SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 223: Kebahagiaan Menanti


__ADS_3

Setelah berdua menikah, kegiatan mereka pada hari-hari berikutnya mirip dengan lirik lagu yang dibuat oleh salah satu anggota PTS.


Masih berteman dengan Alseenio, dia adalah jongkok.


Lagu solonya yang berjudul "Tujuh" memiliki lirik yang mencerminkan kegiatan Alseenio dan Fara selama 1 Minggu penuh.


Liriknya memiliki arti di mana seorang pria akan memompa pasangan wanitanya setiap waktu, setiap jam, setiap menit, dan setiap detik. Tidak ada hari libur, itu dilaksanakan setiap hari, dari hari Senin, Selasa, Rabu, sampai Minggu.


Alseenio dan Fara benar-benar jarang keluar kamar utama usai menikah, bahkan media sosial dan yang lainnya diurus penuh oleh Sugi.


Di dalam kamar, mereka berdua melakukan kegiatan tersebut hampir seharian, bahkan ketika makan di dalam kamar dan mengambil makanan yang diantarkan oleh pembantu saja mereka tetap melakukan kegiatan tersebut.


Hampir setiap saat ada suara rintihan kesakitan dan memohon untuk berhenti dari Fara.


Kue apem sempit Fara menjadi besar setelah dihantam keras oleh Alseenio selama tujuh hari itu, bahkan mata Fara sudah sedikit menyipit.


Buah melonnya yang kencang dan padat telah dipenuhi bekas merah yang seperti dicium keras.


Ukuran buah melon Fara makin besar selama 7 hari dimainkan, menembus ukuran N gelas, sangat besar.


Meskipun begitu, senjata Alseenio juga besar, bisa mengalahkan Fara dengan mudah.


Fara selalu kalau setiap ronde dijalankan, dia sama sekali belum pernah menang.


Pasti selalu Alseenio yang berdiri tanpa terlihat kelelahan, sedangkan Fara sudah terbaring penuh napas tersengal-sengal.


Di dalam kamar penuh oleh cairan bening di lantai, itu milik Fara, wanita ini sangat-sangat puas bermain dengan Alseenio. Di dalam hatinya dia bersyukur memiliki pria yang bisa memberikannya kepuasan materi, jasmani, dan hati.


Mereka melakukan itu awalnya bukan karena untuk terburu-buru mendapatkan momongan, melainkan untuk melampiaskan rasa nafsu mereka berdua yang sudah tidak tertahankan.


Faktor lain adalah mencoba menghibur diri Alseenio yang tiba-tiba sedih setelah menikah.


Sistem, Sistem Tertampan pamit kepadanya tanpa persetujuan dirinya, meninggalkan Alseenio begitu saja tanpa meminta izin.


Bagi Alseenio, Sistem sudah seperti seorang teman sekaligus bos besar yang memberikannya banyak sekali harta dan kemampuan hebat.


Tidak ada Sistem, rasanya seperti ada yang hilang di dalam hidup Alseenio, seolah seseorang yang disayangi Alseenio menghilang dan takkan pernah kembali.


Biasanya Alseenio mendengar suara dentingan Sistem di setiap minggunya, kini sama sekali tidak ada, seakan semuanya menjadi sunyi.


Momen dan perasaan kehilangan terbesar inilah yang Alseenio tutup dengan kegiatan melakukan itu dengan Fara.


Untungnya, Alseenio memilih istri yang tepat, tanpa dibicarakan pun Fara tahu bahwa suaminya sedang dalam perasaan hati yang sedih. Bisa dilihat dari raut wajah Alseenio yang tidak biasa.


Meskipun Alseenio tidak mau memberi tahu alasannya, Fara berusaha untuk menghibur Alseenio, bahkan jika dia merasakan kelelahan, usahanya takkan berhenti sampai suaminya tersenyum kembali.


