dev?" Dira bertanya sembari memajukan badannya agar bisa melihat reaksi Dave di depan.
"Tidak pernah," Deva menjawab singkat.
"Ohh ... sepertinya di sini hanya kamu yang belum pernah. Kak Dewa tentu saja sering. Karena eyang kami ada rumah singgah di sana," cerocos Dira.
Tidak ada satu pun yang menimpali ucapan Dira. Selain karena malas memperpanjang urusan, juga karena mereka sudah sampai di bandara. Deva, Dewa, Dave dan Dira turun membawa koper masing-masing. Ke empatnya langsung menuju lounge khusus penerbangan dengan menggunakan pesawat pribadi.
Dave memilih berjalan sendiri di depan. Jauh meninggalkan yang lain di belakang. Bukan tidak sengaja Dave memilih posisi tersebut, apa yang dilakukan jelas karena ingin menghindari tatapan matanya ke arah Deva.
"Dave ...." Dira mencoba mensejajarkan diri dengan Dave.
"Dave, bawain koperku dong. Aku mau ke toilet sebentar," pinta Dira, suaranya dibuat semanja mungkin.
"Aku juga mau ke toilet. Lebih enak, kita bawa sendiri-sendiri saja," tolak Dave dengan halus.
Dira menghentakkan kakinya. Bersikap cuek pada Deva, ternyata tidak membuat Dave juga bersikap ramah kepadanya. Tapi Dira tidak akan menyerah. Justru kondisi ini akan dia manfaatkan semaksimal mungkin.
Deva dan Dewa sepertinya lebih banyak memiliki kesamaan dalam menghadapi kelakuan Dira kali ini. Keduanya cenderung mengambil sikap pura-pura tidak tahu dan masa bodoh. Padahal, Deva tentu paham betul bahasa tubuh Dave.
Beberapa saat menunggu Dave dan Dira yang sedang ke toilet, Dewa dan Deva sedikit berbincang tentang pekerjaan dadakan yang sengaja dibuat-buat oleh Dewa.
__ADS_1
"Aku nggak bawa pakaian kerja loh, Dev. Terserah bagaimana caranya, kamu harus siapin aku baju biar aku kelihatan resmi, tampan, dan berwibawa seperti biasa," ucap Dewa.
"Kan Bapak yang tiba-tiba bilang ada kerjaan luar kota, kenapa jadi balik saya lagi yang repot?" dengus Deva.
"Ya iyalah, kamu. Kalau aku, kebalik dong posisi kita. Eh, tapi gampang lah nanti. Kita bisa minta tolong orang cabang. Yang pasti ini kesempatan kita ketemu Bu Martha." Dewa menyebut nama salah satu pengusaha yang bergerak di bidang tekstil khusus berbahan batik cetak.
Obrolan Deva dan Dewa terhenti begitu Dave muncul. Mantan kekasih Deva itu melemparkan senyuman yang sulit diartikan. Entah sekedar sebagai sapaan basa-basi atau kecemburuan yang disembunyikan dengan rapi. Tidak lama dari itu, mereka pun terbang bersama menuju tempat di mana terdapat kenangan yang membuat Dira begitu berbunga-bunga.
****
Setelah melakukan penerbangan selama satu jam dua puluh menit, Deva,Dewa,Dave dan Dira akhirnya menginjakkan kaki juga di bandara setempat. Mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil yang sudah disiapkan oleh layanan tour guide dari hotel.
"Kita langsung ke lokasi yang ingin aku tunjukkan, ya?" Dira lalu menyebut sebuah nama tempat yang letaknya lumayan jauh dari bandara.
Dave memicingkan kedua matanya begitu mendengar nama tempat yang disebutkan oleh Dira. Ingatannya samar-samar mulai dilintasi oleh peristiwa yang menurutnya sangat mendebarkan beberapa tahun yang lalu. Dave semakin memaksa dirinya untuk mengingat lebih banyak lagi. Mencoba menghubungkan apa yang dialaminya dulu dengan Dira.
Semakin mendekati lokasi yang di tuju, ingatan Dave seolah tergugah kembali. Pria tersebut menoleh ke kanan ke kiri, memastikan kalau dirinya memang menuju ke salah satu destinasi wisata yang saat itu belum terlalu banyak wisatawan yang tahu.
"Bagaimana, Dave? Sedikit teringat sesuatu? Kamu pernah ke sini, bukan?" Dira bertanya dengan percaya diri. Meski dia tidak bisa melihat reaksi wajah Dave, namun Dira yakin, ingatan suaminya pasti masih cukup bagus. Apalagi jika dihadapkan dengan kenangan itu secara langsung.
Dewa melirik ke arah Deva yang lagi-lagi memilih bersikap pura-pura tidak peduli. Padahal, dalam hati perempuan tersebut sedang berdoa. "Ya Allah, semoga apa pun yang akan ditunjukkan oleh Dira adalah jalan menuju kebahagiaan dan kebaikan bagi rumah tangga mereka berdua. Dave pantas bahagia."
Dave bergeming, pria tersebut masih fokus mengedarkan pandang pada keadaan sekitar. Kini kilasan masa lalu itu pun semakin jelas muncul di ingatannya.
__ADS_1