Sisa Rasa

Sisa Rasa
Rudi versus Agas


__ADS_3

"Silahkan, Rud. Kita sama-sama punyai aib, bukan? Itu pun kalau kamu masih ingat. Perusahaanmu juga pasti akan hancur. Apa yang nantinya akan tersisa darimu? Punya apa kamu selain harta rampasan? Tidak ada!" Agas seolah menantang Rudi. Padahal dia sendiri sebenarnya tidak punya nyali kalau pria di sampingnya itu sampai nekat. Entah scandal mana yang akan Rudi buka, dia sendiri tidak bisa menebak.


"Dasar bajiingan! Kita lihat saja nanti. Ini yang kamu inginkan. Mulai sekarang, kita jalan dengan cara masing-masing. Tapi ingat, Gas! Kalau sampai anakmu tahu ada cerita apa dibalik pernikahannya dengan Dira, sudah dipastikan itu akan menjadi kehancuran pertamamu. Ingat baik-baik! Aku tidak mau hancur sendirian." Rudi meminta drivernya untuk memberhentikan mobilnya di depan sebuah apotik tidak jauh dari rumah sakit yang dituju ambulance yang membawa Dermawan.


"Turunlah, di dalam sana banyak obat-obatan dan alat suntik yang bisa dibeli dengan mudah. Siapa tahu, kamu berubah pikiran, atau mungkin kamu bisa menemukan ide yang lebih gila dariku. Jangan menghubungiku sebelum kita satu pemikiran." Rudi terang-terangan mengusir Agas dari dalam mobilnya.


"Brenggsek. Kamu memang anjiing, Rud! Aku pastikan, kamu yang hancur lebih dulu." Agas mengumpat lirih dan tersenyum licik pada mobil Rudi yang mulai bergerak menjauhinya.


Jarak rumah sakit yang memang tidak terlalu jauh dari tempat Agas diturunkan tadi, membuat pria tersebut melangkah lebar menuju tempat tersebut. Sebuah rencana sudah tersusun rapi di kepalanya. Ide yang terlintas begitu saja dan tepat pada waktu yang dibutuhkan. Penuh kepercayaan diri, yang pertama kali ingin Agas lakukan saat ini adalah mencari, bertemu, dan berbicara pada Deva sebelum Dermawan atau pun Widya mendahuluinya.


Sesampainya di rumah sakit, Dermawan langsung ditempatkan dan ditangani di ruang ICU. Tidak satu pun dari orang-orang yang berada di sana yang diperbolehkan untuk mendampingi Dermawan. Widya, Debora, Deva, Dewa dan juga Rudi, hanya bisa menunggu di luar ruang ICU.


"Ada urusan apa kamu dengan keluarga ini, Wa?" Rudi bertanya pada Dewa begitu melihat kesempatan keponakannya itu agak menjauh dari yang lain.


"Pertanyaan yang sama juga pantas Dewa tujukan untuk Om," jawab Dewa tanpa mengurangi rasa hormatnya pada adik dari mamanya itu.


"Om teman baik Pak Dermawan. Apa ada yang aneh?" selidik Rudi. Pria tersebut terkesan sedang menutupi sesuatu dengan keangkuhannya.


"Oh ... Dewa mengenal Debora sejak lama, kebetulan saja Deva ada perlu dengan mereka. Jadi kami datang bersama," jelas Dewa, sengaja menjawab apa adanya untuk memancing reaksi Rudi selanjutnya.

__ADS_1


Pria yang mengajak Dewa berbicara itu hanya memanggut-manggutkan kepalanya sembari menatap Deva dengan pandangan menyelidik. Setiap gerak yang dilakukan oleh Deva, tidak luput dari pantauan Rudi. Dia sedang mencari celah untuk berbicara dengan asisten pribadi Dewa itu berdua saja. Karena sama sekali tidak mengenal secara pribadi, tentu akan sangat aneh kalau dia langsung mengajak Deva bicara.


Tidak lama kemudian, datanglah Agas di antara mereka. Dengan santai pria tersebut langsung menghampiri Deva dan berkata, "Dev, bisa Papa bicara sebentar?" pintanya.


Deva tentu saja tidak bisa menolak permintaan Agas. Meski sedikit ragu, perempuan tersebut menganggukkan kepalanya dengan pelan.


"Berdua saja. Kita bicara di sana." Agas menunjuk koridor yang menghubungkan ruang ICU dengan laboratorium.


