
Deva melangkahkan kaki lebar mendekati Dave yang sedang bergerak untuk membuka pintu rumah lama Deva. Paham betul apa yang akan terjadi, Dewa pun ikut keluar dari mobil dan segera menyusul perempuan yang tidak kunjung menjawab ungkapan hatinya tersebut.
"Bang ...." Suara lirih Deva berhasil membuat Dave yang baru akan menekan gagang pintu ke bawah menjadi terhenti.
Sedikit gugup, pria itu menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya sambil berkata, "Bee ...."
"Kenapa bisa Bang Dave membuka pintu rumah ini? Siapa pemilik rumah ini sekarang? Tolong jawab jujur, Bang. Apa sebenarnya memang rumah ini milik Abang?" Deva memegang lengan Dave dan memberikan tatapan tajam penuh tanya pada pria tersebut. Kilasan ingatan pun membawa Deva pada kejadian beberapa bulan yang lalu saat dia melihat asisten rumah tangga Dave di rumah Fira ada di tempat mereka berdiri sekarang.
Dewa bergeming dua langkah di antara Deva dan Dave berdiri. Sudah tidak mungkin lagi dia membantu Dave berkelit dan membelokkan dugaan Deva sekarang. Tidak ada pilihan lain, selain menanti kejujuran Dave. Mungkin memang sudah saatnya Deva tahu.
"Beberapa bulan yang lalu, pembeli rumah ini menawarkan rumah ini padaku. Meski tidak langsung mengiyakan, akhirnya aku memutuskan untuk membelinya. Kamu tahu, kan, Bee? Tabunganku jelas belum mencukupi untuk membeli rumah di lingkungan seperti ini. Aku tidak mau meminta pada mama dan papa juga. Karena aku ingin, suatu saat bisa mengembalikan rumah ini padamu. Dalam keadaan utuh, sama seperti semula, dan sangat terawat." Dave membalas tatapan Deva dengan lembut.
Deva menurunkan tangannya dari lengan Dave. Dia menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Dulunya aku berpikir ingin sekali mendapatkan rumah ini kembali. Tapi sekarang, keinginan itu tidak lagi sebesar sebelumnya. Kenangan yang sesungguhnya hanya tersimpan di dalam hati. Bukan pada sebuah benda."
"Aku tahu. Tapi rumah ini sangat berarti buat kalian. Percayalah, Bee. Aku berangan-angan membeli rumah ini, jauh sebelum aku dan kamu menduga papaku terlibat kasus Papa Amar. Aku membelinya bukan karena aku merasa bersalah atau malu atas kelakuan orangtuaku. Sama sekali bukan. Rumah ini menyimpan banyak kenangan kedekatan kita. Rumah ini mengajarkan banyak nilai kehidupan padaku. Dan aku, sengaja membeli rumah ini untuk mengembalikannya padamu."
Dewa memundurkan langkahnya, mendengar Dave mengatakan sederetan kalimat tadi dengan tulus, membuatnya sedikit berkecil hati. Rasa percaya diri Dewa tidak sebesar omongan dan gayanya ketika harus berhadapan dengan Deva dan Dave secara bersamaan seperti sekarang.
__ADS_1
"Tidak, Bang. Rumah ini Bang Dave yang beli. Rumah ini sudah jadi milik Abang. Tidak ada kewajiban bagi Abang untuk mengembalikan rumah ini padaku. Yang diperbuat orangtua Abang, sama sekali tidak melibatkan Abang, bukan? Kita sama-sama tertipu. Tidak perlu menukar semua dengan cara seperti ini. Semua sudah tidak akan pernah sama lagi. Mama dan Papa tidak akan pernah kembali."
Dave meraih tangan Deva. "Aku tahu, semua tidak lagi akan sama. Setidaknya, bantu aku sedikit memberi kenangan baik di hatimu. Aku dan keluargaku, sudah meremukkan hatimu luar biasa. Aku tulus memberikannya, Bee ... aku sama sekali tidak berharap lebih pada hubungan kita. Kamu pantas mendapatkan yang terbaik."
"Maaf, Bang. Aku tidak bisa menerimanya." Deva memalingkan wajahnya ke sisi lain.
