
Rudi menatap Dira begitu tajam. Tidak seperti ini yang dia mau. Dia memang bisa dikatakan kejam. Namun, tidak seharusnya Dira mengikuti langkahnya sejauh ini.
"Papa sudah memberikan semua yang kamu inginkan, Dira. Cukup kamu jaga itu. Jangan ikut campur urusan Papa. Dan jangan lakukan apa pun yang malah akan membuatmu menyesal nantinya." Rudi sedikit menurunkan nada bicaranya.
"Tidak! Deva memang harus disingkirkan. Deva selamanya akan menjadi penghalang untuk hubungan Dira dan Dave. Bukankah kalau Deva tidak ada, Papa dan Papa Agas akan bebas? Tidak ada lagi yang akan membuat kalian terancam. Kali ini Deva masih selamat. Tapi Dira yakin, keberuntungan tidak akan selamanya melindungi dia." Dira mengepalkan tangannya penuh dendam.
Rudi menggelengkan kepala begitu kuat. Putrinya begitu banyak berubah. Meski pun dulu Dira memang egois dan seenaknya, tetapi dia tidak pernah merasakan ambisi yang sebesar ini sebelumnya.
"Hentikan semuanya, Dira! Cukup fokuslah pada Dave." Rudi berbalik badan dan meninggalkan kamar sang putri. Di depan pintu, pria tersebut berpapasan dengan Dave yang memang sengaja ingin mendengar pembicaraan antara bapak dan anak itu.
"Baru pulang, Dave?" sapa Rudi, sedikit salah tingkah. Tentu saja karena dia khawatir menantunya tersebut mendengar pembicaraannya dengan Dira.
"Iya, Om." Dave menjawab singkat.
Melihat Rudi sudah berlalu dari hadapannya, Dave pun langsung masuk ke kamar dan menutup pintu ruangan tersebut rapat-rapat. Kini sudah saatnya dia membuat perhitungan dengan Dira.
"Sudah aku katakan, Dira. Jangan usik Deva. Kenapa kamu tetap lakukan? Salah apa dia sama kamu?" Dave langsung mencecar Dira yang baru saja menyalakan televisi sambil mendudukkan bokongnya di tepian ranjang.
"Apa maksudmu, Dave? Tidak bisakah kamu berpikiran positif pada istrimu sendiri? Kenapa yang ada diotakmu terus dan terus Deva, Deva, Deva. Bangun dari mimpimu. Antara kamu dan Deva sudah selesai. Sadar diri siapa kamu, Dave. Kamu adalah anak dari seorang pengkhianat yang berperan penting dalam kasus papa Deva. Masih pantaskah kamu mendampingi dia? Kamu pikir, Deva akan memaafkan orangtuamu hanya karena cintanya pada kamu. Tidak akan, Dave. Deva perlahan akan menjauhimu. Melihatmu, akan mengingatkan kejahatan orangtuamu pada papanya."
__ADS_1
Rangkaian kata-kata panjang dan sinis meluncur begitu saja dari mulut Dira. Dia benar-benar tidak bisa membaca situasi. Padahal di depannya, wajah Dave seperti seorang singa kelaparan yang sudah siap untuk menerkam mangsanya.
"Perasaan dan sikap Deva padaku, sama sekali bukan urusanmu. Kalau akhirnya dia membenciku, hal itu tidak sedikit pun mengubah perasaanku padamu atau kepadanya. Pikirkan saja dirimu sendiri, Dir. Kalau sampai aku menemukan bukti keterlibatanmu. Aku akan menceraikanmu." Dave masuk ke dalam kamar mandi dan menutupnya dengan sedikit keras.
Hati pria tersebut sedang tidak baik-baik saja. Dugaan Agas terlibat semakin kuat. Bukan Dave takut dijauhi oleh Deva. Sama sekali tidak. Dave tidak sanggup melihat Deva terpukul dan mengalami kesedihan mendalam karena papanya. Agas yang selama Amar dipenjara seakan berperan menjadi sosok ayah bagi Deva, nyatanya Agas hanya melakukan hal itu demi menutupi kebusukannya.
***
Dewa kembali merenung. Dia memijat sendiri pelipis kepalanya yang memang sedikit terasa berat. Dua ujung bibirnya menyunggingkan senyuman tipis. Dia sedang menertawakan dirinya sendiri. Bersikeras tidak mengakui rasa cinta, tetapi tindakan yang dia lakukan sungguh melebihi ungkapan cinta yang dulu dia berikan pada Debora.
