Sisa Rasa

Sisa Rasa
Kekecewaan Dave


__ADS_3

"Kamu tidak paham siapa papamu, Dave. Tidak semudah itu menentang papamu. Mama juga baru menyadari, ternyata sudah puluhan tahun mama hidup bersama seorang pria yang kejam." Fira mereemas ujung atasan baju tidurnya. Melampiaskan kekesalan yang muncul begitu dia mengingat sosok Agas secara utuh.


"Jika mama tidak mempunyai kuasa untuk menentang, setidaknya mama harus membentengi diri mama sendiri. Percuma saja mama menilai papa seperti itu. Toh pada kenyataannya, mama tidak berbuat apa-apa dan membiarkan kekejaman papa begitu saja," tukas Dave.


Fira terdiam. Perempuan tersebut memberanikan diri menengadahkan wajahnya untuk membalas tatapan mata Dave yang begitu intens.


"Sekali lagi Dave katakan, kalau memang mama berharap Dave bisa melindungi mama. Tolong ... Mama jujur sama Dave. Abaikan reputasi, gengsi, dan juga pikiran negatif mama sendiri. Sesungguhnya, orang yang paling sanggup menghancurkan kita---adalah diri kita sendiri." Dave mengajak mamanya kembali duduk di atas sofa.


"Jangan biarkan papamu menemukan keberadaan mama. Emosi papamu sedang sangat tidak stabil. Mama takut, bisa-bisa dia nekat menyakiti fisik mama," pinta Fira.


"Sementara, rumah ini adalah tempat yang paling aman untuk mama. Tapi menurut Dave, tidak seharusnya kita berlari dan sembunyi dari masalah terlalu lama. Mama harus menghadapi papa. Suka tidak suka---mau tidak mau. Sekecewa apa pun mama sekarang, mama pernah berada di posisi sangat mencintai dan mengagumi papa." Dave mengatakan dengan suara yang jelas dan tegas.


"Mama pergi dari rumah karena tidak tahan dengan perselingkuhan papamu. Di samping itu, mama ingin mencari tahu, siapa perempuan yang sanggup memberikan pengaruh yang begitu besar pada papamu. Bukannya menjadi lebih baik, semakin ke sini, papamu semakin dominan dan tidak terbantahkan. Mama yakin, perselingkuhan papamu dengan siapapun perempuan itu, berbeda dengan perempuan lain yang biasanya hanya diajak senang-senang."


Mendengar penuturan Fira,Dave menarik napas dalam dan menggelengkan kepala begitu kuat. Terlihat begitu harmonis di depan orang, nyatanya hanyalah sandiwara panjang yang menyesakkan. Dave kembali menatap mamanya. Tanggannya terulur untuk menggenggam perempuan yang dipanggilnya mamanya tersebut.


"Kenapa mama membuang waktu, tenaga dan pikiran hanya untuk mencari tahu siapa sosok perempuan itu? Kalau mama sudah ketemu, mama mau apa? Melabrak? Beradu mulut? Atau mau menyerang secara fisik? Cukup, Ma! Jika mama memang ingin meninggalkan papa, sudahi keingintahuan mama yang tidak penting itu. Dan jika mama masih ingin memperbaiki hubungan bersama papa, harusnya mama berpikir positif. Kalau perempuan itu mampu memberikan pengaruhnya pada papa, kenapa mama tidak bisa?" timpal Dave dengan panjang lebar.


Tentu saja Fira tidak berniat untuk menimpali ucapan Dave. Dia sedang mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut anak angkatnya itu. Pemikiran Dave tidak salah. Buat apa merendahkan diri di depan perempuan yang sudah berhubungan dengan Agas? Fira bukan pilihan. Juga bukan sekedar pelengkap status di dalam keluarga. Cukup dia selama ini menjadi boneka bagi Agas.


"Ma, mama belum jawab pertanyaan Dave. Apa papa terlibat dengan kasus Papa Amar?" Dave kembali mengingatkan pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin dijawab oleh Fira.


"Mereka bersahabat begitu lama, Dave. Betapa dekatnya papamu dan Papa Deva, kamu tentu tahu. Dave ... Jika mama jujur, maukah kamu berjanji untuk tidak membenci mama?" Fira menatap Dave dengan penuh harap.


"Kenapa Dave harus berjanji untuk sesuatu yang tidak pasti? Jelas Dave tidak akan bersedia. Sekarang terserah mama, tapi jika suatu saat nanti Dave menemukan kebenarannya dari orang lain, jangan salahkan jika rasa hormat dan sayang yang selama ini masih Dave jaga dan utamakan, akan hancur bergantikan kecewa." Dave melepaskan genggaman tangannya pada Fira.

__ADS_1


"Bukan maksud mama tidak bisa jujur, Dave. Hanya saja, mama takut salah. Lagipula, mama tidak memegang bukti apa-apa."


"Mama tidak perlu membuktikan apa pun. Jawab saja pertanyaan Dave tadi dengan singkat. Iya atau tidak? Cukup seperti itu, masalah bukti, biar Dave yang cari tahu."


Sebelum menjawab, Fira mengatur napasanya terlebih dahulu. "Bismillah, semoga aku tidak salah langkah Ya Allah. Mungkin memang sudah saatnya kami menuai apa yang sudah kami tabur," batinnya.


Perempuan lebih dari paruh baya itu menganggukkan kepala dengan pelan. "Papamu terlibat, Dave. Bahkan tidak sekedar terlibat. Siapa pun penulis skenario yang sebenarnya---peranan papamu dalam kasus itu sangatlah penting."


