Sisa Rasa

Sisa Rasa
Bukan calon mertua


__ADS_3

"Tapi, Pak, saya mau ganti baju dulu. Tidak mungkin saya datang dengan baju yang sudah seharian saya pakai begini," pinta Deva.


Dewa menatap Deva dengan santai. "Kamu hanya mau bertemu dengan mamaku. Bukan calon mertuamu. Jadi, tidak perlu bermanis-manis atau tampil sok sempurna," timpalnya.


Mulut Deva sudah bersiap untuk menjawab pernyataan Dewa. Namun, dengan cepat pria tersebut memberikan isyarat agar Deva diam. Jari telunjuk Dewa menempel sempurna pada bibirnya.


"Hust! Belajarlah sedikit menurut. Mamaku tidak suka dibantah." Dewa menyambar kunci mobil kesayangannya.


"Eh, aku kan barengan sama kamu. Naik mobil dinas saja, deh. Kasihan si jaka. Yang mendapatkan keperjakaannya harus perempuan yang spesial. Bukan kamu pastinya." Dewa berbicara pada Deva dengan wajah dan nada suara yang sama-sama bisa membuat siapa pun menjadi kesal.


Deva tidak peduli, apalagi menanggapi ucapan Dewa kali ini. Percuma, Dewa selalu benar dan ingin menang sendiri. Menyanggah pemikiran Dewa yang tidak penting, sama halnya dengan menabur garam di lautan.


Tidak lama kemudian, keduanya berangkat menuju rumah Dewa. Baru lima menit roda kendaraan dinas CEO itu menggelinding, ponsel Deva mengeluarkan suara dan juga getaran yang mengusik.


" Cepetan terima, Dev, berisik," tegur Dewa.


Deva hanya mengurangi volume suara ponselnya. Dia sama sekali tidak berniat untuk menerima panggilan telepon tersebut. Setelah suara terdengar berhenti, pesan berupa gambar masuk ke dalam ponselnya. Namun, hanya berselang hitungan detik dari itu, ponsel Deva kembali berdering dan bergetar.


"Tagihan kartu kredit?" tebak Dewa dengan asal.


Deva malas untuk menjawab. Membiarkan Dewa dengan pemikiran-pemikiran sendiri jauh lebih memberi ketenangan ketimbang berusaha menimpali.


Ponsel Deva terus bergetar tanpa jeda. Meski suaranya kini benar-benar sudah disenyapkan, tetap saja getaran itu masih kentara terasa.


"Mau aku yang jawab?" Dewa menoleh sekilas pada Deva. Memberikan sedikit penekanan karena dia benar-benar risih dengan suara getaran ponsel.

__ADS_1


Tidak ada pilihan lain. Tanpa berpikir panjang, Deva mematikan ponselnya begitu saja. Lalu dia memalingkan pandangan ke arah luar. Membayangkan wajah Dave yang cemas atau mungkin kesal, sedikit menimbulkan sesal di hatinya. Sampai saat ini, Deva bahkan belum tahu harus bersikap bagaimana. Benarkah menjadi teman atau sahabat adalah pilihan yang terbaik?


"Pak Dewa ...." Deva memanggil dengan ragu-ragu.


"Saya, Dev,"


Cara menjawab Dewa yang menurut pria tersebut biasa saja, di telinga Deva terdengar seperti sebuah olokan. Niat untuk bertanya serius pun akhirnya diurungkan.


"Kok diem. Bukannya tadi manggil, ya?" Mata Dewa fokus pada jalanan di depannya yang lumayan macet.


"Nggak jadi."


"Kenapa? Malu? Grogi ya ngomong dan dekat sama orang ganteng?" Dewa menoleh beberapa detik ke arah Deva. Menaik-turunkan kedua alis matanya dengan raut wajah yang cukup menyebalkan.


Itulah yang membuat Deva malas. Kesombongan Dewa, sering kali membuatnya jengah. Baru kali ini dia bertemu dengan manusia yang memiliki level narsis di atas rata-rata. Banyak orang yang risih dengan pujian. Bahkan tidak sedikit yang menghindari dan menolak halus jika sedang dipuji. Berbeda halnya dengan Dewa. Orang lain tidak mengaguminya pun, dia sudah menebarkan kekaguman pada dirinya sendiri.


"Orang yang sering memuji dirinya sendiri. Kemungkinan besar adalah orang yang krisis percaya diri. Dia selalu mencari pengakuan agar bisa mendapatkan kenyamanan. Saya tidak bicara tentang Bapak, ini saya bicara umumnya saja."


Dewa seketika terdiam. Ingin mengumpat, tapi cukup di dalam hati saja. Deva selalu membuat dirinya berpikir ulang akan pesona yang selama ini dimiliki. Bersama dan didekat Deva, jauh berbeda dengan wanita lain yang memujanya. Dan yang paling penting, hampir semua tutur pedas yang lolos dari bibir Deva, memang benar adanya.


