SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 43: Mobil Bekas


__ADS_3

“Emm~…. Bagaimana menurutmu, Nio?“


Fara keluar dari ruang ganti dengan memakai pakaian yang dipilih oleh pegawai-pegawai wanita toko Canel.


Tidak ada diskriminasi terhadap Alseenio dan Fara, tidak seperti yang ada di dalam novel yang Alseenio baca.


Para pegawai ini dengan senang hati memilihkan pakaian untuk Fara, dan Alseenio meminta untuk memilih satu set pakaian yang cocok dengan pakaiannya sekarang sehingga keduanya tampak sama dan seragam.


Di depan Alseenio, Fara sudah mengenakan pakaian yang dipilih oleh pegawai toko, pakaian yang dikenakan Fara terdiri dari kaus putih, celana bahan hitam, dan blazer hitam untuk menutupi kaus putih yang Fara pakai.


Pakaian yang Fara pakai adalah satu set pakaian kasual untuk wanita yang berbisnis.


Penampilan pakaiannya sudah sangat cocok dengan Fara, bahkan Alseenio bisa melihat tampilan sosok Fara ditingkatkan karena pakaiannya sekarang.


“Bagus, sangat cocok!“ Alseenio menjawab dengan senyum yang lebar dan mengangguk kecil.


“Sungguh?“ Fara tidak percaya dengan Alseenio yang gemar sekali bercanda dengannya.


Alseenio mengangguk tegas. “Ya, sudah sangat cocok, cantik sekali.“


“Terima kasih~” Fara malu dengan pujian Alseenio.


Dalam hatinya Fara sangat senang dipuji oleh Alseenio. Sebelumnya tidak ada yang pernah memuji Fara selain orang tuanya sendiri, tetapi Alseenio dari dahulu kecil sering kali memujinya, tujuan Alseenio agar Fara tidak marah dan merajuk.


Terlepas dari maksud. Alseenio memujinya, Fara tetap merasa senang


Tanpa menimbang-nimbang lagi, Alseenio mengangkut satu set pakaian ini. Namun, ia rasa ini masih kurang, akhirnya Alseenio memutuskan untuk membeli beberapa set pakaian yang lain untuk Fara.


“Kalau begitu, tolong carikan pakaian harian yang cocok untuknya, terserah pakaian yang bergaya apa, minimal tiga set, lalu bawa ke kasir, aku akan membayarnya.“


Alseenio meminta tiga pegawai toko Canel untuk mengurus pakaian Fara, ia akan menunggu di kasir untuk membayar.


“Baik, kami akan bantu.“


Ketiga pegawai mengangguk mengerti, kemudian mereka menarik Fara untuk memilih pakaian.


Terlihat wajah Fara yang bingung sebelum ditarik oleh tiga wanita ini.


Mulut Alseenio tersenyum ketika melihat ini dan ia berjalan menuju tempat duduk yang ada.


Di sana, Alseenio menunggu sembari melihat Instagrem dan membalas pesan Telegrom dari Niara dan yang lainnya.


Alseenio baru tahu bahwa Niara kuliah di jurusan Tata Busana, pantas saja pakaian Niara saat pertama kali bertemu sangat bagus dan cocok dengan gayanya.


Namun, Alseenio belum tahu Fara kuliah jurusan apa, mungkin ia akan bertanya kalau ingat.


Akun Yitub telah mencapai 300 ribu pelanggan hanya dalam satu malam, kenaikan yang terbilang cepat, selain itu akun Instagrem sudah mencapai 999 ribu pengikut yang seharusnya beberapa jam lagi akan menyentuh 1 juta pengikut.


Begitu Alseenio asyik menggulir unggahan orang di halaman beranda Instagrem, Alseenio tiba-tiba mendengar prompt sistem yang keras.


[Ding! Selamat Kepada Tuan Rumah Anda Telah Mendapatkan 1 Juta Pengikut Instagrem Pertama kali dan Dapatkan Kemampuan Ekslusif Sexeyes!]


