
Di depan mata Alseenio, jelas ditampilkan wajah cantik dari seorang wanita, wajah ini paling cantik yang pernah Alseenio lihat sepanjang hidupnya.
Di saat yang bersamaan, wajah ini juga tampak akrab dan asing baginya, terasa akrab karena dia yakin wajah ini milik wanita yang dicintainya, tetapi agak asing karena penampilannya tidak seperti wanita yang ia sayangi.
Tangan putih yang bersih bagaikan terbuat dari tahu susu itu terulur ke arah Alseenio.
Dengan wajah yang terpesona dan tercengang, Alseenio menggenggam tangan cantik tersebut penuh kehati-hatian, takut karya terindah itu tergores.
Tidak tahu dari mana kekuatannya berasal, wanita ini bisa membantu Alseenio berdiri dari keadaan terbaring, seolah itu tidak berarti apa-apa.
"Selamat datang, Suamiku tercinta ...."
Wanita yang berdiri di depan Alseenio tersenyum sangat menawan. Dengan senyumannya mampu membuat big bang berhenti meledak.
Kalimat yang keluar dari bibir indah dan seksi itu mengejutkan Alseenio untuk ketiga kalinya.
Tangan Alseenio bergetar sambil terangkat ke arah wajah wanita yang ada di depannya. Seluruh wajah Alseenio terlihat tidak percaya dengan bola mata yang membesar.
Makin dekat tangan Alseenio pada wajah wanita tersebut, ekspresi Alseenio berubah, keterkejutan menghilang digantikan ekspresi kerinduan yang diselubungi kegembiraan.
"Fa–fara ... apakah ini benar-benar kamu?" tanya Alseenio dengan kedua bibir yang bergetar sambil memegang pipi lembut wanita di hadapannya.
Hal yang membuat Alseenio bahagia terjadi, kepala wanita itu mengangguk dengan lembut sambil tersenyum lebar, kemudian tangan wanita itu mengambil tangan kiri Alseenio dan diletakkan di wajah sebelahnya.
"Aku istrimu yang paling kamu sayangi di kehidupanmu. Selamat datang kembali, Suamiku," jawab wanita cantik yang terlihat seperti peri di negeri dongeng. Suaranya begitu halus dan hangat, membuat hati Alseenio yang hampa kembali memanas dan hidup.
Pluk!
Di detik berikutnya, Alseenio memeluk Fara yang paling dia sayangi di kehidupan ini. Air mata tak bisa ditahan lagi, mengucur keluar begitu deras ke pipinya, sampai jatuh mengalir di bahu dan punggung Fara.
Kerinduan selama setengah abad akhirnya dilampiaskan dengan tangisan sedih. Saking rindunya Alseenio, dia mengangkat tubuh Fara dan memeluknya begitu erat.
Dengan suara yang terbata-bata, Alseenio berkata, "Ak–aku ... aku mohon, jangan pergi lagi da–dariku, aku tak sanggup—sulit untuk bisa hidup tanpamu."
Permohonan Alseenio didengar jelas oleh Fara, dia tersenyum sambil mengelus-elus punggung lebar Alseenio.
"Tidak lagi, aku berjanji akan selalu bersamamu sampai di dunia berikutnya. Aku sangat mencintai dan menyayangimu, Alseenio," balas Fara sambil menenangkan Alseenio.
Selanjutnya, mereka berdua saling bertatapan dalam kondisi Alseenio menggendong tubuh Fara yang lebih kecil darinya.
Air mata Alseenio terlihat dengan jelas membekas di pipinya. Tidak tahu dari mana asalnya, sebuah kain putih kecil muncul di tangan Fara, dalam gerakan yang lembut menyeka semua air mata Alseenio di wajahnya.
__ADS_1
"Terima kasih sudah membuktikan bahwa kamu akan terus setia padaku. Jujur saja, aku sangat terharu dengan perjuangan kamu bertahan hidup tanpaku. Setiap hari diisi oleh rasa kekosongan, seolah dunia pun tidak lagi berharga tanpa adanya kehadiranku di hidupmu. Aku makin yakin dengan cintamu yang pernah aku ragukan sebelumnya. Terima kasih, terima kasih banyak karena kamu telah memilihku menjadi istri satu-satunya yang kamu cintai," ucap Fara dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Alseenio tiba-tiba mencium bibir Fara sekilas, menyentuh pelan pipinya dengan tatapan yang penuh cinta dan perasaan sayang. "Jangan menangis lagi, aku ada di sini. Aku akan selalu menunjukkan padamu bahwa cintaku tidak akan pernah padam ditelan oleh waktu. Terima kasih telah memilihku sebagai suamimu. Maaf, aku tidak bisa menjagamu dengan baik ...."
"Um, kamu selalu baik padaku. Aku yang harusnya meminta maaf karena telah menyakitimu." Fara kembali memeluk Alseenio.
Tiba-tiba tubuh Alseenio terasa tersentak, Fara yang sedang memeluknya menjadi heran.
