
Mata Alseenio melebar, ia menatap Fara dengan sorotan mata yang terkejut. “Kamu tidak bercanda, kan?!“
Fara menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil menangis dan memeluk tubuh Alseenio.
“Ayah ada di rumah sakit mana? Kita harus ke sana!“ Alseenio bertanya dengan wajah yang khawatir.
“Di ru–rumah sakit yang ada di Pondok Indah, Sayang.“ Fara sangat susah mengeluarkan kata-kata karena rasa sesak di dada.
Tanpa berlama-lama lagi, Alseenio menggendong Fara dan membawanya ke dalam mobil Gemera. Usai menyalakan mesin, Alseenio melakukan mobilnya menuju rumah sakit yang disebutkan oleh Fara.
Rumah sakit ini cukup bagus pelayanan dan fasilitasnya, dokternya pun profesional. Mengetahui ini, Alseenio merasa lega, kemungkinan besar Ayah Fara tidak apa-apa.
Namun, peristiwa ini sangatlah membuatnya terkejut. Tidak ada aba-aba dan gejala sebelum terjadinya peristiwa yang mengagetkan ini, bagaikan petir di siang bolong.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Fara membeberkan kronologi dari kejadian yang terjadi pada ayahnya.
Katanya, Ayah Fara sedang mengobrol bersama beberapa karyawan Perusahaan Chakra Asep Perkasa, Ayah Fara memiliki banyak teman di sana dikarenakan ia sering berkunjung ke kantor pusat perusahaan bersama dengan Gondals. Tidak heran banyak orang yang seumuran berteman dengannya.
Ayah Fara dan beberapa teman mengobrol di warung pinggir jalan dekat kantor perusahaan, biasanya pekerja perusahaan Alseenio nongkrong dan bersantai di sana sambil meminum kopi atau es.
Di saat mereka bersantai, datanglah satu orang pria yang entah dari mana munculnya mendekati Ayah Fara, kemudian ia mengeluarkan pisau dan menusuk sekali di bagian perut, sebelum akhirnya dengan tanggap ditolong oleh teman Ayah Fara, pelaku langsung ditangkap dan ringkus di tempat.
Teman-teman Ayah Fara dan Gondals mengantar Ayah Fara yang mengalami pendarahan ke rumah sakit. Sekarang belum tahu kondisinya bagiamana, Fara pun baru diberi tahu oleh ibunya.
Ibunya dan Bella sudah berangkat lebih dahulu ke rumah sakit, Alseenio dan Fara masih tertidur, mereka tidak bisa membangunkan keduanya.
Jadi, mereka memutuskan untuk lebih dahulu ke rumah sakit.
Seharusnya, Ayah Fara baik-baik saja, ada Gondals di tempat terjadinya perkara, dia tahu merawat orang yang mengalami luka. Apalagi, Ayah Fara langsung diangkut ke rumah sakit.
Benar saja dugaan Alseenio, begitu mereka sampai, dokter yang memeriksa kondisi Ayah Fara memberi tahu bahwa Ayah Fara akan segera membaik.
__ADS_1
Luka parah yang dialami Ayah Fara tidak begitu parah.
“Pasien setelah dioperasi dengan menjahit lukanya, itu akan baik-baik saja. Beruntung, luka tusuk tidak terlalu dalam dan tidak menusuk ke organ yang penting, seperti hati atau limpa, usus, lambung, dan pembuluh darah besar sehingga ini akan selamat. Pasien tidak akan kenapa-kenapa ….“
Dokter dengan tenang menginformasikan tentang situasi Ayah Fara terkini. Semuanya merasa lega setelah mendapatkan verifikasi langsung dari dokter, setidaknya dokter sudah memastikan bahwa Ayah Fara tidak akan meninggal.
Sekali lagi dokter berkata bahwa Ayah Fara harus menginap di sini selama 4 hari perawatan dan melakukan operasi.
Setelahnya akan dipindahkan ke mansion, Fara dan Ibu Fara ingin Ayah Fara dirawat di rumah saja jika operasi berhasil dan selesai dilakukan. Dokter menyanggupi, sebab harga yang diminta dipenuhi oleh Alseenio.
Selama satu hari ini, Alseenio dan lainnya menunggu Ayah Fara di rumah sakit. Alseenio bersama Bella dan Gondals mencari tahu tentang siapa dalang di balik peristiwa penusukan yang terjadi pada Ayah Fara.
Penyelidikan berlangsung hingga keesokan harinya sampai Ayah Fara menjalani operasi untuk menutupi luka di tubuhnya.
Hasil dari penyelidikan adalah orang yang menusuk ini masih ada kaitannya dengan orang yang pernah memberi uang untuk Ayah Fara hidup, alias pemberi dana untuk orang berutang kepadanya.
