SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 111: Traktir Jaya Exford


__ADS_3

Saat masuk ke dalam apartemen, Jaya Exford sudah berkumpul dan duduk di sofa yang ada di ruang keluarga, mereka tampak santai mengobrol dan memakan camilan kecil.


Begitu melihat Alseenio dan Fara datang ke ruang keluarga, mereka seketika menjadi serius.


Tanpa banyak basa-basi, Bang Windi menjelaskan tujuannya, ia bilang bahwa kanal Yitub miliknya sebentar lagi akan mencapai 10 juta pelanggan, sekarang sudah menyentuh 9,8 juta pelanggan, ia ingin siaran langsung sambil berbagi kebahagiaan dan membantu teman-teman Yituber yang masih kecil dan sedang berkembang sambil menyaksikan langsung menit-menit pelanggan Yitubnya mencapai angka 9,9 juta, tidak perlu menunggu sampai 10 juta pelanggan.


“Bagaimana? Apa kalian mau ikut di siaran langsung aku esok hari?“ Bang Windi mengajak Jaya Exford untuk membantunya meramaikan ruang siaran langsung detik-detik 9,9 juta pelanggan.


“Aku akan ke sini, Bang Windi. Kalau tidak ada halangan, sebisanya aku akan datang ke sini ikut meramaikan.“ Candy setuju, tetapi ia tidak dapat berjanji, ia usahakan.


“Aku bisa, besok, kan? Sepertinya jadwal besok tidak begitu padat.“


“Kemungkinan besar aku datang ke sini, hubungi aku saja, Bang Windi.“


Rijal dan Mac bersedia, tetapi Rino sama seperti Cendy, dirinya tak bisa janji, besok ia ada jadwal, tetapi ia usahakan untuk datang walaupun telat.


Setelah berpikir sejenak, Alseenio berkata, “Sepertinya aku bisa. Jam berapa lebih tepatnya?“


“Jam empat sore, kita akan memulai siaran langsungnya,” ucap Bang Windi dengan serius.


“Apa tidak kurang uang untuk berbaginya?“ tanya Alseenio memastikan Bang Windi.


Menurutnya uang 10 juta rupiah tidak cukup untuk 10 Yituber, itu terlalu kecil bagi Alseenio, di mana masing-masing 10 orang ini mendapat 1 juta rupiah.


“Aku hanya mampu memberi uang sebesar itu, Bang Nio. Kalau aku kaya seperti kamu, sih, aku akan memberi uang lebih dari nominal yang aku tentukan ini, hehe,” jawab Bang Windi sambil menggaruk kepalanya terlihat canggung.


“Kalau begitu, aku akan membantumu,“ ujar Alseenio membuka ponselnya dan mengetik pesan kepada seseorang. “Apakah satu miliar cukup?“


Untuk beberapa saat, suasana menjadi hening, hanya ada suara jarum jam yang bergerak seakan-akan berdetak.


Jaya Exford terkejut


“Satu miliar?!“ Bang Windi berseru dan ia mencengkeram pergelangan tangan Candy dengan kuat.


“Aduh! Sakit!“ Dengan cepat Candy melepaskan cengkeraman tangan Bang Windi dan menggosok pergelangan tangannya.


“Ya sudah, kalau begitu aku menyumbang satu miliar rupiah, kalau kurang bilang aku saja.“ Alseenio sudah menetapkan uang yang ia sumbang untuk siaran langsung Bang Windi. “Nomor rekeningnya? Bisa disebutkan? Aku akan mengirimkannya sekarang.“


“Ba–baik, Bang Nio.“


Dengan gugup Bang Windi memberi tahu nomor akun rekening bank miliknya ke Alseenio.


Tidak sampai 3 menit berlalu, Bang Windi mendapatkan pesan transfer uang yang diterima olehnya, uang Alseenio sudah masuk ke akun rekening.


Berikutnya, Bang Windi membelalak melihat saldonya bertambah 1 miliar lebih beberapa ratus ribu rupiah, Alseenio benar-benar membantu dirinya, tidak berbohong sama sekali.


