
Cukup lama rupanya. Waktu berlaku begitu cepat. Aku sudah mengenal teman-teman sekelasku. Hari ini aku melihat sebah gitar tergeletak diujung ruangan. Entah milik siapa. Jam pelajaran dimulai dan semua berjalan begitu saja, sekarang saatnya istirahat. Semua teman ku keluar kelas berhamburan menuju ke tempat dimana aroma makanan bertebaran.
"Hei, liya" oh tidak aku melamun lagi, dan kali ini Pipit mengagetkan ku.
"Eh, iya pit gimana?" aku berpura-pura tenang. Tapi ternyata aku tak pandai berpura pura.
"Ngelamun terus" godanya pada ku. Aku hanya tersenyum. "Kantin yuk." ajaknya tapi aku sedang tak ingin
"Enggak dulu deh Pit, besok ya hehehe" aku menolaknya. "Kenapa? Nggak ada duit? Aku beliin deh" yah dia memang benar. Hari ini aku lupa bawa uang. Hmm biarlah aku sedanga malas.
"Ya enggak lah. Lagi males aja. Udha kamu sana aja sama si Tari tuh." aku berbohong lagi. "Ya udah deh kalo gitu, dulu ya" Pipit pergi bersama Tari, aku hanya mengangguk.
Entah ada apa. Tapi aku kembali melamun. Ada apa dengn ku ini. Ku rasa aku baik biar lah, ku nikmati saja lamunan ini. Tak terasa, waktu isirahat memang sangat singkat. Bel masuk telah berbunyi. Lebih dari 15 menit guru tak juga masuk. Membuat kelas menjadi ricuh. Biar lah, apa peduli ku.
Sebuah suara menarik perhatian ku. Ah, apa? Ini menenangkan, sangat nyaman. Aku menyukainya. Aku menengok ke arah sumber suara itu. Kuliat seorang lelaki memainkan gitar ditempat duduknya. Diana melambaikan tanganya tanda meminta ku untuk mendekan.
"Sini, Tiyo lagi main gitar ni" aku meihat mimik bibirnya samar. Karna aku tak begitu mendengar. Akhirnya aku mendekat. Itu Diana, dia duduk di depan Tiyo. Lelaki yang memainkan gitar tadi. Aku cukup dekat dengannya, seperti dengan Pipit dan Tari. Hanya bangkunya terlalu jauh untuk kami sering berbicara, mungkin hanya ketika istirahat atau jam kosong saja.
Aku telah sampai di kursi seblah Diana, kebetulah temannya hari ini tidak berangkat. Aku mendengarkan lalunan petikan gitar yang dimainkan Tiyo.
Aku tersenyum setiap kali dia memeitik gitar dan bernyayi. Kenapa dengan ku. Aku pun bingung. Tak hentinya aku terus tersenyum, sesekali bahkan ikut bersenandung. Aku bahkan melupakan lamunan ku tadi.
Tiba-tiba..
Kelas gaduh "Pak Herman dateng" sial, kenapa pak Herman datang. Aku bahkan belum puas. Aku kembali ke tempat duduk ku dengan sedikit kesal.
Pak Herman mulai menjelaskan meteri. Sebenernya pak Herman adalah guru seni. Hari ini memang siswa siswi sering diminta bernyayi.
"Tiyo, sini" pak Herman memanggilnya. Ternyata dia diminta untuk mengiringi teman teman yang akan bernyanyi.
Setiap kali dia memetik gitar aku terpesona. Entalah lah dia seperti menghipnotis pendengaran ku. Aku terus tersenyum seperti orang aneh. Biarlah aku sedang ingin.
Pelajaran yang menyenangkan telah berakhir dengan pak Herman yang sedari tadi menjelaskan tentang nada dan bernyanyi. Aku tak begitu mengerti.
__ADS_1
Sekarang sudah waktunya pulang. Aku terlalu santai untuk membereskan semua barang-barang ku. Teman-teman ku bahkan hampir tida ada lagi, hanya tersisa aku, Pipit dan Tari.
Kami keluar bersama. Tari dan Pipit berjalan didepan ku. Aku keluar dari pintu sambil melihat sekeliling, benar saja sudah sepi. Aku memang suka pulang terakhir karna tak pelu menunggu lama di parkiran, itu membosankan dan berisik menurut ku. Ku lihat diujung lo masih ada satu orang. Dia seangkatan dengan ku. Dia juga belum pulang pikir ku. Aku tak bengitu memperdulikannya.
