
Sebuah mobil mewah melaju dengan kecepatan tidak lebih dari 100 kilometer per jam di padatnya jalan raya di ibu kota.
Setiap mobil ini melewati jalan, pasti orang-orang banyak yang menoleh dan melihat mobil ini.
Koenigsegg, mobil yang langka di Indonesia, tidak banyak orang kaya yang membeli mobil ini, alasannya karena terlalu mahal, mereka lebih memilih membeli sesuatu yang lain daripada membeli mobil ini.
“Sayang, aku ingin tahu semua harga mobil yang kamu punya,” celetuk Fara melihat Alseenio yang santai mengendarai mobil.
Alseenio menoleh ke Fara. “Untuk apa? Kamu mau mobil yang lain?“
“Tidak, untuk apa membeli mobil? Kamu saja sudah memiliki banyak mobil. Lagi pula, aku jarang menggunakan mobil.“
Melihat jalan kembali, Alseenio bertanya, “Lantas, mengapa kamu menanyakan hal itu?“
“Aku mau tahu saja, soalnya banyak sekali mobil yang kamu punya, dan mobilnya terlihat tidak biasa. Aku saja baru lihat mobil ini, tak pernah satu kali pun aku melihat mobil yang serupa dengan ini di jalan raya. Pasti mobil ini mahal, kan?“ Fara melipat tangannya dan menatap Alseenio dengan tajam.
Aura dingin terpancar dari tubuh Fara pada di akhir kalimat, aura itu menyelimuti tubuh Alseenio dan membuat bergidik ngeri.
“Emm … i–iya, mahal mobilnya.“ Alseenio menggaruk pipinya tampak takut.
“Dari mobil ini dahulu, harganya berapa?“ tanya Fara sambil memandangi Alseenio dengan wajah yang serius.
“Du–dua puluh tu–tujuh miliar,” ucap Alseenio terbata-bata.
Mendengar harga mobil ini, Fara terkejut. “Semuanya itu uang?!“
“Iya, itu uang.“
Fara menggelengkan kepalanya, ia tidak mengerti dengan Alseenio yang mau membeli mobil semahal itu.
Ia sangka mobil ini harganya tidak jauh dengan harga mobil yang dibelikan Alseenio untuk orang tuanya dan dirinya, ternyata itu jauh lebih mahal dari mobil-mobil tersebut
Setelah itu, Alseenio memberi tahu Fara semua harga mobil-mobil yang ia miliki saat ini.
Respons Fara terlihat masam dan sedikit marah, kemudian ia menasihati Alseenio untuk tidak menghamburkan uang dan menjadi hemat.
Alseenio belum memberi tahu tentang semua kekayaan yang ia punya kepada Fara, juga seputar semua pekerjaannya.
“Kamu tahu, Sayang? Walaupun aku beli puluhan atau ratusan mobil dengan harga puluhan miliar, itu tidak akan menghabiskan uang yang aku punya sekarang,” Alseenio memberitahukan tentang fakta ke Fara sambil fokus mengendalikan mobil.
“Benarkah?“ Wajah Fara langsung berubah, ia melirik Alseenio dengan sorot mata yang tidak percaya. “Aku tidak tahu dari mana uangmu berasal, apakah menjadi Yituber bisa membeli semua yang kamu punya?“
__ADS_1
“Enggak, bukan dari penghasilan Yitub. Kamu mau tahu?“ Alseenio tersenyum aneh terlihat mencurigakan.
“Mau, tetapi melihat senyummu itu pasti ada maunya, kan?“
Fara sudah mulai hapal dengan senyuman yang ditampilkan oleh Alseenio di beberapa momen, senyuman aneh seperti sekarang ini tidak jauh dengan permintaan aneh yang akan Alseenio lontarkan.
“Benar, cium pipi aku dahulu sampai tujuh kali, nanti aku beri tahu tentang asal-usul uang yang aku dapatkan.“
“Oke,” Fara menjawab dan menerima permintaan Alseenio.
Sangat sulit bagi Fara untuk menolak keinginan Alseenio yang menyangkut hal seperti mencium, pria ini tampaknya telah tergila-gila oleh ciuman Fara.
Bagaimana tidak, setiap kali Fara mencium Alseenio itu selalu mengeluarkan perasaan lembut dan aroma wangi yang sangat wangi dan cocok dengan Alseenio.
Wajar saja apabila Alseenio kecanduan dan selalu ingin dicium oleh Fara, terlebih melihat visual Fara yang sangat luar biasa, semua pria 100% pasti ingin dicium oleh wanita yang secantik Fara, tidak ada satu pun pria yang menolak ciuman dari Fara, bahkan bayi sekalipun.
Segera, bibir Fara yang lembut dan kenyal itu menyentuh pipi Alseenio, itu mengecup pipi hingga berkali-kali, tampaknya lebih dari 7 kali ciuman pipi.
“Lebihnya adalah bonus, hehe,” Fara terkekeh.
Sebuah senyuman terbentuk di wajah Alseenio, ia senang dengan kecupan pipi dari Fara, hatinya terasa berbunga-bunga.
