
“Berbeda sekali dengan di serial animenya.“ Boti melirik mereka berdua penuh keheranan.
“Pastinya berbeda, mereka berdua pria, sedangkan di anime karakternya adalah wanita pendek yang imut dan lucu,” Bang Luffi memberi tahu informasi tersebut kepada Boti.
“Oh, begitu.“ Boti mengangguk mengerti. “Mengapa kalian berdua ingin cosplay karakter wanita? Apa kalian ingin menjadi waria?“
“Tidak-tidak.“ Mereka berdua serempak menggelengkan kepalanya.
“Kami memang suka cosplay karakter wanita dari berbagai anime, tetapi bukan berarti kami berdua ingin menjadi waria, kami murni ingin menyalurkan hobi kami yang suka membuat kostum karakter wanita,“ Salah satu Pria yang mengenakan kostum pembantu ini menjelaskan maksud dari mereka yang seperti ini.
Penjelasan pria ini mudah dimengerti oleh Boti dan yang lain. Mereka berdua hanya bertujuan untuk mengeluarkan hobinya dan menunjukkan karya yang mereka buat di sini.
“Jadi, kalian berdua ini membuat kostum sendiri? Bukan sewa ataupun beli?“ Fandick kali ini yang bertanya, ia selalu menanyakan hal ini ketika mewawancarai para cosplayer.
Mereka berdua menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
“Omong-omong, kalian berdua namanya siapa? Dari tadi kita bertanya-tanya, tetapi belum mengetahui nama kalian.“ Boti menyadari ia belum menanyakan nama dari keduanya.
Pria yang menjelaskan tadi mendekatkan mulutnya ke mikrofon yang dipegang oleh Boti dan berkata, “Aku Udin Pesalum.“
“Keren juga namanya! Pesalum itu singkatan dari kata pegang, isap, dan kulum, kan?“
Mendengar ucapan Boti dengan wajah yang polos dan lugu langsung membuat orang-orang yang ada di sekitar wawancara meledak tertawa.
“Sialan, Boti! Aku sedang minum, jangan membuatku tertawa, haha!“
“Humorku hancur karena Boti, bajingan!“
“Hahaha, ada-ada saja!“
Alseenio yang mendengar ini pun sempat tertawa, tetapi ia langsung menahannya, ia tidak boleh menertawakan orang lain, terlebih nama orang lain.
“Haha, bukan, Pesalum itu nama panggilan dari teman-teman,” ucap Udin sambil tertawa.
Ia tidak merasa dihina, justru terhibur karena lelucon dari Boti.
“Oke-oke, kalau kamu? Namanya siapa?“ Boti menjulurkan mikrofon ke arah pria yang satunya.
“Aku Petot Max,” dengan percaya dirinya pria ini menyebutkan namanya.
“Jangan bilang itu sebutan nama dari teman-teman juga?“ duga Boti memandang pria yang berpakaian seperti pembantu di anime dengan wig berwarna pink.
Petot mengangguk satu kali. “Petot memang nama panggilan dari teman, kalau Max adalah nama pemberian dari orang tuaku.“
“Mengapa disebut Petot dan Pesalum?“ Bang Luffi penasaran nama panggilan mereka berdua yang diberikan teman-temannya.
“Entahlah, aku tidak tahu. Mereka kelakuannya memang random dan aneh.“
Mereka berdua juga tidak tahu kenapa mereka dipanggil dengan sebutan itu.
“Kembali ke topik, biaya membuat kostum ini berapa rupiah?“ tanya Fandick yang mengembalikan pembicaraan mereka ke jalur yang seharusnya.
“Sekitar tiga juta untuk dua kostum ini,” jawab mereka setelah mereka berdua mengingat lagi uang yang dihabiskan untuk kostum yang dipakai.
“Wow! Mahal juga! Asli, keren!“ Boti memuji mereka berdua dan memberikan jempol tangan.
Wawancara terus berlanjut sampai Boti terakhir bertanya tentang Instagrem mereka berdua untuk dipromosikan sebagai imbalan karena bersedia diwawancarai.
Setelah mewawancarai Rim dan Ram, mikrofon dialihkan kepada Bang Luffi lagi, tetapi Boti tetap bergantian bertanya, Alseenio pun sama, ia mendapatkan giliran untuk bertanya ke target yang diwawancarai.
Banyak target wawancara yang berkeliaran, bahkan mereka mewawancarai dua anak kecil yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 6.
