
Sebuah ekspresi terkejut yang tak tertahankan muncul di setiap wajah mereka semua yang melihat wajah Asep alias Alseenio.
Mata membulat dengan mulut yang terbuka lebar ditunjukkan oleh mereka semua sebagai reaksi mereka terhadap pemandangan yang ada di depan mereka.
“Alseenio?! Aku tidak salah, kan?!“
“Sial! Dia seorang artis ternyata!“
“Tampan sekali orang ini? Siapa dia?“
“Alseenio! Aku sayang kamu!“
Setelah beberapa waktu yang singkat, semua orang tersadar dan melihat Alseenio dengan ekspresi yang heboh.
Para karyawan wanita tanpa berpikir lagi untuk memeluk tubuh Alseenio.
Ada 4 karyawan wanita yang hadir dan mereka semua memperebutkan tubuh Alseenio, mereka bertanding karena ingin memeluk Alseenio.
Alseenio segera menenangkan mereka semua dan berkata dengan lantang, “Perkenalkan namaku Alseenio Asep, aku memberi tahu namaku untuk beberapa orang yang belum tahu. Pada kesempatan ini, aku hanya ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada kalian semua karena sudah membimbing dan menemaniku dalam misiku mencari pengalaman sebagai seorang pelayan. Sebagai ucapan terima kasihku, aku memiliki hadiah untuk kalian semua, semoga kalian semua suka.“
Mata Alseenio berpindah dan melirik Pak Mugi. Pak Mugi merespons dengan anggukan dan dia meminta beberapa orang, seperti Burhan dan Bang Ilham untuk mengikutinya.
Di bawah tatapan semua karyawan yang ada, ketiganya berjalan menuju ke mobil yang terparkir di area lahan restoran.
Pak Mugi membuka bagasi belakang mobil secara perlahan dan sesuatu yang mengejutkan ditampilkan.
Mereka semua melihat sebuah kotak ponsel ditumpuk rapi dan di sebuah tas. Jumlah kotak ponsel ini sangat banyak, ada sekitar puluhan buah.
Tak perlu menunggu lama mereka untuk terbangun dan kondisi terpana, Pak Mugi berteriak dan menyadarkan mereka secara paksa.
“Kalian antre yang rapi kalau mau mendapatkan ponsel gratis! Ini hadiah dari Alseenio!“
Dalam sekejap mata, mereka semua langsung berbaris dengan rapi tepat di depan Pak Mugi dan kedua karyawannya.
Alseenio berdiri di samping mobil sambil melihat mereka semua mengantre mendapatkan hadiah darinya.
Jika tidak mengantre, ini akan menjadi ricuh, terlebih banyak pria di sini, mereka pasti akan egois dan sulit diatur.
Hilman masih belum mengerti dengan apa yang telah terjadi, dia ikut berbaris, tetapi wajahnya masih menunjukkan ekspresi yang tercengang sambil menatap Alseenio.
Tak pernah sekali pun Hilman memiliki pikiran bahwa temannya ini adalah seorang artis atau model, dia menganggap Alseenio sebagai orang biasa yang kebetulan memiliki sosok wajah yang melebihi banyak orang.
__ADS_1
Namun, malam ini benar-benar mengejutkan dirinya, seolah dirinya disadarkan oleh Dewa Apollo bahwa temannya adalah bukan orang sembarangan.
Rekan kerjanya yang selama ini selalu baik padanya dan kerap mengantarkan dirinya pulang apabila di shift atau giliran masuk yang sama, ternyata memiliki identitas yang luar biasa.
Mata Alseenio bergerak untuk melihat Hilman dan dia tersenyum ke arahnya. Kesan baik untuk Hilman. Alseenio menganggapnya sebagai orang yang pintar bergaul dan jago menempatkan diri di segala kondisi. Orang ini bagus jika dijadikan sebagai orang yang pintar negosiasi pada perusahaan.
Mungkin Alseenio akan membuat seseorang menjadi ahli dan menggunakannya di perusahaan nanti. Alseenio diam-diam memberi tanda pada Hilman.
Tidak lama kemudian, setiap orang sudah memegang satu kotak ponsel di tangannya masing-masing.
Hilman menatap kotak ponsel di tangannya saat ini, dia memandang benda di telapak tangannya dengan mata yang tidak percaya.
Kotak ponsel berlambang apel yang tergigit, dan nama mereka perusahaan yang besar, kotak ponsel ini adalah kotak ponsel iPon seri 14 yang terbaru.
Mereka semua mendapatkan 1 ponsel tidak ada yang lebih atau tidak kebagian.
Linda dan Mawar langsung memeluk Alseenio sekali lagi. Tubuh keduanya sangat menempel sehingga Alseenio bisa merasakan tekstur pada bola-bola milik keduanya.
“Terima kasih, Bang Asep, eh, Bang Alseenio. Kamu benar-benar mewujudkan impianku, aku ingin membeli ponsel ini sebelumnya, aku sudah mulai menabung. Kini aku sudah punya.“ Bang Jidan menatap Alseenio dengan kepala yang terangkat ke atas. Dia menampilkan sebuah raut wajah yang bahagia.
“Sama-sama, aku senang kamu menerima hadiahnya.“ Alseenio mengangguk dan membalas dengan senyuman.
