
"Kita tidak bisa menilai perasaan seseorang hanya dari sorot matanya." Dave menimpali pernyataan Debora dengan cepat.
Jawaban Dave membuat Debora segan untuk menanyakan satu hal yang sebenarnya mengusik rasa ingin tahunya. Tidak ada pembahasan apapun lagi, Debora dan Dave akhirnya berjalan perlahan mengikuti Dewa yang melangkahkan kaki dengan susah payah sambil menggendong Deva.
Penuh perjuangan, bahkan diselingi dengan perdebatan sepanjang jalan, akhirnya sampai juga mereka di parkiran mobil. Deva membantu Dewa membuka syal yang menutupi mata pria tersebut.
"Sulit, bukan berarti tidak mungkin, bukan?"
Dewa tidak menjawab pertanyaan Deva, dia langsung masuk ke dalam mobil dan membiarkan Dave yang menduduki jok kemudi. Berempat, mereka kembali ke Villa. Setiba di sana, Deva, Dewa, Dave dan Debora langsung masuk ke dalam kamar masing-masing. Sejenak beristirahat, menyegarkan diri dan bersiap untuk acara nanti malam.
Sesuai informasi yang diberikan Deva, mereka berkumpul di halaman belakang villa yang sudah di tata sedemikian rupa tepat pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Semua menggunakan atasan berwarna putih dengan bawahan celana jeans.
Setelah melewati makan malam yang sederhana, mereka duduk santai di atas rumput beralaskan tikar. Empat orang itu masing-masing sudah bersiap dengan spidol dan kertas masing-masing.
"Oke, game kita yang pertama adalah "game cukup satu kata saja". Aturan permainannya adalah satu orang yang namanya keluar, boleh menanyakan apapun pada yang lain. Dan jawabannya hanya boleh satu kata saja. Yang memberi pertanyaan juga wajib menjawab," jelas Deva.
Sambil mendengarkan penjelasan Deva, Debora memasukkan empat gulungan kertas di dalam sedotan ke dalam botol air mineral berukuran kecil. Mereka pun memulai dengan santai, Orang pertama yang sudah mendapatkan giliran bertanya, memberikan pertanyaan yang aman dan mudah, sehingga tidak menimbulkan pembahasan yang panjang. Kini nama kedua dikeluarkan.
"Dewa," ucap Dave setelah membuka gulungan kertas.
Orang yang disebut namanya itu seketika tampak berpikir. Dia sama sekali tidak menduga mendapat giliran yang kedua setelah Debora. Padahal, sebelumnya Dewa berharap Deva lebih dulu dibanding dirinya.
__ADS_1
"Wa, kamu nggak sedang tidur, kan?" ledek Dave karena merasa Dewa terlalu lama berpikir.
"Sebentar." Dewa menarik napas dalam, lalu dia bertanya, "Hal apa yang paling kita cemaskan di dunia ini?"
Tanpa berpikir panjang, Deva dan Dave kompak langsung menuliskan sesuatu. Sedangkan Debora terlihat masih mengambil jeda untuk berpikir.
"Satu, dua, tiga...." Dewa memberi aba-aba pada ketiga orang yang lain.
Jawaban masing-masing pun ditunjukkan dan bisa dibaca dengan jelas oleh yang lain. Di luar dugaan, jawaban Debora, Dave dan Dewa kali ini ternyata sama. Ketiganya, sama-sama menuliskan kata KEMATIAN. Sedangkan Deva menuliskan kata WAKTU
"Kenapa kamu mencemaskan waktu, Dev?" tanya Debora tidak bisa menutupi rasa penasarannya.
"Karena waktu sejatinya bukanlah milik kita. Kita hanya bisa melewatinya. Bukan untuk menggenggam, menyimpan apalagi mengulangnya. Ketika waktu sudah berlalu, yang tertinggal hanyalah kenangan. Sebanyak apa pun uang yang kita miliki, tidak bisa mengembalikan kita pada waktu yang sudah lewat." Deva menjeda penjelasannya sejenak. Matanya berkaca-kaca menatap Debora, Dave dan Dewa secara bergantian.
"Kamu tidak pernah sendirian, Bee. Kamu tau, aku selalu ada untuk kamu," sahut Dave.
"Ada aku juga, Dev. Cerita masa lalu yang mempertemukan kita memang menyakitkan. Aku bahkan tidak bisa memaksamu untuk menganggapku lebih dari sekedar teman. Satu hal yang pasti, aku akan sangat bahagia jika kamu menjadikanku teman untuk berbagi keluh kesahmu," timpal Debora. Tangannya terulur untuk menggenggam tangan Deva.
"Aku bukannya tidak takut pada kematian. Tapi bagiku, kematian itu pasti. Dia akan datang pada semua makhluk yang bernyawa. Yang tidak pasti itu kapan kematian itu datang. Lagi dan lagi, semua kembali pada waktu."
