Sisa Rasa

Sisa Rasa
Bukan teman


__ADS_3

"Jam kerjanya mulai pukul tujuh, kan, Pak?" Deva hanya ingin memastikan.


"Jam mulai tidak masalah, yang penting, kamu selesai setelah melakukan tugasmu selama dua jam," jawab Dewa.


"Kalau belum dua jam, terus mamanya Pak Dewa sudah bosan, saya harus bagaimana?"


"Tetap kamu harus ada dirumahku selama dua jam. Mau kamu mondar manir di depan pintu. Mau naik turun tangga, terserah kamu. Yang penting dua jam." Dewa melangkahkan kaki mendekati Deva.


"Bismillah... saya terima pekerjaan yang Bapak berikan. Nanti Bapak kirimkan saja alamat rumah Bapak. Pasti saya datang."


Dewa tanpa sadar menarik pergelangan tangan Deva. Mengajak asisten pribadinya itu masuk ke dalam gedung bersamaan dengannya. Tidak seperti Sashi yang pasrah, Deva menepis tangannya dengan gerakan sedikit kasar. Meski tidak ada kata yang terucap, sikap Deva cukup jelas menunjukkan ketidak sukaannya.


"Dasar kebiasaan! Tangan, kenapa kamu lancang banget?" sesal Dewa sembari memukul tangannya sendiri.


Sesampainya di lantai 36, Deva dan Dewa langsung memasuki ruang kerja masing-masing. Keduanya fokus pada pekerjaan yang sudah menanti untuk diselesaikan. Seperti yang sudah dikatakan Deva sebelumnya, dia ingin diberikan kesibukan yang luar biasa. Diam hanya akan membuatnya melamun.


Sampai saatnya makan siang tiba. Deva yang sebenarnya ingin keluar bersama Sashi dan Hilda, terpaksa harus mengurungkan niatnya. Dewa mengajak Deva makan siang di tempat pilihan pria tersebut.


Bukan tanpa alasan keduanya pergi bersama. Sesuai kesepakatan sebelumnya, Deva dan Dewa akan membicarakan hal penting secara empat mata.


Pilihan Dewa jatuh pada sebuah resto masakan khas melayu. Selain lokasinya tidak jauh dari kantor, suasana dan makanan di sana pun memang terkenal enak. Deva juga Dewa langsung memesan menu untuk mempersingkat waktu.


Tidak sampai menunggu terlalu lama, makanan yang mereka pesan pun datang. Deva dan Dewa menyantapnya dengan sangat cepat. Keduanya memang sudah sepakat akan memulai pembicaraan setelah hidangan di piring mereka tandas.

__ADS_1


"Dev, apa yang kamu pikirkan tentang Debora?" Dewa membuka pembicaraan setelah meletakkan segelas air putih sebagai penutup makan siangnya kali ini.


Deva menggerakkan bola matanya ke atas. Menandakan dia sedang mengajak otaknya untuk sedikit berpikir lebih keras. Sesaat dia melihat Dewa yang begitu sabar menunggu jawabannya. Dari sini, jelas Deva mulai memahami arah pembicaraan selanjutnya. Sebagai mantan kekasih Debora, pastinya Dewa mengetahui banyak hal tentang perempuan tersebut.


"Siapa pun Kak Debora, saya yakin, dia lebih banyak mengetahui tentang saya dibanding sebaliknya. Setiap peristiwa yang terjadi, tentulah atas izin dari Allah. Mungkin kebetulan itu memang ada. Tapi cukup hanya sekali. Jika kebetulan itu terjadi berkali-kali, pastilah ada makna dan arti dibalik semua itu. Allah mempertemukan kami berulang-ulang, pasti ada tujuannya. Itu yang ingin saya cari." Deva menjawab dengan lugas.


Dewa menatap Deva lebih dalam. Apa yang diucapkan asisten pribadinya barusan, seolah mengingatkan, antara dirinya dan Deva. Mereka juga mengalami serangkaian kebetulan yang lumayan intens. Dewa buru-buru menepis pikirannya tentang hal tersebut. Berusaha mengembalikan fokus pada inti bahasan sebelumnya saja.


"Tidakkah kamu bisa menghubungkan Debora dengan mama atau papamu? Mungkin saja papa-mama Debora adalah salah satu teman dari mendiang orangtuamu." Dewa mulai mengajak Deva sedikit berpikir. Meski Dewa tahu kisah sebenarnya, sangat tidak mungkin jika dia langsung bercerita gamblang pada Deva. Tentu hal itu akan sangat menyakitkan.