Usaha besar Fara tidak sia-sia, dalam 1 hari pertama Alseenio telah kembali menjadi Alseenio. Fara mencium bibirnya dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang besar, seperti seorang ibu yang memberikan cinta murninya kepada seorang anak.


Fara terus meladeni dan melayani keinginan Alseenio di atas tempat tidur, dengan senang Fara melakukan kegiatan itu sampai puluhan jam tanpa henti asalkan Alseenio tidak lagi bersedih.


Alhasil, mereka berdua memutuskan untuk membuat anak tanpa ditahan lagi karena semua keinginan sudah tercapai.


Fara sudah tercapai cita-citanya ingin menjadi bos kafe, dia pintar dalam mengelola dan bisa menangkap ilmu bisnis dari Alseenio.


3 Minggu setelah resmi menikah, mereka berdua dihadiahi sebuah berita kehamilan dari Fara.


Bayi telah hidup di dalam perut Fara, membuat semua keluarga menjadi bahagia, terlebih ibu Fara yang berjingkrak saking senang dan bahagianya mendengar kabar tersebut.


Orang tua Fara akan menjadi seorang kakek dan nenek karena ingin diberi hadiah cucu oleh Fara.


"Semoga kamu bisa kuat dalam proses ini, Sayang." Alseenio memeluk tubuh Fara dari belakang sambil menyentuh perut Fara yang sedikit membesar.


Fara menggosok kepalanya ke dagu Alseenio dan tersenyum. "Aku akan menjalankan semua proses kehamilan bersama kamu, Sayang. Aku ingin kamu bahagia dengan anak yang aku berikan."


Keduanya saling berpelukan dengan senyum manis di wajahnya. Taman rumah menjadi saksi bisu tentang cerita mereka berdua menginginkan seorang anak.


Di dalam rumah sudah ada Bella dengan perutnya yang jelas terlihat membesar dan mengembang.


Usia kehamilan Bella sudah memasuki usia 4 bulan, sedangkan istri Bang Luffy dan Cantika baru 3 bulan.


Sekarang Fara ingin menyusul menjadi seorang ibu dengan usia kandungan sekitar 2 Minggu.


Semuanya menunggu kabar baik dari keempat wanita yang sedang hamil.


Bulan demi bulan berlalu, proses kehamilan Fara tidak kesepian karena setiap Minggunya akan ada istri Bang Luffy atau Cantika yang datang untuk mengobrol bersama mengenai anak dan jajarannya, Bella juga ikut.


Tidak jarang mereka berempat bertemu untuk menunjukkan perut mereka yang makin membesar tiap Minggu.


Terbesar dipegang oleh Bella.


"Tidak menyangka kita semua akan menjadi seorang ibu, aku masih ingat Fara masih seorang gadis manis, sekarang dia lagi menjalani proses menjadi ibu dan istri yang baik," kata Bella kepada istri Bang Luffy sambil menutupi mulutnya dan mengusap perutnya.


Istri Bang Luffy tersenyum dan membalas dengan lambaian tangan, "Cantika juga sama, hihi. Dia umurnya tidak beda jauh dengan Fara, kini perutnya sama denganku."


"Namanya juga sudah punya suami, dia menginginkan anak, aku tak bisa menolak, lagi pula Fandick jago di atas ranjang, aku sama sekali tidak bisa menolak ajakannya," kata Cantika yang obrolannya mengarah ke sesuatu hal yang lebih dalam.


"Suamiku juga, dia kuat sampai dua jam tanpa henti, aku jarang sekali menang, mungkin satu Minggu aku bisa tiga kali menang, dan dia empat kali menang." Pipi Bella memerah membayangkan proses pembuatan perutnya menjadi besar.


"Tunggu, kamu melakukan itu selama satu Minggu?" tanya Istri Bang Luffy dengan terkejut.

__ADS_1


Kepala Bella mengangguk beberapa kali dan menjawab, "Gondals, suamiku selalu bekerja dan waktu juga sedikit untuk kita bertempur. Jadi, hanya dua jam saja kami berdua melakukan itu di ranjang, juga hanya di malam hari sebelum tidur. Kami melakukan itu setiap hari agar mendapatkan anak, aku sudah tua."


