
Beberapa tahun yang lalu, sebelum Dave mengenal Deva. Tepatnya saat dia melakukan kOAS di salah satu rumah sakit di Jogja, untuk pertama kali dalam hidupnya, Dave dan Hafis---salah satu rekan dokternya, mengabiskan waktu libur mereka di tempat yang kini disebut The Lost World Castle. Sebuah benteng yang berada di lereng gunung merapi.
"Masih sepi, belum banyak yang tahu ada tempat ini. Kita naik sampai ke puncak menara, yuk! Kita intip jodoh kita dari sana," ajak Hafis yang memang asli Jogja.
Dave pun langsung menyetujui ajakan Hafis. Pria yang memang tidak terlalu nyaman dengan keramaian itu, tentu saja senang saat di ajak ke tempat yang tidak mengharuskan dia berinteraksi dengan banyak orang. Dave dan Hafis pun menapaki satu per satu anak tangga menuju puncak menara.
Langkah kaki mereka terhenti di beberapa anak tangga terakhir. Suara rintih tangisan yang begitu sendu, ditambah racauan kata-kata nelangsa sayup terdengar. Memaksa Dave dan Hafis untuk mengajak telinga mereka bekerja maksimal agar bisa mendengar semuanya lebih jelas.
"Dave, jangan-jangan, itu suara penunggu di sini," bisik Hafis.
Bukan karena takut, mengingat objek wisata tersebut masih baru dan sangat sepi, di tambah lagi kedatangan mereka yang mendekati waktu senja. Tentu saja membuat pikiran Hafis yang masih memegang nilai kejawen menjadi sedikit absurd.
Dave menempelkan jari telunjuk di bibirnya sendiri. Hafis pun seketika terdiam dan tidak berniat untuk mengajak temannya itu berbicara lagi.
"Kenapa aku harus hidup kalau ditakdirkan seperti ini?" Suara perempuan bercampur isakan tangis, lebih jelas terdengar.
Perlahan, Dave dan Hafis memberanikan diri melanjutkan langkahnya. Alangkah terkejutnya kedua orang tersebut, begitu mendapati seorang perempuan duduk di lantai memeluk lurut dengan rambut acak-acakan menutupi wajah, satu tangannya memegang pisau lancip yang entah akan digunakan untuk apa.
"Astaghfiruallah ...," teriak Dave dan Hafis dengan kompak seraya berlari mendekati perempuan tersebut.
Dave berusaha merampas pisau dari tangan perempuan itu. Namun, sosok itu bereaksi secara berlebihan. Dia berdiri dan mengacungkan pisau tersebut pada Hafis dan Dave.
"Jangan mendekat! Pergi kalian dari sini. Pergi!" Perempuan itu berteriak.
Dave memberikan isyarat pada Hafis agar menahan diri untuk tidak maju mendekati sosok tersebut.
__ADS_1
"Kenapa kalian masih di sini? Aku bilang, pergi!" Perempuan tersebut kembali berteriak. Sepertinya, dia sama sekali tidak risih meski wajahnya ditutupi oleh rambut keritingnya yang ikal.
"Semua orang memiliki masalah, Kak. Mungkin kita hanya butuh teman untuk bicara. Siapa tahu, kita bisa jadi teman." Hafis yang memang sangat pandai berkata-kata, mulai mempraktikkan keahliannya.
"Teman? Apa itu teman? Kalian pasti mendekatiku karena tahu aku kaya. Di belakangku, kalian akan menghinaku habis-habisan." Perempuan itu berucap sinis. Suaranya masih sengau akibat tangisan yang dilakukan tadi mungkin sudah terlalu lama.
"Hei... Bagaimana kami tahu kalau kamu kaya? Kamu bahkan tidak memakai alas kaki, dan pakaian yang kamu kenakan biasa saja. Kami mengajakmu berteman dengan tulus. Sekali pun kami tidak tahu siapa dan bagaimana rupamu," bujuk Hafis.
"Kalian bohong, semua hanya manis di depan. Bahkan David pun mengatakan yang sama. Tapi apa? Dia meninggalkan aku demi perempuan lain. Pergi kalian! Semua orang munafik dan jahat." Sosok perempuan itu kembali menggila. Dengan gerakan cepat, dia menyibakkan rambut hingga wajahnya pun terlihat jelas. Lalu dia menyayatkan pisau yang di genggamnya pada wajahnya sendiri. Seketika darah segar mengucur deras dari sana.
"Masih mau kalian berteman denganku? Masih mau kah?" Perempuan itu bertanya dengan teriakan yang sangat kencang. Tatapan matanya penuh dendam dan kebencian. Luka yang menganga dan mengalirkan darah, seakan tidak menyisakan perih atau pun sakit sama sekali dalam dirinya.
"Pertemanan tidak melihat rupa, Kak. Kemarikan pisaunya. Kami juga ada masalah. Kami datang kemari hanya ingin berteriak. Sekedar menyuarakan ketidakadilan. Tapi sedikit pun kami tidak ingin melukai diri sendiri." Hafis kembali melayangkan bujukan. Sejurus kemudian, pria berkacamata silinder tebal dan berjerawat batu itu berteriak lepas memaki hidupnya yang sebenarnya cukup sempurna.
