
Dira dengan wajahnya yang seolah memang diharapkan kedatangannya, menyambut Dewa dan Deva dengan sapaan lantang penuh rasa percaya diri. Untung saja jam makan siang masih beberapa saat lagi. Sehingga belum ada karyawan lain yang berseliweran di lobby.
"Dir, apa-apaan sih kamu? Siapa yang ngijinin kamu datang ke sini? Ingat ya, Dir. Ini bukan perusahaan keluarga kita. Aku di sini cuman karyawan. Kamu tidak bisa seenaknya keluar masuk menemuiku tanpa membuat janji sebelumnya. Apalagi untuk hal yang tidak penting," cerocos Dewa tanpa basa basi.
Deva yang merasa tidak ada kepentingan dengan Dira, hanya melemparkan senyuman tipis pada perempuan tersebut. Lalu dia meninggalkan kedua saudara sepupuan itu dengan langkah seribu. Namun, baru dua ayunan kaki Deva melangkah, kaki Dira dengan cekatan menahan langkah Deva hingga hampir membuat perempuan tersebut tersungkur.
"Dir, jangan buat keributan di sini," Dewa dengan sigap menahan lengan Deva agar tetap pada posisinya.
"Aku ingin bicara dengan kalian. Hanya sepuluh menit. Janji tidak akan lebih. Bahkan bisa kurang kalau kalian tidak menyela," ucap Dira dengan gaya santai yang cenderung sinis tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Dewa melemparkan pandangan pada Deva, seolah dia yang meminta persetujuan untuk menerima ajakan Dira atau tidak.
"Masih jam kantor, Pak." Deva mencoba berkilah dengan pelan.
"Kalau kamu tidak mau, its okey. Bicara dengannya, selesai tepat saat jam istirahat. Pertemuan kita pagi ini dengan Rocky, sangat menguntungkan. Waktu sepuluh menit, tidak akan merugikan perusahaan sama sekali." Dewa berjalan ke arah ruang penerimaan tamu di sudut lobby.
__ADS_1
Deva mengikuti langkah Dewa tepat di belakang pria tersebut, begitu pun dengan Dira. Deva mencoba bersikap tenang. Dia terus mengingatkan diri bahwa Dira sudah menjadi temannya sejak beberapa waktu yang lalu.
"Cepetan ngomong, Dir. Langsung saja. Tidak lebih dari delapan menit sepuluh detik, karena sisanya sudah habis untuk kita berjalan kemari," tegas Dewa, begitu mereka sudah berada di dalam ruangan dan duduk di sofa pilihan masing-masing.
"Aku datang kemari, meminta kalian secara khusus untuk menjadi pendamping di pernikahanku dan Dave minggu depan. Deva akan menjadi bridesmaid dan Kak Dewa sebagai groomsman. Acara pernikahan akan kami adakan di Bali. Akomodasi dan hotel akan kami tanggung. Untuk pakaian yang akan kalian kenakan, nanti hari minggu silahkan datang ke butik yang kami tentukan." Dira menatap Deva dan Dewa satu per satu. Kedua orang tersebut kompak tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Padahal, dalam hati mereka sama-sama tidak menduga jika pernikahan Dave dan Dira akan berlangsung secepat ini.
"Sebagai kakak sepupu kesayangan, tentu Kak Dewa tidak akan menolak, bukan?" Dira menatap Dewa dengan manja. Lalu sesaat kemudian dia mengalihkan pandangan matanya pada DeVa. "Dan kamu, Dev. Pasti tidak ingin mengecewakan hati seorang teman yang sedang sangat bahagia, bukan? Aku ingin orang-orang terdekat saja yang hadir. Sekalipun mendadak, sudah cukup berkesan."
Deva memalingkan wajahnya. Menyembunyikan perih yang seketika menyeruak ketika mendengar pernikahan Dave dan Dira hanya tinggal menghitung hari.
"Dir, tanpa kamu suruh, pasti aku akan melakukannya. Tapi, tidak harus Deva juga yang jadi bridesmaid-mu. Bukankah kamu mempunyai beberapa teman dekat? Kenapa tidak mereka saja." Dewa tidak segan menunjukkan sikap tidak setujunya.
Deva menarik napas dengan berat saat Dira mengatakan hal tersebut. Lalu dia pun bertanya, "Hanya itu saja, kan, yang ingin kamu sampaikan?"