Mendengar penjelasan Bella, mereka semua menjadi mengerti dengan alasan Bella bertempur setiap malam dalam seminggu penuh.


"Kalau aku hanya empat sampai lima kali dalam seminggu, waktunya juga hanya di malam hari karena suamiku lebih menyukai gim. Tidak heran, dia seorang gamer dan yituber," ungkap istri Bang Luffy. "Memang dia jago melakukan itu, tetapi durasinya sering dipotong-potong. Aku sering seri melawannya."


"Hampir sama dengan Fandick, tetapi dia selalu memintaku di tiap bangun pagi, durasi tidak lebih dari dua jam, memang dorongannya kuat, tetap saja aku bisa menang beberapa kali melawannya, bahkan dia ketakutan saat aku mengajaknya lagi ketika dia kelelahan." Cantika tersenyum sambil menopang dagunya, membayangkan peristiwa itu.


"Kasusnya sama dengan suamiku, dia ketakutan kalau aku yang memintanya, padahal dia sudah mengeluarkan muntahannya. Mereka lucu, awalnya saja nafsu besar, ketika kalah dan diajak melakukan itu lagi langsung menyerah," kata Bella dengan tawa kecil.


Istri Bang Luffy dan Cantika mengangguk setuju, mereka juga mendapat kasus yang sama.


Omong-omong, ini sudah 3 bulan setelah Fara Menikah, kandungan Fara telah memasuki usia 3 bulan hampir 4 bulan.


Sementara itu, Bella sudah 7 bulan dengan perutnya yang sangat besar, Cantika dan Istri Bang Luffy sudah masuk 6 bulan, keduanya punya ukuran yang hampir sama, cuma ukuran Cantika sedikit lebih besar.


Mendengar ucapan mereka semua, Fara dengan wajah yang merah berkata, "Tampaknya, itu tidak berlaku dengan suamiku."


Begitu Fara mengatakan kalimat itu, semua wanita menoleh ke arah Fara dengan kejutan besar di wajahnya.


"Fara, ceritakan padaku tentang kegiatan kamu dengan Alseenio."


"Aku penasaran dengan ceritamu, bisa kamu jelaskan, Fara?"


"Sungguh? Aku kurang percaya, coba ceritakan."


"..."


Mereka semua dalam sekejap menjadi seorang perempuan yang tidak tahan tentang gosip dan informasi yang menarik.


Dengan desakan mereka sudah dipenuhi rasa ingin tahu yang besar, Fara akhirnya mulai menceritakan tentang itu dengan Alseenio.


"Suamiku punya ukuran yang kupikir itu jauh lebih besar dari suami kalian ...."


Kalimat pertama saja sudah membuat ketiganya melontarkan pertanyaan karena besarnya rasa penasaran mereka.


"Berapa ukurannya?" tanya Bella yang sangat penasaran.


Istri Bang Luffy dan Cantika mengangguk, menatap Fara dengan mata yang tidak sabaran.


Fara memegang dagunya untuk mengira-ngira ukuran senjata Alseenio yang sering dia lihat, kemudian menjawab, "Itu sedikit lebih panjang dari penggaris tiga puluh cm."


Sunyi!


Untuk sementara waktu, ruangan menjadi sepi dan hening, mereka bertiga tertegun mendengar jawaban Fara.


Ukuran sebesar itu sangat jumbo, tak tahu bagaimana perasaan Fara mendapatkan pria yang punya ukuran senjata begitu besar.


Istri Bang Luffy mengungkapkan bahwa punya Bang Luffy sekitar 18 cm, hampir serupa dengan Fandick yang sekitar 18 atau 17 cm.


Dibandingkan dengan ukuran Alseenio, suami mereka kalah telak.


