Sisa Rasa

Sisa Rasa
Keyakinan Dewa


__ADS_3

Sashi dan Hilda seketika menoleh ke belakang secara bersamaan. Dengan kompak, keduanya melangkah lebar menghampiri Deva yang berdiri bergeming di tengah jalan. Mata temannya tersebut terpejam rapat. Namun tubuh Deva bergetar hebat.


Tidak jauh dari tempat Deva berdiri, sebuah motor matic yang tadi ditabrak dari belakang terseret beberapa meter ke depan. Sang pengemudi motor tampak terkapar tidak jauh dari motornya. Pakaian safety dan helm yang digunakan orang tersebut, cukup membuatnya tidak sampai mengalami luka yang cukup serius.


Perhatian beberapa pengguna jalan terpecah. Ada yang mengerumuni mobil si penabrak. Dan ada pula yang membantu korban untuk menepi di pinggir jalan. Tidak lama, polisi yang berada di pos jaga dengan jarak hanya beberapa puluh meter dari lokasi kejadian, menghampiri TKP karena melihat adanya keramaian yang menimbulkan kemacetan.


"Dev, kamu kenapa? Ayo cepat pergi dari sini, jangan sampai kita dijadikan saksi." Hilda menarik tangan Deva untuk menyadarkan temannya tersebut.


"Aku masih utuh? Siapa yang tertabrak? Siapa?" Deva seperti orang yang sedang kebingungan. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Melihat fokus massa yang memang terbagi dua dan sudah ditangani oleh pihak berwajib.


Deva memicingkan matanya, seperti mengenali mobil yang sedang dikerumuni oleh orang-orang.


"Ayo, Dev!" Sekali lagi Hilda menarik tangan Deva dengan gemas.


"Sebentar," tepis Deva sambil menjauhkan tangan temannya itu dari pergelangan tangannya.


Perlahan, Deva melangkahkan kaki mendekati mobil hitam yang sangat familiar baginya. Sedikit memaksa, Deva menyibak kerumunan dengan beberapa kali mengucapkan kata "permisi".


Benar dugaan Deva, jelas pengendara mobil memanglah orang yang akhir-akhir ini sangat akrab dengannya. Siapa lagi kalau bukan Dewa. Pria tersebut tampak dicecar beberapa pertanyaan oleh polisi.

__ADS_1


"Kita selesaikan masalah ini di kantor polisi. Saya tidak mau damai," ucap Dewa dengan tegas.


"Kalau kasus ini dibawa ke jalur hukum, Bapak yang akan mengalami kerugian. Jelas-jelas Bapak yang nabrak dengan sengaja," tutur salah satu orang yang ada di sana.


"Bagaimana, Pak? Kita permudah saja urusannya. Korban juga tidak ingin menuntut apa-apa. Dia sudah memaafkan. Hanya sedikit rupiah, masalah ini selesai." Salah seorang petugas kepolisian begitu semangat mengarahkan Dewa untuk berdamai.


"Tidak masalah jika saya memang terbukti bersalah. Saya akan terima.Tahan saya. Yang penting saya ingin incident ini diusut tuntas. Saya punya alasan kenapa saya menabrak motor itu dengan sengaja." Dewa yang menyadari kehadiran Deva, seketika memberikan kode pada perempuan tersebut dengan gelengan kepala agar tidak mendekatinya.


Deva memundurkan langkahnya, meski tidak paham jalan pikiran Dewa saat ini, namun dia memilih untuk tidak menentang keinginan atasannya tersebut.


"Baiklah, kita ke kantor polisi terdekat." Seorang petugas kepolisian meminta Dewa untuk masuk ke dalam mobilnya sendiri sebagai penumpang. Polisi tersebutlah yang akan mengendarai mobil milik CEO Diamond Corp tersebut.Tidak ada pilihan lain. Karena jika mereka memaksakan diri untuk damai di tempat, yang terjadi adalah kemacetan akan semakin mengular.