"Tunggu, di mana kita sekarang? Mengapa hanya ada ruang putih yang kosong?!"
Alseenio baru sadar dengan apa yang ada di sekitarnya, itu hanya ruang putih tanpa ujung mengelilingi keduanya.
Sudah pasti tempat ini bukan rumahnya, tidak ada ruangan putih bersih seperti ini di dama rumah lamanya yang penuh nostalgia.
Alih-alih menjawab, Fara tiba-tiba merobek kaos pakaian atas Alseenio, kemudian mencium tepat di tengah dadanya.
Beberapa fragmen ingatan muncul di kepala Alseenio setelah Fara mencium dadanya.
Potongan-potongan ingatan beberapa peristiwa terputar kembali di dalam kepala Alseenio, secara otomatis membuka semua ingatan yang tergembok dalam benaknya.
Mata Alseenio menyala dengan sinar emas yang menembak ke atas seluruh tubuh Alseenio menjadi lemas, kemudian berlutut sambil ditopang oleh Fara agar tidak jatuh di permukaan.
"Kamu Dewi Gaia?!" Alseenio berkata dengan terkejut. "Bukan, kamu adalah Dewi Gaia dan Fara!"
Alseenio mengingat kembali dengan ingatannya yang dahulu.
Selama ini dia adalah seorang Dewa Ketampanan yang mewakili ketampanan seluruh alam semesta.
Wanita yang ada di depannya tengah tersenyum manis adalah Fara yang sekaligus Dewi Gaia.
Dewi Gaia dan Fara adalah orang yang sama. Fara yang Alseenio kenal merupakan avatar dari Dewi Gaia yang punya sebagian kecantikannya.
Sama seperti Alseenio, ingatan Fara terkunci dan dia tidak tahu siapa dirinya sebenarnya sehingga memiliki wajah yang sangat cantik.
Avatar Dewi Gaia memiliki pikiran sendiri.
Identitas Alseenio sebenarnya adalah Dewi Ketampanan yang melakukan usaha meningkatkan kemampuannya sebagai seorang dewa yang akan melawan suatu ancaman.
Dia dan Dewi Gaia adalah pasangan Dewa dan Dewi.
"Kamu ingat sekarang?" Dewi Gaia mengangkat tubuh Alseenio dengan hati-hati.
__ADS_1
Alseenio tersenyum sambil mengangguk beberapa kali. "Aku ingat semuanya, aku ingat mengapa aku bisa mencintaimu di dunia itu."
"Um, ya. Kita ditakdirkan untuk selalu bersama, bahkan takdir cinta kita berdua sudah tersemat di dalam Great Book."
Setelah mengatakan itu, ruangan putih ini berganti menjadi sebuah kamar yang pernah Alseenio lihat sebelumnya.
Kamar besar ini adalah tempat di mana dia bertempur dengan Dewi Gaia sebelum menikahi Fara.
Tak disangka, Alseenio bertempur dengan tubuh asli Dewi Gaia terlebih dahulu sebelum avatarnya sendiri.
"Jadi, kamu sengaja menarik Fara untuk kembali ke sini dengan cara mematikannya begitu saja?" tanya Alseenio meminta penjelasan.
"Maaf, aku benar-benar tidak tahu bahwa itu tepat ketika aku ingin melahirkan anakmu. Kalau aku tahu, aku tidak akan melakukan itu. Aku juga ingin melihat bagaimana wujud anak kita nanti," jawab Dewi Gaia sambil memeluk Alseenio dengan wajah yang bersalah.
Alseenio tidak marah dengan ini, jiwanya telah bersatu dengan tubuh aslinya sebagai seorang Dewa.
Dewa Ketampanan terkenal dengan ketenangan dan kesabarannya.
"Ya, tidak apa-apa. Aku tidak mempermasalahkan itu."
"Kalau begitu, aku mau bertempur sekarang. Sudah lama sekali kita tidak bertempur."
Ucapan Dewi Gaia membuat Alseenio agak terkejut, kemudian Alseenio menerima ajakannya.
Akan tetapi, ketika mereka bertempur lagi, sebuah suara kaku yang familier bagi Alseenio muncul di dalam ruangan kamar.
[Ding! Sistem telah mendeteksi Dewa Alseenio telah berhasil menyelesaikan Dunia Pertama – Dunia Kekayaan!]
[Sistem telah menyediakan dunia berikutnya!]
[Apakah Anda ingin melanjutkan simulasi?]
Mengeluarkan tembakan putih di dalam tubuh istrinya, Alseenio segera mencabut senjata dan duduk menghadap jendela melayang yang lebar di depannya.
Pemberitahuan ini diingat jelas oleh Alseenio.
Sistem yang menghilang akhirnya kembali lagi kepadanya.
Dengan air mata yang mengalir di pipinya sambil tersenyum, Alseenio mengangguk dan berkata, "Ayo kita mulai dunia berikutnya, Sistem!"
---Tamat---
__ADS_1