Terlepas Debora pernah menjadi perempuan yang berarti dalam hidupnya, Dewa menginginkan masalah ini selesai karena kerendahan dan kelapangan hati keluarga Debora sendiri. Sama sekali dia tidak ingin mengadukan semua yang diketahuinya secara terang-terangan. Andai terpaksa, biarlah Deva yang menemukan jalan kebenaran itu perlahan. Dewa akan membantu, tapi tidak dalam posisi sebagai cepu.


"Saya yakin, mamanya kak Debora adalah dokter yang membeli kalung saya. Tapi saya sama sekali tidak mengingat beliau sebagai teman orangtua saya."


"Apakah kamu mau datang ke rumah Debora? Kalau mau, aku bisa membantumu.Tapi kita atur waktu dulu. Mungkin kamu bisa bertemu papanya. Kali aja kamu kenal."


"Ya, Saya ingin sekali mencari tahu tentang mereka, tapi saya bingung harus memulai dari mana. Meski saya yakin, semua yang sudah Kak Debora lakukan, pasti ada tujuannya."


"Mulailah dengan dekat dengan mereka. Sekedar dekat, jangan terlihat seperti sedang menyelidik. Carilah jawaban dari setiap pertanyaanmu sendiri. Aku akan membantumu untuk itu. Tapi ingat! Ini bukan karena aku peduli sama kamu. Aku juga punya tujuanku sendiri," ucap Dewa. Penuh ketegasan. Walaupun apa yang terucap jelas berbeda dengan apa yang ada di dalam hatinya.


"Saya tahu, Pak. Pasti Pak Dewa ingin melakukan pendekatan kembali dengan Kak Debora, kan? Tenang saja, saya juga tidak terlalu suka hutang budi sama orang lain. Setiap kebaikan Bapak, pasti akan saya balas begitu ada kesempatan." Deva mengeluarkan dompet dari tasnya, mengeluarkan sejumlah uang seharga makanan dan minuman yang dipesannya.


"Kamu ngremehin aku, Dev? Kalau cuman segini, nraktir kamu setiap hari pun, nggak akan membuat aku bangkrut," dengus Dewa.

__ADS_1


"Bukan masalah bangkrut atau tidak, Pak. Saya lebih nyaman jika kita bayar sendiri-sendiri," tukas Deva.


"Astaga, Dev. Apakah sama temanmu pun kamu sekaku ini? Yang namanya teman, kita tuh mestinya gantian," ceplos Dewa.


"Dan sayangnya kita bukan teman, Pak," sahut Deva.


Dewa mencebikkan bibirnya. Sudah dibantu urusan yang penting. Mengaku berteman pun Deva masih segan. Sungguh membuat Dewa merasa aneh.


"Dev, sudah dua kali ini kamu mengatakan akan membalas semua kebaikanku jika ada kesempatan. Sebenarnya, aku paling malas mengingat kebaikan yang aku lakukan. Tapi karena kamu yang memulai, maka aku akan mencatat setiap kebaikanku padamu baik-baik. Suatu saat, aku pasti akan menagihnya. Jika saat itu tiba, aku harap kamu tidak pernah mengingkarinya." Dewa berdiri, menyambar uang Deva yang diletakkan di samping piringnya. Pria itu bergegas berjalan menuju meja kasir.


Deva menunggu sembari menatap layar ponselnya. Sebuah pesan singkat namun manis dikirimkan oleh Dave untuknya. Mantan kekasihnya itu mengingatkannya untuk makan siang dan tidak melupakan sholat.


"Kamu mau di sini terus?" ketus Dewa, membuyarkan lamunan Deva.


Keduanya lalu meninggalkan resto, menuju mobil dinas Dewa yang di parkir di halaman depan resto. Tidak ada lagi pembicaraan yang dilakukan sepanjang perjalanan menuju kantor.


Sesampainya di lantai 36 gedung Diamond Corp, baik Deva dan Dewa juga langsung kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Meski sesekali keduanya saling menghubungi melalui sambungan telepon internal, tetapi obrolan lebih pada urusan pekerjaan.


Banyaknya dokumen yang diselesaikan, membuat waktu berjalan dengan cepat. Jam kantor pun usai, Deva bergegas memesan ojek online untuk mengantarnya pulang. Sashi dan Hilda yang tahu Deva akan bekerja malam di rumah Dewa, memutuskan untuk tidur di rumah masing-masing.


Sebelum pulang, Deva sengaja menemui Dewa terlebih dahulu. Pria tersebut menunjukkan sikap acuh tak acuh padanya sembari menatap layar laptop. Sungguh memang sikap yang aneh. Sesaat bisa terlihat baik. Namun, semenit kemudian sudah berubah angkuh kembali.


"Maaf, Pak. Saya mengganggu sebentar. Saya cuma mau tanya alamat rumah Bapak."

__ADS_1


Dewa menutup laptopnya yang sebenarnya memang sudah mati.


"Kamu bareng aku saja."


__ADS_2