
Aku sedikit mendengar Tiyan berteriak "Awas Liya". Dan..... Aku menginjak bambu kecil lalu.....
Aku tergelincir. kulihat dia menggulurkan tangannya tapi terlambat. Oh tidak...
Aku terjatuh
Di pelukan kak Pian. Dia menolong ku. Kak Pian datang di waktu yang tepat dan menangkap ku. Aku terdiam. Detak jantung ku berpacu lebih cepat, antara terkejut karna hampir terjatuh atau karna ditolong kak Pian. Aku tak begitu mengerti.
Segera ku sadarkan diri ku dan berdiri. Aku sempat melihat ke arah Tiyan. Apa ?? dia hanya biasa saja. Bahkan tak merasa khawatir setelah perdebatan kami yang membuat aku hampir terjatuh. Dia juga tidak menolongku. Dasar Tiyan nggak peka.
Tunggu.
Aku melupakan kak Pian.
Ku tengok kak Pian masih di sebelah ku. "Kak Pian makasih ya udah nolong aku."
Kak Pian hanya tersenyum dan belalu.
Sialan, kenapa semua lelaki sangat cuek. Aku pergi dengan menahan malu karna sekeliling melihat kearah ku.
"Liya. Mau kemana?" Kudengar suara Tiyan.
"Pergi" ucapku sedikit kesal.
"Hei. Pipi kamu merah"
"Bodo"
Aku sudah sekesal ini dia masih juga meledek aku. Awas aja ya kamu Tiyan. Dan kak Pian. Kenapa dia pergi tanpa berkata apapun. Saat aku berterima kasih juga dia hanya tersenyum. Apa aku tidak berarti sama sekali bagi mereka. Sudah lah untuk apa ku pikirkan.
***
Malam hari di hari pertama
Aku sedang duduk menikmati acara pentas seni. Aku duduk di tenda atas dan dapat dengan mudah melihat semuanya dari sini. Karna letaknya sekita 1,5 meter dari tanah.
Suara musik mengalun sebagai penghibur malam ini.
Ditemani dengan kacang rebus, anggap saja sedang menonton bioskop. Tapu bioskop apa yang menyediakan kacanga rebus ahahaha. Malam yang indah.
Seseorang ikut naik dan duduk disebelah ku. Karena pencahayaan yang kurang. Aku tidak bisa dengan jelas melihatnya. Bahkan harus memastikannya beberapa lama. Jika ini Tiyan aku akan pergi karna terlalu malas.
__ADS_1
"Liatin apa sih Liya?" suaranya mengejutkan ku. Ternyata itu kak Pian.
"Eh kak Pian. Kirain siapa"
"Aku ikut disini nggak papa ya." ku lihat dia tersenyum pada ku. Aku hampir terlena lagi.
"Iya kak nggak papa. Ini ada kacamg rebus. Lumayan buat ngemil. Tadi bunda ku dateng bawa ini"
"Wah enak ini" kak Pian cukup bersemangat. Dia sangat ramah meski terkadang cuek. Tapi itu lebih baik ketimbang jail seperti Tiyan.
Ternyata kak Pian cukup menyenangkan. Kak Pian rupanya suka mengobrol setelah menggenal, sama seperti aku. Dia juga mengajak ku untuk berkeliling mencari makanan.
"Liya mau apa?" kak Pian bertanya saat aku mulai bingung
"Liya mau es puter aja kak. Kayaknya seger"
"Ini udah malem. Dingin tauk liya. Cari makanan aja ya"
"Ya udah deh aku ikut kata kak Pian aja"
"Sempol mau?"
"Mau mau" mata ku berbinar. itu kesukaan ku kak Pian. Tau aja deh. Aku tersenyum dalam hati. Jaim dikit lah sama senior.
Pantas saja tadi Tiyas meminta dia tidka mengijinkan. Katanya ini sambelnya udah bikin kemarin. Ya iyalah. Orang ini saus cabe yang beli di pasar. Hemmm ada ada aja deh kelakuan kak Pian
Malam semakin larut dan kami harus tidur.
***
Di hari kedua
Pagi hari
Rutinitas setiap pagi. Perempuan mempersiapkan makanan untuk sarapan. Kami memasak di bawah tenda putri. Tenda kami panggung. Jadi bagian atas untuk tidur dan bagian bawah kami gunakan untuk masak dan bersantai.
Sarapan sudah siap dan semua berkumpul di dalam tenda.
Sialnya kali ini aku duduk tepat di depan Tiyan. Kurasa masih banyak tempat kosong, tapi dia rela berdesakan untuk duduk di tengah.
"Hei. Disana masaih kosong dan kamu pilih ngelewati segitu banyak orang buat kesitu" gerutu ku.
__ADS_1
"Kenapa sih. Kan aku pengen"
Pengen dia bilang. Sesimple itu dia bilang cuma pengen. Baiklah masa bodo dengan dia.
Kami sarapan dengan menu nasi goreng. Menu andalan tiap berkemah. Ditemani dengan kerupuk yang masih hangat. Ditambah bumbu kebersamaan. Makanan sederhana ini jadi sangat nikmat.
Semua bergantian mengambil kerupuk. Saat toples berada didepan ku dan Tiyan. Belum aku mebgambilnya dan Tiyan kembali berulah dengan menjauhkan toples itu. Mau dia apa sih. Aku semakin kesal dibuatnya.
"Aku belum ambil Tiyan"
"Ini lo kita barengan aku ambilin buat kita berdua" dia mengoda ku lagi. Dengan memberikan sepiring krupuk di depan kami.
Dan, aku merasa tersanjung. Tidak tidak. Aku masih kesal dengan nya. Anggap saja ini permintaan maafnya untuk kemarin liya. Tiyan tetap akan menjadi menyebalkan.
"Kamu kalo makan pelan pelan sih liya. Jaim dikit gitu lo" tegur Tiyan pada ku
"Biarin sih" peduli apa tentang jaim. Aku lapar dan perlu makan.
Kami selesai makan. Ritual seperti biasanya, semua harus mencuci piring masing-masing.
"Alhamdulillah udah" kata Tiyan sambil berdiri mengangkat piringnya. Tapi ia urungkan dan meletakan piringnya diatas piring ku.
Hah, apa ini? "TIYAN. Cuci lah" aku sedikit menaikan nada bicaraku. "Nitip loh Liya." wajahnya dia buat memohon dan memelas "Yaaa. Makasih Liya"
Aku belum mengatakan iya dan dia sudah berterima kasih pada ku. Sialnya aku tak bisa menolak. Kenapa aku terlihat tak berdaya di depan Tiyan. "Aaaaaaaa" batin ku menjerit.
.
.
.
Bersambung..
.
.
Hai hai. mohon maaf jika ceritanya masih membosankan ya. author masih belajar. butuh kritik dan saran juga bagi kalian.
jangan lupa komen ya..
__ADS_1
terima kasih udah mau baca tulisan ku ini.