Pada saat ini, mereka sedang mewawancarai dua wanita dewasa yang terlihat cantik, tetapi tidak terlalu, cukup cantik bagi orang lain. Pada informasi data yang ditampilkan Sexeyes itu menunjukkan poin mereka berdua hanya berada di 70 poin ke atas.
Tepat ketika mereka sibuk mewawancarai dua wanita cantik ini, Alseenio melihat sebuah cairan berwarna merah yang mengalir di betis salah satu wanita yang berkostum ini.
Dengan gegas, Alseenio membisikkan sesuatu ke telinga Bang Luffi yang tengah mendengarkan jawaban dari dua wanita ini.
Setelah dibisikkan, Bang Luffi menoleh ke bawah, dan benar apa yang dibilang Alseenio, salah satu wanita ini ada yang bocor.
Orang-orang belum menyadari hal ini, sebab mereka fokus ke wajah dari dua wanita tersebut.
Bang Luffi langsung bertindak, ia menginstruksikan kepada Timnya untuk berhenti merekam video lalu meminta timnya untuk menyerahkan jaketnya yang sempat dilepaskan tadi.
Setelah itu, Bang Luffi melebarkan jaketnya untuk menutupi pandangan orang-orang agar tidak melihat bagian belakang tubuh dari salah satu wanita cantik ini.
Tim Bang Luffi pun ikut membantu, mereka memberikan tisu dan meminta wanita yang sedang cosplay ini untuk menghalangi wanita ini agar tidak kelihatan noda merah oleh orang-orang, Bang Luffi pun diganti oleh wanita lain, jaketnya dipegang oleh wanita lain untuk menutupi pandangan orang-orang.
Namun, setelah mendengar percakapan wanita-wanita yang sedang membantu ini, Alseenio tahu bahwa satu pun dari mereka yang tidak membawa pembalut.
Begitu ia mendengar ini, prompt mekanis Sistem muncul tiba-tiba di kepalanya.
__ADS_1
[Ding! Misi Sampingan Telah Terdeteksi!]
Misi : Membeli Pembalut Wanita.
Waktu : 5 Menit.
Hadiah : 1x Kotak Misteri.
Hukuman : Biji berkurang satu buah.
[Misi otomatis diterima!]
Wajah Alseenio penuh tanda tanya, dan ia menatap panel transparan di depan matanya.
“Sistem, apa ini sungguhan? Misinya pasti bermasalah, kan?“ Alseenio bertanya di dalam hatinya.
[Tidak, Tuan Rumah. Misi tidak mengalami kesalahan!]
Alseenio mencubit pangkal hidungnya dan sedikit menggelengkan kepalanya, misi ini sangat merepotkan.
“Oke, aku pergi membeli pembalut!“
Alseenio melaporkan ke Bang Luffi bahwa dirinya akan membeli pembalut wanita di luar acara cosplay, semoga saja ada.
Begitu ia melaporkan hal itu, Bang Luffi bertanya tentang keyakinannya yang ingin membelikan wanita itu pembalut, Alseenio tidak sedang bercanda.
Saat berikutnya, Alseenio langsung berlari dengan mengenakan kimono emas di tubuhnya.
Banyak orang yang mengalihkan pandangannya ke arah Alseenio, sebab pakaiannya begitu terang dan terlalu mencolok mata.
Ketika berlari, Alseenio juga memastikan pakaiannya tidak rusak ataupun kotor, tubuhnya yang tinggi juga membuat kimono ini tidak menjulang terlalu bawah, masih ada jarak antara kimono dengan permukaan jalan.
Setelah 3 menit berlarian mencari warung terdekat, akhirnya ia menemukan sebuah warung kecil di pinggir jalan di luar area acara cosplayer.
Mengingat waktu yang diberikan oleh Sistem sangatlah pendek, Alseenio harus menyingkat waktu dengan cara pergi ke warung paling dekat.
“Bu, Adakah pembalut wanita di sini?“ Alseenio bertanya dengan napas yang stabil, seolah ia tidak habis berlarian.
“Benda yang tergantung itu semuanya pembalut wanita, pilih saja.“ Ibu penjaga warung menunjuk ke pembalut yang tergantung dekat pintu masuk warung.
“Oke, Bu.“
Alseenio langsung bergegas mengambil satu dari masing-masing merek pembalut yang ada di sini, seperti Carm, Koteks, Soptek, Larier, Wing-wing, dan beberapa yang lain.