"Masih ada satu lagi. Setelah acara pernikahan, kami akan langsung melakukan bulan madu ke Jogya. Kamu harus ikut bersama kami. Aku rasa itu saat yang lebih tepat untuk menjelaskan pada kalian semua, kenapa aku harus menikah dengan Dave. Jadi ,rencana kita pergi minggu ini, dibatalkan saja."
__ADS_1
Dewa seketika menatap Dira dengan tajam. Namun, sepupunya itu tidak memedulikannya sama sekali. Dira masih saling beradu pandang dengan Deva.
"Baiklah, lakukan saja apa yang menjadi rencanamu. Aku tidak akan menolak. Kali ini, aku sedang berbaik hati menuruti kemauanmu. Anggap saja, ini kado dariku untuk kalian." Deva langsung beranjak berdiri dan meninggalkan ruangan tanpa pamit. Dia melangkahkan kaki keluar lobby. Berjalan meninggalkan gedung Diamond Corp---menyusuri trotoar entah hendak kemana dia membawa jiwanya yang semakin remuk.
Di dalam ruang tamu di mana Deva, Dewa, dan Dira tadi berada. Kini hanya menyisakan dua orang yang sepertinya sudah bersiap untuk beradu pendapat.
"Apa maumu, Dir? Begini caramu mencintai? Bukankah kamu seorang dokter yang seharusnya bisa berpikir logis dengan lebih baik? Aku kecewa sama kamu, Dir. Sangat kecewa ... Dari mana kamu belajar bersikap seperti ini? Kamu seorang perempuan, tapi teganya kamu membuat perempuan yang sudah kamu sakiti hatinya, malah semakin dalam sakitnya." Sorot kemarahan sekaligus kekecewaan jelas terpancar nyata dari bola mata Dewa.
"Kakak belum tahu apa yang aku rasakan. Kakak belum mengalami bagaimana rasanya kita mencintai dan ingin memiliki seutuhnya. Semoga Kakak akan segera merasakan hal yang sama. Biar kakak tahu bagaimana rasanya menjadi bodoh karena cinta," tekan Dira.
Dewa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat. "Lebih baik aku tidak pernah nerasakan mencintai, daripada harus mencintai dengan caramu seperti ini. Sampai kapan pun, Dave tidak akan mungkin bisa menjadi suamimu secara utuh jika sikapmu seperti ini. Apa yang kamu ucapkan, lebih cocok disebut obsesi ketimbang cinta. Jika memang yang kamu rasakan cinta, harusnya kamu membiarkan Dave bahagia dengan hidupnya. Bukan mengajaknya sengsara dengan menjadikan dia sebagai milikmu," sanggah Dewa.
"Kita sudah menghabiskan waktu sepuluh menit. Terserah Kak Dewa menilaiku bagaimana. Aku akan tetap berjalan dengan apa yang aku yakini. Apa pun yang menjadi kemauanku, harus aku dapatkan." Dira dengan tidak sopan meninggalkan Dewa yang tengah tertegun dan terheran-heran dengan sikap Dewa.
Pria tersebut mengumpat dengan kata-kata yang lumayan kasar. Dewa tidak habis pikir dengan Dira yang sungguh berbeda dari Dira yang biasanya. Sikap sepupunya itu sungguh menunjukkan kondisi kejiwaan yang sedang labil. Dewa melangkah keluar ruangan sembari menghubungi Deswita. Sangat keluar dari kebiasaannya, pria tersebut meminta sang mama untuk datang ke kantornya segera. Ada sebuah dorongan yang sangat besar, entah dari mana dan mengapa, perasaan ingin melindungi Deva, muncul begitu saja.
__ADS_1
Sepertinya semua orang sedang dilanda kegelisahan. Dave pun merasakan hal yang sama. Kekhawatirannya pada kondisi Deva membuatnya semakin tidak tenang. Dengan hubungan mereka sekarang, tentu tidak akan mudah bagi Deva untuk menerima bantuannya. Dia terus memutar otak agar bisa menemukan cara terbaik. Namun, hingga detik ini, belum juga terlintas ide cemerlang di kepalanya.
"Dave ...." Fira tiba-tiba muncul tanpa aba-aba di dekat brankar Dave. "Maaf, mama terpaksa datang kemari. Orangtua Dira baru saja menghubungi mama, pernikahanmu dimajukan, Dav."