
Dave menoleh ke arah sumber suara dengan tetap menggenggam pergelangan tangan Deva.
"Kenapa kamu bisa sampai di sini, Ra?" Dave bertanya dengan ketus.
Deva menyingkirkan tangan Dave dengan paksa. Tarikan napasnya begitu berat dan dalam. Ingin rasanya Deva berlari sejauh mungkin dari situasi ini. Sesak sungguh rasa dadanya. Perasaannya mendadak sangat tidak enak. Entah mengapa?
"Pasti kamu tahu siapa aku, bukan? Tapi untuk lebih sopannya, mari kita berkenalan. Aku Dira, tunangan resmi Dave. Aku sempat melihatmu dihari aku dan Dave bertunangan. Tapi rupanya, kamu keluar meninggalkan acara." Perempuan itu mengulurkan tangannya. Tatapan dan ucapannya sama tegas dan penuh penekanan.
Deva menguatkan diri dalam hati. Dengan membalas tatapan mata Dira, dia mengulurkan tangan tanpa ragu.
"Deva... aku tidak perlu menjelaskan apa pun bukan? Yang kamu lihat barusan, bisa kamu tanyakan pada tunanganmu sendiri. Senang berkenalan denganmu, Dira. Semoga hubungan kalian berjalan dengan baik."
Kedua perempuan itu sama-sama melempar senyuman penuh kepalsuan. Bukan ketulusan yang diberikan. Sorot mata Deva dan dira kompak menyiratkan sebuah luka.
"Kenapa kamu ke sini, Ra?" Dave menengahi keduanya. Memasang badan di depan Deva, seolah ingin melindungi perempuan yang sangat dia cintai itu dari kemungkinan amukan Dira.
"Aku kebetulan memang mau ke sini. Mami minta dibelikan makanan. Aku lihat mobilmu, tapi aku hubungi, malah kamu reject. Aku berhak untuk tidak suka bukan? Aku tunanganmu, Dav. Suka tidak suka---terima tidak terima---itu kenyataannya." Suara Dira terdengar lebih lembut saat berbicara dengan Dave.
Deva meraih ponselnya, lalu membuka aplikasi transportasi online. Dia tidak ingin terjebak lebih lama di antara Dave dan Dira yang sedang berselisih paham.
"Ra, aku yang mengajak Deva. Kamu memang berhak tidak suka. Tapi satu hal yang harus kamu ketahui. Kamu sendiri yang meminta orangtuamu menjodohkanmu denganku. Kamu yang mau pertunangan ini terjadi. Jika kamu lupa, aku akan mengingatkan. Aku mencintai Deva. Itu kenyataannya. Suka tidak suka---mau tidak mau." Dave membalik ucapan Dira dengan lantang.
Deva berjalan menjauh, menutup daun telinganya rapat-rapat dengan kedua telapak tangan. Menyadari Deva menjauhinya, Dave segera berlari mengejar perempuan tersebut.
"Dave ... berhenti! Kamu harus Ingat, Dave! Papamu, masih belum benar-benar aman sampai kita menikah nanti!"
Teriakan Dira menghentikan langkah Dave. Pria itu berbalik badan. "Kita bicara nanti, Ra. Please, jangan terus menekanku. Jangan membuat aku semakin enggan dekat dengan kamu."
Dave kembali mengejar Deva, perempuan itu terus berjalan menyusuri pinggiran jalan raya masih dengan menutup daun telinganya. Entah kemana kakinya hendak melangkah. Deva terus berjalan dengan deraian air mata yang mengalir cukup deras. Menyesali kebodohannya yang menerima pelukan Dave begitu mudahnya. Dave terus mengikuti langkah Deva sembari berteriak memanggil. Tapi suaranya tidak terdengar atau dihiraukan sama sekali oleh Deva.
__ADS_1
Dira bergeming. Dia masih mematung di posisi yang sama. Air matanya juga luruh. Tidak memiliki sakit, memiliki pun ternyata lebih sakit.
"Dave, kenapa kamu sama sekali tidak mengenaliku? Apa aku memang tidak pernah menarik perhatianmu?" lirih Dira.
Dengan langkah gontai, Dira kembali masuk ke dalam mobilnya. Dia mengurungkan niat untuk membeli makanan. Dira mengendarai kendaraannya meninggalkan area parkir resto.
Di sisi lain, Dave sudah berhasil menahan pergelangan tangan Deva. Tidak peduli begitu banyak pengguna jalan yang nenjadikan mereka bahan tontonan.
"Jangan jadikan aku seolah menjadi perebut tunangan orang, Bang. Tolong biarkan aku pulang sendiri." Deva terus berusaha menarik tangannya dari genggaman Dave. Semakin dipaksa, dia semakin merasakan sakit. Karena Dave begitu posesif mencengkeramnya.