Kami sampai di parkiran tepat setlah suasan tidak begitu ramai. Sehingga kami bisa langsung mengeluarkan motor dengan mudah.
Ini lah yang ku suka. Tak perlu mencari celah atau menggeser kendaraan lain untuk keluar. Aku sudah bisa langsung tancap gas dan keluar dari area sekolahan.
Licik bukan. Tak apa, selagi aku tak merugikan orang lain.
Aku mengendarai motor ku dengan kecepatan sedang. Aku melihatnya lagi. Lelaki dengan tas carrier yang ukurannya kecil itu. Yang aku lihat dilorong tadi. Dia berjalan, apa belum di jemput atau bagaimana. Ah sudah lah, ku abaikan pemikiran ku tentang dia lagi.
Aku melajukan motor ku melewatinya tanpa menyapanya. Karna memang kamu belum telalu mengenal.
***
Aku sampai di rumah dan merebahkan tubuh ku. Lelah sekali, aku hampir tertidur.
"Liya, ganti baju dulu baru tidur" aku terperanjat. Itu bun ku rupanya.
"Sayur pindang" wah kesukaan ku. Aku cepat cepat berganti pakaian dan makan siang.
Luar biasa ini sangat nikmat. Tapi ku rasa memang aku ya g sedang lapar. Aku memang tidak ke kantin hari ini meski 2 kalu jam istirahat.
***
Malam harinya, aku menerima pesan.
Selamat malam
Salam pramuka
Kami dari eskskul pramuka akan menginformasikan, bahwa besok kegiatan di adakan diluar ruangan.
__ADS_1
Kakak-kakak diharapkan berkumpul di lapangan utama.
Sekian
Terima kasih.
Kalian ingat kan, ini lah ektrakulikuler yang aku ambil. Organisasi kepanduan yang cukup besar di negara ini. Ini menyenangkan menurut ku, kalian harus mencobanya.
Kurebahkan kembali tubuhku. Aku ingat besok adalah lintas peminatan dan eskul. Pasti sangat melelahkan. Kupejam kan mata ku secara perlahan dan aku tertidur begitu saja.
Oiya, lintas peminatan adalah mata pelajaran yang dipilih selain jurusan yang diambil sesuai yang diinginkan bagi kurikulim baru saat ini. Aku berada dikelas IPA dan harus mengambil IPS atau Bahasa. Ku rasa cukup penjelasannya nanti kalian akan mengerti.
Pagi datang. Dan aku mengerjap perlahan. Sudah subuh rupanya. Aku bangun meski sangat malas. Kemudian mengambil air wudu dan menjalankan kewajiban ku. Biar meski aku belum baik kewajiban harus tetap berjalan bukan.
***
Pagi ini aku telah sampai di sekolah. Baru ada sekitar tiga motor di parkiran. Masih sangat sepi.
Aku berjalan menuju kelas dengan santai. Berjarak sekitar 100 meter dari kelas ku,aku kembalu melihatnya terlah sampai pula. Rupanya dia cukup pagi berangkatnya. Aku salut pada lelaki tas carrier itu.
Aku hanya tersenyum simpul dan masuk ke kelas ku. Tak lama berselang tema teman ku mulai berdatangan. Saat bel hampir berbunyi kami keluar kelas membawa tak masing masing. Sesuai kelas yang kami ambil ketika lintas peminatan aku mengambil bahasa ingris dan ekonomi. Sama seperti Tari. Tapi tidak dengan pipit, dia mengambil sosiologi.
Jam pertama adalah Ekonomi. Aku berjalan terburu-buru bersama Tari. Kami bertemu dipertengahan, aku sempat melihatnya sekilas. Lelaki tas carrier itu melewati kami. Aku masuk ke kelasnya. Ya, benar ini kelas lelaki tas carrier.
Guru Ekonomi ini sangat membosankan. Waktu terasa begitu lama. Dan akhirnya usai sudah. Saatnya istirahat. Aku dan Tari keluar dan pergi ke kantin. Setalahnya kami kembali.
Sedikit asing disini, karna memang bukan kelas kami. Kami digambungkan dengan kelas lain, sehingga tidak terlalu saling mengenal.
Bel masuk berbunyi. Kami kembali berhamburan untuk mencari kelas. Aku dan Tari tetap disini. Aku mengamati pintu masuk melihat mereka berlalu lalang. Keluar dan masuk ruangan.
Seketika mata ku kembali teralihkan padanya.
Bersambung..
__ADS_1
***
Mohon maaf jika ceritanya kurang menarik ya. author masih belajar heheh..