Sisa Rasa

Sisa Rasa
Bertemu si pembeli


__ADS_3

Gedung setinggi tiga puluh enam lantai milik Diamond Corp masih sangat lengang. Belum ada satu karyawan pun yang datang. Sejauh mata Deva memandang, hanya ada Daiman---security dinas malam yang sedang menunggu pergantian shift dan dua orang security yang lain.


Saat memasuki ruangan, Deva baru teringat kalau laptopnya tertinggal di meja Dewa dari kemarin siang. Dengan langkah lebar, Deva segera menuju ke ruangan atasannya tersebut. Untung saja, laptop tidak dipindah tempat. Deva pun segera mengambilnya tanpa menunggu sang pemilik ruangan.


Setelah kembali ke tempat kerjanya sendiri, sambil menyuapkan nasi goreng dan telur mata sapi ke dalam mulutnya, Deva terus fokus menyelesaikan pekerjaannya. Dia berharap, dengan begini, Dewa bisa memberikan kelonggaran untuk menyelesaikan urusan jual beli kemarin. Hari ini adalah kesempatan terakhirnya untuk mengurus semuanya, sementara besok, dia sudah harus terbang ke Bali untuk melakukan perjalanan dinas bersama Dewa.


Alarm di ponsel Deva berdering, itu artinya, saat ini masih pukul enam lebih tiga puluh menit. Beberapa jam lagi menuju pukul sembilan. Deva pun terus mencurahkan perhatian dan pikirannya pada pekerjaan.


Ponsel Deva mengeluarkan bunyi pendek dua kali. Pertanda ada pesan masuk di sana. Perempuan itu memberikan satu ketukan di layar ponsel, sehingga isi pesan tersebut dapat dibaca sempurna.


Sebuah pesan dari Ali---mengabarkan Amar akan melakukan operasi pengangkatan ginjal tepat pukul sembilan. Deva seketika menghentikan pekerjaannya sejenak. Matanya terpejam, sesaat memanjat doa dalam hati.


"Aku percayakan kesembuhan papa dengan kuasaMu, Ya Allah... Engkaulah sebaik-baiknya obat dari segala rasa sakit. Tuntun papa kembali dalam terang kehidupan."


Deva mencoba kembali fokus pada layar laptopnya. Beberapa kali menarik napas dengan berat dan beristighfar lirih. Bagaimana pun, dia tidak bisa lari dari perasaannya sendiri. Siapa yang sanggup tenang, jika satu-satunya orang yang dimiliki di dunia sedang bertahan antara hidup dan mati di atas meja operasi.


"Aku tidak bisa bekerja, aku benar-benar tidak bisa berpikir. Lebih baik aku izin saja," putus Deva.


Perempuan tersebut mengisi form izin mendadak. Setelah memastikan memeriksa dan memastikan semua sudah benar, Deva mencetak file tersebut. Kini dia hanya tinggal menunggu persetujuan dari Dewa.


Sembari saat itu tiba, Deva berusaha menyelesaikan pekerjaan yang diperkirakan akan dibutuhkan selesai hari ini.


Suara langkah kaki dan suara orang-orang berbincang mulai terdengar, pertanda sudah mendekati jam kerja efektif. Satu per satu penghuni lantai 36 berdatangan. Deva menyimpan semua pekerjaan yang dia lakukan hari ini ke dalam sebuah flashdisk. Lalu mematikan laptop dan berdiri menyambar tas dan selembar kertas yang masih berada di printer.

__ADS_1


Saat Deva menutup pintu ruangan, dia melihat Dewa baru saja memasuki ruangan kebesaran. Dengan rasa yang tercampur aduk, Deva melangkah menuju ruangan sang bos.


"Bismillah, semoga Pak Dewa kali ini tidak rewel. Aku sedang malas berdebat," batinnya.


Setelah mengetuk pintu, Deva langsung menekan gagang pintu ke bawah. Alih-alih mendapat sapaan dan senyuman ramah, yang ada, wajah Dewa nampak sangat dingin.


"Selamat pagi, Pak," ucap Deva, terdengar sangat basa-basi.


"Hemmm...." Dewa menjawab seenaknya tanpa melihat Deva.


Ada kekesalan yang sedari kemarin dia simpan untuk Deva. Mengetahui keinginannya untuk membeli mobil sang asisten gagal karena didahului pembeli lain, membuat Dewa merasa keki.


"Saya hanya mau meminta tanda tangan Bapak. Hari ini, saya mengajukan ijin mendadak." Deva mengulurkan kertas yang dibawanya tadi pada atasannya.


"Ada urusan pribadi yang tidak mungkin saya ceritakan secara detail pada Bapak. Yang pasti, saya ijin bukan untuk liburan, atau sekedar bersenang-senang."