Melihat mobil Dewa perlahan merangkak maju meninggalkan lokasi kejadian, Deva pun segera berbalik badan. Dia berharap Hilda dan Sashi tidak mengetahui bahwa yang terlibat dalam accident adalah Dewa.


"Sudah, puas? Kita sudah telat lima menit, Bu Deva. Ngapain ikut-ikutan lihat? Mau cari perhatian sama bapak-bapak polisi tadi ya?" tuduh Sashi dengan santainya.


Perempuan tersebut dan juga Hilda, memang tidak fokus pada korban mau pun si penabrak. Duo kendi itu kompak merekam keadaan sekitar dan mengunggah ke sosial media masing-masing.


***

__ADS_1


Waktu bergerak terasa lambat, Dave begitu menyelesaikan satu tindakan operasi caesar, segera mengganti baju medisnya dengan pakaian biasa. Setelah membuka pesan singkat di ponselnya, pria tersebut berniat untuk menemui Dewa di kantor polisi di mana atasan Deva tersebut berada.


Namun, baru saja menutup pintu ruangannya. Dave terpaksa menghentikan langkah saat mendapati sosok Dira sudah ada tepat berada dua langkah di sampingnya.


"Kita ke rumah sakit sekarang. Papa ingin bertemu denganmu, Dave." Dira mengatakannya tanpa basa basi terlebih dahulu.


"Aku sedang ada urusan. Kamu pergi saja dulu, nanti aku akan menyusul," Dave melanjutkan langkahnya. Mengabaikan Dira yang tampak tidak puas dengan jawaban yang diberikannya.


"Dave, kapan kamu bisa menghargaiku dan keluargaku? Urusan apa yang lebih penting dari urusan keluargamu sendiri? Berhenti hidup melibatkan masa lalumu. Bangun, Dave! Hadapi kenyataaan. Sekeras apa pun kamu menolak dan mengabaikan, kamu adalah suamiku." Suara lantang Dira sukses menarik perhatian dari beberapa orang yang berlalu lalang di koridor tempat mereka berada.


"Jangan mempermalukan dirimu, Dir. Tidak bisakah kamu bicara baik-baik? Aku sudah mengatakan nanti---itu artinya memang aku tidak bisa sekarang. Jangan terus memaksaku dengan kemauanmu. Atau kamu akan lebih sering merasakan kekecewaan karena penolakanku," tegas Dave sambil menghentikan langkah dan menoleh sekilas pada Dira yang terus mengikutinya.


"Aku tidak peduli. Seribu kali kamu menolak, seribu kali aku akan terus mencoba, Dave. Tidak ada yang mustahil bagiku. Berhenti mengharapkan Deva. Atau aku akan membuat Deva menjauh dan membencimu," ancam Dira dengan senyuman liciknya.


"Coba saja kalau bisa. Deva memiliki akal yang panjang. Pemikirannya tidak sekerdil kamu. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, jangan berani mengancamku. Jika kamu bisa membuat Deva menjauh dan membenciku, aku akan sangat berterimakasih padamu." Dave kembali melanjutkan langkahnya. Dia tidak lagi menoleh ke belakang.


Dira menghentak kakinya dengan kesal, tangannya merremas-reemas tepian atasan yang dikenakannya sebagai pelampiasan kemarahan.


Di sisi lain, tepatnya di kantor polisi yang tidak jauh dari tempat kejadian perkara, Dewa sedang memberikan keterangan mengenai peristiwa yang membuatnya harus berada di sana.

__ADS_1


"Saya ingin kita sama-sama membuka dan melihat rekaman cctv sebelum dan sampai kejadian tadi terjadi. Saya memang menabrak pengendara motor tersebut, tapi saya sedang menyelamatkan satu nyawa," tegas Dewa. Tatapannya tajam dan penuh keberanian.


__ADS_2