
Deva masih menimbang-nimbang untuk melakukan ide dari Dave. Ingin mengiyakan, tetapi takut dengan perasaan sendiri. Bagaimanapun, jelas Deva tahu kemampuan hatinya dalam menahan diri agar tidak terbawa perasaan dan suasana. Jika menolak, dia tidak sampai hati mengecewakan Deswita yang sudah teramat baik padanya.
"Ya sudahlah, semoga keputusan ini tidak salah." Deva menyambar ponselnya. Kemudian dia menghubungi seseorang untuk bertemu di suatu tempat saat akhir pekan besok.
Setelah mendapat kepastian dari orang yang dihubungi, Deva pun tampak menarik napas lega. Terselip doa dalam hatinya agar semua berjalan dengan baik tanpa menggoyahkan sedikit pun hatinya. Sungguh, ide Dave bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan Deva.
"Aku pasti bisa. Bang Dave kan bukan siapa-siapaku lagi," gumam Deva, memberikan semangat pada dirinya sendiri.
*****
Waktu yang dinanti pun akhirnya datang juga. Meski masih sedikit ragu-ragu, Deva tetap mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Koper berisikan baju ganti dan keperluannya selama akhir pekan, sudah siap di samping Deva yang tengah berdiri di teras rumahnya menunggu jemputan Dave dengan tatapan melamun.
"Sudah siap?" sapa Dave yang tiba-tiba saja sudah berada di depan Deva.
"Abang sudah dateng. Ngagetin saja." Pipi Deva seketika merona merah karena malu ketahuan melamun.
"Sudah sejam yang lalu. Sengaja tidak gangguin kamu yang lagi ngelamunin masa lalu." Dave sengaja menggoda Deva. Sengaja ingin mulai merobohkan tembok kecanggungan yang selama ini terbangun seiring dengan perpisahan mereka yang terpaksa.
__ADS_1
"Apa sih, Bang. Kita berangkat saja. Mereka sudah jalan duluan setengah jam yang lalu." Deva menggeret kopernya mendekati mobil Dave.
Keduanya pun segera berangkat menuju tempat yang dijanjikan. Perjalanan yang memakan waktu hampir lima jam karena kemacetan di beberapa titik, membuat Deva dan Dave melewati waktu berdua lebih lama. Meski kecanggungan jelas masih ada, namun mulai mencair perlahan. Sikap Dave yang membawa suasana sesantai mungkin, perlahan membuat Deva nyaman. Hampir sanggup meredam kegundahan hati yang sedari awal ide itu dicetuskan sudah membuat Deva takut akan terbawa perasaan sendiri.
"Kak Debora apa kabar?"Deva mengulurkan tangan kanannya sambil memajukan wajahnya sedikit untuk memberikan ciuman pipi kanan kiri pada perempuan yang datang bersama Dewa tersebut.
" Aku baik," balas Debora dengan ramah. Perempuan itu tentu saja senang Deva membuka hubungan baik dengannya. Setelah apa yang terjadi, dia tidak akan menyia-nyiakan kedekatannya dengan Deva kali ini.
"Apa kalian mau terus ngobrol di sini. Kita masuk ke dalam. Setelah dhuhur, kita makan siang sama-sama. Aku sudah lapar. Lagian kalian itu lewat jalan yang mana? Lama banget sampainya. Jangan-jangan kalian mampir ke Villa yang lain dulu," dengus Dewa mulai kembali seenaknya sendiri.
Deva dan Dave saling bertukar pandang, keduanya hanya tersenyum. Tidak berniat memberikan pembelaan diri. Setidaknya, Dewa sudah menunjukkan gaya bicaranya yang sepedas biasa.
Dave dan Deva mengikuti Dewa dan Debora tepat di belakang sambil membawa koper masing-masing. Jelas Dewa sedang membangun citranya sebagai pria yang sedang jatuh cinta. Namun, usaha pria tersebut rupanya tidak cukup. Beberapa kali Dave mendapatkan Dewa sedikit menoleh dan melirik ke belakang meski Debora ada di sampingnya.
"Dev, kamu sekamar dengan Debora di sini." Dewa menghentikan langkahnya di depan sebuah kamar. Lalu pria tersebut melemparkan pandangan matanya pada Dave. "Kamarmu ada di atas, di bawah hanya ada dua kamar. Satu untuk mereka dan satu untukku," ucapnya.
"Tidak masalah," jawab Dave. Meski dalam hati pria tersebut kesal juga dengan sikap Dewa.
__ADS_1
Keempatnya langsung menuju ke kamar masing-masing sesuai arahan Dewa. Padahal jelas masih ada dua kamar lagi di bawah, entah mengapa Dewa malah memberikan Dave kamar di atas.
"Dev, kamu yakin apa yang kamu lakukan bisa memulihkan rasa percaya diri Dewa?" tanya Debora setelah dia dan Deva sudah berada di dalam kamar.
Sebelum menjawab, Deva menarik napas dalam. "Insya Allah, akan saya coba, Kak. Saya minta ijin sama Kakak. Percayalah, saya tidak berniat untuk mengubah apapun hubungan yang terjalin di antara kalian."
Debora seketika menundukkan kepalanya. Apa yang dia lakukan pada Dewa sejujurnya juga bentuk sebuah perhatian dan kasih sayang. Sama seperti yang ingin Deva lakukan saat ini. Bedanya, mungkin dia orang yang paling buta saat sudah mencintai.
Tidak mendapatkan jawaban dari Debora, Deva pun beranjak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu. Tidak terlalu lama, dia keluar dari sana dan segera memakai mukenanya.
Debora terus memperhatikan Deva yang menjalankan ibadah empat rakaat disiang hari dengan khusyuk. Begitu banyak hal yang terbesit dibenaknya. Kekaguman terpancar jelas dari sorot matanya pada sosok Deva. Perjalanan hidup yang sangat berat, tidak menggoyahkan sedikit pun keimanan sosok yang menurutnya sangat tegar tersebut.
"Dev, boleh tidak Aku tanya-tanya tentang islam sama kamu?" Debora bertanya dengan hati-hati begitu Deva sudah selesai melipat mukena.
Deva tersenyum lebar mendengar pertanyaan Debora. Tentu saja karena dia bisa menduga arah pikiran lawan bicaranya tersebut. "Tentu saja boleh, Kak." jawabnya.
Kedua perempuan tersebut lalu keluar kamar, mereka berniat untuk menunggu kemunculan Dewa dan Dave di ruang tengah. Namun ternyata, kedua pria tersebut rupanya juga sudah keluar kamar terlebih dahulu. Mereka tampak berbincang di ruang makan yang terlihat jelas di tempat Deva dan Debora kini masih berdiri.
__ADS_1
"Obrolan para lelaki, kita tunggu saja sampai dipanggil," Deva mengajak Debora kembali masuk ke dalam kamar. Dia sengaja memberikan ruang dan waktu untuk Dave berbicara berdua dengan Dewa.
"Wa, jika kamu mencintai seseorang. Hal terbesar apa yang bisa kamu tunjukkan untuk membuktikan cintamu itu?" Dave menatap Dewa begitu tajam.