Sisa Rasa

Sisa Rasa
Takut Hantu


__ADS_3

Karena kendaraannya masih berada di bengkel, Deva pun berangkat menuju tempat diadakannya acara pisah-sambut dengan menggunakan jasa ojek online.


Sesampainya di resto tempat diadakan acara, Deva tidak langsung menuju ruangan yang khusus di reservasi oleh Diamond Corp. Perempuan itu memilih merapikan penampilan terlebih dahulu ke toilet. Karena Deva tidak sempat berganti pakaian atau berdandan sesuai dengan perintah Dewa. Yang terpenting, dia sudah memastikan aroma tubuhnya masih mengeluarkan wangi yang khas menenangkan.


Merasa sudah segar dan rapi, dengan langkah pasti dan percaya diri, Deva memasuki ruangan yang dimaksud. Hampir sebagian besar orang sudah hadir di sana, termasuk juga Tino. Pria itu langsung berdiri menghampiri Deva. Keduanya mengambil posisi duduk bersebelahan di meja yang masih berisi dua orang yang lain.


Tidak berselang lama, Dewa memasuki ruangan dengan tampilan yang sudah berbeda dari saat terakhir bertemu Deva di kantor satu jam yang lalu. Celana jeans berwarna hitam dipadankan dengan kemeja slim fit warna biru muda dengan lengan digulung hingga sesiku. Rambutnya basah dan rapi sentuhan khas pomade. Kemunculan sosok itu, tentu saja mengalihkan perhatian karyawan bergender sama dengan Deva.


Dari lima belas karyawati perempuan yang datang, dua belas orang sedang berusaha menarik perhatian Dewa dengan melempar senyuman terbaik versi masing-masing. Ketiga perempuan yang tidak menunjukkan reaksi berlebihan tentu saja termasuk Deva dan dua orang senior di divisi kepegawaian.


Dewa langsung menempati kursi di samping Tino. Sebuah posisi yang sangat dekat dengan Deva. Pria tersebut langsung berbincang-bincang akrab dengan Tino. Sementara Deva terlihat bahagia berbalas pesan dengan seseorang. Bukan Dave, melainkan dengan seorang sipir rumah tahanan yang begitu baik padanya. Deva sering mendapatkan kabar tentang papanya dari sosok tersebut.


Kondisi Amar yang terus menurun, tentu saja membuat Deva selalu was-was. Pertemuan seminggu sekali dengan waktu melepas rindu hanya tiga puluh menit, sebenarnya sangat tidak cukup. Deva yang selalu sendiri menghadapi beratnya permasalahan hidup, tentunya butuh teman bersandar yang nyaman untuk sekedar berkeluh kesah.


Di tengah keramaian, Deva menitikkan air matanya. Hatinya tidak seramai kondisi ruangan di mana dia berada. Sebelum tangan Deva berhasil mengusap bulir bening itu, Dewa secara tidak sengaja menangkap kesedihan di raut wajah asisten pribadinya.


"Dasar lebay, cuman pisah kerjaan saja pakai acara nangis. Paling tiap hari juga ketemuan di luar. Cinta-cintaan. Sok manis sekali," umpat Dewa, dalam hati. Pria itu sepertinya salah mengartikan air mata Deva.


Acara yang digelar untuk membangun keakraban itu pun di mulai. Seorang staf direktur tekhnik membawakan acara dengan begitu ramah. Acara demi acara dilalui dengan santai.

__ADS_1


Hiburan live music yang diberikan menambah suasana menghangat di tengah obrolan per meja sembari menikmati hidangan yang dipilih masing-masing.


"Dev, kamu tidak lupa kan? Mana cinderamataku?" Tino menengadahkan tangan kanannya pada Deva.


"Tentu saja tidak. Saya yakin Bapak tidak melihat hadiah saya dari harganya. Saya memilih barang ini sambil membayangkan sosok Pak Tino. Semoga suka." Deva memberikan paper bag pada mantan atasannya tersebut.


"Bener-bener bermuka dua. Sama aku aja sok belagu. Ternyata sama Tino sampai berani mbayangin segala. Dasar perempuan munafik." Dewa kembali mengumpati Deva dari dalam hati.


Setelah menerima pemberian Deva, sekarang giliran Tino yang memberikan cinderamata pada Deva. Pria itu merogoh saku depan kemeja yang dikenakannya, dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Ekor mata Dewa terus memperhatikan gerak gerik kedua orang di sampingnya. Sedikit banyak, dia mulai penasaran tentang kebenaran adanya hubungan khusus di antara Deva dan Tino.


Menerima pemberian Tino, mata Deva seketika berkaca-kaca. Perempuan itu menggigit bibirnya begitu kuat. Tino yang sama sekali tidak menduga reaksi Deva akan seperti sekarang, hanya bisa menatap heran.


