
"Mobil yang ditumpangi Bu Nina bersama suaminya, mengalami kecelakaan tunggal saat menuju pantai Senggigi. Rupanya, Pak Hafis sedang dalam pengaruh obat terlarang saat mengemudi. Setelah melakukan tes urine, baik Bu Nina dan Juga Pak Hafis positif mengandung zat psikotropika berjenis sabu."
Dira menggelengkan kepala begitu kuat. "Tidak, Bapak pasti salah. Mama saya tidak mungkin seperti yang Bapak katakan. Yang bersama mama juga bukan papa saya."
"Hafis?" Agas bertanya dengan tegas.
"Benar, Bapak. Pria yang bersama Bu Nina bernama Bapak Hafis. Luka yang dialami beliau tidak terlalu parah dibandingkan Bu Nina. Tapi mohon maaf, kami tidak bisa mempertemukan kalian dengan yang bersangkutan mengingat Bapak Hafis sudah ditetapkan sebagai tersangka penyalahgunaan zat psikotropika. Begitu pun dengan Bu Nina." Jelas polisi tersebut.
"Tidak, ini fitnah. Mama tidak mungkin terlibat hal seperti ini." Dira berlarian kesana kemari. Tidak tau langkahnya harus tertuju kemana.
Sementara itu, Agas tampak meneruskan perbincangan seriusnya dengan kedua petugas kepolisian. Pria tersebut mencoba menggali informasi lebih dalam. Sekedar memastikan diri bahwa pihak kepolisian tidak melakukan kesalahan sedikit pun pada keterangan yang disampaikan. Beberapa waktu berlalu, akhirnya Agas pun menyudahi perbincangan tersebut. Di samping sudah cukup. Dia melihat kondisi Dira tampak semakin kacau. Menantunya itu, terus menerus mengumpat sendiri sembari menyalahkan pihak kepolisian.
"Dira, tenang. Kamu tidak bisa membantu mamamu kalau seperti ini. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah tenang. Lalu hubungi papamu," ucap Agas, masih berusaha meredam emosinya yang sebenarnya sudah membuncah.
Mendengar kata tenang, yang ada dipikiran Dira adalah obat. Dengan gerakan buru-buru dan tangan sedikit gemetaran, Dira membuka resleting tas, untuk mencari obatnya di dalam sana. Seperti biasa, tiga butir langsung diambil dan ditelannya begitu saja tanpa air.
Agas mengernyitkan keningnya melihat apa yang dilakukan Dira. Sungguh dia tidak menyangka sama sekali jika menantu yang dianggap terpelajar dan terpandang, harus menenggak obat penenang untuk bisa mengendalikan emosi.
Dira mengatur napasnya. Sesaat kemudian, baru dia mengambil ponsel untuk menghubungi Rudi. Tidak membutuhkan waktu terlalu lama. Hanya dua kali nada sambung, pria tersebut sudah menerima panggilan dari sang anak. Istri terpaksa Dave itu tampak berbicara dengan serius. Bahkan terlihat seperti sedang beradu mulut lewat sambungan suara. Tidak sampai lima menit, panggilan diakhiri.
"Bagaimana, Dir?" tanya Agas.
"Papa secepat mungkin akan datang ke sini." Tatapan mata Dira menerawang jauh.
"Syukurlah. Papa pamit dulu, ya. Urusan Papa juga sudah menunggu. Kamu yang tenang. Nanti kalau urusan Papa selesai, Papa ke sini lagi." Agas mengusap lengan Dira dengan lembut.
Dira menjawab dengan sebuah anggukan. Tatapannya semakin kosong. Agas yang sudah membulatkan tekad pun dengan tega meninggalkan Dira sendirian, membuang jauh rasa ibanya. Hati pria itu sedang dilanda kekecewaan yang luar biasa. Bagaimana tidak? Nina---perempuan yang selama ini begitu disanjungnya hingga harus mengkhianati Fira terlalu dalam, malah menjalin hubungan dengan pria lain.