Kembali hening tanpa suara, mobil semakin menjauhi kepadatan lalu lintas. Jalan yang dilewati Dewa, semakin familiar di mata Deva. Taman tempatnya bertemu Jason, adalah taman di mana ada beberapa perumahan mewah di sekitarnya. Deva hapal betul, karena memang dia juga pernah tinggal di salah satu perumahan itu.


Semakin lama, mobil Dewa semakin mengarah pada jalan yang tidak pernah mungkin Deva lupakan. Memasuki gerbang utama perumahan Grand Mutiara, jantung Deva seketika berdetak kencang. Dia memilih untuk memejamkan mata. Sejak keluar dari rumah dengan paksa beberapa tahun yang lalu, Deva tidak pernah lagi melewati jalan ini.


"Dev ... jangan ketiduran. Kita mau sampai." Dewa mengguncang lengan Deva, mengira perempuan di sampingnya itu sedang ketiduran.

__ADS_1


"Saya tidak tidur, Pak. Tolong biarkan saya memejamkan mata saya." Deva menjawab dengan nada suara yang emosional.


"Dev ... Aku nggak suka dibentak. Kalau sikapku salah, kamu ngomong baik-baik. Kamu katain aku bagaimana pun, aku lebih sering diam. Tapi jangan membentakku," tegas Dewa.


Deva menundukkan wajahnya---masih dengan mata yang terpejam. Dewa mendadak menghentikan mobilnya. Mengira sudah sampai di rumah yang dituju, Deva membuka matanya perlahan. Sebuah rumah dengan gaya arsitektur mediterania, langsung menyita perhatiannya. Bukan hanya karena tampak di depan mata, tetapi rumah itu membawanya pada jutaan kenangan yang seketika berdesakan melintasi kepalanya. Air mata luruh tidak tertahankan dari mata Deva. Bangunan itu tidak lagi terawat, dan itu yang membuat dadanya semakin sesak.


Dewa yang tadinya ingin marah, mengurungkan niatnya. Kebingungan kini melanda. Dewa tidak bisa menduga hal apa yang membuat Deva kembali menangis.


"Dev, please. Kamu jangan seperti Jason. Aku menegurmu masih wajar. Bahkan suaraku tidak lebih tinggi dari suaramu tadi, kenapa kamu cengeng sekali," dengus Dewa.


Pria itu sungguh tidak bisa melihat perempuan menangis. Tangannya terulur maju mundur serba salah. Ingin rasanya mengusap lengan, membantu menyeka air mata, atau sekedar menyibakkan anak rambut yang menutup sebagian wajah Deva. Namun, nyali Dewa sungguh tidak sebesar ucapannya. Cukup sekali tangannya dihempas, jangan pernah terulang lagi.


Menyadari dirinya terlalu emosisonal. Deva mencoba mengatur napas. Tangannya terus mengusap pipi dan matanya yang basah.


"Sudah?" tanya Dewa. Sorotan tajam penuh tanya, tepat tertangkap oleh Deva.


"Maaf, Pak, saya terlalu terbawa perasaan. Melihat kembali rumah ini, membuat saya merasa masih terikat dan memilikinya. Begitu banyak kenangan di sana." Deva menunjuk sebuah bangunan di seberang jalan dari sisi kanan Dewa.


Dewa mengikuti arah tangan Deva. Penerangan yang seadanya, memberi kesan angker pada rumah yang dilihatnya. Selama ini, dia sama sekali tidak pernah memperhatikan daerah sekitarnya.


"Dev ... jangan aneh-aneh, deh. Kayaknya rumah itu nggak berpenghuni. Sudah ah, kamu siap-siap. Rumahku yang di ujung itu. jangan ketemu mamaku dalam keadaan acak-acakan. Meski bukan ketemu mertua, rapilah sedikit." Dewa menunjuk sebuah rumah dengan design yang sangat modern. Jaraknya, hanya dua rumah saja dari rumah lama Deva.


"Penakut sekali, itu rumah saya dulu, Pak." Deva sedikit kesal membuka tas dan mengeluarkan sisir dari sana. Merapikan rambut, lalu menyemprotkan sedikit hair energy spray agar wangi.


"Sudah, kan? Tolong jangan nangis lagi. Sepertinya rumah ini kosong. Kamu bisa mengumpulkan uang untuk membelinya lagi. Rajinlah bekerja dan menabung. Jangan menolak traktiranku. Semakin sering aku mengajakmu makan, tabunganmu akan semakin bertambah." Dewa kembali melajukan mobilnya.

__ADS_1


Tidak sampai hitungan lima menit, mobil Dewa sudah berhenti tepat di halaman depan rumahnya. Pintu utama langsung terbuka, muncullah Jason yang langsung berlari menyambut kedatangan Dewa.


"Papa ...," teriak bocah itu dengan penuh semangat.


__ADS_2