
"Jaga dirimu baik-baik, Bee." Dave menarik napas begitu berat. Menyadari betapa besar godaan yang ada di depannya.
"Terima kasih, Bang," lirih Deva.
Menyadari godaan yang ada di depan mata. Keduanya kompak menjauhkan diri. Genggaman tangan Dave dan Deva pun terlepas seketika. Hampir saja mereka terlena. Belum juga lupa, keadaan dari waktu ke waktu malah selalu memberikan kesempatan untuk bertemu.
"Siapkan hati dan fisikmu baik-baik, Bee. Ada Dewa yang bisa kamu andalkan. Jangan jauh-jauh dari dia. Aku hanya pecundang sekaligus pengecut yang tidak bisa melakukan apa pun untukmu." Dave menatap Deva penuh cinta.
Begitu sulit menyembunyikan rasa yang ada ketika mereka sudah kembali bertatap muka. Segala logika dan pengertian tentang perpisahan mereka yang ditanamkan dalam hati setiap saat, tak lagi terngiang. Kini, kerinduanlah yang mendominasi sekaligus memprovokasi pikiran Dave dan Deva.
"Oh, jadi benar dugaanku. Dasar perempuan penggoda suami orang." Dira yang tiba-tiba muncul dari dalam pintu utama. Langsung murka begitu melihat Dave dan Deva saling menatap mesra. Tujuannya datang yang hanya ingin berbicara dengan Deva, ternyata mendapat bonus luar biasa.
"Dira ...." Deswita meneriaki keponakannya yang berjalan tidak sabar menghampiri Deva dan Dave yang memilih tidak bergeming. Keduanya seolah pasrah dan menunggu kemarahan Dira.
Dalam hati, sesungguhnya Dave sedang merutuki kebodohannya. Dia baru menyadari, tepat di samping motor yang tadi dikendarainya, terparkir jelas mobil milik Dira. Benda yang seharusnya bisa dikenalinya dengan mudah, terabaikan karena fokusnya sungguh teralihkan pada sosok Deva.
"Sekarang kamu mau berkelit apalagi, Dev? Dasar perempuan tidak tahu malu. Percuma kamu cantik, tapi bisanya hanya menggoda suami orang." Dira mengatakannya dengan lantang sembari tersenyum sinis pada Deva.
__ADS_1
"Berhenti mengatakan Deva perempuan murahan. Kita pulang!" Dave mengajak Dira pulang untuk menghindari pertikaian lebih lanjut.
"Aku belum selesai dengan perempuan murahan ini." Dira menunjuk Deva tepat di depan mata perempuan yang masih menduduki tahta tertinggi di hati Dave.
"Bersama dengan suamimu, bukan berarti aku merebutnya, Dira. Ada yang harus kami bicarakan. Dan itu sama sekali tidak ada urusannya dengan masa lalu kami." Deva dengan berani menurunkan tangan Dira.
"Aku tau kamu masih mencintai suamiku, Deva. Tapi jangan pernah berharap kalian bisa hidup bersama. Dave milikku. Hanya milikku," tegas Dira.
"Pulang, Dira. Jangan mempermalukan dirimu sendiri. Berapa kali kamu ingin mengatakan jika aku adalah milikmu? Deva tidak akan merebutku. Apa yang sudah bukan lagi menjadi miliknya, tidak akan pernah dia harapkan untuk kembali padanya lagi." Dave memakai helmnya kembali.
"Kita pulang, Dir. Kita selesaikan di rumahmu." Dave naik ke atas motor matic yang dipinjamnya dari salah seorang security rumah sakit.
"Kenapa kamu terus bersama Deva, Dave? Kenapa kamu sedikit pun tidak ada usaha untuk memperbaiki hubungan kita. Haruskah aku benar-benar me---," Dira tidak meneruskan ucapannya. Dia lalu buru-buru merogoh kontak mobil di dalam tas selempang yang dikenakannya.
"Kalau sampai berani kamu melukai Deva. Saat itu juga aku akan langsung menceraikanmu, Dir. Aku tidak peduli, jika papaku harus dipenjara atau apa pun," ancam Dave.
"Kita ketemu di rumah nanti. Aku lupa kalau ada urusan sebentar." Dira terlihat salah tingkah dan buru-buru masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Melihat dua orang yang bertikai sudah bersiap meninggalkan halaman rumahnya dengan menggunakan kendaraan masing-masing, Deswita memutuskan untuk masuk ke dalam rumahnya. Hal yang ingin dia lakukan saat ini adalah menemui Deva dan bertanya tentang keberadaan Dewa.
Kekhawatiran menghinggapi perasaan perempuan lebih dari paruh baya tersebut. Pulang bersama Dave mengendarai motor, dan Dewa pun tidak bersama mereka, bahkan tidak pulang sampai saat ini.
Sementara itu, di dalam ruangan tahanan sementara yang ada di kantor kepolisian di mana tadi Dewa diamankan. Pria tersebut tampak menatap langit-langit kamar berukuran dua kali dua meter itu dengan posisi berbaring di atas kasur lantai yang sudah tidak tebal lagi. Sudut matanya tidak terasa mengeluarkan bulir bening.
"Begini rasanya hidup kehilangan kebebasan. Bagaimana rasanya menjadi papamu, Dev? Ini masih lebih baik dari kondisi tahanan sesungguhnya? Bagaimana dengan beliau?" batin Dewa.
Tanpa telepon genggam, tidak ada radio, apalagi televisi. Hanya suara napasnya yang terdengar di ruangan tersebut. Membuat pikiran Dewa mendadak penuh. Setelah membayangkan kondisi papa dari asisten pribadinya yang sanggup membuat pria tersebut menangis. Kini bukannya mereda, tangisan itu malah semakin pecah.
"Ya Allah, hamba ternyata selemah ini. Sendirian seperti ini membuatku takut pada kematian. Di sini saja sudah pengap. Bagaimana kalau di dalam tanah kubur nanti? Ya Allah ya Robb, aku belum siap. Bekalku sama sekali belum cukup," lirih Dewa.
Di saat Dewa berkutat dengan segala pikirannya yang sedang melankolis. Kini, Deswita sudah berada di dalam kamar Deva. Perempuan tersebut langsung masuk, karena. Pintu kamar tidak tertutup rapat, dan Deswita melihat Deva menangis bersimpuh di lantai samping ranjang sambil memegangi selembar kertas yang sebagian lainnya tampak tergeletak di atas ranjang.
"Dev ...." Deswita dengan hati-hati menyentuh pundak Deva. "Ada apa sayang? Cerita sama Mades?" tambahnya. Perempuan tersebut mengenyampingkan sejenak tujuan utamanya datang menemui Deva.
Deva menggelengkan kepalanya dengan pelan, air mata semakin deras mengaliri pipinya. "Mereka jahat, Mades. Jahat! Mereka tidak pantas disebut manusia."
__ADS_1