
"Menangislah, tumpahkan air matamu sepuasnya. Jangan ditahan sendiri. Apa yang akan kamu hadapi ke depan, butuh perjuangan panjang. Kamu tidak akan sendiri, aku akan selalu menemanimu, Dev." Dewa membelai rambut Deva begitu lembut.
Untuk beberapa saat, Deva terbuai. Perempuan tersebut membenamkan kepalanya semakin dalam pada dada bidang Dewa. Kondisinya yang rapuh, membuat Deva lupa tembok tebal yang selama ini dia bangun untuk menjarak hubungannya dengan Dewa.
"Kita pulang saja, ya. Biar nanti aku hubungi mama kalau kita tidak bisa menyusul mereka. Tenangkan dirimu. Aku akan pikirkan langkah selanjutnya. Kalau kamu tidak keberatan, bekerja samalah dengan Dave untuk mencari bukti lain yang lebih kuat. Menghadapi belut seperti mereka, kita harus sedia garam yang banyak."
Mendengar nama Dave disebut, Deva segera menjauhkan tubuhnya dari Dewa. Perempuan itu langsung mengusap pipinya yang benar-benar basah. Dengan tatapan sendu, Deva pun bertanya, "Apakah Bang Dave sama dengan Kak Debora? Apa dia tau kalau papanya terlibat?"
"Tidak, Dev. Dave sama sekali tidak tahu. Dia baru menaruh kecurigaan pada papanya dan juga pada Papa Dira. Kejadian mama Dave yang keluar dari rumah secara tiba-tiba, membuat Dave tergerak untuk mencari tahu tentang masalah apa yang sedang dialami oleh orangtuanya. Dia juga sedang menyelidiki apa yang melatar belakangi perjodohannya dengan Dira," jawab Dewa diakhiri dengan menggigit bibir bawahnya sendiri di ujung kalimat.
Deva tidak memberikan tanggapan apa pun. Perempuan itu malah langsung berbalik badan dan melangkah gontai menuju lobby rumah sakit. Dewa dengan sabar, mengikuti langkah Deva.
"Kamu berhak bahagia, Dev. Sudahi sedihmu," batin Dewa.
****
Detik demi detik berlalu terasa begitu lamban bagi Fira. Setelah dua jam perjalanan ditempuhnya karena sempat terjebak macet, akhirnya taksi yang ditumpangi Fira berhenti di rumah yang membuat perasaan perempuan lebih dari paruh baya itu semakin carut marut.
Turun dari taksi, Fira bergeming di depan pintu utama. Menatap sendu pada bangunan yang tampak terawat dan sama sekali tidak ada perubahan itu. "Maafkan kebodohanku, Shinta. Aku memang pantas merasakan hidup dalam penderitaan," gumamnya dengan sangat lirih.
Dave yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan Fira, segera membuka pintu utama. Hal itu dilakukan setelah dia mendengar suara kendaraan bermotor berhenti di depan area rumah lama Deva. Pria tersebut segera menghampiri sang mama dengan raut wajah khawatir.
__ADS_1
"Ayo kita masuk, Ma. Kenapa keadaan mama sampai begini?" Dave menuntun Fira yang tampak masih dalam kondisi melamun---melangkah mauk ke dalam rumah.
Dave mengajak mamanya duduk di sofa ruang tengah. Melihat keadaan Fira yang rapuh dan berantakan seperti sekarang, kemarahan dan kekecewaan Dave selama ini seketika luntur. Berganti dengan rasa iba. Meski belum tahu apa yang terjadi sebenarnya, jelas kali ini masalah orangtuanya pasti sangatlah rumit.
"Mama pasti belum makan. Mama makan, ya? Atau mama mandi dulu supaya segar?" tanya Dave sambil mengusap punggung Fira naik turun.
"Mama tidak lapar. Kenapa kamu bisa menempati rumah ini, Dave?" Fira mengedarkan pandang kesekeliling ruangan. Figura persegi panjang yang membingkai lukisan wajah Amar, Shinta dan Deva pada sisi kanan dinding ruangan, menjadi titik akhir pergerakan bola mata Fira.
"Dave ... apa kamu yang membeli rumah ini?" Fira kembali melemparkan tanya. Namun tatapannya masih fokus pada lukisan tadi.
"Dave merasa nyaman berada di sini. Meski sudah tidak mungkin lagi bersama Deva. Di rumah ini, Dave memiliki banyak sekali kenangan. Dave merasakan kehangatan dan keutuhan keluarga saat bersama Deva, Papa Amar dan juga Mama Shinta," jawab Dave.
Fira menundukkan kepala sembari memijat pelipisnya sendiri dengan sedikit kuat. Rasa pusing sebenarnya sudah ia rasakan sejak tadi. Entah karena belum sempat makan sejak pagi, kurang tidur, ataukah karena terlalu banyak beban pikiran yang dirasakan. Sungguh Fira tidak tahu harus memulai dari mana untuk menceritakan kondisinya saat ini.