Ingin rasanya Agas tidak pecaya, tetapi bukti dari beberapa foto yang diberikan polisi tadi, membuatnya mau tidak mau harus menelan pil pahit kenyataan. Dia yang mengantar kepergian Nina dengan sukarela ke bandara, ternyata dibodohi dan dibohongi. Perempuan itu pamit padanya untuk mengikuti arisan sosialita bersama teman-teman yayasan amalnya. Namun, ternyata Nina terbang ke Lombok untuk bertemu Hafis---selingkuhan Nina yang berusia tidak lebih dari tiga puluh lima tahun.
__ADS_1
"Dasar perempuan jallang. Satu-dua lelaki saja nyatanya tidak cukup membuatnya puas," umpat Agas dalam hati.
Di sisi lain, tepatnya di kediaman Agas, Fira tampak memasukkan seluruh pakaian dan perhiasan yang dimilikinya ke dalam koper. Setelah mendesak salah satu orang kepercayaan sang suami, perempuan tersebut baru tahu kemana Agas pergi.
"Cukup semuanya, Fir. Pergunakan kesempatan ini dengan baik. Kamu jangan lemah. Kamu bukan rampok, menjauh dan menghilang sementara adalah jalan terbaik," ucap Fira pada diri sendiri.
Tidak lama kemudian, perempuan itu pun benar-benar pergi meninggalkan rumahnya menggunakan sebuah taksi online. Mobil yang ditumpanginya berhenti di sebuah tempat yang terdapat mesin anjungan tunai mandiri, perempuan tersebut mengambil uang semaksimal mungkin dari kartu yang diberikan oleh Agas. Dengan limit yang cukup besar, uang tersebut cukup untuk biaya hidup beberapa bulan ke depan dalam kesederhanaan.
"Aku tidak butuh kemewahan." Fira membuat kartu debit berwarna hitam bertuliskan prioritas itu menjadi beberapa bagian. Lalu dia membuangnya ke tempat sampah.
Fira kembali ke dalam taksi online yang sudah dicarter-nya khusus hari ini. Perempuan tersebut mengarahkan driver menuju rumah sakit di mana Dave bekerja. Tidak sampai empat puluh menit, Fira pun sampai di sana. Perempuan itu bergegas turun untuk menemui sang anak terlebih dahulu. Kantong plastik bertuliskan nama sebuah super market ternama yang berlapis-lapis yang ditentengnya dengan santai, tentu membuat orang yang melihat terkecoh dan tidak menyangka sama sekali jika isinya adalah lembaran seratus ribuan.
"Ma, tumben ke sini?" selidik Dave begitu melihat sang mama memasuki ruangannya.
Fira tidak menjawab dengan kata-kata, perempuan itu langsung memeluk Dave. Fira mengusap-usap punggung anaknya itu penuh cinta. Susah payah dia menahan agar air mata tidak sampai luruh membasahi pipi.
"Mama kenapa?" Dave mencoba merenggangkan pelukan sang mama agar bisa melihat raut wajah Fira dengan jelas.
"Bagaimana dengan pengobatan papa kalau mama pergi? Bukankah papa sering sakit-sakitan?" Dave mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
Fira tersenyum tipis. Agas memang sering sakit. Namun, sakitnya tidak seserius yang diceritakan pada Dave selama ini. Dengan obat-obatan yang rutin diminum setiap hari, kondisi Agas masih bisa dikatakan baik.
"Mama tidak akan lama, Dave. Hanya sebentar." Fira sebisa mungkin menghindari kontak mata langsung dengan anak angkatnya itu.
Dave mau tidak mau menerima saja apa ucapan mamanya saat ini. Seperti biasa, dia bukan tipe anak yang membantah dengan keras setiap perkataan orangtuanya. Dalam diam, kini Dave mulai berpikir untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Berbeda dengan kondisi Dira atau pun Dave, di waktu yang sama, Dewa dan Deva kini sudah berada di sebuah resto bersama dengan dua orang dari developer yang membawa berkas-berkas jual beli yang harus ditanda tangani oleh Deva.
