
Deva reflek berdiri dan kembali menyambar ponselnya dengan gerakan kasar. Apa yang dikatakan dan dilakukan Dewa padanya sangat tidak sopan. "Saya bukan teman, Bapak. Saya juga bukan bagian dari mereka yang bisa Bapak atur seenaknya. Ini privasi saya. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan Bapak," tegas Deva. Perempuan itu langsung melangkahkan kaki tanpa permisi pada yang lainnya.
Sashi, Hilda, Dara, dan Diana kompak menatap Dewa. Sebagai tameng pelindung, tugas mereka tidak hanya menjauhkan Dewa dari penggemar nekat. Tetapi juga harus mengingatkan dan juga meluruskan jika sikap pria tersebut berlebihan.
"Kejar, Wa! Kamu memang tidak sopan. Katamu dia berbeda dengan kita. Itu berarti, seharusnya kamu tidak memperlakukannya seperti tadi. Kita sudah biasa menerima lemparan granat dari kamu, dia tentu tidak. Dan seingatku, kamu bahkan tidak pernah melakukan hal seperti tadi pada kami. Merampas ponsel orang lain dengan paksa, itu sangat memalukan."
Teguran dari Diana, membuat Dewa langsung beranjak untuk mengejar Deva. Meski gengsi untuk mengakui kesalahan di depan temannya, Dewa mengakui dalam hati, jika sikapnya memang berlebihan. Entah dorongan darimana yang membuatnya melakukan tindakan konyol seperti tadi. Sentimen terhadap Dave, sepertinya mempengaruhinya begitu kuat. Pria tersebut bergegas mengejar Deva yang sudah sampai di beranda bangunan kafe.
"Dev ...." Dewa berhasil menyamai langkah Deva. Perempuan itu berjalan menuju deretan taksi offline di sisi samping bangunan kafe.
"Aku minta maaf, aku reflek tadi," pinta Dewa tanpa berani membalas tatapan mata Deva yang tajam menyorotinya.
"Jam kerja saja sudah lewat, bukan? Biarkan saya pulang sendiri." Deva kembali melanjutkan langkahnya tanpa memedulikan ucapan maaf dari Dewa.
Bukan Deva namanya, kalau sudah terburu-buru, pasti tidak melihat ke sisi kiri kanan atau pun depan belakang dengan fokus.
"Awas!" Dewa menarik tubuh Deva ke dalam pelukannya dengan cepat. Untung saja tidak terlambat, kalau sedetik saja Dewa lengah. Sudah pasti tubuh Deva akan terpental atau minimal jatuh tersungkur karena tertabrak motor sport yang melaju lumayan kencang memasuki halaman kafe.
"Lepas!" bentak Deva, tanpa mengucapkan terimakasih.
"Kenapa kamu angkuh sekali, Dev. Tidak bisakah kamu mengucapkan terimakasih. Kalau bukan karena aku, kamu pasti sudah dilarikan ke rumah sakit sekarang. Lagi-lagi, aku yang repot." Dewa juga nampak sangat kesal, melepaskan pelukannya. Dadanya berdetak kencang. Dia benar-benar merasa semakin tidak sehat jika berdekatan dengan Deva.
Hendak kembali mendebat Dewa, ponselnya berdering. Deva langsung menerima panggilan tersebut tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang menghubunginya.
__ADS_1
Dewa semakin menunjukkan kekesalan. Rahangnya tampak mengeras dengan jakun naik turun tidak teratur akibat menelan ludahnya sendiri karena menahan umpatan. Dia mencoba mengendalikan emosinya sebisa mungkin. Menyaksikan wajah Deva yang menyiratkan kesedihan dan juga keseriusan secara bersamaan---saat mendengarkan panggilan telepon. Dewa semakin membulatkan dugaan, Dave lah yang menghubungi Deva.
"Ya Allah, kenapa tidak sudah-sudah cobaan ini," gumam Deva. Helaan napasnya yang berat menandakan bahwa semua sedang tidak baik-baik saja.
"Kenapa Dev? Ada apa?" Dewa yang tadinya kesal, tidak tega juga melihat sang asisten pribadi.
"Tidak ada apa-apa, Pak. Saya pulang duluan." Deva bergegas melanjutkan langkahnya menuju parkiran taksi yang hendak dituju tadi.
Dengan cepat, Dewa menarik tangan Deva dan menahannya erat agar tidak kabur. "Aku akan mengantarmu. Kalau sampai tejadi sesuatu padamu. Bisa-bisa aku disalahkan mama. Lagipula, ini sudah malam." Pria tersebut melangkahkan kaki lebar. Deva yang sedang tidak fokus mengikuti saja langkah Dewa. Keduanya masuk ke dalam mobil tanpa mengucap sepatah kata pun.
