
"Dave ... aku mau ikut, tapi jangan hari ini," Dira masih berusaha untuk bernegosiasi.
"Terserah kamu, Dir. Dari awal aku tidak memaksamu. Sesiapmu saja." Dave melambaikan tangan pada deretan driver taksi online yang sedang mengantri menunggu penumpang.
"Dave, setidaknya temani aku dulu pulang ke rumah. Mengambil barang-barangku dan berpamitan sama mama papa. Kalau aku pulang sendiri, apa nanti kata mereka?" Dira berusaha mencekal lengan Dave. Namun, dengan gesit pria tersebut menepisnya.
"Apa kata mereka? Aku tidak peduli. Pernikahan kita, bukan atas dasar cinta. Mereka seharusnya tidak berangan-angan terlalu tinggi pada hubungan kita saat ini. Aku sudah berbaik hati mau memberikanmu kesempatan untuk melakukan tugasmu sebagai istri. bukan berarti kita bisa langsung melibatkan hati dan fisik kita. Tidak semua cinta, harus diikat dengan bercinta." Dave langsung masuk ke dalam taksi yang berhenti tepat di depannya, meninggalkan Dira yang tampak sangat kesal.
Dave tidak peduli, pernikahan memang bukanlah ikatan untuk menyatukan dua insan yang sempurna. Namun, pernikahan seharusnya dilakukan oleh dua pecinta yang memiliki tekad yang sama untuk saling menyempurnakan dan mendamba hidup bersama merangkai kebahagiaan. Atas nama ibadah dan kerelaan hati---membangun keluarga baru yang sakinah, mawadah dan warohmah.
"Kita mau kemana, Pak?"
Dave mengarahkan driver taksi ke sebuah tempat. Bukan apartemennya, juga bukan kediaman Fira dan agas. Dia sedang merindukan seseorang yang selama ini begitu bijaksana. Sikap sosok tersebut selalu menunjukkan tingkat keikhlasan yang luar biasa.
****
"Dev, kenapa melamun? Kan sudah beres." Dewa menoleh sekilas pada Deva yang memang sedang terdiam dengan pandangan lurus dan bibir manyun di jok samping kemudi.
"Saya tidak melamun, Pak. Saya pusing. Mendadak hutang saya kenapa banyak sekali," tukas Deva. Perempuan tersebut jelas belum rela dengan keputusan Dewa yang benar-benar memaksa.
"Ini investasi, Dev. Tidak murni hutang. Saat ini, kamu boleh kesel sama aku. Suatu saat, kamu bakalan ngomong terimakasih ribuan kali. Lagian jangka waktu cukup panjang. Kali aja nanti ada laki-laki yang khilaf nikahin kamu. Biar dia yang lunasin. Minta mahar rumah, kan beres."
Deva mencubit lengan Dewa dengan kuat. "Bapak bisa ngomong enteng karena Bapak berduit. Lah saya, siap-siap saya makan mie instant dan telur ceplok tiap hari."
"Mangkanya, jangan suka nolak kalau diajak orang makan, kan lumayan. Itung-itung ngirit. Lagian kamu dapet gaji juga dari nemenin mama. Ngomong-ngomong, cubitan kamu mantep bener. Ada bekasnya ini pasti. Panas, Dev. Jahat kamu." Dewa sedikit meringis karena memang jejak nyeri berkat cubitan Deva masih terasa nyata.
__ADS_1
Deva mencebikkan bibirnya dengan santai. "Rasain."
"Aku sholat Ashar dulu, ya. Takut nggak keburu. Macet begini, sampai rumah bisa-bisa sudah deket waktu maghrib kita."
Deva pun mengangguk setuju. Satu hal lagi yang membuatnya perlahan merubah penilaiannya pada Dewa adalah ibadah lima waktu pria itu. Jika tidak ada sesuatu yang sangat penting, Dewa selalu menyegerakan ibadahnya.
Setelah bertemu dengan masjid besar di pinggir jalan, Dewa pun membelokkan mobilnya ke gerbang utama bangunan tersebut.
"Bapak langsung turun dipintu masuk saja. Biar saya yang cari parkiran," ucap Deva sengaja ingin memudahkan Dewa.
****
Tidak sampai lima belas menit waktu berjalan, Dewa sudah mengirimkan pesan kalau dia sudah menyelesaikan ibadah sholat empat rakaatnya. Deva pun segera menjemput atasannya itu.