Dewa melirik Deva dan Agas penuh kecurigaan. Entah mengapa, Dewa merasa papa dari Dave itu tidak setulus dan sebaik kesan yang ditampilkan.


Rudi menyadari dan bisa membaca dengan jelas kepedulian Dewa pada Deva. Dia pun menarik senyuman licik penuh rencana. "Tidak ada salahnya aku mencoba cara ini," ucapnya dalam hati.


****


Setelah sampai di lorong yang dimaksud, Agas menghentikan langkahnya, begitu pun dengan Deva. Kedua orang tersebut saling bertukar pandang dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Papa mau bicara apa?" tanya Deva tanpa basa basi.


"Ada hubungan apa kamu dengan keluarga Dermawan?" Agas malah balik bertanya.

__ADS_1


"Tidak ada, Pa. Lebih tepatnya belum ada. Saya belum tahu pasti." Deva menjawab dengan jujur.


"Hati-hati dengan mereka, Dev. Mereka baik sama kamu, karena mereka memiliki kesalahan yang besar. Papa akhir-akhir ini begitu dekat dengan mereka. Papa sedang mencari bukti untuk mengajukan peninjauan kembali kasus papamu. Rasanya, papa tidak tenang. Setelah papamu meninggal, Papa justru semakin terpacu untuk mencari kebenaran." Agas menatap Deva dengan sungguh-sungguh. Seakan ingin memastikan jika apa yang dikatakan memang benar adanya.


Deva tidak menimpali apa yang dikatakan Agas. Hati kecilnya mengatakan kedekatan Agas, Rudi, dan Dermawan bukan karena hal yang disebutkan oleh Agas. Deva bukan anak kecil yang cara berpikirnya bisa diatur dengan mudah. Dari kedatangan Agas dan rudi tadi, sudah jelas menunjukkan bahwa Widya tidak begitu senang dengan kehadiran kedua pria itu.


"Keluarga Dermawan jelas tidak menyukai kami. Karena mereka tidak ingin sampai Dermawan membusuk di penjara di penghujung hidupnya. Dan mereka menggunakan kamu sebagai tameng agar dosa mereka seakan bisa dimaafkan. Segala kebaikan yang dilakukan, itu hanya salah satu cara agar jika kasus ini terungkap, kamu tidak menuntut mereka."


Deva tidak bisa berkata-kata. Perempuan itu membenturkan punggungnya ke tembok keramik dingin di belakangnya. Terngiang jelas di telinga Deva, bagaimana sang papa mengingatkannya agar tidak mudah percaya pada orang lain. Tidak teman, kerabat, atau saudara sekali pun. Politik tidak mengenal kesamaan genetik, golongan darah, apalagi sekedar kesamaan latar belakang.


"Yang terlihat baik, belum tentu baik, Dev. Apalagi yang jelas-jelas jahat. Kamu sudah dewasa, sudah bisa memilah sendiri mana yang benar dan yang salah. Papa mungkin gagal menjadi Papa mertuamu. Tapi papa tidak akan berhenti memperhatikanmu. Papa sudah berjanji untuk menjagamu. Maka Papa akan melakukannya sampai akhir hidup Papa."


Kata-kata Agas mungkin terdengar manis di telinga orang lain. Namun, tidak demikian bagi Deva. Dia seperti kehilangan ketulusan yang dirasakan sebelumnya. Rasa hormat Deva kepada Agas sedikit berkurang setelah kejadian di bandara dan di rumah Debora tadi.


"Papa hanya ingin mengatakan itu saja. Percaya atau tidak, itu terserah kamu. Papa pulang dulu." Agas menepuk lengan Deva dengan lembut. Lalu pria itu berbalik badan dan melangkahkan kaki lebar ke arah pintu keluar.


Sama dengan Agas yang berniat menanamkan sebuah pemikiran pada Deva. Rudi pun sedang melakukan usaha yang sama pada Dewa. Bedanya, Rudi sama sekali tidak paham, kalau keponakannya itu sedikit sudah tahu apa yang melatar belakangi hadirnya Deva di rumah Debora.


"Wa, jika kamu peduli dengan temanmu, tolong peringatkan temanmu itu. Jangan terlalu dekat dengan keluarga Dermawan. Jika temanmu itu anak Amar, berarti keluarga Dermawan sedang melakukan pendekatan agar suatu saat dia tidak mendapatkan tuntutan resmi."

__ADS_1


"Lalu apa hubungan semua ini dengan Om Rudi?Apa pentingnya Om membicarakannya dengan saya?" Dewa menatap Rudi begitu tajam.


__ADS_2