Dipikir-pikir lagi, Bang Windi merasa tidak enak hatinya, ia sudah ditolong banyak oleh Alseenio, sedangkan dirinya sangat minim membantu Alseenio.


Alseenio dengan mudahnya mengeluarkan uang 1 miliar rupiah, bagai mengeluarkan seribu rupiah, tidak berat sama sekali.

__ADS_1


Candy dan anggota Jaya Exford yang lain tersenyum kagum dan ada sedikit rasa iri. Mereka berpikir kapan dirinya bisa kaya raya seperti Alseenio, sangat enak sekali memiliki kehidupan yang serupa dengan hidup Alseenio.


Dalam pembahasan selanjutnya mengenai acara Bang Windi, Alseenio setuju dengan usulan Bang Windi, uang 1 miliar ini akan dibagikan untuk 20 orang, jadi masing-masing dari orang yang beruntung tersebut menerima uang sebesar 50 juta rupiah.


Usai semuanya setuju, Alseenio mengajak mereka untuk pergi jalan-jalan ke Mall terdekat, hiburan singkat untuk mereka semua dan bergembira bersama.


Jarang-jarang bisa bertemu seperti ini, mumpung ada kesempatan, harus dipergunakan dengan baik.


Di sana, mereka bersenang-senang memainkan beberapa permainan di Temzon, makan siang bersama, dan terakhir kegiatan berbelanja.


Begitu Alseenio bersama Tim Jaya Exford ingin berbelanja, tiba-tiba ia mendengar suara mekanis sistem di telinganya.


[Ding! Misi Telah Terdeteksi!]


Misi: Belikan Tim Jaya Exford barang di Toko Luis Vuton tanpa melakukan kontak bicara.


Syarat: Total biaya dikeluarkan tidak kurang dari 3 miliar rupiah, tidak mengucapkan satu patah kata.


Waktu: 3 jam.


Hadiah: 1x Kotak Misteri.


Hukuman: Bulu Joni merambat ke seluruh tubuh.


[Misi otomatis diterima!]


Alseenio tidak ingin mengganggu suasana hatinya yang sedang baik, jadi ia tidak begitu mempermasalahkan hukuman dan syarat yang ada di misi.


Pertanyaan Fara tidak jawab dengan lisan, melainkan dengan gerakan, Alseenio menunjuk ke Toko Luis Vuton yang tidak jauh dari mereka.


“Benaran kita ke toko itu?“ Fara menoleh ke Alseenio dan menatapnya serius.


Kepala Alseenio naik turun menandakan apa yang dimaksud Fara itu benar.


“Baiklah, ayo kita ke sana!“ Fara merasa aneh dengan Alseenio, tetapi ia tidak langsung bertanya, ia menunggu apakah Alseenio akan tetap seperti ini tingkah lakunya nanti.


Melihat Fara yang berbicara dengan Alseenio, Jaya Exford tahu ke mana ia akan berbelanja.


Meskipun diri mereka ragu, ia memaksakan diri untuk ikut bersama Alseenio pergi ke toko mahal yang ternama.


Mereka ragu dan sedikit takut lantaran mereka tidak membawa uang yang banyak, mereka juga tidak mau membeli barang mahal untuk saat ini.


Tim Jaya Exford ragu-ragu ketika melihat pintu masuk yang mewah ini, dengan tepukan bahu oleh Alseenio, Bang Windi dan yang lainnya merasa bahwa mereka akan baik-baik saja setelah masuk ke dalam toko.


Selagi ada Alseenio, seharusnya itu tidak akan ada masalah, semuanya terkendali.


“Sayang, kita mau beli apa? Kamu yakin mau belanja di sini? Aku lihat harganya mahal semua.“ Fara belum melepaskan genggaman tangan Alseenio, ia menengadahkan kepalanya untuk melihat Alseenio.