Sebuah pemberitahuan muncul di depan mata Alseenio, tetapi ia abaikan dan fokus memasukkan barang-barang ini.
“Ini uangnya, Bu. Kembalinya buat ibu saja!“ Setelah menyerahkan uang 500 ribu rupiah, Alseenio melesat keluar dari warung tersebut dan berlari kembali ke acara cosplay.
Dengan sekuat tenaga Alseenio berlari, ia benar-benar seperti dikejar waktu, tidak ingin sama sekali hukuman misi menimpanya.
Kecepatan Alseenio berlari melebihi kecepatan para atlet lari dunia, bahkan Alseenio lebih cepat ketimbang pelari tercepat di dunia saat ini.
Hanya butuh waktu 6 detik bagi Alseenio untuk menempuh jarak 100 meter, itu pun Alseenio berlari tidak bebas dan tidak di kemampuan yang ia maksimalkan, baju kimononya membatasinya.
Tepat di waktu yang tersisa kurang dari setengah menit, Alseenio akhirnya sampai di tempat wawancara tadi.
Kini, banyak wanita yang berkumpul dan mengelilingi wanita ini, kemudian Alseenio menyerahkan kantung belanjaan yang berisikan banyak pembalut dari berbagai merek kepada Bang Luffi.
Bang Luffi menyerahkan lagi ke wanita yang menjaga wanita yang sedang bocor.
Alseenio melihat wanita-wanita ini membantu mengantarkan wanita yang bocor ke kamar mandi umum yang ada di Mall.
Darah yang sempat menetes ke tanah pun sudah mereka bersihkan.
[Ding! Misi Membeli Pembalut Wanita Terselesaikan dan Dapatkan + 10 cm Panjang Joni, Lamborghini Mansory Carbonado GT!]
Sebuah perubahan terjadi di bagian bawah tubuh Alseenio, adik kecilnya yang semula sudah besar, sekarang sedang berkembang menjadi lebih besar.
Sebelum bangun, adik kecil Alseenio hanya memiliki panjang sekitar 16 cm, itu sudah termasuk besar, jika bangun itu akan membesar hingga 28 cm.
Saat ini, adik kecilnya ketika mode belum terbangun besarnya sudah mencapai 22 cm, ketika bangun mencapai 38 cm, ukuran panjang milik Alseenio lebih dari penggaris 30 cm, sangat panjang.
Untungnya sekarang ini Alseenio sedang memakai kimono, celana pendek yang ia pakai sebagai dalaman juga berbahan yang elastis, tidak membuatnya begitu tidak nyaman.
Merasakan bendanya makin besar, Alseenio hanya bisa menerimanya, tidak ada yang bisa ia lakukan, hadiah wajib diterima oleh Alseenio tanpa boleh ditolak sama sekali.
Ketika memikirkan kegiatan suami-istri yang pasti akan dialami, Alseenio khawatir istrinya nanti ketakutan melihat adik kecilnya yang putih dan sedikit pink, sangat besar dan panjang.
Alseenio berharap istrinya di masa depan menerima adik kecilnya ini.
Bang Luffi dan yang lainnya menunggu di tempat mereka wawancarai dua wanita tadi, wawancara masih belum selesai, harus dilanjutkan lagi.
__ADS_1
Tak lama mereka menunggu, akhirnya wanita yang sempat bocor tersebut kembali lagi dengan wanita-wanita cosplay yang lain.
Di bawah pandangan semua orang, wanita yang bocor itu, berdiri di depan Alseenio dan mengucapkan rasa terima kasih karena sudah membantu dirinya tadi.
Apabila Alseenio tidak memberi tahu Bang Luffi dan Bang Luffi tidak bertindak, mungkin wanita tersebut terus terekam kamera dengan hal yang memalukan.
Namun, ketika wanita ini menatap mata Alseenio setelah mengucapkan terima kasihnya, wanita itu terdiam sesaat lalu menundukkan kepalanya dan perlahan mundur ke belakang, kembali ke temannya.
Alseenio bisa melihat wajah wanita tersebut memerah sebelum menurunkan wajahnya ke bawah. Ia sudah tahu mengapa wanita tersebut bereaksi seperti itu.
Semua orang yang ada di sini belum mengetahui siapa sebenarnya Alseenio, mereka hanya mengenal kostum Jiljamesh versi kimono saja, tetapi tidak tahu siapa orang yang meng-cosplay.
