
Dewa tersenyum sinis, lalu segera melajukan motornya dengan kecepatan lumayan tinggi. Semakin erat dia merasakan cengkraman tangan Deva, semakin terpacu pula nyali pria tersebut untuk menambah kecepatan. Merasa pegangan pundak tidak cukup aman, Deva memberanikan diri menurunkan tangannya dengan cepat untuk melingkari pinggang Dewa.
Kini, kekacuan hati tidak hanya milik Deva. Dewa pun merasakan hal yang sama. Jantungnya mendadak berdetak lebih cepat. Pria tersebut mengurangi kecepatan motornya secara perlahan. Fokus Dewa menjadi bercabang tidak karuan.
Hingga berhenti di lampu merah, Deva tidak melepaskan pegangannya sekali pun. Bahkan kepalanya sedikit menempel di punggung Dewa. Jangankan keluar godaan atau ledekan angkuh seperti biasa, untuk mengulum senyuman pun Dewa tak mampu. Tubuh dan pikirannya sama-sama sedang tidak santai.
"Dev, sepertinya, posisi tangan di pundak lebih baik. Aku merasa sangat tidak sehat sekarang. Baru sampai pinggang, celanaku sudah ketat begini. Pikiranku tidak ke sana. Jelas ini ulah pancuranku sendiri." Dewa hanya berani berucap dalam hati.
Deva tentu saja tidak mendengar keluhan hati Dewa. Ditambah lagi, sebenarnya Deva kini malah melamun. Dia teringat dulu saat jaman masih sekolah dasar, Amar sering mengajaknya keliling komplek perumahan dengan menggunakan motor. Sudah lama sekali, dia tidak merasakan naik motor. Beberapa kali mengajak Dave, tetapi berujung dengan sedikit perdebatan. Mantan kekasihnya itu selalu mempunyai banyak alasan untuk tidak menuruti permintaan Deva. Bisa dihitung jari dia naik motor bersama Dave.
"Sudah sampai, Dev." Dewa terpaksa mengusik lamunan Deva. Karena mereka sudah berada di pelataran parkir sepeda motor Candi Prambanan. "Dev," panggil Dewa sekali lagi sambil memberanikan diri menepuk punggung tangan Deva.
Seketika Deva tersadar dari lamunannya. Dia buru-buru melepaskan tangannya dari pinggang Dewa. "Maaf, Pak."
Deva turun dari boncengan sembari melepaskan helmnya dengan hati-hati. Seperti pada umumnya perempuan setelah naik motor. Deva pun buru-buru merapikan rambutnya kembali.
"Makan dulu, yuk! Aku belum makan siang, Dev. Aku laper," pinta Dewa.
"Makannya nanti setelah jalan-jalan bisa nggak? ntar malah gak nyaman kalau kekenyangan." Deva mengucapkannya penuh harap.
"Iya, iya. Tapi aku boleh kan beli minum. Setidaknya, aku ada tenaga biar gak lemes."
Tidak memberikan jawaban, Deva langsung menuju kios kecil di deretan parkir agak luar, dia membeli dua botol air mineral berukuran sedang.
"Yuk!" Deva mengajak Dewa melangkah menuju loket masuk sembari memberikan botol air tadi.
Dewa mengeluarkan dompet dan membayar tiket masuk secara tunai. Deva yang kalah cepat hanya mengucapkan terima kasih dengan senyuman tulus. Membuat Dewa benar-benar harus mengingatkan hatinya sekali lagi agar tidak lancang untuk mendahului jatuh hati. Keduanya lalu berjalan beriringan menyusuri area candi.
"Bandung Bondowoso seharusnya bisa membangun 1000 candi. Tapi karena kecurangan Roro Jonggrang, usaha seorang pria yang ingin memenuhi syarat dari perempuan yang dikasihinya menjadi sia-sia, bahkan berakhir tragis."
"Bukan salah Roro Jonggrang, Pak. Pada dasarnya, memang tidak ada cinta. Menolak secara gamblang, tentu akan sia-sia jika prianya sangat berkuasa. Itulah mengapa perempuan harus panjang akal," tukas Deva sambil terus berjalan mendekati satu bangunan candi yang terbengkalai.
__ADS_1
"Ada banyak cara untuk menolak pria, kenapa harus dengan mencurangi seperti itu. Tentu saja Sang Raja tidak terima dan akhirnya malah membuat rugi Roro Jonggrang sendiri," dengus Dewa.
