
Deva tidak langsung menjawab pertanyaan Deswita. Sekilas, dia memberanikan diri melemparkan pandang ke arah Dave. Sama-sama terluka, entah mengapa, Deva merasa Dave memiliki luka yang lebih dalam dibanding dirinya. Dan hal itu tentu saja membuatnya semakin merasa lemah dan tidak berdaya.
"Dev ...." Deswita mencoba memanggil Deva kembali.
"Iya, Mades. Saya mungkin memang butuh waktu untuk sendiri." Deva melepaskan genggaman tangan Deswita. Lalu dia langsung beranjak berdiri meninggalkan tempatnya.
"Kamu ikutin Deva, Nyil," Deswita berbisik lirih pada putra tunggal yang duduk tepat di sampingnya.
Dewa hanya menjawab perintah Deswita dengan sebuah anggukan. Sesaat kemudian, pria tersebut bergegas menyusul ayunan kaki Deva yang begitu lebar. Dewa sengaja tidak menghentikan langkah perempuan tersebut dengan cara memanggil atau mengejarnya dengan agresif. Di mata Dewa, Deva adalah perempuan yang selalu berusaha keras menjaga gengsinya di depan orang lain. Bukannya berhenti, bisa jadi Deva akan semakin lari menghindar.
Dave yang melihat sosok Deva meninggalkan tempat acara, seketika menghentikan permainan gitarnya. "Maafkan aku, Bee. Aku sudahi kisah kita, tapi tidak dengan cintaku. Aku janji tidak akan ada yang mampu menggesermu dari hatiku. Biarkan aku terluka sendirian. Siapa pun aku nantinya, aku akan membuatmu ceria kembali, Bee, aku janji." lirihnya dalam hati.
Semua mata tertuju pada Dave yang tampak jelas sedang melamun. Menyadari hal tersebut, Dira dengan sisa-sisa kesabaran yang hampir habis, mendekati Dave dan memberikan sedikit sentuhan di pundak suaminya itu agar tersadar dari lamunannya. Dave berdiri dan menghentakkan pundaknya agar tangan Dira menjauh dari bahunya. Pria tersebut menyenderkan gitarnya di kursi yang tadi didudukinya.
Sembari memaksakan senyumannya, Dira berkata, "Perhatian mereka semua sedang tertuju di sini Dave. Jangan melempar kotoran di wajah orangtua kita dengan keegoisanmu."
Dave segera mengenakan sarung tangannya kembali. Lalu dia mencengkeram pergelangan tangan Dira begitu kuat. Meski sedikit kesakitan, perempuan tersebut tetap mempertahankan senyumannya. "Aku ikuti permainanmu, Dir. Kamu ingin terlihat bahagia bukan? Ayo kita lakukan. Berharaplah kamu kuat dan tetap waras. Karena pura-pura bahagia, tidak cukup hanya dengan menggunakan satu wajah."
__ADS_1
"Jangan meremehkanku, Dave. Hati-hati membenci terlalu dalam. Antara benci dan cinta, itu tipis sekali bedanya. Aku tunggu saat kamu mulai kesulitan membedakannya." Dira menimpali ucapan Dave dengan sombong. Perempuan itu masih mempertahankan senyum elegannya yang palsu.
Sebagian tamu mengira, keduanya sedang melakukan percakapan mesra. Namun, tidak sedikit yang tahu dan peka betapa sinisnya tatapan Dave pada sang istri.
Master of ceremony kembali mengambil alih jeda yang sempat diminta oleh Dave. Begitu peka dan cepat tanggap akan kode yang diberikan oleh Dave, MC pun mengalihkan perhatian undangan dengan mengadakan game seru dengan berbagai hadiah yang memang sudah disediakan.
Diwaktu yang sama, Deva terus berjalan tanpa menoleh ke belakang, sesekali, perempuan tersebut terlihat mengusap bulir bening yang deras membasahi pipi. Tidak ada isakan yang lolos terdengar dari bibirnya yang mengatup sempurna. Hanya air mata itulah yang menjadi bukti betapa hatinya sedang terluka begitu parah.