"Boleh, kok.Tapi setelah itu temenin aku ke toko mainan dulu, ya. Kasihan Nyong, ditinggal terus. Mau kasih hadiah buat dia. Sebentar lagi, dia juga harus ke pesantren." Dewa mengatakan sambil kembali melajukan mobilnya.
"Kenapa harus di pesantren, Pak? Kasihan, apalagi kalau terlalu jauh." Deva memberanikan diri untuk bertanya.
Dewa tidak langsung menjawab. Sama seperti Deva, dia pun berpikir demikian. Namun, sampai saat ini, Dewa tidak tahu jawaban pasti. Dia hanya bisa sedikit menduga-duga.
"Menurut mama, itu yang terbaik, Dev. Mama sadar betul posisi Nyong di rumah. Mama seperti memiliki trauma dan beban mental tersendiri setiap kali mengingat asal usul Nyong. Mama sayang sekali sama Nyong. Tapi mama bukan malaikat, Dev. Mama masih manusia biasa. Mama takut, suatu saat, kekesalan dan perasaan mama yang tertahan, bisa keluar melalui kata-kata dan menyakiti Nyong. Mama juga tidak mengijinkan aku untuk mengambil alih pengurusan Nyong," jelas Dewa panjang lebar dan sangat jujur.
"Kenapa tidak dikembalikan saja pada ibu kandungnya, Pak?"
"Itulah mengapa mama menyuruhmu menyelidiki perempuan bernama Delima itu. Tapi sepertinya, lebih baik Nyong tinggal di pesantren ketimbang bersama ibu kandungnya. Jelas perempuan itu tidak memedulikan Nyong sama sekali."
__ADS_1
"Mungkin bukan tidak peduli. Bisa jadi, dia hanya takut." Deva mencoba melihat permasalahan dari sisi lain.
"Takut apa? Seorang ibu tidak takut apa pun untuk memperjuangkan seorang anak. Dia mungkin tidak berminat, atau sudah terlalu nyaman dengan kehidupannya sekarang. Aku ikut kemauan mama saja. Yang penting, Nyong berada di tempat dan tangan yang tepat. Kami tidak membuangnya, hanya memberi sedikit jarak. Mama perlu waktu untuk memahami dengan benar, seberapa besar cinta mama pada Nyong. Biarkan mama menata hatinya terlebih dulu. Kelihatannya baik, belum tentu kenyataannya demikian."
Deva mengangguk setuju. Senyuman manis menyungging dari bibirnya. Entah untuk keberapa kali dia harus mengakui kebaikan hati Dewa jika berhubungan dengan sang mama.
Memasuki pelataran parkir makam, Deva merapikan rambutnya. Dia mengambil lipstik di tasnya agar terlihat lebih segar. Dewa pun mengernyitkan keningnya.
"Kamu kan ke makam, Dev. Bukan ke kondangan kawinan. Kenapa pakai poles bibir segala," protes Dewa.
"Papa selalu memanggilku princes. Seorang princes, memang harus selalu cantik," timpal Deva.
Dewa mengulum senyuman tipis. "Kamu cantik sekali, Dev," lirihnya dalam hati. Namun, sesaat kemudian Dewa tersadar pujian dari hatinya itu sangat lancang. Pria tersebut menepuk-nepuk pelipisnya sendiri. Seakan ingin mengeluarkan isi kepala yang mulai tercemari rasa yang ada di dalam hatinya.
Saat Deva membuka pintu mobil, di saat bersamaan sebuah taksi berhenti di samping mobil Dewa. Sejurus kemudian, sosok yang sangat familiar di hati dan pikiran Deva pun keluar dari mobil tersebut.
"Bang," sapa Deva dengan lirih.
"Bee ...," balas Dave. Pria tersebut lalu menatap dan memberikan senyuman sapa yang terpaksa pada Dewa.
"Aku beli bunga dulu," Deva bergegas berjalan meninggalkan Dave menuju deretan kios bunga di sisi kiri lahan parkir.
"Kenapa kebetulan sekali. Kalian nggak janjian, kan?" selidik Dewa sembari perlahan berjalan mendekati Dave.
Dave hanya menjawab dengan senyuman tipis. "Apa kamu mencintai Deva?" tanyanya sembari menatap Dewa penuh selidik.
__ADS_1