Deva mengernyitkan kening hingga kedua ujung alisnya menyatu. "Tunggu-tunggu, kenapa kita jadi memperdebatkan kisah Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang. Apa pun, setidaknya mereka meninggalkan sejarah peradaban yang luar biasa pada kita. Tanpa tekhnologi tinggi, peninggalan itu bisa menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar. Kisah cinta yang tercatat tragis, tapi masih memberikan manfaat. Apa kabar kita? Selain luka, apa yang lagi yang bisa kita dedikasikan dari cinta."
"Dih, malah curhat. Pasangan pasca jaman pra sejarah, meninggalkan bukti cinta yang lebih luar biasa. Mereka memberikan makhluk-makhluk bernyawa berwujud bayi mungil kemerahan---generasi penerus keturunan milenial selanjutnya."
Deva reflek langsung mencubit lengan Dewa. Keduanya tanpa sadar terkekeh bersama. Dewa mengajak asisten pribadinya itu berswafoto bersama. Deva tidak menolak. Dia bahkan juga melakukan hal yang sama dengan menggunakan ponsel pribadinya, beberapa foto epic berhasil dibuat. Namun keduanya hanya menyimpan sebagai koleksi pribadi. Tidak ada satu pun, yang diunggah ke sosial media keduanya.
Puas berada di sana selama hampir dua jam lebih dengan diakhiri makan siang yang kesorean, Deva dan Dewa melanjutkan perjalanan ke Candi Ratu Boko yang jarak tempuhnya tidak terlalu jauh dari lokasi sebelumnya. Hanya sekitar dua puluh menit perjalanan, itu pun Dewa melajukan kendaraannya dengan pelan karena medan jalan yang berkelok dan naik turun. Mengingat tempat yang dituju tersebut, memang terletak di salah satu perbukitan.
Sementara Dewa dan Deva menikmati kebersamaan yang membuat salah satu dari mereka harus menata hati dengan susah payah, Dave yang juga baru menyelesaikan makan siangnya, lagi-lagi harus menemukan kehadiran Dira di depan kamarnya.
"Dave ... kita jalan-jalan, yuk!" Dira mengucapkannya dengan lembut.
"Tidak sekarang, Dir. Aku masih malas," tolak Dave.
"Nanti ya, Dave. Please ... Kita sudah sah menjadi suami istri. Bisakan kamu berhenti bersikap seolah aku ini musuh besarmu?" Dira bertanya tanpa peduli apa yang menjadi alasan mengapa Dave bersikap demikian kepadanya.
"Kapan, Dave? Aku akan berusaha memahamimu. Tapi beri aku kesempatan untuk menunjukkan kalau aku juga bisa baik. Jika kamu menjauhiku terus-terusan, aku pastikan aku akan memberikan tekanan pada Deva. Karena dia yang membuatmu seperti ini," ancam Dira.
Dave menatap tajam ke arah Dira. "Sikapku, bukan Deva yang menentukan. Aku mencintainya, itu kemauanku. Jangan berani-beraninya kamu mengusik Deva. Kalau sampai itu terjadi, aku pastikan kamu akan semakin jauh terabaikan."
"Oke, Dave. Kita buat kesepakatan. Aku tidak akan mengusik Deva, aku tidak akan memaksa kita berada dalam satu kamar. Aku hanya meminta satu hal, setidaknya,jangan tolak kebersamaan kita jika berada di luar. Bukankah cintamu tidak egois? Bukankah kamu dan Deva akan saling mengikhlaskan jika masing-masing hidup bahagia? Soo, belajarlah pura-pura bahagia saat di depan Deva."
Dave hanya memalingkan wajahnya. Tanpa disuruh Dira pun, dia memang berpikir ke arah sana. Namun, tentu saja tidak dengan berpura-pura bahagia bersama Dira. Dave hanya akan berusaha bersikap biasa pada Deva.
"Nanti malam setelah sholat Isya, aku ada waktu sebentar untuk jalan-jalan. Sekarang aku mau istirahat." Dave menutup kembali pintu kamarnya tanpa menunggu jawaban Dira.
"Aku tahu kamu sedang berusaha menutup jalan cinta untukku, Dave. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan menciptakan jalanku sendiri," batin Dira diiringi senyuman licik.
Berbeda 180 derajat dengan kondisi Dira dan Dave, dua orang yang biasanya jarang sekali akur, kini terlihat begitu menikmati suasana dan kebersamaan mereka kali ini. Wawasan Dewa yang ternyata sangat luas tentang tempat-tempat bersejarah, membuat Deva seakan berjalan dengan seorang tour guide. Setibanya di Candi Ratu Boko, mereka langsung berjalan menuju gerbang pintu candi tersebut.