Dave mereemas tangan Deva sembari menatap dan memohon penuh harap. "Please, Deva. Biarkan ada kebaikan sedikit yang aku lakukan. Biar tidak hanya luka yang aku tinggalkan pada hubungan kita."
Dewa mengerjap-erjapkan matanya yang kembali tidak fokus. Bukannya membaik, ternyata malah semakin buram. Yang tampak di penglihatannya saat ini seperti diselimuti kabut tipis. Dewa membalikkan badannya dengan gerakan cepat, dia tidak mau Dave apalagi Deva mengetahui apa yang dia rasakan. Akibatnya, dia malah merasakan pusing. Dewa mengurungkan niatnya untuk melangkah menjauh. Dia berdiam diri sejenak sambil memijat pelipisnya sendiri secara perlahan. Deva dan Dave yang fokus dengan pikiran masing-masing, tentu saja tidak memperhatikan kondisi Dewa.
Deva bergeming, kakinya terasa berat untuk melangkah. Ingin rasanya dia masuk ke dalam sana. Namun, Tiba-tiba dia merasakan kesedihan yang luar biasa. Ada sesal yang tidak biasa, ada kecewa yang nyata. Disaat keadilan datang, disaat jalan menjadi mudah, yang diperjuangkan sudah tidak bisa merasakannya lagi. Sesak rasanya hati Deva.
"Aku tahu, bukan sifatmu bisa menerima pemberian sebesar ini secara cuma-cuma. Sekarang, kamu tahu pasti pemilik rumah ini adalah aku. Kamu bisa membelinya suatu saat nanti," cetus Dave, tiba-tiba.
Deva tidak memberikan tanggapan apa pun. Perlahan kakinya tergerak masuk ke dalam. Dave sengaja tidak mengikuti langkah kaki Deva. Dia memilih untuk menyapa Dewa yang masih berdiri memunggunginya.
"Wa," sapa Dave sambil menepuk pundak Dewa.
__ADS_1
"Yup," jawab Dewa, dibuat sesantai mungkin. Namun, pria tersebut tetap bertahan pada posisinya. Dia tidak mengubah posisi badannya karena khawatir malah akan semakin pusing dan penglihatannya semakin tidak karuan.
"Terimakasih selalu ada buat Deva. Terimakasih kamu mengupayakan yang terbaik untuk kasus papanya. Kamu pantas mendapatkan Deva, Wa ..." Dave kembali menepuk pundak Dewa sambil memposisikan diri agar bisa berhadapan langsung dengan Dewa. Saat itulah Dave menyadari ada yang tidak beres dengan pria di depannya tersebut.
"Wa, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali." Dave meletakkan punggung tangannya di kening Dewa. "Duduk, Wa," tambah Dave sambil menuntun Dewa duduk di kursi anyaman yang ada di sisi kanan pintu.
"Tidak kenapa-napa, Dave." Dewa masih berusaha menyembunyikan keadaannya. Dia menyeka keringat dingin akibat menahan sakit yang tidak seperti biasanya.
"Tunggu di sini sebentar." Dave berlari ke arah mobilnya terparkir untuk mengambil sesuatu.
Dewa memilih menyandarkan punggungnya dengan sesantai mungkin di sandaran kursi. Dia berusaha membuat kepala dan penglihatannya merasa lebih baik dalam waktu yang singkat. Namun usahanya sia-sia.
Di dalam rumah, Deva langsung menuju kamar papa dan mamanya. Dave benar, tidak ada yang berubah. Semua sama. Bahkan foto-foto yang dulu dikiranya sudah dibuang oleh pembeli pertama, ternyata masih terpajang rapi di sana. Foto-foto yang sebagian besar tidak sempat dibawa dan diurus karena belum sempat bisa berpikir tenang, kematian sang mama sudah menghampiri.
Deva duduk di tepian ranjang sambil memegang salah satu foto keluarga kecilnya yang tadi tertata rapi di atas nakas samping tempat tidur. Sejenak dia larut ke dalam kenangan yang tersampaikan melalui foto itu. Hingga suara teriakan Dave dari luar, membuyarkan lamunan Deva dan membuat perempuan tersebut segera berlari keluar dengan masih membawa figura foto di tangannya.
"Pak Dewa!" Pekik Deva.
__ADS_1