Sisa Rasa

Sisa Rasa
Menjual semua aset


__ADS_3

"Papa kenapa, Pak?" Deva bertanya dengan lirih, tatapan matanya masih kosong seperti tadi.


"Papamu harus menjalani operasi pengangkatan salah satu ginjalnya, Dev. Infeksi yang dialami cukup parah, bahkan sudah sampai mengeluarkan nanah. Sebelum semakin menjalar dan mengganggu fungsi organ tubuh yang lain, sebaiknya operasi ini segera dilakukan. Kita temui dokter, ada berkas yang harus ditandatangani." Ali mengajak Deva ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari tempat Amar sedang di rawat.


Setiba di sana, seorang dokter menjelaskan dan menunjukkan hasil foto USG dan CT Scan dari ginjal Amar. Mulut Deva mengatup rapat. Tidak tahu harus berucap apa lagi. Dengan badan yang sudah lemas, Deva membaca berkas yang disodorkan padanya. Semua penjelasan tentang prosedur yang akan dijalani, sampai kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi, tertera jelas di sana. Dan yang paling penting, dibagian terakhir adalah biaya operasi yang harus dia keluarkan.


"Tidak semua bisa dibiayai Asuransi Pemerintah, Dev. Bapak minta maaf, Bapak tidak bisa membantu masalah biaya. Deva tahu kan kondisi Bapak seperti apa?" Wajah Ali begitu muram saat mengatakannya.


"Tidak mengapa, Pak." Deva melemparkan senyuman tipis yang sedikit dipaksakan.


Apa yang diucapkan Ali memang wajar dan sangat bisa diterima. Deva bisa mengerti sepenuhnya tanpa harus dijelaskan oleh Ali. Sebagai seorang sipir yang sangat jujur, kehidupan Ali berbeda jauh dari berita yang beredar di luaran. Di mana, banyak rumor yang mengabarkan bahwa sipir rumah tahanan adalah profesi yang bermandikan uang. Tidak demikian dengan Ali. Demi memenuhi biaya kuliah tiga orang anaknya, sang istri rela berjualan nasi pecel setiap pagi.


"Lakukan yang terbaik untuk papa saya, Dok. Saya pasrahkan keselamatan papa melalui campur tangan Dokter." Deva menandatangi berkas tersebut tanpa ragu.


Sesaat kemudian, dia melangkah gontai di temani Ali menuju kasir rumah sakit. Sembari menunggu antrian, Deva membuka aplikasi mobile banking tabungannya. Habis sudah semua yang dia kumpulkan selama ini. Mungkin memang belum saatnya impian Deva terwujud.


"Uang bisa dicari, Dev. Suatu saat nanti, Allah pasti akan mengganti rejeki dan baktimu dengan limpahan kasihNya. Perjalanan hidup ini tidak bisa kamu lompati. Tapaki! Meski kakimu berdarah-darah karena banyaknya kerikil tajam yang harus kamu injak. Teruslah berjalan! Biarkan kakimu kebal dengan perih dan sakitnya. Jangan berhenti---sekali kamu berhenti---maka kamu akan mengulang rasa sakitnya dari awal."


Deva mengangguk sambil memejamkan mata dan menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Mengucap istighfar dalam hati. Sebagai pengingat serta penguat diri. Deva masih manusia biasa, pura-pura tegar, sepertinya sudah tidak mampu. Andai dia sedang berada di kamar, mungkin dia sudah menangis dan berteriak sepuasnya.


Setelah menyelesaikan pembayaran, Deva diberi kesempatan untuk menemui Amar sebentar. Dokter dan juga petugas kepolisian yang berjaga, memberikan waktu sepuluh menit untuknya.


Langkah kaki Deva semakin memelan. Mendekati tubuh Amar yang terbaring lemah tak berdaya di atas brankar, air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya luruh juga. Mata Amar terturup rapat. Alat bantu pernapasan dan beberapa selang yang terpasang ditubuhnya, menegaskan betapa kondisi Amar memang benar-benar serius.

__ADS_1


"Pa...Papa harus berjuang. Jangan tinggalkan Deva sendirian. Papa denger suara Deva, kan Pa?" Suara perempuan itu tidak hanya bergetar, tapi juga tersendat-sendat karena isak.


"Deva tidak pernah malu, Deva tidak peduli apa penilaian orang terhadap Papa. Deva tetap yakin, Papa tidak mungkin memberi makan Deva dengan uang haram. Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Tunggulah saat itu datang. Jangan putus asa ya, Pa. Kita akan melalui semua berdua. Deva hanya punya papa ... hanya papa."