"Mama sebenarnya kenapa? Apa yang membuat mama senekat ini? Jujur sama Dave. Jika mama terus menutup diri, Dave tidak bisa berbuat banyak untuk membantu mama." Dave meraih tangan Fira dan menggenggamnya dengan erat.
"Dave, mama malu. Mama merasa tidak pantas membawa kamu terlibat dalam urusan mama dan papa. Sudah cukup mama melukai hati kamu," lirih Fira tanpa membalas tatapan Dave.
"Dave mulai terbiasa merasakan kesedihan, Ma. Hati Dave sudah terlatih untuk mendengar hal-hal yang tidak menyenangkan. Bagi Dave, pelangi setelah hujan pun tidak lebih indah dari langit malam tanpa bintang."
"Masa depanmu masih panjang, Dave. Mama tahu, menikahkan kamu dengan Dira adalah sebuah kesalahan. Cobalah menjalaninya terlebih dahulu. Asal kamu mau sedikit membuka hati, hubungan kalian pasti akan lebih baik. Kalau kamu bersikap seperti ini terus, bagaimana bisa kamu menerima Dira? Dan berada di sini, jelas akan membuatmu semakin susah lupa dengan masa lalumu bersama Deva." Fira memberanikan diri beradu pandang dengan putra angkatnya itu.
__ADS_1
"Yang perlu kita bicarakan bukan tentang Dave, Ma. Jangan berusaha mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya, papa dan mama ada masalah apa? Dan satu hal lagi yang ingin Dave tanyakan, tolong jawab jujur, Ma. Apakah papa ada hubungannya dengan kasus Papa Amar?"
Pertanyaan Dave yang langsung pada tujuan, membuat Fira menjadi salah tingkah. Perempuan tersebut langsung menarik tangannya dari genggaman Dave. Lalu ia berdiri dengan posisi memunggungi Dave untuk menyembunyikan raut wajahnya yang benar-benar tampak sedang mati langkah.
"Mama jujur saja sekarang, atau jangan salahkan Dave jika harus mencari tahu kebenarannya sendiri," tegas Dave.
Fira tidak langsung menjawab. Saat ini, tidak ada lagi orang yang bisa diandalkan selain Dave. Melihat kenekatan Agas hari ini, membuat keberanian Fira menciut.
"Papamu selingkuh,Dave. Ini bukan yang pertama. Sudah berkali-kali papamu mengkhianati mama. Tidak hanya dengan satu orang, tapi beberapa perempuan. Mama capek kalau harus terus menerus mengalah dan sabar. Lagipula, akhir-akhir ini, sikap papamu semakin kasar." Fira mengatakannya masih dengan posisi membelakangi Dave. Perempuan tersebut seperti kehilangan muka di depan anaknya sendiri.
Dave menarik napas dalam. "Apa yang ingin mama lakukan sekarang?" tanyanya kemudian.
Fira menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Mama tidak tahu. Mama benar-benar bingung. Berpisah dengan papamu tentu bukan hal yang mudah. Reputasi baik, masih menjadi yang utama bagi papamu. Perceraian, tentu akan membuat citra keluarga kita menjadi buruk."
"Kenapa papa dan mama selalu menempatkan reputasi di atas segalanya? Di mana hati nurani kalian sesungguhnya? Apakah benar reputasi harus dibangun dengan cara mengorbankan orang lain? Hidup macam apa yang kita jalani sebenarnya, Ma?" Nada bicara Dave jelas menyiratkan kekesalan sekaligus kemarahan yang tertahan.
Fira menelan ludahnya dengan susah payah. Cecaran pertanyaan yang baru saja terucap dari bibir Dave, jelas tidak bisa dia jawab dengan gamblang.
"Ini belum seberapa, Dave. Jika kamu mengetahui lebih banyak tentang sepak terjang papamu, entah apa yang akan kamu lakukan? Mama sendiri sudah tertipu, papamu menyeret mama terlalu jauh masuk ke dalam permainan kotornya. Hingga mama tidak bisa menjadi ibu terbaik untukmu. Maafkan mama, Dave. Maafkan, mama." Fira meluruhkan badannya hingga bokong perempuan tersebut menyentuh dinginnya keramik.
"Dave akan melakukan yang terbaik untuk keluarga kita. Jika memang papa mengambil jalan yang salah, sudah seharusnya kita membantu papa meluruskannya kembali. Jujur sama Dave, ma. Ceritakan apa adanya. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Termasuk tentang isi kesepakatan antara papa dan papanya Dira," tegas Dave seraya duduk bersimpuh di depan sang mama.
__ADS_1