
Dira membalas tatapan tajam Dave dengan berani. Perempuan tersebut, tidak sedikit pun merasa tertampar dengan ucapan calon suaminya. Keangkuhan dan keegoisan yang dimiliki Dira, sungguh membuatnya menjadi mati rasa.
"Terserah kamu mau menghinaku seperti apa, Dave. Pada akhirnya, orang yang kamu rendahkan ini adalah istrimu. Dan perempuan yang kamu puja itu, hanya sebatas masa lalu. Setinggi apa pun kamu menempatkannya di hatimu, dia tetap tidak akan menjadi siapa-siapamu."
Dave mengedikkan bahu dengan bibir yang mencebik sinis. Dari awal pertemuan, hati kecilnya sudah merasa jika Dira bukanlah perempuan yang tulus. Di hari pertama pertunangannya, dia sudah bisa memastikan, seujung kuku pun Dira tidak akan mampu menggeser Deva dari hatinya.
"Aku tidak sabar untuk menikahimu, Dir. Sungguh, melihatmu seperti ini, aku jadi ingin membuatmu segera sadar dan merasakan---bagaimana rasanya memiliki tanpa dicintai. Kita lihat, sampai mana kamu akan bertahan. Jangan pikir semua akan lebih mudah setelah ini. Ikatan pernikahan, tidak akan membuatku tunduk pada semua kemauanmu. Aku mempunyai aturan sendiri."
Dira bergeming melihat Dave kembali melangkahkan kaki menjauhi dirinya. Perempuan itu lalu menghentakkan kaki dengan begitu kesal. "Kamu akan menyesal karena memperlakukanku seperti ini, Dav. Kita sudah berjodoh sejak dulu. Kapan kamu menyadari itu?" teriaknya
Dave masih mendengar teriakan Dira dengan jelas. Namun, pria itu enggan untuk menimpali. Bersikap masa bodoh dan pura-pura tidak merasa jika dirinya yang diteriaki adalah cara terbaik untuk menjaga emosinya saat ini.
Dira pun tidak bisa berbuat banyak, dia tidak lagi mengejar Dave. Perempuan tersebut sebenarnya juga sedang merutuki diri sendiri, semakin hari, dia semakin tidak bisa mengendalikan sikap dan lakunya. Api kemarahan semakin mudah meledak dan terpancing tanpa arah.
****
Tepat pukul lima lebih lima belas menit, Dewa, Deva, dan Deswita menginjakkan kakinya di Bandara Ngurah Rai Denpasar. Semua orang yang melihat, bisa jadi mengira ketiganya adalah sebuah keluarga. Dewa tampak seperti seorang anak dan juga suami siaga. Pria itu menggeret dua koper masing-masing di tangan kanan kirinya. Sementara dipunggung Dewa, terdapat tas ransel miliknya sendiri. Dua perempuan di depannya, melenggang santai tanpa beban apa pun kecuali tas yang menyampir di bahu. Sungguh perintah Deswita kali ini membuat Dewa tidak bisa berlagak berkuasa seperti biasa.
Ketiganya langsung masuk ke dalam mobil jemputan yang sudah ada di area pick up bandara. Mereka melanjutkan perjalanan menuju hotel tampat mereka menginap sekaligus tempat akan diadakan acara akad hingga resepsi pernikahan Dira dan Dave.
Deswita merasakan tangan Deva semakin basah dan dingin. Sekeras apa pun Deva berusaha untuk tegar, ternyata mata dan fisiknya tidak sanggup turut berbohong.
"Kamu tidak perlu memaksakan diri seperti ini, Dev. jika kamu tidak sanggup menjadi pendamping Dira, jangan dilakukan. Tidak ada keharusan untukmu melakukannya. Jangan membohongi diri, Mades pernah berpura-pura seperti ini, rasanya tidak hanya sekedar sakit. Namun juga membuat kita seolah kehilangan segalanya."
Deva menyandarkan kepala pada bahu Deswita. Kata-kata perempuan yang kini sudah menganggapnya sebagai anak itu memang benar adanya. Namun, bukan Deva namanya, kalau harus mundur dan mengingkari janji yang sudah terlanjur diucapkan.
__ADS_1
"Tidak, Mades. Saya ingin mencoba berdamai dengan kenyataan. Kalau pun saya menghindar, keadaan tidak akan bisa berubah lagi. Waktu tidak akan menunggu sakit di hati saya reda. Dia tetap berjalan, tidak peduli saya siap atau tidak."
Setelah Deva mengatakan hal tersebut, Deswita pun tidak mengatakan apa-apa lagi. Hanya tangan kirinya yang masih setia merangkul dan mengusap-usap pundak Deva penuh kasih sayang.
Memecah keheningan yang hanya diusik olek suara klakson dan deru kendaraan dari luar, Dewa memutar musik DJ favoritenya dengan volume lumayan keras.
"Ada club baru, Pak. Kalau Bapak mau, saya bisa mengantar Bapak nanti malam. Letaknya tidak jauh dari sini," driver menawarkan jasanya pada pria yang duduk di jok samping kemudi.
"Benarkah? Tapi namanya club pasti kurang lebih samalah." Dewa menimpali dengan santai.