"Selamat ya, Bu. Untuk penyerahan kunci unit, mungkin tiga hari ke depan. Karena kami akan memberikan bonus furniture lengkap. Sehingga Ibu dan Bapak, bisa langsung menempati tanpa harus repot-repot membawa barang dari luar," jelas salah satu dari debeloper di depan Deva.
__ADS_1
"Lebih tepatnya, saya saja yang akan menempati. kami bukan pasangan," tegas Deva sembari melirik Dewa karena tidak enak.
"Oh, saya pikir sudah resmi suami istri. Wah, beruntung sekali, masih pacaran saja sudah di---,"
"Kita sudah selesai, kan? Kalian siapkan saja semua dengan baik." Dewa buru-buru memotong ucapan dari developer yang terlihat banyak bicara tersebut.
Menyadari sedang diusir secara halus, kedua orang itu pun langsung berpamitan. Meninggalkan dua orang tertuduh pasangan yang sebenarnya hanya sebatas atasan dan bawahan tersebut.
"Dev, bagaimana urusanmu dengan Debora?" Dewa menanyakannya dengan hati-hati.
"Kak Debora belum menghubungi saya lagi, Pak." Deva memilih untuk tidak berkata jujur pada Dewa.
"Oh, ya sudah. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan ngomong sama aku. Apa pun itu, aku akan membantumu sebisaku. Bukannya aku ada perasaan khusus padamu, Dev. Aku ini jarang cocok dengan asisten pribadi. Tapi sama kamu, sejauh ini aku merasa pekerjaanmu cukup baik dan sangat membantuku. Aku hanya tidak mau, masalah pribadi mengganggu pekerjaanmu."
"Bapak sudah mengatakan hal ini pada saya puluhan kali. Saya tahu, kok. Bapak nggak mungkin main hati sama saya. Begitu pun sebaliknya. Jujur, ini membuat saya nyaman juga. Sama seperti sama Pak Tino dulu, kami membicarakan apa saja. Tapi tidak ada cinta di antara kita."
Jawaban Deva yang terdengar wajar di telinga orang lain. Nyatanya berhasil membuat Dewa melamun. Pria tersebut meraba dadanya sendiri.
"Nah, kan, kamu tahu perasaan Deva, kan? Makanya jangan sok-sok'an mau serius. Jangan lukai dirimu sendiri." Dalam diam Dewa mengingatkan hatinya sendiri.
****
Beberapa waktu kemudian, di saat Rudi sudah sampai di rumah sakit tempat sang istri di rawat. Dia mendapati Dira dengan kondisi mata yang teramat sembab dan berantakan. Rambutnya kusut dan acak-acakan, karena beberapa kali Dira mereemas rambutnya sendiri dengan kasar untuk meredam emosi.
"Bagaimana keadaan mamamu, Dir?" tanya Rudi dengan nada penuh kekhawatiran.
Dira menggeleng pasti. "Dokter belum memberikan keterangan resmi, Pa. Dira sama sekali belum bertemu mereka secara langsung. Hanya dari kepolisian itu." Dira menunjuk dua petugas kepolisian yang berjaga di depan ruangan di mana Nina berada.
Rudi menarik napas begitu berat sembari meraup wajahnya dengan kasar. "Pengacara akan mengurus semuanya. Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja."
__ADS_1
Dira memeluk Rudi dengan sangat erat. Namun, tidak lama, pelukan tersebut terpaksa harus dilepaskan. Seorang perawat mendekati mereka dan meminta keduanya untuk menemui ketua tim dokter yang menangani kondisi Nina.
"Jadi bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Rudi dengan tidak sabar begitu mereka sudah berada di ruangan dokter.