"Itu benar. Tujuh hari setelah kita menikah, kami hampir seharian melakukan kegiatan itu, aku sama sekali tidak pernah menang, bahkan sampai sekarang, Alseenio sangat kuat, bukan aku yang lemah," beber Fara dengan pipi yang memanas.


"Hampir seharian penuh dalam satu Minggu bertempur? Suami kamu manusia atau robot?" Istri Bang Luffy terkejut dengan ini hingga tubuhnya sedikit tersentak.


Bella dan Cantika juga terkejut dengan keganasan Alseenio pada Fara.


"Pasti kamu bahagia bertempur bersama dia," kata Cantika dengan senyuman. "Apakah kita boleh bertukar?"


"Tidak, aku tidak mau," balas Fara dengan gelengan kepala yang cepat. "Alseenio cuma untukku saja."


"Itu benar, aku hanya untukmu dan takkan pernah berpindah ke tangan wanita yang lain."


Suara magnetis Alseenio terdengar di belakang sofa ibu-ibu hamil yang sedang asyik merumpi.


Kemunculan suara ini mengejutkan semua wanita yang hamil ini, dan melihat sosok Alseenio yang sangat tampan tak tertandingi berdiri tepat di belakang sofa Fara.


Di detik berikutnya, pipi Fara memerah hingga mengeluarkan asap mengepul di wajahnya.


Berbalik melihat Alseenio, kemudian berjalan cepat untuk memeluk Alseenio.


"Pelan-pelan, Sayang. Perut kamu ada anak kita."


"Maaf ...."


Fara menggosok kepalanya di dalam pelukan Alseenio. Suara minta maaf Fara terdengar lucu, membuat Cantika dan yang lainnya tersenyum geli.


"Hahaha!"


Semuanya tertawa melihat tingkah pasangan yang belum lama ini menikah, kemudian tersenyum ikut bahagia.


Peristiwa itu berlalu tanpa disadari.


Hari Fara melahirkan akhirnya datang, tepat di usia kandungan hendak ke 9 bulan.


"Pegang tanganku, aku akan berada di sisimu, sampai kamu berhasil! Akan ada hadiah spesial untukmu, ayo berjuang!" Alseenio mengulurkan tangannya ke arah Fara yang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit mengenakan seragam persalinan.


Perutnya begitu besar karena di dalamnya ada 2 bayi. Alseenio mendapatkan bayi kembar.

__ADS_1


Alseenio memegangi tangan kanan Fara sambil menciuminya dan memandang penuh kecemasan pada sosok Fara yang sedang berjuang memunculkan anak kembar di dunia.


"Aahh!!!"


Suara perjuangan wanita untuk melahirkan terdengar di ruang persalinan rumah sakit, membuat semua orang khawatir.


Ibu dan ayah Fara berjalan di lorong depan kamar persalinan dengan hati yang penuh kegelisahan dan harapan.


Bella yang menggendong bayi perempuan berumur 4 bulan juga ikut khawatir, menatap pintu kamar dengan tatapan yang bergetar.


Tidak tahu mengapa semua orang memiliki firasat yang tidak baik.


Alseenio di dalam ruangan memberikan dorongan kuat untuk Fara dengan ucapan lembutnya.


"Aaahhh!!"


Fara terus berjuang, mencoba mengeluarkan bayi dari perutnya.


Tepat ketika Fara sedang berjuang, keanehan terjadi padanya.


Tubuh Fara kejang-kejang di proses persalinan, membuat dokter dan orang yang ada di kamar persalinan terdiam beberapa detik.


"Dokter!!" panggil Alseenio dengan suara yang keras.


Dokter dan suster seketika terbangun dari keterkejutannya, kemudian dengan cekatan memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.


Tubuh Fara itu terus kejang-kejang selama 30 detik.


Alseenio panik dan tidak tahu harus bagaimana, keahlian dokter salam situasi tak terduga seperti ini juga tak berguna.


Dalam waktu puluhan detik, Fara yang kejang itu menjadi tenang.


