SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 83: Ryan Sedikit Aneh


__ADS_3

“Sudah kuduga,” ucap Ryan dengan malas. Ia sudah menebaknya.


“Omong-omong, mengapa kamu ada di sini?“ Alseenio menatap Ryan yang berpakaian santai, tidak rapi seperti pertama kali bertemu.


Biasanya orang ini memakai pakaian yang heboh dengan segala merek terkenal di sekujur tubuhnya, tampak formal dan rapi.


Ryan membuka tas selempangnya yang dengan jelas memiliki logo Cucci, pastinya mahal. Tangannya masuk ke dalam tas, dan ia mengeluarkan beberapa stiker bergambar karakter anime wanita bertubuh kecil yang memegang alat musik harpa dan selalu menarus bunga di rambutnya, Alseenio tahu karakter yang tercetak di stiker Ryan.


Selain stiker itu, Ryan juga mengeluarkan taplak tetikus yang bergambar anime yang sama.


Melihat kedua jenis barang ini, Alseenio mengerti apa yang dimaksud Ryan.


“Aku ke sini untuk melihat-lihat dan mendukung orang-orang pembuat karya, setelah banyak pertimbangan, akhirnya aku membeli kedua barang ini untuk oleh-oleh.“ Ryan menunjukkan kedua barangnya kepada Alseenio.


Alseenio mengangguk sambil melihat barang-barang tersebut di tangan Ryan. “Tunggu, apakah kamu menyukai gambarnya?“


“Ya, aku merasa gambar ini lucu, jadi aku memutuskan untuk membelinya.“ Ryan mengangguk sambil memandang dengan senang gambarnya.


Karakter yang terlukis di barang yang dibeli Ryan adalah karakter jebakan atau trap. Sebenarnya, itu bukan karakter wanita, melainkan pria yang pakaiannya seperti pakaian wanita dan wajahnya pun kecil seperti wanita, aslinya adalah pria, karakter itu bernama Penti dari gim Benshin Impek.


Ryan bilang Penti karakter yang lucu, ada benarnya, tetapi seperti ada yang salah.


“Itu … kamu tahu siapa karakter yang ada di gambar?“ Alseenio menunjuk ke gambar yang di stiker Ryan pegang.


“Entahlah, aku tidak peduli, yang penting aku menyukai karakternya,” ujar Ryan yang terlihat tidak memedulikan siapa sebenarnya karakter yang ia sukai.


Melihat respons Ryan yang malas dan apatis ini, Alseenio menutup mulutnya dan tidak memberi tahu identitas asli karakter tersebut.


Memikirkan hal ini, membuat humornya melonjak naik dan ingin tertawa.


“Oh begit—pfftt!“


Di akhir ucapannya, Alseenio hampir tak kuat menahan tawa, sampai-sampai ia memejamkan matanya dan membungkuk sambil menahan mulutnya.


Tubuhnya bergetar karena tawa yang sedang ia tahan. “Hihihi~”


Suara Alseenio yang terkekeh kecil terdengar oleh Ryan, ia menatap Alseenio dengan bingung tidak mengerti.


“Apa ada yang salah denganku?“ gumam Ryan yang bertanya kepada dirinya sendiri sembari memeriksa pakaian di tubuhnya, takut ada sesuatu hal yang memalukan dari tubuhnya.


Hasilnya tidak ada yang aneh dengan tubuhnya, semuanya normal.


Ryan menatap Alseenio dan bertanya, “Ada sesuatu yang salah?“


“Tidak-tidak, tidak ada yang salah darimu, tadi aku hanya merasa geli, tiba-tiba ada sesuatu yang menggelitik pinggangku.“ Alseenio melambaikan tangannya dan menunjuk ke pinggangnya yang katanya terasa geli.


Untuk saat ini, Alseenio tidak akan memberi tahu karakter gim yang disukai Ryan, biarkan dia mengetahui hal tersebut dengan sendirinya.