Meskipun sudah terbukti salah dipenjara selama 5 tahun, anak buahnya masih berkeliaran dan menyimpan dendam pada Ayah Fara dan keluarganya.
Beruntungnya, Alseenio memiliki Gondals dan Bella yang ahli dalam melawan para orang yang sok memiliki kekuatan dan hebat.
Setelah mereka selidiki lebih lanjut, anak buah yang tidak dipenjara ini memiliki riwayat kasus kejahatan, seperti penjambretan, maling barang, dan pemalakan. Hal ini mempermudah Alseenio untuk memenjarakan mereka semua.
Alseenio sama sekali tidak takut dengan orang-orang ini, kebanyakan dari mereka hanya orang yang berpura-pura kuat dan bengis, jika dilawan pun mereka takut mati. Alseenio takut dengan mafia luar negeri dan dalam negeri, mereka bukan mafia, hanya preman kampung yang memiliki kelompok dan diketuai oleh orang yang sedikit kaya.
Jika ada peperangan juga, mereka tidak memakai senjata api, cuma bermodalkan kepalan tangan dan barang. Dari segi ini, Alseenio percaya diri untuk melawan mereka semua seorang diri.
Sayangnya, Alseenio tidak memakai kekerasan tanpa alasan, ada pasal yang dapat mengikatnya dan masuk penjara.
Ia memakai prinsip sebelumnya, yaitu tunggu dipukul lebih dahulu sebelum membantai lawan habis-habisan.
Apabila dipukul, pelaku yang memukul terlebih dahulu yang terkena pasal dan itu akan dipenjara. Apalagi, Alseenio memang memukul karena atas dasar membela diri. Sama sekali dirinya tidak terkena tindak pidana.
__ADS_1
Pada tanggal 13 Januari, setelah proses operasi Ayah Fara selesai, Alseenio dan Gondals pergi ke suatu tempat yang ada di Sukabumi, tempat yang mereka niat datangi diduga sebagai markas di mana anak buah yang tersisa masih berkumpul dan berkuasa di kampung.
Dengan menaiki mobil Lamborghini Urus yang berhasil Alseenio dapatkan dari hadiah karena menyelesaikan misi sampingan tadi pagi, mereka berdua tiba di tempat tersebut.
Tempat ini berupa gudang yang menyimpan barang-barang, cukup besar dan letaknya ada di dekat persawahan.
Kedatangan Alseenio dan Gondals diperhatikan oleh belasan orang yang ternyata sudah berdiri di depan gudang.
Sebelum keluar dari mobil, Alseenio dan Gondals mengenakan mikrofon dan menyalakan kamera dari dalam mobil.
Untuk berjaga-jaga, takut ada sesuatu yang terjadi, juga sebagai bukti Alseenio dan Gondals tidak bersalah.
Melihat Alseenio dan Gondals yang keluar dari mobil mewah, orang-orang ini seketika waspada dan memandang keduanya dengan raut wajah yang tidak ramah.
Tatapan mereka sangat tajam ke arah keduanya, seakan-akan ingin memakan Alseenio dan Gondals pada saat itu juga.
Alseenio dan Gondals memakai baju yang tertutup, paling tidak tubuhnya tidak terlihat mendominasi.
Pakaian yang Alseenio kenakan hanya baju lengan panjang dan celana panjang yang sedikit besar, tampak mirip orang culun yang tak bisa bertarung sama sekali.
Sementara itu, Gondals memakai pakaian ala bos petani yang serba sederhana, kaos biasa dengan jaket hitam dan celana olahraga.
Otot-otot mereka tidak diperlihatkan, kelihatan jelas sekali kedatangan mereka berdua sangat ramah dan tidak seperti orang yang ingin mencari masalah.
“Hei, Kalian Berdua! Untuk apa kalian ke sini?!“ Salah satu dari belasan orang tersebut memanggil Alseenio dan Gondals.
Mereka belum sadar bahwa kedua orang yang datang adalah orang yang memenjarakan bos mereka.
Alseenio dan Gondals mengenakan masker, mereka tidak tahu muka keduanya dengan jelas sehingga tidak tahu siapa identitas mereka berdua sebenarnya.
Mendengar panggilan tersebut, Alseenio masih berjalan santai sambil tersenyum sangat ramah kepada mereka semua. “Apa kabar, Kalian? Apakah baik-baik saja?“
__ADS_1
“Omong-omong, tempat apa ini? Kami sepertinya tersesat di sini,” tambah Gondals dengan sikap yang tenang dan santai.
Seketika, mereka semua memiliki ekspresi yang berbeda ketika mendengar ucapan mereka berdua.