Kecemasan Alseenio menjadi turun. Sayangnya, itu hanya sesaat, suara alat pendeteksi denyut jantung mengeluarkan suara yang nyaring dan sebuah gambar garis tanpa ada tanjakan diperlihatkan.


Semua orang tahu apa artinya ini, termasuk Alseenio.


Pupil mata Alseenio membesar, dia mencengkeram kuat tangan kanan Fara, tatapannya begitu kosong mengetahui mesin EKG memberikan tampilan garis yang mendatar tanpa lonjakan.


Beberapa dokter masuk untuk mencoba menyelamatkan Alseenio.


Sementara itu, Alseenio berdiri sambil memegang tangan kanan Fara, matanya yang kosong perlahan mengeluarkan air mata.


Dengan bibir bergetar hebat, Alseenio bergumam dengan suara lirihan yang menyayat hati semua orang, "Kumohon, kumohon ... ku–kumohon jangan seperti ini, aku tidak ingin ditinggal olehmu, Fara—"


Alseenio merasa sangat lemas melihat kondisi Fara yang tidak berubah.


Tangan Alseenio yang memegang tangan Fara terlepas, tubuh Alseenio terjatuh bersimpuh dengan wajah yang dipenuhi air mata.


Semua dokter berhenti bergerak dan mereka seling berpandangan dengan tatapan yang pasrah.


Mereka tidak bisa mengembalikan nyawa Fara.


"Kamu berbohong, bukankah kamu berjanji padaku akan selalu memegangi tanganku sampai kehidupan selanjutnya? Nyatanya, kamu meninggalkanku lebih dahulu."


Alseenio berlutut di samping kuburan yang memiliki batu nisan bertuliskan nama Fara Nisa.


Tangan kanan Alseenio bergetar menyentuh batu nisan ini, air mata sudah mengalir ke pipi dan dagunya.


"Di mana janjimu yang bilang bahwa tidak akan pergi meninggalkanku? Di mana janji kamu yang ingin menari di depanku bersama anak-anak kita nanti? Di ma–mana janjimu ...."


Alseenio tak bisa melanjutkan kalimatnya, air mata mengalir deras dari kelopak matanya.


Dada Alseenio terasa sangat sesak, bagai ditekan oleh air laut di kedalaman 5 kilometer.


Potongan-potongan ingatan yang menampilkan senyuman manis dan cantik Fara diputar di kepala Alseenio.


'Aku mencintaimu, Nio, jangan pergi lagi, oke?'


Sebuah gambar ingatan Fara bertemu dengannya kembali di rumah orang tuanya muncul di benak Alseenio. Tangan Alseenio mengepal keras menahan rasa sakit ini.


Potongan demi potongan ingatan terus diputar, setiap peristiwa yang menyenangkan bersama Fara itu dimunculkan kembali.


Bella dan seluruh teman Alseenio dengan jumlah ribuan membuat ruang luas untuk Alseenio yang menangisi Fara.


Mereka semua juga menangis, saking sedihnya kedua orang tua Fara, mereka berdua pingsan dan dipulangkan ke rumah.


Takdir tidak memilih Alseenio untuk bisa merasakan kebahagiaan memiliki anak.


Takdir buruk memilih Alseenio untuk merasakan kehilangan istri tercinta dan tersayangnya.


Fara meninggal karena pecah pembuluh darah dan serangan jantung secara bersamaan, ditambah lagi penyakit yang tak terdeteksi lainnya.


Kedua bayi di dalam kandungan ikut meninggal sebelum bisa dikeluarkan oleh Dokter.


"Pada akhirnya, aku kembali sendiri ...."


Alseenio berlutut mencium batu nisan Fara dengan kalimat yang diucapkan dengan kepasrahan tak terhingga.


Bangkit dari tanah, kemudian Alseenio berdiri diam menghadap satu kuburan besar dan dua kuburan kecil di sampingnya.

__ADS_1


"Aku pergi dahulu, Sayang, selamat tinggal ...."


__ADS_2