__ADS_1


“Lupakan yang tadi. Omong-omong, kamu bersama siapa ke sini?“ Alseenio melirik mobil Ferrari yang dibawa Ryan, di dalamnya kosong. “Sendirian saja?“


“Ya, aku datang ke sini sendiri. Lagi pula, untuk apa membawa orang?“


“Emm ….“ Alseenio bingung harus menjawab apa, orang ini sepertinya introver dan pendiam. “Untuk menambah keseruan, bukankah begitu?“


“Apa di sini tidak seru?“ Ryan membalikkan ucapan Alseenio sambil mengangkat alisnya.


“Seru, tetapi terlalu ramai, aku merasa sesak jika berdiam lama di dalam sana.“


Senyum kecil ditunjukkan oleh Ryan. “Maka dari itu, aku datang ke sini hanya sendirian supaya mengurangi keramaian yang ada. Kasihan juga jika aku membawa orang lain ke tempat yang ramai sampai berdesak-desakan ini.“


“Terserahmu saja, Ryan” Alseenio malas berbicara dengan pria di depannya ini.


Ryan menyimpan kembali barang-barangnya dan berjalan ke mobil lalu memegang pintu mobil. “Kalau begitu, aku pergi dahulu, ada sesuatu yang harus aku bereskan.“


“Bagaimana kalau bersama, aku juga ingin pulang,” ajak Alseenio sambil tersenyum.


Melihat ke arah Alseenio, Ryan merenung sejenak, kemudian mengangguk. “Oke, tidak masalah.“


“Oke.“


Setelah percakapan tidak penting itu, mereka berdua masuk ke dalam mobilnya masing-masing.


Dengan raungan knalpot yang terdengar garang dan buas, kedua mobil mewah itu pergi meninggalkan tempat parkir yang luas ini dan pergi menuju ke arah barat.


Pada awalnya, Alseenio tidak merasa aneh dengan arah mobil Ryan. Namun, perpisahan yang Alseenio tunggu tak kunjung datang, mobil Ryan ini masih satu jalur dengannya. Hingga akhirnya kedua mobil itu masuk ke daerah Bukit Golf, Pondok Indah.


Begitu Alseenio amati sejak di pertengahan jalan, tiba-tiba mobil Ryan berhenti di depan gerbang sebuah mansion yang letaknya ada di sebelum mansion Alseenio, jaraknya tidak jauh, hanya terpisah oleh satu bangunan yang cukup luas, tetapi masih kalah dengan mansion Alseenio.


Saat berhenti, Ryan keluar dari mobil dan memberi kode kepada Alseenio untuk berhenti.


“Mengapa kamu mengikuti aku? Bukannya kamu ingin pulang?“ Ryan berdiri di samping mobil Alseenio, dan menatap Alseenio yang masih ada du dalam mobil. Ekspresinya menjadi tidak senang, ia menganggap Alseenio membuntutinya.


Mendengar ini, Alseenio menjadi bingung dan tidak mengerti. “Mangsud amat? Tempat tinggalku juga ada di daerah ini. Untuk apa pula aku mengikutimu sampai sejauh ini?“


“Hah? Sejak kapan kamu tinggal di sini? Bukankah kamu masih tinggal di apartemen?“


Ryan mengetahui Alseenio tinggal di sebuah apartemen, sebab Alseenio sempat memberi tahu informasi tersebut.


“Tidak, aku sudah pindah beberapa hari yang lalu, aku tidak memberi tahu tentang itu kepadamu.“ Alseenio menggelengkan kepalanya.


“Tunggu, apa kamu itu orang yang menempati mansion yang letaknya tidak jauh dari sini?“ tanya Ryan dengan wajah yang terkejut memandang Alseenio.


“Sepertinya begitu,“ jawab Alseenio sambil menyentuh dagunya.


Sebenarnya, Alseenio tidak tahu mansion mana yang dimaksud Ryan, sebab terdapat banyak mansion di Bukit Golf ini.

__ADS_1


“Berarti, orang itu memanglah kamu!“ Ryan


“Mungkin, memang mansion yang mana yang kamu maksud?“ Alseenio membalas bertanya kepada Ryan.