Setelah mendengar pemberitahuan sistem, Alseenio tercengang dan juga merasa senang, ia segera melihat jumlah pengikut Instagrem dan ternyata sudah 1 Juta Pengikut hanya dalam beberapa menit setelah ia memeriksa sebelumnya.


“Sexeyes? Kemampuan apa ini?“ Alseenio mengalihkan perhatiannya kepada hadiah sistem dan ia bertanya.


Ia belum pernah mendengar kemampuan yang memiliki nama ini di kehidupan sebelumnya dan sekarang.


Sebuah informasi muncul setelah pertanyaan Alseenio dilontarkan, panel layar transparan yang hanya bisa dilihat oleh Alseenio melayang di depan wajahnya.


[Sexeyes : Mata yang dapat melihat data dasar dari seseorang, seperti nama, umur, tinggi, penampilan, termasuk juga kemurnian seseorang serta jumlah hubungan yang pernah dilakukan.]


[Setiap orang memiliki kemurnian tubuh yang digitalisasi menjadi 100 poin. Apabila pernah melakukan kegiatan yang berbau seksual, poin akan berkurang.]


[Poin 90-100 adalah Kemurnian belum tersentuh sama sekali, 70-89 adalah pemain amatir, dan 69 ke bawah adalah mobil bekas.]


[Kemampuan dapat diaktifkan sesuai dengan keinginan Anda, sebagai orang yang memiliki ketampanan ekstrim Anda harus mendapatkan wanita yang benar dan murni. Catatan: hanya perlu bergumam atau memfokuskan konsentrasi ke bagian mata.]


Sehabis membaca serangkaian informasi dari sistem, Alseenio tercengang sesaat dan butuh waktu untuk mencerna semua informasi yang diberikan.


Secara kasar informasi ini menjelaskan suatu kemurnian tubuh seseorang, kemurnian yang dimaksud oleh Sistem seharusnya itu menjorok ke hal yang vulgar, seperti halnya hubungan yang sangat intim, hubungan antara pria dan wanita yang sampai ke tahap bersanggama. Lebih jelasnya, informasi ini berisi mengenai kemampuan yang mampu melihat kebersihan tubuh dari seseorang.


“Apa aku bisa mencoba ke diriku sendiri?“ Alseenio bertanya-tanya.


Dikarenakan rasa penasarannya yang tinggi, ia memandang dirinya sendiri secara langsung, Alseenio hanya bisa melihat dada hingga kakinya, dan kemudian sederet informasi muncul di retina matanya.


[Informasi Dasar.]


Nama : Alseenio Asep.


Kelamin : Pria.


Umur : 20 tahun.


Tinggi : 188 cm.


Penampilan : 95 poin.


Kemurnian : 98 poin.


Pemain : 0 poin.


[Seorang yang tidak terlalu murni karena pernah melakukan kegiatan 'sensor' dengan tangan sendiri.]


Alseenio tersentak kaget begitu melihat informasi dirinya sendiri melalui kemampuan barunya.


“Maksudnya mengocok?“ tanya Alseenio. “Apakah kegiatan itu dapat mengurangi kemurnian?“


[Ding! Benar, Tuan Rumah!]


[Anda masih bisa meningkatkan dan memulihkan kemurnian tubuh secara sendirinya. Catatan: hanya di poin 90 pemulihan dapat berjalan.]


Alseenio mengangguk puas dengan sistem, ternyata ia bisa memulihkan kebersihan dan kemurnian tubuhnya kembali seperti seorang pria yang masih perjaka akut.


“Jadi, apakah kemurnian tubuhku sebelumnya tidak sebesar sekarang ini?“


Kalau seperti itu, berarti Alseenio memiliki nilai kemurnian yang tidak setinggi sekarang.


[Kemurnian Anda sebelumnya adalah 91 poin.]

__ADS_1


Jawaban Sistem sama dengan dugaannya, pasti ia memiliki nilai yang lebih rendah dan di bawah dari poin yang sekarang, mengingat ia memang pernah melakukan kegiatan berolahraga lima jari.