"Kita duduk di atas rumput aja, yuk! Sepertinya, sunset di sana akan kelihatan sangat bagus." Deva menunjuk tempat yang hanya beberapa langkah dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
Dewa pun mengangguk setuju. Keduanya benar-benar duduk di atas rumput. Menatap ke arah barat, menunggu sang surya yang sebentar lagi akan bergeser menerangi bagian bumi yang lain.
"Pak, boleh saya bertanya sesuatu," Deva mengatakannya dengan lebih hati-hati.
"Tanya saja." Dewa menjawab singkat.
"Ehm ... maaf kalau ini terlalu pribadi, apa Bapak mengenal Papa Kak Debora dengan baik? Kalau boleh saya tahu, beliau dulu bekerja di mana? Jujur, sejak tadi pagi, Kak Debora menghubungi saya. Kondisi kesehatan papa Kak Debora semakin menurun. Saya merasa tidak pernah kenal, kenapa harus kak Debora memaksa saya untuk bertemu papanya."
Dewa tidak seberapa terkejut, karena tadi, Debora pun sudah menghubunginya. Yang dia herankan hanyalah cara mantan kekasihnya yang cenderung memaksa tanpa menyertakan alasan yang logis.
"Bapak boleh tidak menjawab kalau memang tidak berkenan," ucap Deva buru-buru sambil melepas kaca mata hitamnya. Dewa pun tampak melakukan hal yang sama.
"Sama sekali tidak keberatan. Hubunganku dan Debora bisa dikatakan tidak seintens kamu dan Dave. Aku tahu dan mengenal keluarga intinya, tapi hanya sekilas. Tidak sedalam Dave mengenal keluargamu. Entah karena cuek, atau karena hubungan kami yang belum memiliki tujuan. Setahuku, papa Debora bekerja menjadi Direktur Utama di salah satu perusahaan milik negara. Hanya itu yang aku ketahui."
Deva tidak berani menduga-duga, negara memiliki ribuan perusahaan, terlalu dini untuk langsung menaruh praduga. Meskipun dengan apa yang sudah dilakukan Debora selama ini saja sebenarnya sudah cukup kuat untuk menaruh rasa curiga. Pasti ada hubungan antara keluarga Debora dengan keluarganya. Lagi-lagi Deva memilih untuk menepis sebelum bukti pasti ada digenggaman. Belajar dari kasus sang papa, bukti kuat saja tidak cukup, apalagi sekedar bukti yang berdasarkan pada katanya dan katanya.
"Lupakan sejenak masalahmu, Dev. Jangan khawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Yang pasti akan kita hadapi, hanyalah semua hal yang sudah menjadi ketetapan Tuhan. Hari ini, mungkin belum tampak jalan keadilan buat kita. Biarlah nanti, tangan Tuhan yang bekerja membukakan jalan keadilan untuk kita. DIA selalu peduli dan tidak akan pernah meninggalkan kita. Sekali pun kita---berkali-kali ingin menjauh dariNya."
Keduanya saling melemparkan senyuman. Sungguh kebersamaan yang tidak biasa. Keduanya seolah lupa dengan perdebatan yang kerap sekali membersamai mereka ketika dalam posisi berdua saja.
"Gradasi langit di kala senja---membuktikan tidak selamanya yang hitam dan kelam itu menakutkan. Matahari mungkin beranjak tenggelam, namun bulan dengan setia memantulkan sinarnya untuk menerangi malam. Matahari---sekali pun dia sang pemilik cahaya, dia tidak pernah murka pada mereka yang lebih merindu akan datangnya rembulan."
Deva tersenyum lebih manis lagi ke arah Dewa, sedikit pun tidak pernah menyangka. Mulut pedas sang atasan, bisa juga berucap selembut itu. "Membiarkan orang lain bahagia, tidak akan mengurangi sedikit pun kebahagiaan kita."
"Seperti matahari yang rela berbagi pujian dengan bulan. Kita pun seharusnya demikian. Cukup sedihnya, Dev. Sudahi semua. Masih banyak yang harus kamu lakukan. Takdir Dave sudah berbeda, kamu pun sama."
Deva kali ini memilih tidak menanggapi ucapan Dewa. Dia kembali lurus menatap langit senja yang memang begitu indah. Perlahan perempuan itu menutup kedua matanya, membiarkan embusan angin membelai wajah dan menerbangkan anak rambutnya dengan lembut. Mengabaikan sepasang mata yang menatapnya penuh kekaguman.
"Hati, jangan jatuhkan dirimu kepada dia," lirih Dewa dalam hati.
sunset di candi ratu boko.
__ADS_1