
Sosok yang memeluk Dewa itu tidak lain tidak bukan adalah Darmi. Perempuan berusia di atas Deswita yang dulunya mengasuh Dewa dengan telaten dan tulus. Saat Deswita depresi dan hancur, dialah yang menggantikan tugas Deswita sebagai sosok seorang ibu. Sudah lama sekali Dewa tidak bertemu dengan Darmi. Karena perempuan tersebut, sejak Dewa kuliah sudah ikut anaknya yang dinikahi pria asing, tinggal di negara asal sang menantu. Hanya Darmi yang memanggil Dewa "Sayang" dan hanya Darmi pulalah yang baunya khas campuran minyak kampak dan koyo cabe yang semerbak menusuk indera penciuman.
"Selamat ulang tahun, Nyil." Ucapan Deswita membuat Dewa merenggangkan pelukannya pada Darmi.
Dewa pun beralih membalikkan badan menghadap mamanya. Setelah menatap Deswita sekilas. Dia lalu menyapu pandang ke seluruh isi ruangan. Tidak banyak orang di sana. Namun, semua yang ada, cukup membuat Dewa bahagia. Kecuali satu orang yang berdiri tepat di antara Jason dan Deva tentunya.
"Jadi semua ide mama?" selidik Dewa.
"Bukan, mama tidak seribet ini. Kalau mama yang mempunyai ide, jelas mama akan langsung pura-pura pingsan saja. Biar mama tahu, seberapa paniknya kamu kalau mama tinggal," goda Deswita.
"Dewa nggak akan panik. Langsung nyusul mama pingsan saja," sahut Dewa dengan asal.
"Nggak boleh ketus gitu. Tapi seneng, kan? Gimana? Tadinya mama mau ajak Diana dan Dara, tapi Desta nggak ngijinin. katanya ribet."
Setelah mendengar penuturan Deswita barusan, Dewa pun menghampiri Desta. Kekesalannya semakin bertambah ketika mengingat suara ******* yang membuatnya merasakan salah satu bagian dari dirinya menegang.
"Jadi, suara siapa tadi?" Dewa bertanya dengan kesal.
__ADS_1
Desta hanya senyum-senyum sembari melirik Deva. Tentu saja membuat Dewa semakin tidak senang. Reflek dia menarik tangan Deva dan memperlebar jarak antara perempuan yang dicintainya itu dengan teman yang mulai ingin dianggap Dewa sebagai rival.
"Selamat ulang tahun, Pak. Maaf membuat bapak khawatir. Terimakasih atas perhatian Bapak pada saya yang begitu besar." Deva mengulurkan tangannya pada Dewa. Membuat pria yang tadinya masih ingin menghajar Desta itu menjadi melembut tatapannya.
"Sama-sama, Dev. Kalau masih kurang bukti besarnya cinta dan perhatianku, kamu bisa mengujiku lagi. Aku masih sabar menunggu jawabanmu."
Jawaban Dewa membuat Desta pura-pura ingin muntah. Dia sama sekali tidak menduga jika temannya itu sanggup selembut ini di depan perempuan. Sungguh Desta semakin ingin membuat Dewa merasa tersaingi kali ini.
Sejak kejadian itu, hubungan Deva dan Dewa semakin mencair. Kehadiran Desta di antara keduanya, mampu menggerakkan jiwa kompetitif Dewa yang pantang kalah. Mereka bertiga kerap kali berkumpul bertiga untuk membahas peninjauan kembali perkara Amar.
Perjuangan yang tidak mudah, tidak sesederhana yang ada dibayangan Deva. Bukti dokumen serta kesaksian Dermawan yang detail, lugas dan jelas, ternyata tidak serta merta langsung menyeret nama baru menjadi sosok tersangka. Hingga hari ini, setelah melewati empat puluh lima penyelidikan dan investigasi. Hal yang dinanti-nanti oleh Deva pun terjadi.
"Apa kamu sudah lega?" tanya Dewa pada Deva dengan sangat hati-hati.
"Tentu saja belum. Saya tidak akan berhenti sebelum nama baik papa dipulihkan." Deva menjawab dengan tatapan mata kosong.