Kalimat pendek yang dilontarkan Fira sebagai jawaban, seketika membuat Dave berdiri. Pria tersebut mereemas rambutnya dengan kasar. Seberapa besar rasa kecewa yang hadir di benaknya sekarang, sudah tidak bisa ditakar lagi.


"Sanggupkah aku mengangkat wajahku di depanmu? Sekarang aku benar-benar malu, Dev," gumam Dave, begitu lirih. Seakan Deva sedang ada di depannya.


Fira pun ikut beranjak berdiri. Perempuan tersebut mencoba menyentuh lengan Dave dengan sedikit ragu. Namun, Dave buru-buru memundurkan langkahnya. Mengacuhkan tangan Fira yang masih menggantung di udara karena apa yang hendak dilakukan tadi, ditolak mentah-mentah oleh Dave.


Sementara Dave sedang sangat terpukul dengan secuil fakta yang baru saja didengarnya, Deva pun marasakan perasaan yang kurang lebih sama dengan Dave. Namun, perempuan itu memilih untuk berdiam diri di tepian kolam renang yang ada di halaman belakang rumah Dewa. Tatapan matanya menerawang jauh layaknya orang yang sedang melamun.


Sebenarnya Deva tidak melamun. Dia hanya sedang mengajak otaknya untuk berpikir lebih keras. Tekad untuk memulihkan nama baik papanya semakin kuat. Hanya saja, Deva masih bingung harus memulai dari mana. Pengadilan tidak semudah itu membuka kembali sebuah kasus. Apalagi hanya karena ada seseorang yang datang mengadu dengan bukti rekaman. Ditambah lagi, kasus itu sudah putusan beberapa tahun yang lalu. Terdakwa yang di vonis bersalah pun sudah meninggal.


"Dev, nanti malam, suruh Dave ke sini. Kita bicarakan masalah ini bertiga. Lebih cepat memang lebih baik, tapi kita tidak boleh gegabah. Langkah yang kita ambil, harus benar-benar matang," ucap Dewa, muncul tiba-tiba dan langsung duduk di samping Deva hingga membuat perempuan tersebut menyudahi kesibukannya bersama pikiran sendiri.


"Bukannya Bapak akan kembali ke Singapura?" Deva membalas tatapan Dewa begitu lembut.


"Aku general check up di sini saja. Sama saja kok hasilnya. Tidak masalah." Dewa mengubah rencananya dalam waktu sekejap. Mengabaikan tiket pesawat dan juga pembayaran biaya pemeriksaan menyeluruh yang sudah lunas terbayar.


"Bapak jadi repot karena saya," lirih Deva.

__ADS_1


Dewa menepuk pundak Deva sembari memberikan senyuman yang begitu mempesona. "Aku tidak repot sama sekali. Aku hanya ingin kamu fokus bekerja. Tunjukkan prestasimu! Suatu saat nanti, kamu pasti bisa naik level. Dengan kemampuanmu, bukan hal yang mustahil untukmu menduduki salah satu posisi direktur."


Deva membalas ucapan Dewa dengan sebuah senyuman. Lalu dia kembali memalingkan pandangannya ke sisi kolam. "Apa Bapak mempunyai kenalan pengacara yang biasa menangani kasus seperti ini?" tanyanya.


"Aku sudah memikirkan itu, Dev. Serahkan saja semua padaku." Dewa menurunkan tangannya dari pundak Deva.


Deva dan Dewa sama-sama terdiam. Kedua kaki mereka yang sengaja dimasukkan ke dalam air, kompak digerakkan perlahan untuk menimbulkan riak yang mengusik ketenangan air kolam tersebut.


"Sampai di titik ini, apakah kamu masih percaya dengan adanya cinta sejati?" Pertanyaan Dewa tersebut berhasil membuat Deva kembali menjatuhkan tatapannya pada sosok pria di sampingnya itu.


Sesaat, keduanya saling bertukar tatap. Namun sayang, ternyata Dewa tidak sanggup berlama-lama, pria tersebut memilih memalingkan wajahnya ke sisi vertikal garden yang membentang sepanjang sisi kanan kolam.


Di sisi lain, Dira yang baru saja memasuki apartemennya terlihat uring-uringan. Setelah sampai di rumah sakit tempat mamanya akan dirawat dengan intensif, perempuan tersebut memang sengaja meminta izin kepada papanya untuk pulang menemui Dave terlebih dahulu.


"Kemana kamu, Dave. Jangan-jangan selama aku tidak ada, kamu menemui mantan sampahmu terus-terusan. Kalian pasti menjalin hubungan kembali di belakangku." Dira kembali meninggalkan apartemen Dave. Dia menaiki taksi kembali menuju kediaman rumah Dewa.


Hanya berselang tidak lebih dari tiga puluh menit, Dira pun sampai di rumah sepupunya tersebut. Dengan tidak sabar, istri terpaksa Dave itu turun dari taksi dan berjalan sedikit menghentak kaki ke arah pintu utama. Dira menekan bel pintu berkali-kali. Menegaskan, bahwa dirinya sedang berada di puncak kekalutan.


Begitu salah seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuknya, Dira pun bertanya dengan ketus. "Di mana Deva? Apa dia juga tidak ada di rumah?"


"Mbak Deva ada di kolam renang, Mbak." Perempuan berusia empat puluh tahunan itu menjawab dengan kepala menunduk.


Tanpa menunggu lama, Dira pun segera menghampiri Deva. Melihat perempuan yang dicarinya itu tampak sedang berbincang akrab bersama kakak sepupunya. Membuat Dira semakin kesal. Dan ....


Byurr!

__ADS_1


__ADS_2