Setelah Jidan berterima kasih, semua karyawan ikut berterima kasih kepada Alseenio, beberapa dari mereka bahkan berpelukan sebagai tanda persahabatan dan bentuk rasa terima kasih.
Alseenio dan karyawan pria di sini sudah menganggap teman, tak ada permusuhan di antara Alseenio dengan mereka semua. Semuanya baik, beberapa dari mereka dekat dengan Alseenio dan suka mengajak bercanda.
Berteman dengan para karyawan di restoran ini merupakan sebuah pengalaman yang menyenangkan dan seru bagi Alseenio. Sangat berkesan.
Babe dan Pak Mugi juga diberi ponsel oleh Alseenio, beberapa ponsel yang tersisa dibagikan untuk para karyawan yang sudah pulang karena jam kerja hari ini telah habis lebih awal.
Menatap Alseenio, Hilman berkata dengan wajah yang bingung dan canggung, “Terima kasih, Bang Asep, atas hadiahnya. Aku tidak akan menggunakan uangku untuk membeli ponsel, aku akan menyimpannya untuk sesuatu yang lain. Terima kasih banyak!“
Tangan Alseenio terbentang dan menyentuh bahu kiri Hilman. “Terima kasih juga sudah mau berteman denganku. Kamu orang baik. Gunakan ponsel itu baik-baik. Oh, ya, aku minta nomor kamu.“
“Untuk apa? Bang Asep tidak masuk ke dalam grup Whatsupp restoran?“ tanya Hilman yang bingung.
“Tidak, aku tidak masuk.“
Selama bekerja, Alseenio sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaan restoran melalui media sosial. Dia diajak masuk, tetapi menolak dengan suatu alasan. Nomornya tak bisa disebarkan begitu saja.
“Oalaa, oke. Tunggu sebentar, aku akan memberi nomor ponselku.“
__ADS_1
Berikutnya, Hilman memberi tahu nomor ponsel kepada Alseenio. Nomornya langsung disimpan oleh Alseenio.
“Aku akan menghubungimu nanti. Kamu jangan ikut keluar dari restoran ini, gaji di sini cukup bagus, kamu lebih baik bertahan sampai kamu sudah menemukan lowongan pekerjaan yang lain kalau kamu tidak betah atau karena apa pun.“
“Siap, Bang Asep!“
Nasihat Alseenio diterima dan diingat oleh Hilman. Dia akan mengikuti ucapan orang sukses.
Sehabis semuanya sudah mendapatkan hadiah dari Alseenio, semua orang berkumpul lagi untuk saling bersalaman dan berpelukan pertemanan serta perpisahan dengan Alseenio.
Beberapa dari mereka menangis, tidak tahu karena bahagia dan sedih.
Pak Mugi senang bertemu dengan Alseenio, sebab anak-anaknya sering kali melihat foto dan video Alseenio yang sedang bernyanyi di ponsel sehingga Pak Mugi tahu popularitas Alseenio.
“Sampai jumpa! Semoga kita bertemu di tempat dan di lain waktu. Sukses, Kalian Semua!“
Mobil sedang milik Fara yang Alseenio gunakan melaju meninggalkan restoran dan para karyawan.
Para karyawan melambaikan tangannya dan memandangi belakang mobil yang dipakai Alseenio sampai menghilang.
Mereka semua saling tersenyum satu sama lain memberi isyarat bahwasanya hari ini adalah hari yang paling mengejutkan dan luar biasa.
Pastinya, peristiwa ini akan dijadikan cerita oleh semua karyawan dan diberitahukan kepada keluarga dan kerabat terdekat.
Alseenio tidak masalah dengan identitasnya terbongkar dan identitas pelayan tampan adalah dirinya, terpenting sekarang Alseenio sudah resmi menyelesaikan misi dan tak ada hubungannya lagi dengan restoran tersebut.
Rara sudah memberi tahu tentang identitas Alseenio kepada petinggi perusahaan, mereka senang dengan kehadiran Alseenio membuat penghasilan perusahaan bertambah signifikan.
Bukan hanya di cabang tempat Alseenio bekerja, itu naik merata di semua cabang yang perusahaan tersebut buka.
Di mansion, Alseenio telah makan malam sendiri ditemani Fara calon istrinya. Fara tidak makan, hanya duduk dan menunggu Alseenio menghabiskan makanannya.
Alseenio menceritakan semua yang terjadi kepada Fara. Sepanjang cerita, Fara tersenyum dan ikut senang. Akhirnya, Alseenio telah selesai bermain-main sebagai seorang pelayan.
Fara tidak perlu khawatir lagi jika Alseenio digoda oleh para wanita, sebab Alseenio akan lebih sering di rumah dan di sampingnya.
Selepas makan malam, Alseenio dan Fara berpisah dan pergi ke kamarnya masing-masing.
Ada sesuatu yang harus Alseenio lakukan di dalam kamar. Dia harus menunggu pemberitahuan dari Sistem tentang penyelesaian misi kali ini.
Kurang dari 1 menit Alseenio duduk di atas kasur, sebuah suara kaku muncul tiba-tiba di benaknya. Wajah Alseenio yang datar berubah menjadi cerah.
__ADS_1