Alih-alih menjawab, Ryan menunjuk ke arah tempat mansion Alseenio berada. Meskipun dihalangi oleh beberapa rumah, mansion Alseenio masih bisa dilihat walaupun hanya atap lantai tiganya, helikopter pun masih terlihat, tetapi agak kecil karena jarak pandang yang jauh.


“Mansion itu, kamu bisa melihatnya?“


Pandangan Alseenio mengikuti arah yang ditunjuk Ryan, itu adalah arah di mana mansion miliknya berada.


Alseenio kembali melihat Ryan dan berkata, “Benar, berarti orang yang kamu maksud itu adalah aku.“


“Baguslah, aku tidak perlu berkenalan lagi.“ Ryan menghela napas ringan dan menatap Alseenio, kemudian ia mengambil salah satu stiker yang ia beli di acara cosplay. “Ini hadiah sebagai tetangga dariku.“


Tangan Ryan terulur dan meletakkan stiker bergambar Penti ke tangan Alseenio, wajahnya sangat polos ketika memberikan stiker itu.


“Sungguh? Hadiah tetangganya hanya ini saja?“ Alseenio memegang stikernya dan menatap Ryan dengan aneh.


“Kamu tidak mau?“ Ryan mengangkat alisnya. “Jika tidak mau, aku akan ambil kembali.“


“Aku mau, tetapi jangan gambar yang ini, ada yang lain?“


“Sebentar, aku sepertinya membeli satu gambar yang lain.“ Ryan mencari stiker yang ia beli di dalam tas. Ketika membeli stiker-stiker Penti, Ryan juga ingat dirinya membeli satu stiker yang berbeda.


Tak lama dirinya mengorek tas, Ryan berhasil menemukan stiker yang ia cari, kemudian menyerahkannya kepada Alseenio, “Ini, ambil saja.“


Alseenio mengambil stikernya dan segera melihat gambarnya, stiker ini bergambar wanita berambut pink dengan dada yang rata, karakter anime wanita ini sangat terkenal di Indonesia, terkenal akan beban atau tidak berguna untuk tokoh utamanya, karakter ini adalah Saruka Haruno.


Stiker ini diterima oleh Alseenio, setidaknya karakter ini bukan pria yang berpenampilan seperti wanita.


“Terima kasih. Aku juga memberimu ini sebagai hadiah tetangga.“ Alseenio memberikan tiga gantungan kunci kepada Ryan. Gantungan kuncinya masih banyak ia membelinya dengan jumlah puluhan buah.


Melihat gantungan kunci yang Alseenio berikan, Ryan tersenyum kecil, ia langsung mengaitkan salah satu gantungan kunci yang diberikan oleh Alseenio ke kunci mobil Ferrarinya. “Terima kasih, aku suka gambar gantungan kuncinya.“


“Oke, simpan saja.“


“Ya sudah, aku akan masuk ke dalam. Aku harus mengerjakan sesuatu di rumah. Kapan-kapan aku akan mampir ke mansion punyamu.“ Ryan mengajak bersalaman dan mengulurkan kepalan tinjunya ke Alseenio.


Alseenio merespons dengan kepalan tangannya yang membentur ke tangan Ryan. “Oke, hubungi aku, bila kamu ingin ke mansion milikku.“


“Baiklah, aku akan menghubungimu nanti.“


Setelah itu, mereka berdua berpamitan, Ryan langsung masuk ke dalam mansion miliknya sendiri bersama mobilnya, Alseenio belum pergi dari deoan gerbang, ia mengamati mobil Ryan sampai masuk ke dalam gerbang.


Sama dengan mansionnya, Ryan juga memiliki sekuriti yang menjaga.


Habis itu, Alseenio melaju menuju mansionnya.

__ADS_1


Sesampainya di dalam kamar utama, Alseenio tiba-tiba mendapatkan panggilan dari Fara, kali ini panggilannya berbeda, soalnya Fara jika ingin bertelepon bersamanya pasti meminta izin terlebih dahulu, tidak mendadak seperti ini.


“Halo, Nio. Apa kamu bisa membantuku?“


__ADS_2