Sementara itu, keempat anggota Club Dewa mulai resah karena pria yang menjadi harapan dalam diam mereka, tidak kunjung kembali.
"Kalau sudah begini, jelas dia nggak kembali. Mana dia belum bayar. Kan jadi bayarin duluan. Saldo lagi nipis. Pak Dhe lagi kencengin ikat pinggang karena ada audit besar-besaran dari ibunya anak-anak," seloroh Diana sambil memeriksa isi dompetnya. Sudah satu bulan ini jatah bulanannya turun dratis. Dia harus lebih cermat memilih pengeluaran, dan pintar-pintar membedakan antara kebutuhan dengan keinginan.
Sashi dan Hilda saling memberi kode dengan menyiku lengan satu sama lain. Keduanya yang selama ini merasa sudah kacau, ternyata masih ada yang lebih tidak jelas dari mereka berdua.
Di sisi lain, Deva yang kini sudah mendekati gang rumahnya, tiba-tiba menyuruh Dewa untuk menghentikan mobil atasannya itu.
"Saya turun di sini saja, Pak. Terimakasih." Deva langsung keluar dari mobil tersebut dan berlari tanpa menoleh ke belakang lagi.
Meraskan gelagat Deva yang tidak wajar, Dewa memutuskan meneruskan perjalanan menuju rumah perempuan dengan segudang kesedihan itu. Dewa melajukan kendaraannya dengan perlahan. Tentu saja supaya kedatangannya tidak diketahui oleh Deva. Bahkan dia berniat untuk memarkirkan mobilnya tidak tepat di depan rumah Deva.
Sampai di depan rumahnya, perempuan yatim piatu tersebut sudah di sambut dengan empat orang dewasa, dan dua orang anak yang masih berusia balita. Masing-masing anak itu di gendong oleh salah dua dari keempat orang tadi. Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, tampak koper-koper besar berjumlah tidak kurang dari lima buah.
__ADS_1
Dua orang dewasa di antara mereka, jelas di kenal dengan baik oleh Deva. Satu orang sudah menghubunginya tadi, dan satu orang lain tidak terduga sama sekali kedatangannya.
Meski pikirannya sedang carut marut, Deva masih tetap berusaha memaksa dirinya agar bisa melemparkan senyuman hangat dan ramah pada semua tamunya.
"Pak Ali." Deva menyapa Ali sambil mencium punggung tangan pria tersebut dengan gerakan buru-buru. Lalu bergantian dia mengulurkan tangan pada Dito, dan dua orang lain yang sepertinya sepasang suami istri. Masing-masing menggendong balita yang sedang tertidur lelap.
"Sebentar saya bukakan pintu dulu." Dengan tangan gemetar, Deva merogoh kunci di dalam tasnya dan bergegas membuka pintu rumah.
"Pak Dito silahkan masuk dulu, Silahkan kak...." Lagi-lagi Deva memaksakan ketegarannya. Dia mempersilahkan tamu-tamunya untuk masuk ke dalam sana.
"Saya di sini saja, Dev. Saya hanya sebentar." Sebelum Deva menyuruhnya untuk masuk ke dalam rumah, Ali terlebih dahulu membuka suara untuk menolak.
Melihat tamu yang lain sudah masuk ke dalam. Deva pun mengangguk setuju sembari mendekati Ali.
"Bapak hanya mau memberikan barang-barang yang ada di ruang tahanan papamu. Ada banyak buku catatan pribadi di sana." Ali mengulurkan paper bag besar yang tadinya ditentengnya dengan tangan kiri.
"Terimakasih, Pak Ali." Deva menerima tas tersebut. Tangannya semakin gemetaran. Pemberian Ali ini, bagaikan warisan tak ternilai bagi Deva. Amar sering kali bercerita, sejak kecil, menulis adalah jiwa dan hobbynya. Deva menaruh harapan tinggi pada buku-buku catatan yang diterimanya sekarang. Berharap sang papa meninggalkan catatan berharga untuknya.
"Saya pulang dulu ya, Dev. Kalau ada kesulitan, jangan segan hubungi Bapak." Ali menepuk-nepuk pundak Deva. Seolah dia sedang ingin memberikan kekuatan.
Deva mengantar Ali sampai masuk ke dalam mobil pria tersebut. Tidak menunggu sampai Ali menjalankan kendaraannya, Deva langsung kembali masuk ke dalam rumah karena sudah ada tamu lain yang menunggu. Tanpa disadari Deva, sepasang mata terus mengawasi gerak geriknya sedari tadi.
"Dev, maaf ... jadi begini ...."
__ADS_1