Dewa melirik wajah Deva dengan ekor matanya. Mata perempuan itu begitu sembab. Kalau Dewa tidak salah menduga, hal itu bisa jadi karena Deva terlalu banyak menangis.


"Beri alasan yang bisa aku mengerti, Dev. Kamu sakit perut juga termasuk urusan pribadi," Dewa mencampakkan kertas tadi di atas meja.


"Bapak mengijinkan apa tidak? Jika tidak, saya tidak akan memaksa. Tapi besok, mohon maaf jika saya tidak bisa ikut mendampingi Bapak ke Bali."


"Lah, kok jadi kamu ngancem gini. Bener-bener aneh. Ya sudah, sana! Tapi ingat! Kalau sampai ketahuan kamu cuti hanya untuk bersenang-senang, aku pastikan kamu akan mendapatkan surat peringatan." Dewa mengiyakan dengan terpaksa. Daripada dia ke Bali sendirian, tentu tidak akan asyik.

__ADS_1


"Terimakasih, Pak. Ini data yang mungkin akan Bapak butuhkan hari ini. Saya permisi." Deva meletakkan flashdisk ke atas meja, lalu berbalik badan dan segera meninggalkan ruangan Dewa.


Dewa menaikkan satu ujung bibirnya untuk melampiaskan kekesalan. Setelah bertemu dan sering bersama Deva, otaknya mulai tidak waras. Dewa benar-benar butuh hiburan. Pria itu mengambil ponselnya, memilih salah satu kontak yang ada di sana, lalu mengajak si empunya nomor untuk sedikit bersenang-senang nanti malam.


Deva melangkah pelan memasuki gedung sebuah bank swasta ternama. Dibantu seorang security yang menyambut dengan ramah, Deva diantar menuju ruangan khusus untuk customer. Tidak berapa lama, seorang pegawai perempuan menghampiri Deva. Setelah berbincang dan menunjukkan berkas lengkap. Pegawai tersebut segera memproses pelunasan kredit Deva. Tidak sampai satu jam, surat tanda kepemilikan kendaraan sudah berada di genggaman.


Deva melirik jam dipergelangan tangannya. Masih belum ada pukul sebelas. Operasi Amar juga sedang berlangsung. Lagi pula, datang ke rumah sakit juga percuma. Jika tidak ada hal penting, jelas Deva tidak diijinkan bertemu dengan papanya. Deva memutuskan untuk menuntaskan urusan jual beli barang-barangnya---lebih cepat lebih baik.


Terlebih dahulu, dia mengambil mobilnya yang sudah selesai ke bengkel, setelah itu Deva menyewa dua pick up dari aplikasi online untuk pengiriman barang-barangnya yang lain. Setelah semua siap diangkut, ketiga mobil berangkat beriringan menuju alamat si pembeli. Hanya memakan waktu tiga puluh menit untuk tiba di sana.


"Ini benar alamatnya, kan?" Deva meyakinkan diri dengan melihat nomer rumah dengan alamat yang ada di layar ponselnya bergantian.


Deva mengetuk pintu rumah tua---seperti bangunan peninggalan belanda, dengan sopan. Tidak sampai menunggu lama, perempuan berusia tiga puluhan, menyambutnya dengan ramah. Rambut curly berwarna blonde, begitu serasi dengan garis wajah perempuan khas keturunan Eropa. Kulitnya putih, di pipinya terdapat bintik-bintik hitam yang menggemaskan.


"Cantik sekali," puji Deva, dalam hati.


"Deva, ya? Kirain, kamu sudah ibu-ibu. Ternyata masih muda banget. Masuk yuk, Dev! Kan aku sudah bilang jangan keburu-buru. Soalnya kemarin aku repot banget. Maaf ya kalau aku reject telepon kamu." cerocos perempuan pembeli dengan begitu ramah. Dia menggandeng pergelangan tangan Deva dengan akrab. Seperti sudah kenal lama.


"Oh, ya... panggil saja aku Kak Debora. Sepertinya, aku lebih tua dari kamu."


Deva ikut menghentikan langkahnya begitu Debora juga berhenti melangkah. Keduanya langsung duduk di atas sofa panjang.


"Kak Debora, bagaimana kakak bisa tahu kalau aku jual barang-barang itu? Dan kenapa bisa kakak Membeli semuanya? Di sini semua sudah sangat lengkap?" Deva memberanikan diri untuk bertanya. Matanya mengedarkan pandang ke sekeliling ruangan. Semua perabot lengkap, nuansa Eropa klasik jelas mendominasi dan terpampang nyata.

__ADS_1


"Ehmmm...." Debora seketika menjadi gugup. Seolah tidak siap dengan pertanyaan yang diberikan oleh Deva.


__ADS_2