“Sayang, kamu tidak lagi berbohong, kan?“ Fara terpana dan ia meminta kepastian akan ucapan Alseenio tentang sahamnya.
“Benar, aku serius, Sayang. Tidak mungkin aku bercanda tentang masalah ini.“ Alseenio membelai kepala Fara sambil menyetir mobil.
Fara memandang Alseenio perlahan, manik matanya bergetar dan terlihat rumit.
Saat ini, Fara merasa bingung dan bahagia di waktu yang bersamaan. Pasalnya, ia sama sekali tidak pernah berpikir untuk memiliki pacar orang kaya, ia menerima apa adanya Alseenio. Meskipun Alseenio miskin, ia tetap mencintai Alseenio.
Ia juga tidak pernah menduga bahwa Alseenio akan sangat kaya, bahkan memiliki saham di banyak perusahaan besar.
Namun, Fara bingung karena orang kaya biasanya tidak cukup hanya dengan memiliki 1 wanita, ia takut Alseenio seperti itu.
Melihat wajah Fara yang kelihatan salah, Alseenio bertanya dengan lembut, “Sayang, ada apa? Apa yang kamu pikirkan? Kamu tidak senang calon suami kamu adalah orang yang kaya?“
“Tidak,” Fara menjawab seraya menggelengkan kepala, “aku takut kamu tidak merasa cukup walau sudah memiliki aku, dan ingin menambah wanita lain.“
Pandangan Fara terasa sedih dan khawatir ketika menatap sepasang mata Alseenio.
“Sayang, dengarkan aku.“ Alseenio segera mengambil tangan kanan Fara dan mengusapnya dengan halus. Ia masih fokus menyetir, tetapi wajahnya tampak serius kali ini.
__ADS_1
Dengan hembusan napas panjang, kemudian Alseenio mengungkapkan isi hatinya dengan suara yang penuh kelembutan, “Kamu adalah wanita yang berjasa di dalam hidupku, aku tidak akan mengkhianati janjiku sendiri. Juga, aku tidak seperti pria yang lain yang tidak cukup dengan satu wanita. Aku sangat bersyukur bisa memilikimu dan aku tidak akan menyia-nyiakan dirimu, kamu tidak akan tergantikan dan akan menjadi satu-satunya wanita yang aku punya.“
Mata Fara berkaca-kaca, ia terkesan dengan perkataan Alseenio. “Aku juga bersyukur bisa bersamamu, Sayang. Aku akan selalu menjadi milikmu sampai kapan pun, bahkan jika kamu bereinkarnasi.“
Setelah mengatakan itu, Fara menggenggam erat tangan Alseenio yang membelasi punggung tangannya, dan ia tersenyum ke arah Alseenio.
Melihat Fara yang kembali ceria, Alseenio merasa lega.
Keduanya fokus di kendaraan dan mobil melaju menuju Mall SBCD.
Sesampainya di sana, mereka pergi ke tempat permainan Temzon terlebih dahulu, sebab Fara ingin menikmati waktu berdua dengan Alseenio dengan bermain bersama, bermain permainan.
Ketika selesai bermain permainan bola basket, tembak-tembakan, dan golf, mereka pergi ke area mesin boneka capit.
Tepat begitu mereka masuk ke dalam area mesin capit, tiba-tiba Fara berhenti dan menoleh untuk melihat salah satu mesin capit.
“Sayang, aku ingin boneka itu, apa boleh?“ Fara menunjuk ke arah boneka kuda poni berukuran sedang berwarna pink yang ada di dalam mesin boneka capit.
Matanya tampak memohon, itu mengeluarkan pancaran pesona yang sangat imut, dan membuat Alseenio tidak tahan untuk tidak memegang pipi Fara yang ditutupi masker ini.
Alseenio mencium kening Fara dan mengangguk pelan. “Baiklah, aku akan mendapatkan boneka itu untukmu.“
Kemudian Alseenio dan Fara pergi ke depan mesin capit dan Alseenio mencoba untuk mendapatkan boneka yang diinginkan Fara.
Dengan kegigihan yang kuat dan pantang menyerah, akhirnya Alseenio mendapatkan mesin capit ini setelah puluhan kali mencapit.
Fara langsung kegirangan dan ia memeluk serta mencium pipi Alseenio berkali-kali.
Puas bermain di tempat permainan Temzon, sudah waktunya untuk makan siang.
“Sebentar, aku sepertinya kenal dengan orang itu.“
Pada saat mereka berjalan menuju restoran, Alseenio melihat sesosok pemuda yang tampak familiar.
Fara melirik pemuda yang ditatap oleh Alseenio sesaat, kemudian ia bertanya sambil menengadahkan kepalanya untuk melihat mata Alseenio, “Kamu kenal dengan pemuda yang berdiri di tengah lorong itu?“
“Ya, dia tampak tidak asing di mataku. Lebih baik kita dekati dia.“
“Oke, Sayang.“
Berikutnya, mereka berjalan perlahan dan mendatangi seorang pemuda yang masih berdiri di tengah jalan ini terlihat bingung.
__ADS_1