Dewa menggeser duduknya, pria tersebut lalu menengadahkan wajahnya, menatap gugusan rasi bintang aquarius yang berkerlap kerlip di langit yang hitam pekat.
__ADS_1
"Satu-satunya hal yang Aku takutkan sekarang memanglah kematian. Aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati mamaku jika saat itu tiba lebih awal. Sampai saat ini, mama tidak tau apa yang sedang aku alami. Dan memang hanya kalianlah yang mengetahui sakitku. Aku tidak tega membuat mama sedih. Melihat sakitku saja air mata mama berlinang, apalagi jika harus melihat tubuhku terbujur kaku dengan balutan kain kafan," lirih Dewa.
Deva melepaskan genggaman tangan Debora, perlahan, perempuan itu berjalan dengan lututnya menghampiri Dewa. "Bapak salah, Mades tau tentang sakit yang Bapak rasakan. Hebatnya seorang ibu, Mades pura-pura tetap tersenyum hanya karena tidak ingin Bapak bersedih. Pak.... tidak ada salahnya kita berbagi sakit. Lebih menyakitkan bagi orang yang mencintai kita jika tau kita berbohong. Seorang ibu mungkin tidak bisa mengambil sakit anaknya. Setidaknya, biarkan dia menemani Bapak untuk berjuang melawan sakit bapak."
Dewa menoleh ke sumber suara yang berbicara dengannya. Keduanya saling bertukar pandangan yang begitu sendu. "Aku takut, Dev. Aku takut mama akan terpuruk perlahan melihat Aku buta."
"Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi, Wa. Anggap saja kamu sedang bersiap untuk kemungkinan terburuk. Jika kamu buta, masih ada kami yang bisa menjadi mata untukmu. Saat itu tiba, kamu boleh merutuki hidupmu yang tidak lagi berwarna. Tapi ingat, seperti yang Deva katakan tadi, waktu tidak menunggu kamu siap. Dan waktu tidak bisa berlalu dengan cepat hanya karena Ia ingin segera menyudahi penderitaanmu. Optimis, Wa. Tidak melihat dunia, tidak serta merta menulikan telingamu. Hati dan pikiranmu masih bisa menatap dunia, nalurimu yang akan menuntun langkahmu menuju arah yang kamu mau." Dave yang duduk tepat di sisi kanan Dewa, menepuk-nepuk pundak pria itu.
"Thanks, Dave. Sampai di titik ini, aku bersyukur sempat mengenal kalian. Maafkan jika sikapku selama ini banyak membuat kalian sakit hati." Dewa menatap Deva dan Dave secara bergantian.
"Aku juga bersyukur, Wa. Setelah jalan berliku yang kita lalui, kita bisa duduk bersama di tempat ini sekarang, bagiku sungguh luar biasa. Hati kita memang jatuh pada sosok yang sama, tapi bukan berarti kita harus saling membenci. Perempuan yang kita cintai, terlalu berharga untuk diperebutkan dengan cara saling cela."
Dewa tersenyum tipis mendengar penuturan Dave. "Dan Aku berharap, kamu tidak mundur hanya karena merasa iba pada sainganmu ini. Kita tidak pernah tau, bukan? Siapa tau, hati si dia, suatu saat malah bukan untuk salah satu dari kita," canda Dewa.
Deva yang tahu persis arah pembicaraan Dave dan Dewa, memilih untuk beranjak berdiri. Dengan kaki yang tidak beralaskan apapun, perempuan tersebut mengayunkan kaki beberapa langkah ke depan. Menatap taburan cahaya semburat dari gedung-gedung yang terlihat kecil dari ketinggian tempatnya berada.
"Biarlah waktu yang mengantar hati untuk memantapkan cintanya. Hidup bersama bukan hanya perkara suka sama suka atau pun cinta sama cinta. Lumrahnya manusia yang tidak ingin gagal membangun sebuah hubungan kasih. Terlalu cepat jika aku harus memutuskan sekarang. Masa lalu yang menyisakan rasa, membuatku lamban menatap masa depan," lirih Deva pada dirinya sendiri. Tidak terdengar oleh siapa pun.
Debora bergeming pada posisinya yang berada sejengkal di belakang Dave dan Dewa yang duduk berjejer kompak menengadah menatap langit yang sama. Dia merasa kesulitan merangkai kata untuk ikut menimpali percakapan ketiga orang tersebut. Debora menundukkan wajahnya, menyimpan air mata yang tidak sepenuhnya mewakili luka di hatinya.
"Ya Allah ... Jika memang takdirku hanya untuk mencintai, tolong biarkan cinta ini menjadi kebaikan bagi orang yang aku cintai. Sudahi harapku untuk memiliki. Biarlah cinta ini bersemi dalam ladang persahabatan," doa Debora dalam hati.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹END🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