Bulir bening menetes dari sudut mata Amar yang terpejam. Jemarinya bergerak lemah.Deva segera menggenggam ujung-ujung jemari tersebut. Sedikit hati-hati agar tidak sampai menyentuh punggung tangan yang terpasang jaram inpus.


"Berjuang ya, Pa. Janji sama Deva. Papa akan pulih. Banyak sekali yang ingin Deva ceritakan sama Papa."


Deva merasakan jemari Amar membalas genggamannya dengan lemah. Meskipun demikian, itu cukup membuat Deva lega. Setidaknya, Amar masih memberikan respon.


"Pa, kalau Deva boleh menunggui Papa, Deva pasti tidak akan kemana-mana. Tapi kita sama-sama tahu, Deva tidak boleh berada di sini. Doa Deva akan selalu menemani papa menuju kesembuhan. Cepat pulih, Pa. buka mata Papa. Princesmu sedang tidak baik-baik saja."


Seorang petugas kembali masuk ke sana. Waktu sudah habis. Sepuluh menit, terasa hanya sehelaan napas. Deva melepas jemari Amar dengan berat hati.


Deva keluar dengan kepala yang sedikit tegak. Raut wajahnya begitu datar dan dingin. Beban di pundaknya kini semakin menghimpit. Tabungan sudah terkuras habis. Padahal pengobatan tidak mungkin hanya terhenti pada proses operasi. Setelah berpamitan pada Ali, Deva pun langsung pulang.


Sesampainya di rumah, Deva menatap sekeliling. Begitu banyak barang yang tidak dipakai, dan mungkin bisa dijual. Perabotan dapur dan beberapa barang elektronik, almari, juga set kursi.


"Aku jual saja dengan harga murah-murah. Lumayan buat tambah-tambah," gumamnya.


Deva mengambil foto barang-barang yang akan dijualnya, lalu mengunggah foto tersebut ke media sosial miliknya.


"Ini tidak akan cukup. Sepertinya, mobilku juga harus dijual. Tapi masih kurang empat kali cicilan. Terus aku harus menjual berapa?" Deva menengadahkan kepala ke atas langit-langit kamarnya, berhitung nilai yang harus dia tawarkan agar tidak terlalu merugi.

__ADS_1


Perempuan itu mencari foto kendaraannya dari sisi depan. Setelah menemukan, Deva mengunggahnya dengan caption yang cukup jelas dan dibuat semenarik mungkin.


"Harta masih bisa dicari, Dev," lirih Deva, seolah ingin terus mengingatkan diri untuk ikhlas.


Di sisi lain, Dewa yang sudah menyimpan nomor ponsel Deva, fokus melihat status asistennya tersebut dengan tatapan penuh tanya.


"Perempuan aneh. Apa yang nggak dijual coba. Kompor, piring, lemari pendingin, kursi,sepeda,..." Dewa terus memperhatikan satu-satu status whatsapp dari Deva.


"Mobil? Kenapa dijual? Apa gara-gara aku tabrak kapan lalu?" Dewa mencoba menerka-nerka. Dalam hati, sedikit menaruh curiga semua pasti ada hubungannya dengan kepulangan Deva yang mendadak.


"Apa dia dalam kesulitan?" Dewa bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Di tempat yang berbeda, Dave yang baru saja membantu satu kelahiran secara caesar, dikejutkan dengan notifikasi dari sosial media yang menunjukkan ada unggahan foto baru dari Deva Magnolia.


Dengan cepat, Dave membuka notifikasi tersebut. Pria tersebut mempercepat gerakan tangannya saat menggeser foto demi foto yang terpampang nyata di sana.


"Ada apa, Bee? Kenapa kamu sampai menjual barang-barang seperti ini?" Dave buru-buru mengambil kontak mobilnya.


Sementara begitu banyak orang yang bertanya-tanya mengenai unggahannya yang tidak biasa. Deva malah sedang dibuat heran sekaligus senang karena satu pesan masuk di ponselnya.


"Ini seriusan? Penipu bukan, ya?" Tangan Deva langsung membalas nomor yang ingin membeli semua barang-barang yang dijualnya, tanpa kecuali---termasuk mobil. Melewati proses tawar menawar, si pembeli misterius malah langsung meminta dikirimkan nomor rekening sekaligus nilai keseluruhan yang harus dibayar.


"Bismillah, semoga bukan penipu." Tanpa berpikir panjang, Deva mengirimkan pesan berisikan apa yang diminta oleh si pembeli.

__ADS_1


__ADS_2