Perempuan itu mengabaikan Hafis, dia malah menatap Dave dengan pandangan yang berbeda dan sungguh membuat Dave tidak nyaman. Perlahan, dia mendekati pria itu dan memberikan pisaunya pada Dave.
Hafis mengedipkan kedua matanya pada Dave sembari memberikan anggukan kecil. "Peluk saja, wajahmu sama sekali tidak menakutkan. Air mata dan kebencianmu yang membuatmu jelek sendiri," ucap Hafis. Tentu saja membuat Dave kesal. Namun apa daya, menghadapi seseorang yang sedang depresi berat, memang harus dengan cara halus dan tulus.
Untuk pertama kalinya, Dave dipeluk oleh seorang perempuan. Sedikit pun dia tidak membalas. Yang dia rasakan hanyalah ketidak nyamanan yang nyata.
"Berjanjilah, kamu tidak akan meninggalkanku seperti yang lain," pinta sosok perempuan itu.
Dave hanya menganggukkan kepalanya.
"Dave ... kita sudah sampai. Turun yuk!" Suara Dira yang melengking diikuti gerakan menepuk pundak Dave, menyadarkan pria tersebut dari lamunannya yang panjang.
__ADS_1
Dave tampak sangat terkejut, pintu depan sudah terbuka, Dewa dan Deva juga sudah berada di luar. Melihat reaksi Dave, timbul rasa penasaran yang ingin segera terpuaskan. "Sepertinya, Bang Dave memang ada kenangan dengan tempat ini," batinnya.
Dave pun turun, lalu matanya menengadah pada puncak menara yang sebenarnya masih jauh di sana. Dia menoleh pada sosok Dira. Ada begitu banyak kata dan tanya yang ingin diucapkan. Namun Dave menahan diri. Dia tidak mau menebak-nebak.
"Bagaimana Dave? Kamu pernah ke sini, bukan? Berbeda jauh ya? Dulu sepi sekali. Harusnya kita kemari saat Senja, tapi aku sudah tidak sabar ingin segera mengingatkan seseorang pada janjinya." Dira melangkahkan kaki dan memberikan ajakan dengan gerakan tangan agar Dewa, Deva dan Dave mengikutinya.
Ekor mata Dewa melirik ke arah Dave. Dia sama sekali tidak bisa menebak apa yang ada dipikiran pria itu. Raut wajahnya sedatar biasa. Setelah tadi sempat menunjukkan reaksi terkejut saat disadarkan dari lamunan, kini raut wajah Dave kembali datar.
Dira mengajak mereka menyusuri anak tangga menuju puncak menara. Saat ini matahari sudah lumayan menyengat. Beberapa kali Deva terlihat mengusap peluhnya. Tidak terlalu lama, karena mungkin rasa penasaran yang dijadikan semangat menggebu, sampailah mereka di puncak menara.
"Dave, di sinilah awal pertemuan pertama kita dulu. Kamu lah orang pertama yang memelukku di saat aku berada di titik terendah dalam hidupku. Apa yang kamu janjikan waktu itu padaku, kini aku ingatkan kembali. Di hari-hari di mana kita banyak menghabiskan waktu di sini, kamu sudah mengikatkan diri padaku." Dira seperti sedang mereka adegan. Dia duduk di lantai, menjuntaikan rambutnya ke arah depan hingga menutupi wajah, lalu memeluk lututnya sendiri.
Dave memundurkan langkahnya. "Dia bukan kamu Dira. Perempuan yang aku temui saat itu bernama Lara. Dan dia---,"
"Dia tidak secantik aku bukan? Tentu saja, karena Lara yang kamu kenal dulu, sekarang adalah Dira---istrimu, Dave. Lara yang buruk rupa sudah tidak ada lagi. Dokter bedah plastik mewujudkan keinginanku dengan sangat sempurna. Semua ini demi kamu Dave, demi kamu. Tidak sadarkah kamu, aku ada di sekelilingmu saat ini? Kenapa kamu mudah sekali mengabaikan janjimu hanya karena dia." Dira menunjuk Deva dengan penuh kebencian.
"Tidak, bukan begini ceritanya. Kalau pun kamu Lara, berarti kamu sudah salah mengartikan," sanggah Dave dengan tegas.
"Salah? Apa perlu aku tunjukkan bukti surat-surat, hadiah, dan foto bunga yang kamu kirim padaku Dave? Aku masih menyimpannya rapi di rumah. Di sini kamu menyelamatkan nyawaku. Kamu tidak jijik memelukku saat wajahku yang penuh dengan jerawat berlumuran darah."
Dewa menarik napas dalam. kini dia tahu alasan dibalik kenekatan Dira melakukan face off. Namun, tidak bagi Deva, dia masih sangat bingung dan tidak memahami apa pun sampai detik ini. Sepenggal cerita, tidak cukup menjawab tanya yang bergelayut di benaknya.
"Kamu bilang pria sejati tidak akan melukai hati perempuan mana pun. Kamu bilang, aku harus menjadi yang terbaik, agar orang menyesal karena pernah merendahkanku. Aku sudah lakukan itu Dave, aku sudah selesai. Sekarang mana janjimu?" desak Dira.
The lost world of castle.Asli ada di Jogja
__ADS_1