Alseenio tidak munafik dan mengakui pernah melakukan hal tersebut.


Pada saat Alseenio sibuk membalaskan pesan dari tim Semfack dan lainnya yang berisikan ucapan selamat atas 1 juta pengikut di instagrem, ia mendengar beberapa langkah kaki yang mendekat.


Sehabis membalas pesan terakhir, Alseenio mematikan layar ponselnya dan menaruh ponsel di dalam saku jas, perlahan ia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah sumber langkah kaki itu terdengar.


Tak jauh di depannya, empat orang wanita sedang berjalan ke arahnya dan tiga di antaranya berjalan sambil membawa banyak pakaian, sedangkan yang satunya berjalan tanpa membawa pakaian apapun, hanya tas kecil yang dibawanya.


“Sudah memilih pakaiannya?“ Alseenio berdiri dan bertanya kepada Fara.


Fara mengangguk dan tersenyum.


Tepat ketika Alseenio menatap wajah Fara, sederet informasi muncul di bidang penglihatannya.


[Informasi Diri.]


Nama : Fara Nisa.


Kelamin : Wanita.


Umur : 20 tahun.


Tinggi : 163 cm.


Penampilan : ???


Kemurnian : 100 poin.


Pemain : 0.


[Wanita yang suci dan belum pernah disentuh oleh lelaki, pintar menjaga diri.]


“Hmm?“ Alseenio sedikit terkejut ketika melihat poin penampilan Fara yang tidak diketahui, hanya ada 3 tanda tanya yang mengisi.


“Apa maksudnya ini?“ tanya Alseenio di dalam hati kepada Sistem.


[Ding! Poin penampilan tidak diketahui, harap diperiksa di lain waktu.]


Alseenio menatap wajah Fara dengan bingung, ia tidak mengerti apa yang terjadi dengan kemampuannya dan Fara.


Apakah ada suatu kesalahan dengan kemampuan yang baru didapatkan ini?


“Nio? Ada apa denganmu?“


Suara Fara terdengar di telinga Alseenio dan Alseenio segera keluar dari kebingungannya.


“Tidak ada apa-apa.“ Alseenio menggelengkan kepalanya.


Fara menatap Alseenio dengan serius dan khawatir. “Aku lihat wajahmu terlihat bingung, apakah ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?“


“Tidak,” jawab Alseenio sebagai penegasan. “Lupakan itu. Ayo kita ke kasir.“


Tanpa menunggu jawaban Fara, tangan Alseenio menarik pelan tangan Fara dan mereka berdua berjalan menuju kasir.


[Informasi Diri.]


Nama : Salsa Marya


Kelamin : Wanita.


Umur : 23 tahun.


Tinggi : 165 cm.


Penampilan : 69 poin.


Kemurnian : 82 poin


Pemain : 2 orang.


[Wanita yang pernah bermain dengan pria lain selain suami sahnya.]


[Informasi Diri.]


Nama : Dinda Indah


Kelamin : Wanita.


Umur : 28 tahun.


Tinggi : 166 cm.


Penampilan : 66 poin.


Kemurnian : 67 poin


Pemain : 4 orang.


[Mobil bekas yang sebentar lagi ingin menjadi mobil rentalan, rem sudah tidak menancap ban dan sudah melemah, tidak sempit lagi, super longgar.]


[Informasi Diri.]


Nama : Tri Somiah.


Kelamin : Wanita.


Umur : 21 tahun.


Tinggi : 165 cm.


Penampilan : 68 poin.


Kemurnian : 73 poin.


Pemain : 3 orang.


[Wanita yang pernah bermain melawan dua pria sekaligus.]

__ADS_1


Melihat informasi yang ada di layar transparan di setiap pegawai-pegawai ini, Alseenio hanya bisa menahan senyum dan bereaksi seperti orang yang tidak pernah mengetahui.


Tidak disangka, masing-masing dari wanita ini memiliki riwayat buruk bermain dengan para pria, bahkan ada yang berani selingkuh dari suaminya.