"Sebentar lagi, Dev. Hari ini, mereka akan mulai merasakan apa yang papamu rasakan. Setelah ini, berdamailah dengan semua cerita pahit yang kamu alami selama ini. Bukan demi mereka. Tapi demi ketenanganmu sendiri. Sudahi dendammu," tutur Dewa.
__ADS_1
"Ini bukan perkara dendam, Pak. Saya mengupayakan keadilan ini sudah sangat lama. Sudah sepantasnya mereka mempertanggung jawabkan apa yang mereka lakukan. Papa sudah tenang di sisi Allah, sejatinya, papa sudah tidak perlu pengakuan apa-apa lagi di dunia. Saya yang tidak ikhlas, Pak. Saya menginginkan nama papa saya seharum sebelumnya."
Dewa memberanikan diri menatap mata Deva yang sendu. "Saat urusan ini benar-benar selesai, pikirkan tentang dirimu, Dev. Mulai tata masa depanmu." Dewa mengatakannya sedikit keraguan. Sebenarnya, dia takut dikira sedang menagih jawaban ungkapan pernyataan cintanya yang tidak ada kepastian sampai sekarang.
Di sisi lain, tepatnya di kediaman keluarga Agas. Pria yang tampak gusar wajahnya itu, semakin memucat wajahnya ketika mendengar suara bel pintu utama berbunyi. Meski dia sudah mempersiapkan diri karena sudah tidak mungkin untuk berkilah atau lari, tetap saja dia tidak siap.
Fira hanya duduk mematung. Dia enggan sekali untuk beranjak atau sekadar membuka mulut, berteriak menyerukan pada asisten rumah tangga agar membuka pintu. Dave yang sengaja pulang untuk mendampingi Fira dan Agas disituasi sulit ini pun bergeming. Hati pria tersebut mungkin memang sangat kecewa, tapi dia bukan orang yang tidak tahu diri. Bagaimana pun, Fira dan Agas sudah membawanya sesukses sekarang. Dan dia tidak akan bisa mengabaikan keluarga itu begitu saja.
"Seharusnya kamu bisa melakukan lebih, Dave. Kamu bisa halangi langkah Deva. Bukan malah membantu dan mendukungnya. Setelah cerai dengan Dira, kamu bisa kembali merayunya. Dasar anak pungut tidak berguna." Agas melirik Dave dengan sinis.
Tanpa menanggapi ucapan sang papa angkat, Dave beranjak menuju pintu utama. Setelah pintu terbuka, tiga orang petugas kepolisian berdiri di sana. Dave sama sekali tidak kaget. Karena beberapa waktu sebelumnya, sudah ada surat pemberitahuan untuk Agas agar menyerahkan diri. Namun surat yang diabaikan tersebut, membuat kepolisian bertindak cepat dengan menjemput paksa Agas. Dave pun mempersilahkan petugas untuk masuk ke dalam ruangan di mana Agas berada.
"Dasar anak tidak berguna," umpat Agas masih saja tidak terima. Padahal pria tersebut sudah berada di ujung kebebasannya.
Petugas polisi langsung menunjukkan surat penangkapan. Agas menerima dan membaca surat tersebut sebagai formalitas dan basa basi semata. Bisa dikatakan hanya untuk mengulur waktu belaka.
"Kalian jahat. Belum cukupkah kalian menghancurkan hidupku? Sekarang papaku pun ikut kalian seret-seret ke dalam masalah kalian. Ingat Dave, kita masih harus melalui beberapa sidang lagi untuk bercerai. Aku tidak akan membuat semuanya berakhir dengan mudah." Dira tiba-tiba muncul dengan kemarahannya yang berapi-api. Menghampiri Dave dan mengabaikan petugas kepolisian yang sedang menunggu untuk membawa Agas.
__ADS_1
"Dan Anda, Bapak Agas yang terhormat. Saya tidak Terima Anda memperlakukan mama saya seperti tebu. Sudah habis manis yang Anda sesap, lalu Anda buang mama saya begitu saja. Jika mama saya menderita, istri Anda pun tidak layak untuk bahagia." Dira beralih mengancam Agas tanpa ragu. Perempuan tersebut melirik sinis pada Fira secara sekilas.