"Club ini sedikit beda dari yang lain, Pak. Penari ote-ote di sana, tidak hanya perempuan, tapi juga ada laki-lakinya. Dan mereka tidak ada yang produk import, semua asli warga lokal." Driver menoleh sekilas pada Dewa. Melihat sedkkit ada ketertarikan di raut wajah penumpangnya tersebut.
"Ote-ote?" tanya Dewa, penasaran dengan istilah yang baru di dengarnya.
Sesaat kemudian, Dewa menoleh ke belakang, dilihatnya sang mama memelototkan mata dengan sempurna. sebuah kode keras---larangan yang diberikan sang mama, tidaklah main-main.
Sesampainya di hotel, Dewa, Deva, dan juga Deswita memasuki kamar masing-masing. Mereka sejenak bisa beristirahat atau langsung bersiap-siap untuk menghadiri acara. Malam ini, ada jamuan yang diadakan oleh keluarga Dira di tepi pantai.
***
Waktu berlalu begitu cepat bagi orang yang tidak pernah mengharapkan kehadiran atau terjadinya suatu moment. Demikian pula yang dirasakan Deva. Memakai dres panjang warna putih dengan lengan sesiku, dia melangkah enggan untuk meninggalkan kamarnya. Kini, Deva mulai meragukan ketegarannya sendiri. Jika hanya untuk acara jamuan makan malam saja hati Deva sudah seremuk ini, bagaimanakah dengan besok?
"Ya Allah, berikan aku ketegaran. Aku berusaha ikhlas menerima semua takdirmu. Jadi tolong, lapangkan hatiku untuk menerima kenyataan." Deva menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan sembari menekan gagang pintu ke bawah.
Saat pintu itu terbuka lebar, kedua bola mata Deva langsung disambut sesosok pria berwajah sendu. Tatapannya begitu banyak menunjukkan luka. Tanpa aba-aba, sosok yang tidak lain tidak bukan adalah Dave itu, memeluk Deva yang masih bergeming di ambang pintu dengan erat.
__ADS_1
"Pinjam bahumu sebentar, Bee. Aku lelah, sangat lelah ...." Dave memejamkan matanya, merasakan wangi dari rambut dan juga dari tubuh Deva yang khas. Begitu menenangkan, pelukan itu begitu dalam dan hangat. Tanpa sadar, Deva membalas pelukan Dave lebih erat lagi.
Menyadari mereka masih berada di posisi yang bisa dilihat dan membuat orang yang melihatnya salah paham, Dave merenggangkan pelukannya dan mengajak Deva agar kembali masuk ke kamar. Dave menutup pintu dengan menggunakan kakinya. Dia begitu enggan melepas genggaman tangannya pada Deva.
"Jangan pergi, Bee... aku tidak ingin melihatmu terluka," lirih Dave. Tangannya terulur untuk menyibak rambut Deva yang menjuntai menutup sebagian pipi perempuan cantik itu.
"Pergi atau tidak, aku sudah terluka, Bang," jawab Deva. Suaranya mulai bergetar.
Dave memindahkan posisi satu tangannya untuk menahan pinggul Deva dengan sangat posesif. Dada keduanya menempel sempurna tidak berjarak. Mereka saling melemparkan tatapan yang begitu dalam penuh makna. Cinta dan luka, tergambar jelas di sana.
"Maafkan aku, Bee. Harusnya aku tidak begini. Aku pasti membuat lukamu semakin menganga. Aku sama sekali tidak bisa mengingkari hatiku. Bawa jiwa dan cinta Dave kemana pun kamu mau. Hidupku dengan diriku yang sebenarnya, cukup sampai di sini saja." Dave mengecup kening Deva dengan lembut, membiarkan bibirnya, melekat lama di sana.
"Aku ikhlas jika kamu bahagia, Bang. Aku akan lebih sakit, jika melihatmu seperti kni." Deva memejamkan matanya, lalu menelan ludah dengan susah payah.
"Aku hanya seonggak daging yang kebetulan saja masih bernyawa. Jiwaku sudah terenggut oleh mereka yang merasa mampu menukar harta dengan rasa. Cintaku, cukup berhenti di kamu," lirih Dave.
Deva meletakkan jari telunjuknya pada bibir Dave. Kepalanya mengegleng dengan kuat. "Waktu masih panjang, Bang. Jangan memutus kisahmu sendiri. Kita akan berjuang bersama-sama keluar dari siksaan ini."
Dave menurunkan jari Deva dari bibirnya. lalu menggenggam tangan tersebut dengan erat. "Jika melupakanmu semudah saat jatuh cinta dulu, tentu aku tidak akan sehancur ini. Ajari aku membencimu, Bee. Sebutkan alasan yang bisa membuatku meninggalkanmu tanpa luka."
Bulir bening pun luruh tanpa aba-aba membasahi pipi Deva. Tangannya semakin erat memeluk tubuh pria yang masih dicintainya secara utuh.
Dave menggigit bibir bawahnya sendiri, dia harus mengendalikan diri dengan susah payah. Di dalam kamar berdua bersama Deva dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Menghadirkan setan yang tidak bosan merayunya untuk berbuat lebih. Namun, sisi baik Dave terus mengingatkan dan membisikkan kata "Jangan". Benar, karena dia tidak ingin menodai malam ini dengan napsu yang hanya akan menyamarkan ketulusan cinta Dave.
"Peluk aku, Bee...."
__ADS_1