Padahal Alseenio lihat mereka bertiga seperti orang yang baik, mereka tidak menunjukkan kegenitan kepadanya dan bersikap santai selama ini.


Diam-diam mengejutkan.


Alseenio memberikan kartu kepada pegawai wanita untuk menggesek kartu atm-nya dan berhasil membayar semua barang belanjaan, kemudian ia mengambil kartunya kembali, tetapi ada sesuatu kertas selain kertas bukti transaksi dan kartu atm-nya.


Merasakan sesuatu ini, Alseenio tidak langsung melihatnya dan langsung memasukkannya ke dalam saku jas.


“Terima kasih telah belanja di toko kami, kami harap Anda menyukai produknya, semoga Anda memiliki hari yang menyenangkan!“


Salah satu wanita dari pegawai tersebut mengucapkan terima kasih sebelum Alseenio dan Fara keluar dari toko.


Setelah dari mall ini, Alseenio meminta untuk Fara memakai Blazer hitam yang baru dibeli, sebab pakaiannya terlalu kecil dan tidak baik untuk dilihat orang. Sekarang tidak perlu memakai jasnya untuk menutupi keindahan kedua gunung Fara.


Ternyata blazer yang dibeli sangat cocok dengan pakaiannya Fara yang sekarang, ia tidak perlu memakai pakaian yang baru saja dibeli, lagi pula memakai pakaian yang baru dapat merusak kulit apabila tidak dicuci lebih dahulu.


Blazernya Fara pakai hanya diletakkan di atas pundaknya dan ia tidak mengenakan seperti biasa, takut tangannya gatal-gatal karena memakai barang baru.


Setelah dari toko Canel, keduanya langsung pergi menuju panti asuhan yang ada di Depok.


Waktu sudah memasuki siang hari, dan Alseenio sudah dihubungi bahwa mobil boks yang mengirim perlengkapan sekolah sudah di tengah perjalanan.


Di dalam mobil, Alseenio menyalakan kamera Yopronya dan mulai melakukan vlog santai bersama Fara.


Tidak semua percakapan mereka diunggah ke Yitub, akan ada pengurangan durasi yang dilakukan oleh Alseenio pada sesi pengeditan.


“Terima kasih, Nio.“ Fara menatap Alseenio dengan rasa terima kasih di lubuk hatinya. “Namun, sebenarnya aku tidak ingin dan membutuhkan baju mahal ini semua.“


Alseenio mendengarkan ucapan Fara, dan ia tersenyum sambil menyetir mobil dengan santai.


“Jadi, kamu ingin membuang barang yang aku belikan?“


“Bukan-bukan, maksudnya aku tidak begitu menginginkan baju-baju ini, tetapi kalau kamu sudah membelikannya, mau tidak mau aku harus menerima dan menjaganya,” ucap Fara menyangkal dugaan Alseenio.


“Bagus, sudah seharusnya kamu seperti itu.“ Alseenio mengusap lembut kepala Fara dan tersenyum.


“Ih! Jangan mengacak-acak rambutku, Nio! Aku susah merapikannya tahu?!“ Fara bereaksi cepat dan melepaskan tangan Alseenio dari kepalanya.


Ketika di mobil yang sedang melaju menuju mall, Alseenio sempat mengacak-ngacak rambutnya, butuh waktu beberapa menit untuk merapikan lagi rambutnya.


“Hahaha, maaf. Aku sengaja,” kata Alseenio yang terkekeh melihat Fara yang kesal dengannya.


“Ngeselin banget sih kamu! Aku cubit, nih!“


“Jangan-jangan, aku bercanda tadi.“ Alseenio segera memberhentikan tertawanya dan mengubah ekspresinya menjadi normal.


“Huft!“ Fara mendengus kesal kepada Alseenio.


Keduanya terus berbicara di dalam mobil yang melaju menuju kota Depok tempat panti asuhan yang dipilih Alseenio berada.