"Ya Tuhan, kalau memang aku harus jatuh cinta lagi, kenapa harus Deva? Masih banyak perempuan lain. Aku takut rasa ini sia-sia. Logikaku tidak menggapai cintanya yang tidak masuk akal pada Dave." Dewa memejamkan matanya. Berusaha untuk mengurangi sedikit lelah. Namun, bukannya tenang yang didapat. Wajah Deva malah tampak nyata tersenyum ke arahnya.
Pria tersebut buru-buru membuka matanya kembali. "Dev, aku capek. Stop senyum-senyum." ucapnya pada diri sendiri. Dewa sudah seperti orang yang kehilangan kewarasannya.
"Deva, cukup main-mainnya. Kamu istirahatlah, aku juga mau istirahat. Kita ketemu besok saja. Dan kita tidak akan berjauhan lagi." Lagi-lagi Dewa berbicara pada dirinya sendiri.
Tidak jauh berbeda dengan Dewa yang gelisah karena Deva. Dave pun merasakan hal yang sama. Pria tersebut sungguh tidak kuasa membayangkan betapa hancur dan marahnya Deva ketika Agas benar-benar dinyatakan bersalah nanti.
****
__ADS_1
Pagi pun akhirnya datang juga. Meski dua mata tidak terpejam untuk menanti tibanya. Pukul tujuh tepat, pengacara Dewa datang ke kantor polisi, mengurus semua prosedur lanjutan untuk kebebasan Dewa. Ketika semua sudah usai dan petugas sudah mengijinkan pria tersebut untuk meninggalkan tempat bersama Desta. Dewa masih saja mengulur waktu. Pasalnya, pagi ini Deva tidak datang untuk mengirimkan makan pagi untuknya. Padahal, Dewa berharap, perempuan itulah yang menyambut kebebasannya.
"Ayo, Wa. Kerasan banget sih di kantor polisi?" omel Desta sembari menarik tangan Dewa yang enggan beranjak dari tempatnya duduk.
"Sebentar lagi." Dewa menyalakan ponsel yang sudah dua hari tidak berada di tangannya.
Ketika layar ponsel sudah menyala dan siap digunakan. Hati Dewa malah menjadi gamang. Seperti biasa, dia harus mencari alasan yang tepat dulu untuk menghubungi asisten pribadi yang sudah berhasil mengacak-acak perasaannya itu.
"Wa, ayolah. Kita temui saja perempuanmu. Dia orang yang sama dengan yang aku bantu kasusnya, bukan? Sekalian saja aku mau menanyakan beberapa hal. Ayolah, jangan lama-lama." Desta sudah mulai kesal dengan Dewa yang benar-benar tidak secekatan biasanya.
Karena masih ragu untuk menghubungi Deva, Dewa pun akhirnya mengajak Desta untuk meninggalkan kantor polisi terlebih dahulu. Baru sampai di parkiran mobil, dia melihat Dave keluar dari kendaraan roda empat pria tersebut.
"Syukurlah kamu sudah bebas. Kenapa tidak menghubungi aku saja? Jadi bagaimana cerita sebenarnya? Siapa dibalik semuanya?" Dave menghampiri Dewa dan Desta yang tepat berada tidak jauh dari mobilnya.
Dewa menarik napas dalam. Sedikit berpikir dan menimbang-nimbang langkah yang harus dia lakukan. Dua orang yang terlibat ingin mencelakai Deva, jelas adalah orang yang berhubungan erat dengan Dave.
"Wa, siapa mereka? Jangan menutupi apa pun dari aku. Kurang lebih aku tahu, hanya aku tidak punya buktinya. Apa papaku dan Dira yang melakukannya?"
Mendapat pertanyaan yang begitu jelas dan langsung tepat mengenai sasaran. Membuat Dewa seperti tidak ada pilihan selain jujur pada Dave. Mengabaikan apa yang akan terjadi nantinya, Dewa pun mengulurkan ponselnya pada Dave. Meminta pria tersebut untuk melihat saja bukti yang membuatnya bisa bebas sekaligus yang menegaskan siapa orang-orang yang menginginkan Deva celaka.
__ADS_1
Raut wajah Dave semakin memerah. Rahangnya mengeras dan matanya pun berkabut. Beberapa kali pria tersebut menelan ludahnya sendiri dengan kasar. Satu tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jemarinya memucat.
"Game over, Dira." gumam Dave.