Langkah kaki Deva akhirnya berhenti di sebuah bangku taman belakang hotel. Dia mendudukkan bokongnya di sana. Dengan lampu penerangan yang temaram, ditambah cahaya rembulan, garis kesedihan di wajah Deva masih terlihat kentara.
"Aku tidak akan mengganggumu. Anggap saja aku tidak ada di sini," ucap Dewa dengan cepat.Dia tahu, Deva pasti akan menyuruhnya pergi.
"Tidak mengapa, Pak. Saya berada di tempat umum. Siapa pun boleh berada di sini." Deva berniat menyingkirkan jas Dewa dari pundaknya, akan tetapi, atasannya itu menahan tangan Deva yang sudah bergerak ingin menyibak satu sisi jas.
"Pakai saja. Di sini sangat sepi. Dengan penampilanmu sekarang, jangan sampai ada orang yang menganggapmu perempuan yang tidak benar." Dewa buru-buru menjauhkan tangannya dari tangan asisten pribadinya itu.
Deva menengadahkan kepala menantang langit yang bertaburan bintang. Air mata nyatanya tidak mampu melunturkan riasan yang melekat pada wajah Deva. Kecantikan dan pesona yang dimilikinya, masih sanggup membuat Dewa harus memuji asisten pribadinya itu dalam hati.
__ADS_1
"Aku malu karena terlalu sering mengadu dan berkeluh kesah. Padahal bisa menikmati langit berhiaskan bulan dan bertaburan bintang seperti ini, juga sebuah kenikmatan. Apa aku ini termasuk hamba yang kufur nikmat?" Deva berbicara lirih pada langit.
Dewa ikut menengadahkan wajahnya ke arah langit. Dia mengerti, ucapan Deva bukan tertuju padanya. Dengan semua perselisihan dan perdebatan di antara mereka selama ini, sangat sulit untuk memulai pembicaraan normal kalau bukan karena ketidaksengajaan atau sedang membahas masalah pekerjaan.
"Ada banyak hal di dunia ini, yang diciptakan hanya untuk dilihat dan dikagumi---tanpa bisa kita gapai atau miliki. Melihatmu patah hati, membuatku semakin takut merasakan cinta begitu dalam. Pada akhirnya semua hubungan pasti akan berakhir, baik karena kematian atau karena perpisahan biasa.
Deva kembali menoleh ke arah Dewa. "Siapa yang bisa menepis datangnya cinta sehebat itu, sekali pun kita takut, ketika cinta sudah menyapa---lari ke lubang semut pun, kita tidak akan bisa menghindarinya."
"Setelah seperti ini? Kamu masih berniat untuk jatuh cinta lagi?" Dewa menatap Deva dengan begitu dalam. Dengan sadar, dia berjalan mantap mendekati bangku Deva dan mendudukkan bokongnya di sana.
"Bang Dave adalah laki-laki kedua yang mengenalkan cinta kepada saya setelah papa. Bang Dave, selalu ada untuk saya. Di hidup saya yang tidak mudah dan keras, dia tidak pernah mundur selangkah pun untuk menjauh. Saat keluarga saya jatuh, Bang Dave yang menyangga leher kepala saya agar tetap tegak menatap dunia. Jatuh cinta yang diajarkan, tidak sebatas pada rasa mengagumi fisik. Bang Dave membuat hati saya nyaman dan terikat dengan caranya yang sederhana." Deva menarik napas dalam.
Dewa menggigit bibir bawahnya sendiri. Ada rasa tidak nyaman saat mendengar Deva begitu memuji seorang Dave. Di tambah lagi, binar mata Deva terlihat begitu bersemangat saat membicarakan Dave
"Marahnya Bang Dave di telinga orang lain, mungkin terdengar seperti pujian. Halus, tapi sebenarnya penuh sindiran," tambah Deva.
"Apa kamu ingin aku mendengarmu terus memuji suami orang? Kalau itu membuatmu lega, lakukan saja. Aku siapkàn telingaku lebar-lebar." Dewa menggeser posisi badannya hingga membuatnya bisa melihat Deva dengan lebih intens.
__ADS_1