Tidak butuh waktu lama untuk keduanya sampai di depan tempat panti asuhan.


Di sana sudah banyak sekali anak-anak yang menunggu Alseenio dan Fara.


“Woahh!“


“Keren!“


“Sugoi ne!“


Ketika suara raungan mobil Ferrari berbunyi di dekat daerah panti asuhan, mereka semua keluar dari gerbang masuk panti asuhan untuk melihat mobil Alseenio.


Anak-anak di sini ternyata suka sekali dengan mobil sport.


Di belakang mobil Alseenio terdapat truk atau mobil boks yang berisi perlengkapan sekolah dan terdapat mobil Gokar yang membawa makanan cepat saji Kaefsi.


Alseenio dan Fara bersalaman dengan anak-anak dan pengurus. Di panti asuhan tersebut, Alseenio dan Fara disambut oleh pertunjukan dari beberapa keahlian yang dipunya oleh anak-anak di panti asuhan ini.


Setelah itu, Alseenio langsung memberitahukan maksud dan tujuan dari kedatangannya, yakni menyumbang uang 100 juta untuk membantu anak-anak ini sekolah.


Para pengurus menerima donasi uang dari Alseenio, dan langsung Alseenio transfer uang ke rekening khusus panti asuhan tersebut.


Setelah sesi utama selesai, barang-barang Alseenio dan perlengkapan sekolah telah diletakkan ke dalam bangunan tempat tinggal panti asuhan, mereka semua melanjutkan acara dengan makan bersama.


Untungnya makanan yang Alseenio pesan tidak kurang melainkan lebih, anak-anak di sini hanya berjumlah puluhan itu pun Alseenio hitung tidak sampai seratus.


Sebelum Alseenio dan Fara pulang, anak-anak diberikan kesempatan untuk masuk ke dalam mobil Ferari satu per satu, ini merupakan keinginan anak-anak, dengan senang hati Alseenio turuti.


Acara foto-foto bersama Alseenio pun telah selesai, itu dilakukan karena permintaan dari pengurus yang ternyata salah satu dari mereka mengenali dirinya.


Semuanya selesai dan tuntas, hari sudah mulai sore dan akhirnya Alseenio izin pamit untuk pulang.


Alseenio dan Fara serta supir-supir pengantar barang dan makanan pergi meninggalkan panti asuhan dengan teriakan anak-anak yang enggan ditinggalkan.


Supir-supir tersebut sudah Alseenio beri hadiah atau tip karena sudah membantunya memindahkan barang dan makanan ke dalam bangunan panti asuhan.


Mobil Alseenio dan mobil para supir berpisah mirip dengan adegan di salah satu film Fest and Furryos.


Alseenio tidak langsung pulang, melainkan ia melaju ke arah rumah Bang Windi untuk meminta suatu keperluan.


Sampai di rumah Bang Windi, Alseenio langsung memberitahukan maksud kedatangannya, yakin untuk meminjam atau tukar mobil untuk satu hari.


Bang Windi tanpa berpikir lama dan menerima tukar mobil dalam sehari. Jadi, dalam sehari itu mobil Ferari bebas digunakan oleh Bang Windi, dan Alseenio pun sebaliknya.


Di rumah Bang Windi, Alseenio dan Fara singgah sesaat dan segera berangkat menuju rumah Fara yang ada di Sukabumi memakai mobil sedan Bang Windi.


“Hati-hati, jangan lupa dijaga ekhem-nya, Bang!“ Bang Windi berkata sambil menahan tawa.


“Oke-oke. Berangkat, ya!“ Alseenio mengiakan saja agar tidak membuang waktu.


“Siap! Hati-hati di jalan!“ Bang Windi melambaikan tangannya.


“Hati-hati, kak Fara!“ Kak Agnis pun ikut melambaikan tangannya.


Alseenio dan Fara mengangguk hampir bersamaan dan tersenyum, dan kemudian mobil Bang Windi melaju menuju rumah Fara di Sukabumi.

__ADS_1


__ADS_2