Sehabis mewawancarai kedua wanita tersebut, Bang Luffi, Boti, Alseenio, dan yang lainnya pergi ke dalam Mall untuk melihat acara yang ada di dala.
Ternyata di dalam Mall terdapat antrean panjang yang isinya kebanyakan pria.
“Bang, apa boleh bertanya?“ Fandick mendekati salah satu pria yang sedang mengantre.
“Ya, tanya saja, aku akan jawab,“ Pria itu mengangguk dan menjawab dengan sopan.
“Ini sebenarnya sedang antre apa, ya?“
“Oh, kita ini sedang antre untuk mendapatkan surat dari pihak Benshin Impek Langsung.“
“Surat?“
“Kartu ucapan seperti itu, pokoknya tentang Benshin Impek, katanya ada hadiah yang lain.“
Mendengar ini, Fandick menatap ke arah Bang Alseenio dan teman-teman yang lain.
“Kayaknya asyik, nih. Bagaimana? Kalian mau ikut mengantre?“ Bang Luffi bertanya kepada mereka semua.
Alseenio mengangguk menandakan dirinya setuju. Teman yang lain pun memutuskan untuk ikut antre, mereka penasaran dengan hadiahnya.
Dengan begitu, mereka mengantre dan bergabung dengan antrean yang cukup panjang, butuh waktu hampir setengah jam untuk giliran mereka datang.
Orang pertama yang berkesempatan mendapatkan surat adalah Boti. Ternyata cara mendapatkan barang tersebut adalah dengan menekan satu dari lima tombol pada mesin yang di mana setiap tombol terdapat gambar karakter gim Benshin Impek, jadi kita harus memilih tombol sesuai karakter kesukaan kita.
“Boti, memangnya kamu pernah main Benshin Impek? tanya Bang Luffi yang melihat Boti hendak menekan salah satu tombol.
“Jangan remehkan aku, meskipun aku tidak pernah memainkan gim itu, aku tahu karakter-karakternya,” Boti menjawab dengan mimik yang serius.
“Apa saja? Coba sebutkan gambar yang ada di atas lima tombol itu!“
“Itu ada Penti, Tanyu, Saviorman, Megawani, Suhar—”
“Hei-hei! Itu bukan nama karakter Benshin Impek!“ potong Bang Luffi dengan cepat.
Ucapan Boti sangat menakutkan.
“Hehe, aku pilih Penti, aku suka dia.“ Tangan Boti terulur dan menekan tombol yang ada di bawah gambar Penti.
Di detik berikutnya, sebuah kertas jatuh di bawah tombol, terdapat ruang pada mesin untuk surat yang keluar itu terjatuh.
“Ini saja?“ Boti bertanya ke pihak penyelenggara.
“Maaf sekali, ya. Kamu belum mendapatkan hadiah misterius.“ Wanita pihak penyelenggara acara itu menangkupkan tangannya.
“Tidak apa-apa, bukan masalah,“ Boti berkata dengan memasang wajah yang sedih. I mengambil kertas tersebut dan keluar dari antrean.
Selanjutnya, giliran Fandick, ia menekan tombol yang di atasnya terdapat gambar karakter gadis kecil berkostum merah yang lucu.
Kemudian dua buah kertas keluar bersamaan.
“Eh? Mengapa yang keluar ada dua?“ Fandick berkata heran ke Bang Luffi dan yang lainnya.
Ketika panitia melihat kertas yang didapatkan Fandick, panitia itu terkejut dan berkata, “Selamat kamu sudah mendapatkan tiket keberuntungan!“
“Tiket keberuntungan?!“ Fandick ikut terkejut lalu berseru kegirangan, “Hore! Aku dapat tiket keberuntungan!“
“Fandick hoki sekali!“
“Gila! Fandick dapat dalam sekali kesempatan!“
“Hoki seumuran hidup telah terpakai!“
Tim Bang Luffi berseru kaget, ia tidak menyangka Fandick bisa mendapatkan tiket keberuntungan.
Boti yang melihat ini langsung bertambah sedih, ia berjongkok di samping antrean, dan menyembunyikan wajahnya. “Hiks~”
“Dimohon untuk ditukarkan tiket ini, nanti hadiah akan diberikan kepadamu,” ujar Wanita yang adalah panitia acara kepada Fandick.
__ADS_1
“Apa hadiahnya mendapatkan rumah mewah?“ Fandick menatap Wanita tersebut dengan wajah yang polos.