"Tentu saja, kenapa? Ada yang salah?" Tino bertanya dengan heran.


Deva menggenggam kalung itu dengan erat, lalu mendekapnya di dadanya. "Tidak ada yang salah. Saya permisi ke belakang sebentar, Pak."


Dewa mengernyitkan keningnya, dua alis tebalnya pun menyatu dengan sempurna. "Perempuan itu memang aneh, tadi senyum-senyum sendiri, lalu nangis, sebentar lagi pasti ngamuk-ngamuk." Dewa melirik langkah Deva yang terlihat terburu-buru.


Bukannya ke toilet, Deva malah berlari ke arah parkiran mobil, di bawah lampu penerangan yang temaram cenderung gelap. Deva menyandarkan badannya di sebuah mobil hitam dengan posisi parkir di bawah pohon rimbun.

__ADS_1


Semakin lama, tubuhnya semakin luruh ke lantai. Tangisnya pecah. Tangannya tetap menggenggam kalung pemberian Tino dengan posesif. Entah kebetulan atau memang Tuhan sedang menunjukkan kemurahan hatiNya pada Deva, kalung yang digenggamannya saat ini sama persis dengan kalung miliknya yang dijual dengan sadar untuk biaya pengobatan sang mama.


Masih terlintas diingatan Deva, saat itu mamanya harus dilarikan ke rumah sakit, namun uang deposit yang harus dibayarkan untuk mendapatkan tindakan tidak mencukupi. Dia menjual satu-satunya barang berharga yang dipakainya sejak kecil pada seorang dokter perempuan baik hati yang bersedia menolongnya tanpa banyak tanya. Kalung itu dibeli dengan harga yang sangat mahal. Meski pada akhirnya, nyawa mama Deva tetap tidak tertolong. Setidaknya, sudah ada perjuangan yang dilakukan untuk mengusahakan kesembuhan. Dan sekarang, melalui tangan yang lain. kalung berharga itu kembali padanya.


Di sisi lain, Dewa yang kini sudah berbaur dengan beberapa karyawan level satu, merasa ada sesuatu yang kurang. Saat Anthony---direktur teknik, memberinya nomer ponsel, barulah Dewa menyadari bahwa benda pipih pintarnya tertinggal di mobil.


Tanpa berbasa-basi, Dewa memutuskan untuk mengambil ponsel terlebih dahulu. Dia melangkahkan kaki dengan pasti menuju mobilnya. Mendekat lokasi yang dituju, indera pendengaran Dewa menangkap suara tangis pilu perempuan. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu mengedarkan pandang ke sekeliling. Tidak ada seorang pun yang tertangkap matanya berada di sekitar parkiran.


Dewa memberanikan diri memajukan langkahnya. Tangisan itu semakin jelas terdengar. Mendadak bulu kuduknya berdiri. Dewa pun mulai komat-kamit membaca surah-surah pendek yang terlintas di kepalanya. Semakin mendekati pintu mobil, kira-kira lima langkah, Dewa semakin gentar. Lengkap sudah ketakutan yang dirasakan Dewa. Sekarang, tidak hanya telinga yang mendengar, tapi matanya pun melihat sesok perempuan tanpa wajah. Dari segala arah, hanya rambut yang terlihat berantakan menutupi badan tanpa kepala.


Bibir Dewa semakin kencang melantunkan ayat kursi. Bukannya menghilang, sosok itu malah seperti menantang dirinya.


"Sana kamu, di sini bukan tempatmu. Kembalilah dengan tenang ke alammu. Jika ada yang masih membuatmu penasaran, pasti orang itu bukan aku. Cari sana. Tolong tinggalkan tempat ini," usir Dewa dengan suara gemetar. Pria itu melepas satu sepatunya, lalu melemparnya dengan keras ke arah sosok yang membuatnya takut . Benda tersebut tidak tepat mengenai sasaran.


Mengabaikan lemparan Dewa yang hanya melintasi lengannya, sosok itu mengusap wajahnya yang basah karena air mata, lalu merapikan rambut yang berantakan dengan gerakan cepat sambil bangkit berdiri. Dewa memperhatikan makhluk itu lebih seksama dan teliti.


"Astaga, Dev! Kamu benar-benar perempuan aneh! Hampir saja aku jantungan gara-gara kamu!" Dewa jalan agak pincang akibat hanya memakai satu sepatu.


"Ada yang sombong, tapi ternyata penakut," ledek Deva, tanpa merasa bersalah, perempuan tersebut melenggang santai meninggalkan Dewa yang sebenarnya masih ingin mencaci Deva.

__ADS_1


__ADS_2