Alih-alih menjawab secara langsung, tangan Alseenio mengambil ponsel dari saku celananya dan bergegas mengetik sesuatu di ponsel dengan satu tangan.

__ADS_1


Usai mengetik kurang dari setengah menit, Alseenio menunjukkan apa yang ia ketik di ponselnya kepada Fara.


“Kamu sakit? Mengapa kamu tidak mau ngomong, Sayang?“


Fara mengabaikan terlebih dahulu kalimat apa yang diketik oleh Alseenio, ia melemparkan pertanyaan yang membuatnya sedari tadi bertanya-tanya.


Mendengar pertanyaan Fara, Alseenio mengetik lagi dan memperlihatkan pesan yang ada di layar ponsel.


Bukan cuma Fara, semua Tim Jaya Exford juga menyadari keanehan Alseenio, mereka semua penasaran dan juga mendekat untuk melihat apa yang diketik Alseenio.


Fara dan Tim Jaya Exford mengangguk mengerti dengan apa yang terjadi, ternyata Alseenio sedang melakukan tantangan untuk tidak berbicara selama berbelanja.


“Kamu ada-ada saja, Sayang.“ Fara menggelengkan kepala tanpa daya.


Alseenio juga tersenyum, ia sendiri pun menganggap misi dari Sistem satu ini aneh, mau bagaimana lagi, ia harus menyelesaikan misi.


Jari-jemari Alseenio kembali bergerak, kemudian menunjukkan sebuah perkataan tertulis kepada Fara.


Melihat pesan ini, Fara paham dan dengan senang hati mengerjakan apa yang disuruh oleh Alseenio.


“Anu, kalian semua boleh memilih barang di sini, Alseenio akan membayar barang yang kalian pilih,” jelas Fara kepada Tim Jaya Exford yang berdiri bingung di dalam Toko Luis Vuton.


Para pemandu pun mengawasi mereka sejak kedatangan mereka semua ke sini, tetapi begitu mendengar ucapan Fara tanpa sengaja, wajah mereka terlihat lega dan senang.


Tampaknya rombongan yang datang ini ada 1 orang yang kaya.


“Benarkah?“


“Beneran, Fara?“


“Apa saja, kan?“


“…”


Ekspresi mereka langsung berubah terkejut sekaligus gembira, mereka secara bersamaan bertanya tentang validasi dari ucapan Fara yang terlontar.


Melihat mereka tidak percaya dan ragu, Alseenio tersenyum dan mengangguk untuk mengkonfirmasinya.


Segera, setelah Alseenio mengangguk, mereka merasa lega dan langsung berpencar ke segala sudut toko untuk mencari barang yang mereka suka, tak lupa ditemani oleh pemandu.


Mereka mencari barang sambil bertanya pada pelayan toko, sebab ini bukan toko murah yang diobral.


Kebanyakan dari pria di Jaya Exford memilih baju dan tas, sedangkan wanita mengambil barang berupa sepatu, aksesoris, dan gaun santai.


Fara juga memilih, tetapi Alseenio memberi tahu Fara bahwa barang belanjaan Fara yang dipilih akan berbeda pembayarannya.


Bukan cuma Fara dan Tim Jaya Exford yang memilih barang termurah di Toko ini, mereka merasa sungkan atas kebaikan Alseenio, jadi mereka tidak mau memberatkan Alseenio dengan memilih barang yang mahal.


Senyum muncul di wajah Alseenio, kemudian ia kembali memberi tahu sebuah pesan melalui dari layar ponselnya, Alseenio berkata bahwa masing-masing dari mereka berdelapan mendapatkan jatah barang yang dibeli minimal sampai 375 juta rupiah.

__ADS_1


Mereka bebas membeli barang apa saja, asalkan barang-barang yang dipilih sendiri itu saat diakumulasikan harganya itu melebihi 375 juta rupiah.


Secara bersamaan mereka mengangguk, dengan hati yang lega dan tenang, mereka mencari barang-barang yang disukai.


__ADS_2