"Jangan seperti ini, Bee. Jika kamu mau sendiri, nanti di rumah. Sekarang sudah malam. Biarkan aku mengantarmu." Dave terus memaksa.
"Stop, Bang! Kenapa kamu tega sekali padaku? Apa maumu sebenarnya? Dira yang harus kamu kejar, Bang, bukan aku!" Deva mulai ikut meninggikan suaranya.
Semakin lama, pejalan kaki dan beberapa pengguna jalan raya yang lain menjadi sedikit melambatkan kendaraan mereka, bahkan ada beberapa yang sengaja berhenti untuk menyaksikan perdebatan Dave dan Deva.
"Pulang, Mas ... Mbak ... diselesaikan di ranjang." Salah seorang lagi ikut berteriak menimpali.
Bunyi klakson pun semakin nyaring terdengar bersahutan. Kendaraan yang di belakang sudah tidak sabar ingin segera cepat bergerak maju.
"Bee, please! Kita pulang!"
Dave menggerakkan bola matanya ke jalan, seolah ingin memberitahu Deva jika mereka sedang menjadi sumber kemacetan. Deva tidak peduli, dia tetap berusaha menarik tangannya dari Dave.
"Oke, kalau begini maumu. Biar semua orang yang lewat tahu dan mengerti. Biar kita malu sekalian. Apa pun yang terjadi, berhadapan dengan siapa pun, aku tetap akan melindungimu, Bee. Orangtuaku bisa menentukan aku menikah dengan siapa, tapi mereka tidak akan bisa mengatur cintaku untuk siapa." Dave meninggikan suaranya, menarik tubuh Deva mendekati tubuhnya.
Tangis Deva semakin tak terbendung, pundaknya bergetar naik turun karena isaknya. Apa lagi yang bisa diucapkan Deva sekarang. Dave ternyata cukup nekat.
Dari sederetan mobil yang terjebak kemacetan, salah satu pengendaranya melongokkan kepala melalui jendela mobilnya.
__ADS_1
"Ada apa sih, Bang?" tanya pengemudi yang tidak lain tidak bukan adalah Dewa.
"Ada pasangan suami istri berantem, Bang." Pedagang asongan itu menjawab seraya menawarkan dagangannya dengan mengulurkan satu botol minuman dingin Pada Dewa. Sebagai gantinya, Dewa memberikan selembar uang dua puluh ribuan pada pedagang tersebut.
Dewa melirik jam digital yang ada di dashboard mobilnya. Sudah hampir lima menit mobilnya tidak bergerak sama sekali. Padahal daerah yang dilaluinya ini, harusnya bukanlah daerah yang rawan kemacetan.
"Siapa sih berantem pinggir jalan? Kenapa gak berantem di rumah saja. Kalau bininya cakep, aku embat juga nanti. Lakik gak ada otak, kurang akal. Tinggal gendong, bekep dikit pakai mulut. Leher kalungin berlian---beres pasti." Dewa menepikan mobilnya ke bahu jalan. Lalu keluar dari mobilnya dan berjalan ke depan mendekati sumber kemacetan.
Dewa memicingkan matanya, begitu melihat dua orang bertikai, tarik menarik tangan dengan mengeluarkan kata-kata yang membuatnya sedikit heran.
"Deva? Masak iya, sih?" Mata Dewa berakomodasi maksimal. Takut dia salah mengenali orang.
Dewa mempercepat langkah kakinya. Dalam jarak lima meter, matanya bisa menangkap semakin jelas sosok perempuan yang memang menghadap ke sisinya.Mengetahui Deva lah yang sedang bertikai, jiwa kepemimpinan Dewa muncul. Sebagai atasan yang baik, dia wajib melindungi bawahannya.
"Lepas!" Dewa menarik tangan Dave dari pergelangan tangan Deva dengan paksa.
"Tolong jangan ikut campur, ini masalah kami berdua!" tegas Dave dengan emosi yang masih ditahan.
Deva mengusap-usap pergelangan tangannya yang memerah dan nyeri akibat bekas cengkraman Dave.
"Deva adalah asisten pribadiku. Aku berhak melindungi dia dari siapa pun kecuali suaminya. Harusnya, kalau kamu memang pria sejati, kamu tidak boleh melakukan hal seperti ini di pinggir jalan. Selain tidak pantas, apa yang kamu lakukan, sungguh mengganggu pengguna jalan yang lain."
Deva hanya menunduk, sementara Dave menatap Dewa dengan tatapan tidak terima.
"Kamu mau pulang, kan? Ayo aku antar." Dewa mengatakannya dengan nada datar pada Deva.
Baru saja Deva ingin melangkah mengikuti Dewa, Dave kembali menahan pergelangan tangannya.
"Kamu pergi bersamaku, Bee. Aku akan mengantarmu pulang. Please, ini yang terakhir," pinta Dave dengan nada memelas.
__ADS_1